Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M56 : SUKAR DITOLAK & DIPILIH


__ADS_3

NOTE : DOUBLE UPDATE BUAT MENYAMBUT B-DAY AUTHOR TANGGAL 02 NANTI MALAM 🥳


SUKA KAN, DOUBLE UPDATE?? JANGAN LUPA LIKE & KOMENTAR ❤️


APAKAH ADA PESAN / KESAN BUAT AUTHOR YANG NANTI MALAM MENUA SATU TAHUN??


CUS, UNGKAPKAN DI SINI 👇


M56 🥀 : SUKAR DITOLAK & DIPILIH


Satu porsi spaghetti shrimp aglio olio yang tampak menggugah selera, tersaji di atas piring keramik berwarna putih dengan ukuran yang cukup besar. Makanan berbahan dasar spaghetti dan udang itu baru saja selesai plating. Sang pembuat tampak tersenyum tipis seraya menghidangkan makanan tersebut pada si pemesan.


“Bagaimana?” tanyanya, saat makanan western itu dicicipi.


“Delicious,” jawab lawan bicaranya. Satu kata, tetapi mampu mendefinisikan segalanya.


Pria berkacamata itu tersenyum tipis. Sembari menemani sang istri menikmati spaghetti shrimp aglio olio dengan lahap, dia memilih menghidupkan MacBook dan segera membuka surel. Benar saja, ada beberapa surel baru yang tertumpuk oleh beberapa surel dari pihak client. Dengan segera, dia membuka salah satu surel baru itu, terutama dari alamat surel yang cukup familiar dalam ingatan.


Di dalam surel tersebut, terdapat beberapa file dokumen. Dengan konsentrasi yang berpusat sepenuhnya pada dokumen-dokumen tersebut, Damian bahkan tidak sadar jika sekarang sang istri sudah menghabiskan spaghetti shrimp aglio olio miliknya. Padahal, satu porsi spaghetti shrimp aglio olio itu Damian buat dengan takaran dua porsi. Setelah menghabiskan makanan tersebut, mantan super model itu beralih menyantap cheese cake chocolate milk yang tadinya tersimpan di lemari pendingin. Selesai menghabiskan kudapan manis tersebut, wanita cantik itu mengakhirinya dengan ice cream kelengkeng.


Namun, sang suami yang duduk di hadapannya masih belum juga usai berurusan dengan MacBook miliknya. Padahal, dia hanya minta waktu tiga puluh menit untuk ditemani makan siang. Kendati demikian, belum juga lima belas menit bersama, pria itu sudah kembali berkutat dengan pekerjaannya.


“Palacidio Daniel Adhitama X lahir di salah satu rumah sakit ternama di kanton Bern, Swiss. Anak lelaki ini akan genap berusia 5 tahun pada bulan ini. Memiliki 99,9% keakuratan DNA dengan—“


Baru saja Damian hendak menyelesaikan bacaannya yang tertera di layar monitor, namun benda itu tiba-tiba saja berubah menjadi gelap. Resolusi gambar di layar kini berubah menjadi hitam. Dengan segera, pria itu menoleh ke samping, pada pemilik jari dengan hiasan nial art bertema underwater. Wanita cantik yang entah sejak kapan berdiri di sampingnya itu, tampak bersidakep dada dengan raut wajah dibuat masam.


“Ada apa lagi, Ta?”


“Kamu gak tahu salah kamu apa?”


Damian menautkan kening mendengar kalimat si pelaku matinya MacBook miliknya. “Apa? spaghetti shrimp aglio olio nya kurang?”


“Bukan.”


“Terus, apa lagi, Ta? Aku harus segera kembali ke kantor, jadi sebaiknya kamu cepat bicara.”


“Kamu ini gak peka, ya, yang.” Dewita mendengus sebal seraya mencubit lengan liat sang suami.


“Terus? Kamu mau apa? bilang aja. Kalau kode-kodean begini, aku tidak mengerti, Ta.”


Wanita yang mengenakan inner dress berbahan katun yang sangat soft itu menghela nafas pelan. Kemudian berbicara dengan nada bicara ketus. “Aku tuh culik kamu supaya kita bisa romantic lunch berdua. Kita, kan, udah lama enggak lunch berdua. Jangankan lunch, dinner aja kamu jarang makan di rumah. Itu semua karena kamu terlalu sibuk kerja. Menggantikan atasan kamu yang sukanya otoriter itu. Kamu bahkan sampai lupa punya istri yang lagi hamil muda,” cecar Dewita.


“Itaa.”


“Aku cuma minta ditemenin makan siang, gak lama kok. Cuma tiga puluh menit. Tapi, kamu malah terus sibuk sama pekerjaan.”


“Ta, ini informasi urgent. Darren harus segera mengetahui informasi ini.” Damian mencoba menjelaskan agar sang istri mengerti. Dia tahu jika belakangan, kerjanya semakin banyak karena sang atasan sering kali melimpahkan pekerjaan padanya. Selain itu, Damian juga harus menghandle beberapa pekerjaan sekaligus karena sang atasan sibuk mengurus masalah pribadinya.


“Apa informasi ini ada hubungannya sama Ev?” tebak Dewita.


Untuk sejenak Damian hanya bisa terdiam. Karena tebakan sang istri itu sepenuhnya memang benar. File dokumen yang baru saja dia buka, sepenuhnya memiliki hubungan dengan Ev.


“Ada hubungannya atau enggak?” desak Dewita tak sabaran. “Ayang, ih!” ketus wanita muda itu seraya mencubit bisep sang suami. Membuat pria berkacamata itu meringis kecil.


“Ta, sakit.”


“Makanya jawab aku. Informasi itu ada hubungannya sama Ev atau enggak?”


“Iya, ada,” jawab Damian pada akhirnya. Entah kenapa, dia memang selalu merasa lemah jika sudah berurusan dengan wanita yang berhasil mengandung buah cintanya itu.


“Itu informasi penting?”


“Hm.”

__ADS_1


“Ada hubungannya sama perceraian Ev dan Darren?”


“Hm?” Damian menatap sang istri bingung, karena tiba-tiba bertanya ke arah sana.


“Boleh aku minta satu hal sama kamu?” tanya Dewita tiba-tiba, seraya mengarahkan telapak tangan sang suami ke permukaan perutnya.


“Apa yang mau kamu, Itaa?” tanya Damian ragu.


“Kalau informasi yang kamu bilang penting itu ada kaitannya sama perceraian mereka. Terutama jika informasi itu bisa membuat Darren semakin gila mempertahankan pernikahannya dengan Ev, apa bisa kamu tidak memberitahukan informasi itu pada Darren?”


“Apa? tentu saja tidak bisa, Ta.” Damian dengan cepat menarik tangannya, membuat sang istri terkejut bukan main. “Sudah menjadi tanggung jawabku untuk memberitahukan informasi itu.”


“Jadi kamu lebih memilih patuh pada pria baj*ngan itu?” sinis Dewita.


“Jaga bicara kamu, Ta. Lupa jika kamu sedang mengandung?” segah Damian.


“Aku cuma panggil dia dengan titel yang cocok dengan kepribadiannya. Memangnya salah? Dia udah nyakitin Ev, sahabat aku. Dia selingkuh di belakang Ev, bahkan dia biarin selingkuhannya tinggal di rumah Ev. Sebutan apa lagi yang cocok disematkan kepadanya, selain baj*ngan ditambah kep*rat?”


“Itaa!” seru sang suami, mulai terpancing emosi.


“Terus aja belain dia. Sekali pun tindakannya itu telah menyakiti banyak pihak. Bela aja dia, yang. Abaikan keinginan aku barusan. Aku cuma berusaha membantu sahabat aku keluar dari cengkraman si baj*ngan itu. Tapi kamu berusaha terus membantu dia mengikat sahabat aku.”


“Ta, bukan gitu. Dengerin aku dulu.”


“Gak perlu.” Dewita beranjak. Berjalan menuju sofa, tempat di mana long blazer dan slim bag LV miliknya tersimpan.


“Kamu mau kemana, Ta? Bukannya tadi kamu mau habiskan tiga puluh menit bersama aku?”


“Aku mau pulang ke Surabaya. Jangan harap kamu bisa nyusulin aku.” Dewita bergegas menggunakan blazer miliknya, membuat sang suami kelimpungan. Pria itu tentu tidak akan membiarkan sang istri pergi begitu saja. Mana bisa dia jauh dari istrinya yang tengah berbadan dua. Dewita tahu betul kelemahan sang suami yang satu itu.


“Kamu tidak akan kemana-mana tanpa aku, Ta.”


“Aku bisa kok pergi tanpa kamu. Buktinya, aku bisa pulang ke Surabaya tuh bulan lalu.”


“Ok, aku akan turuti permintaan kamu.” Pada akhirnya, Damian hanya bisa mengalah pada calon ibu muda tersebut.


“Permintaan aku yang mana, tuh?” pancing Dewita.


“Soal informasi yang barusan aku terima,” jawab Damian. “Aku tidak akan memberitahukan informasi itu pada Darren. Karena jika dia tahu mengenai informasi tersebut, dia akan mati-matian mengusahakan rujuk dengan Evelyn.”


“Kamu yakin?” tanya Dewita, meragukan ucapan sang suami.


“Aku lakukan ini untuk kalian, Ta,” jawab Damian seraya membawa tangannya agar bermukim di atas perut sang istri. “Jadi, kamu jangan lagi mengancam akan pergi. Kamu tahu sendiri, kan, kalau aku tidak suka jauh dari kamu.”


Dewita mengangguk seraya tersenyum senang. “Ok, kalau gitu aku cancel pulkam-nya. sekarang, aku maunya pacaran sama ayang.”


Damian menautkan kening mendengarnya. Terkadang, bahasa sang istri memang tidak dimengerti. Kecuali jika bahasa tubuh. Damian akan lebih cepat mengerti. “Maksud kamu, Ta?”


Dewita memutar bola matanya malas. Namun, sepersekian detik berikutnya, wanita cantik itu membisikkan sesuatu tepat di telinga sang suami. Membuat pria itu terdiam sejenak, dengan daun telinga mulai memerah.


“Yuk pacaran di kamar kita,” ajak sang istri seraya mengamit lengan sang suami.


Damian berdeham, guna menghilangkan dahaga di kerongkongan. “Tapi, Ta, kondisi kamu—“


“Kata Deesa boleh ditengokin baby-nya, asal main aman,” sela Dewata seraya mengedipkan sebelah matanya jenaka.


🥀🥀


“Mas Darren enggak mau?”


Pria rupawan yang masih duduk anteng di depan MacBook yang menyala itu mengangkat pandangan. Mengalihkan tatapan pada wanita muda di hadapannya yang baru saja mencicipi es kuwut. Wanita itu tampak senang setelah keinginannya menikmati es yang berbahan dasar serutan buah melon, jeli, kelapa muda, selasih, es batu dan sirup melon.


“Tidak. Kamu saja yang habiskan.”

__ADS_1


“Ini enak loh, mas. Seger dimakan pas panas-panas begini.”


Pria itu berdecak lirih, seraya kembali menatap layar MacBook. “Segera habiskan makanan itu, kemudian istirahat.”


“Tapi Ella enggak biasa tidur siang, mas.”


‘Terus, apa peduliku?’ batin pria bermarga Xander itu di dalam hati. “Istirahat, karena bayiku butuh itu.”


Wanita muda itu tersenyum manis kala mendengar kata ‘bayiku’ terucap dari bibir sang suami. “Iya, Ella tidur siang habis ini. Tapi, mas temenin, ya?” pintanya, seraya menunjukkan puppy eyes andalannya.


“Aku harus segera kembali ke kantor, Ella.”


“Sebentar aja, mas. Sampai Ella tidur,” pinta wanita muda itu, kekeuh.


“Hm.” Darren menjawab dengan jengah setelahnya. Percuma ditolak, karena wanita itu akan semakin keras kepala.


Setelah menikmati nasi putih dengan orek ayam, tumis tahu asam manis, dan sayur bening, diakhiri dengan segelas es kuwut, wanita muda berdarah sunda itu segera menaiki undakan tangga. Dibuntuti oleh sang suami yang sebenarnya malas untuk menuruti kemauan wanita itu. Hanya saja, lagi-lagi dia memilih meng-iyakan karena tidak mau memperpanjang masalah.


“Cepat tidur.”


Wanita muda itu mengangguk, lantas membaringkan tubuhnya di atas ranjang queen size dengan seprai berwarna soft pink tersebut. Jemari mungilnya kemudian menepuk-nepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan agar sang suami mengisi ruang tersebut. Sekali lagi, pria itu mengalah dan meng-iyakan. Hitung-hitung memenuhi keinginan dari calon buah hati pertamanya. Darren menuruti isyarat tersebut bak kerbau dicucuk hidungnya.


Setelah membaringkan tubuhnya di atas permukaan empuk tersebut, wanita di sampingnya beringsut mendekat. Merapat. Mengistirahatkan kepalanya di lengan kokoh sang suami sebagai bantalan. Biasanya, pria rupawan itu akan dengan senang hati menerima tingkah manja wanita simpanannya itu. Jika selesai memadu kasih lewat penyatuan saja, biasanya hal seperti ini lumrah mereka lakukan. Namun, kali ini rasanya ada yang beda.


Darren tidak merasakan kenyamanan yang sama lagi. Sebagian hatinya tidak menerima kehadiran wanita muda itu secara sukarela lagi.


“Mas.”


Tiba-tiba, wanita muda bersurai sepunggung itu kembali bersuara.


“Hm?”


“Boleh Ella minta satu hal.”


“Apa?” tanya Darren, datar.


“Bisa kah mas Darren tidak lagi meminta kesempatan kedua kepada mbak Ev?”


“Maksud kamu?” Darren bertanya dengan nada tak senang.


“Apa kehadiran Ella dan bayi kita saja tidak cukup buat mas Darren? Kenapa mas masih ingin mempertahankan mbak Ev, padahal mas sudah punya Ella.”


“Karena….” Darren memotong kalimatnya. Membiarkan kalimat itu menggantung di udara, menciptakan banyak tanda tanya. “Aku tidak mau kehilangan dia.” Darren menjawab sepersekian detik berikutnya.


“Kalau begitu, mas siap jika harus kehilangan Ella dan bayi kita?”


Pertanyaan yang sulit. Darren akui itu. Di satu sisi, pertanyaan ini menjebak dirinya. Di sisi lain, pertanyaan ini membutuhkan sebuah jawaban sebagai bukti bagi sebuah kepercayaan yang tengah dipertanyakan.


“Asal kamu ketahui, Ella. Ev sudah seperti bagian dari hidupku sendiri. Selama ini hidup ku selama berputar dengan Ev sebagai porosnya. Apa kamu pikir akan mudah melepaskan Ev dari hidupku? Sedangkan aku sendiri sudah biasa bergantung padanya.”


Ella terdiam untuk sejenak. Mencoba meresapi setiap kalimat yang agaknya mampu menyakiti hati. Namun, belum saja selesai menyerap semua kalimat tersebut, pria di sampingnya kembali berujar tepat di daun telinganya.


“Kehadiran kamu dan bayi dalam rahimmu memang sebuah anugerah dalam hidupku. Namun, kehadiran kalian tidak akan bisa mengisi kekosongan yang tertinggal saat Ev hilang dari kehidupanku.”


🥀🥀


TBC


BUKANKAH ITU CUKUP JELAS, ELLA? MASIH KAH KAMU MAU BERTAHAN?


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 01/04/22

__ADS_1


__ADS_2