Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M78 : MAAF


__ADS_3

NOTE : DOUBLE UPDATE YA, SESUAI JANJI. MAAF KALAU BANYAK TYPO BERTEBARAN, SOALNYA AKU REVISI SAMBIL NAIK MOBIL OF ROAD 😭😭


M79 : MAAF


Tuhan itu Maha Adil. Setidaknya itu yang selalu Evelyn pegang teguh. Dalam agama dan kepercayaan yang dia anut, Tuhan adalah dzat yang berlaku adil pada setiap umat-Nya. Sebagimana tertuang dalam surat Al-Maidah ayat 8. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa : ‘hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan’. Hanya saja, terkadang umat-Nya yang tidak dapat menafsirkan keadilan-Nya dengan benar.


Dengan jelas dikatakan bahwa Tuhan mengetahui apa yang seluruh umat-Nya kerjakan. Mungkin ini adalah balasan dari yang maha Adil. Evelyn sempat berpikir ke arah demikian. Mungkin Tuhan telah mengadili tindakan keji yang sebelumnya dilakukan orang-orang penyumbang luka terdalam bagi hidupnya. Satu per satu orang-orang itu mendapatkan keadilan dari Tuhan. Namun, di sisi lain Evelyn juga merasakan kegelisahaan. Apa yang mereka dapatkan sebagai balasan apakah tidak berlebihan?


Melihat dia yang dulu berulang kali menyakiti hati tiada henti kini terbaring bak orang mati, membuatnya sedih sendiri. Seharusnya dia tidak seperti ini. Terbaring tak berdaya bak orang mati.


“Ayo buka mulut lagi Schatz (sayang),” perintahnya. Dia sedari tadi telaten menyuapi sang putra bubur oat untuk mengganjal perut di pagi hari.


Bocah lelaki berusia lima tahun yang tengah menatap layar gaway dengan intens itu mengangguk. Kemudian dia menoleh seraya membuka mulut, akan tetapi matanya tetap tertuju pada layar gaway. Bocah dengan seragam Kinderganten atau PAUD itu sedang sibuk mendengarkan penjelasan gurunya di seberang telepon.


Seraya tersenyum tipis, sang ibu yang pagi ini tampil cantik dan fresh dalam balutan midi dress corak bunga-bunga berwarna navy dari brand Celine, menyuapi putranya satu sendok campuran oat, susu almond, yoghurt, madu, dengan topping buah-buahan segar. Sang putra terpaksa mengikuti kelas daring karena belum dapat terbang ke tempat di mana dia dilahirkan, dibesarkan, hingga disekolahkan. Bocah lelaki itu memilih tinggal karena tidak mau dipisahkan dengan Perè-nya.


“Dan masih lapar? Mau makan lagi?” tanyanya kala sang putra mengakhiri kelas daring-nya. “Mère masih punya roti ubi yang kita beli dari toko roti Onty Dewi.


Bocah tampan itu tampak menimbang-nimbang. Roti ubi yang ibunya maksud adalah roti ubi ala Korea yang menarik perhatian. Roti tersebut diisi dengan ubi cilembu bakar, susu cair, madu, unsalted butter dan keju. Tadi Dan sudah mencoba satu. Jadi dia tahu betul rasanya seperti apa. Enak. Ditambah lagi pemilik toko rotinya juga baik sekali pada Dan.


“Sekarang Dan sudah kenyang, Mère. Dan makan rotinya nanti saja, boleh?” ujar si kecil dengan raut wajah polos dan menggemaskan.


“Tentu saja. Dan boleh makan nanti.” Ev yang gemas dengan iseng menjawil dagu sang putra. Membuat bocah lelaki itu memberenggut lucu. Ev kemudian meninggalkan sang putra yang masih duduk di kursi untuk menyimpan bekas alat makan di atas meja.


“Mère.”


“Iya. Ada apa sayang?” Ev yang baru saja memasukkan alat makan ke dalam paper bag beralih, menatap sang putra yang entah sejak kapan sudah berdiri dekat bed pasien.


“Perè.”


Kening Ev bertaut mendengar kalimat sang putra. “Iya, kenapa sama Perè?”


“Barusan Dan lihat tangannya Perè bergerak.”


Ev tersenyum tipis menanggapi celotehan sang putra. “Ah, itu tidak mung—apa sayang?!” ralat Ev cepat.


“Tangan Perè bergerak. Dan tidak bohong,” kata bocah lelaki itu lagi. Kini kedua bola matanya tampak berkaca-kaca.


Ev tampak kebingungan mendengarnya. “Dan mungkin salah lihat. Perè….”


“Dan enggak salah lihat, Mère bisa lihat sendiri.” Bocah lelaki itu kembali menjawab, membantah jika dia salah lihat.


Ev dengan cepat menghampiri sang putra. Dengan langkah lebar ibu satu anak itu mengikis jarak di antara mereka. Dilarikan pandangannya pada jari-jemari pucat yang sudah sejak lama tidak menunjukkan aktifitas kehidupan. Ternyata perkataan sang putra benar adanya. Jemari yang tampak pucat itu bergerak. Pelan dan perlahan. Sekila tampak nyata dan tidak.


“Darren….” Lirih bibir yang sempat bungkam untuk beberapa saat.


“Perè kenapa, Mère? Perè-nya Dan baik-baik saja bukan?” tanya si kecil diiringi isakan yang mulai terdengar.


Ev yang baru saja sepenuhnya mendapatkan kesadaran, langsung menatap sang putra dengan senyum lembut yang terpatri di bibir. Ev masih ingat betul hari di mana dokter mengatakan bahwa mantan suaminya itu dinyatakan koma. Koma sendiri adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Semenjak dinyatakan koma, Darren tidak dapat merespon sekelilingnya. Pada kasus Darren, kerusakan salah satu bagian otak memicu terjadinya koma. Dokter sendiri mengatakan jika koma dapat terjadi dalam jangka pendek maupun panjang.


Semenjak dinyatakan koma, Darren dirawat di ICU agar dapat terpantau secara intensif. Orang-orang terdekatnya silih berganti menjaga keturunan Xander tersebut. Ev juga termasuk di dalamnya, karena Dan alasan utamanya. Sebenci apapun Ev, atau sebesar apapun kesalahan yang telah dilakukan Darren, Ev tidak mungkin bersikap egois dengan menghalangi keinginan sang putra untuk menjenguk ayahnya. Lagi pula Ev juga sudah membicarakan masalah ini dengan Dean. Bagaimana pun juga Ev harus menghargai pria yang sudah mengikatnya itu.


Hari ini Ev juga menemani sang putra bersama Dean. Berhubung Dean hari ini tidak memiliki jadwal meeting penting di pagi hari, pria itu menawarkan diri untuk mengantar Dean dan Ev menjenguk Darren.

__ADS_1


Setelah dinyatakan koma semenjak 59 hari yang lalu, akhirnya keajaiban Tuhan kembali sebuah harapan. Tanda-tanda kehidupan kembali dapat dilihat dari pria yang 59 hari ini tergolek tak berdaya di atas bed. Maka dengan segera Ev menekan tombol gawat darurat untuk memanggil dokter. Tidak berselang lama, dokter dan suster yang biasa menangani Darren datang dengan tergopoh-gopoh. Diikuti oleh Dean yang membawa sebotol air mineral—karena tadinya pria itu pergi ke kafetaria untuk membelikan Dan minum.


“Ev, whats wrong?” tanya pria rupawan yang hari ini mengenakan setelan formal dari brand yang sama dengan Ev gunakan.


“Darren baru saja menggerakan tangannya.” Ev menjawab seraya meraih telapak tangan sang putra untuk digenggam.


“Tolong tinggalkan ruangan ini, nyonya. Kami akan segera memeriksa kondisi pasien,” ujar suster yang datang bersama dokter.


Ev pun menuruti perintah tersebut. Dia membawa sang putra keluar dari ruangan tersebut, disusul oleh sang kekasih. Setibanya di luar rungan, Dean mengambil alih si kecil Dan yang tengah terisak. Mungkin anak itu senang melihat ayahnya menunjukkan aktifitas kehidupan, tetapi salah kaprah dalam menyimpulkan. Sebab anak seusianya masih kesulitan mengekspresikan emosi.


“Om, Perè-nya Dan baik-baik saja, kan?” tanya Dan disela-sela tangisnya.


Dean mengangguk mantap. “Perè-nya Dan pasti baik-baik saja. Dokter sedang menyembuhkan Perè-nya Dan di dalam sana. Jadi, Dan enggak boleh sedih. Kalau Dan sedih, nanti Mère ikutan sedih.”


Si kecil Dan mengangguk seraya melingkarkan tangan mungilnya di leher Dean. “Maafin Dan, Mère. Dan cengeng,” katanya seraya menatap sang ibu dari balik bahu lebar tempat menyembunyikan sebagian wajahnya.


Ev tersenyum mendengar kalimat sang putra. Tangan wanita itu lantas terulur guna menyentuh surai jelaga milik Dan. “Schatz (sayang), Dan harus banyak berdo’a supaya Allah memberikan keselamatan Perè.”


Dan mengangguk samar. “Ja, Mère (iya, Mère).”


“Bagus, anak pintar,” kata Ev dan Dean bersamaan. Sedetik kemudian, kedua insan itu saling bertatapan. Mengunji kontak mata pada satu sama lain, sebelum sudut bibir masing-masing tertarik dan membentuk sebuah senyuman.


“Terima kasih, D.”


“For what hm?” pria rupawan itu bertanya seraya menatap lawan bicaranya lamat-lamat.


“Terima kasih untuk pengertian dan kesabaran kamu menghadapi aku maupun Dan.”


Salah satu cara mereka menjalin hubungan yang harmonis adalah menjaga komunikasi, sekali pun kebersamaan kadang sangat sulit untuk diupayakan. Namun, hingga detik ini Dean mampu menunjukkan bahwa dia bisa menjadi partner yang complicated bagi Ev yang dulunya selalu mandiri—apa-apa dilakukan sendiri.


Cup


Sebuah perlakuan manis tiba-tiba mampir di pucuk kepala ibu satu anak itu. Membuat si empunya yang beberapa saat lalu duduk di kursi tunggu bersebelahan dengan si pelaku, kontan menoleh.


“Ada Dan, D?” koreksinya seraya mencubit bisep dibalik lapisan kain yang dikenakan sang kekasih.


“Dia tidak melihat, sugar,” goda pria rupawan itu seraya mengedipkan sebelah matanya jenaka.


“Dasar,” ketus Ev seraya memeluk bisep yang baru saja dia cubit.


Setidaknya selama dia dibuat menunggu dengan perasaan cemas, ada orang terkasih yang selalu siap-sedia memberikan bahunya untuk bersandar. Ev sungguh bersyukur memilikinya. Diberi kesempatan sekali lagi untuk memiliki hati keturunan Wijaya satu ini, tidak akan Ev sia-siakan lagi. Karena baginya Dean tidak akan tergantikan oleh siapa pun. Keluasan hati pria tersebut benar-benar patut diapresiasi.


“Mbak Ev.”


Namun, kebersamaan pasangan bak keluarga cemara itu terusik oleh sebuah suara familiar yang cukup lama tak terdengar.


Saat menolehkan kepala ke samping, Ev langsung beranjak dari posisi duduknya.


“Kamu….”


“Mbak Ev, apa Ella bisa bicara sebentar sama mbak?”


Ev tampak mematung di tempatnya berdiri. Sepasang mata indahnya menatap sang lawan bicara lekat. Hampir enam bulan lamanya jika tidak salah, mereka tidak pernah bertemu dalam kurun waktu tersebut. Setelah resmi bercerai, Ev memang langsung terbang ke Paris. Semenjak itu dia tidak pernah tahu-menahu soal kabar mistress mantan suaminya. Sekembalinya Ev ke Indonesia karena kasus Drey sekali pun, tak sempat membuat takdir mempertemukan mereka.

__ADS_1


“Mère siapa dia?” tanya putra Ev dengan bahasa Jerman yang pasih. Anak lelaki itu meloncat turun dari pelukan Dean, saat melihat ibunya bicara dengan orang asing. “Mère kenapa diam saja? Apa dia jahat sama Mère?” tanya si kecil Dan bertubi-tubi.


Ev menoleh seraya tersenyum kecil. “Schatz (sayang), dia ini—“


“A-pa dia putra mbak Ev dan mas Darren?” potong suara kecil milik wanita muda yang datang dengan pakaian sederhana tersebut. Baju lengan panjang yang digunakannya bahkan tampak lembab pada beberapa bagian.


Ev membawa sang putra dalam pelukan posesif. Hal itu adalah gerakan spontan yang tubuhnya lakukan atas dasar perintah otak. “Iya,” jawab Ev singkat.


Wanita muda yang kondisinya tampak tidak terlihat baik itu tertegun untuk beberapa waktu. Tubuh kecilnya terlihat semakin kurus dan kering. Tulang pipinya juga terlihat sangat tinggi karena wajahnya sangat tirus. Belum lagi lingkaran hitam di bawah mata menambah ngeri penampilannya.


“Mirip sekali dengan mas Darren,” katanya parau. Dia kemudian kembali buka suara, “rambut, mata, hidung, bibir, bentuk wajah dan caranya tersenyum, mirip sekali dengan ayahnya.”


Tatapan wanita muda itu tidak terlepas dari Dan barang sedetik. Hal itu malah membuat si kecil Dan merasa tidak nyaman, sehingga kian beringsut dalam pelukan sang ibu. Ev sebagai seorang ibu tentu tahu kapan merasa tidak nyaman karena lingkungan di sekitarnya.


“D, aku bisa minta tolong bawa Dan ke play room?” pintanya pada sang kekasih yang sudah berdiri di sisi kanan tubuhnya.


“Hm.” Si pemilik nama menjawab dengan singkat. Dalam sekejap Dan sudah beralih ke pelukan Om kesayangannya. Anak itu juga tidak menolak sama sekali. “Jika terjadi sesuatu langsung hubungi aku, you understand sugar?” ucap Dean, mewanti-wanti. Sebenarnya dia berat hati meninggalkan mereka berdua.


“Aku mengerti, D.”


“Good, sugar.” Sebelum pergi bersama Dan, pria rupawan itu sempat meninggalkan perlakuan manis di kening sang kekasih.


“Kamu mau bicara apa?” tanya Ev to the point selepas Dean juga Dan pergi.


Bukannya menjawab, wanita muda yang datang dengan penampilan sederhana berupa baju lengan panjang yang kusut dan lembab di beberapa titik, dipadukan dengan bawahan rok model mayung/payung yang jatuh di atas betis itu tiba-tiba merendahkan diri. Berlutut di hadapan Ev yang tampak terkejut.


“Apa yang sedang kamu lakukan? Berdiri! Kamu mau membuat aku malu?” tanya Ev seraya menatap koridor di sekelilingnya.


Untung saja satu lantai ini sudah dibooking oleh orang tua Darren, jadi intensitas orang-orang yang berlalu lalang juga terbatas.


“Sebenarnya kamu mau apa dengan cara melakukan semua ini?” Ev menatap lawan bicaranya bingung.


Setelah hampir 3 bulan menghilang tanpa kabar, mistress mantan suaminya datang-datang malah begini. Ev tentu dibuat kebingungan.


“Maaf.”


Satu kata yang keluar dari bibir wanita muda itu kian membuat Ev kebingungan. “Maaf untuk apa? lagi pula, jika hanya untuk mengucapkan kata maaf, kamu tidak perlu berbuat sejauh ini.” Ev dengan segera bergerak, menyentuh kedua sisi bahu wanita yang dulu sempat membuat hati mantan suaminya berpaling.


“Berdiri. Untuk apa kamu berlutut? Kita sama-sama manusia biasa. Jika kamu ingin berlutut, berserah diri dan meminta maaf, lakukan di depan orang tua kamu, atau di hadapan Tuhan. Karena mereka dan Tuhan yang lebih berhak menerima perlakuan seperti ini.”


Alih-alih mengiyakan, wanita muda itu tetap memilih bertahan pada posisinya. Lelehan Kristal bening sudah mulai berlomba-lomba keluar dari kelopak matanya.


“Maaf. Maafkan kesalahan Ella, mbak. Ella salah. Banyak dosa yang telah Ella perbuat. Maafkan Ella karena sudah menjadi perempuan yang egois. Ella sudah mendapatkan akibatnya. Ella .... kehilangan bayi Ella. Ella bahkan kehilangan dia saat Ella belum sempat memeluknya. ”


🥀🥀


TBC


Lanjut? paling cepat besok, ya ☺️


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Sukabumi 09/05/22

__ADS_1


__ADS_2