Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M79 : SUDAH DIMAAFKAN, TAPI BELUM DILUPAKAN


__ADS_3

M79 🥀 : SUDAH DIMAAFKAN, TAPI BELUM DILUPAKAN


“Bibi?”


Wanita paruh baya yang tengah duduk di kursi dekat bed pasien itu mendongkrak, menatap ke arah sumber suara dengan tatapan bertanya-tanya.


“Bagaimana bisa bibi sampai ke sini?” tanya wanita muda yang masih diharuskan bed rest tersebut.


“Ada yang jemput bibi sama suami di kampung. Katanya di suruh tuan Darren untuk menemani neng Ella.”


“Begitu, ya?”


Wanita paruh baya yang datang jauh-jauh dari kampung itu mengangguk. Dia dan suaminya memang dijemput oleh dua orang suruhan suami lawan bicaranya. Saat mendengar kabar jika wanita muda yang sudah dia rawat seperti putri sendiri mengalami keguguran, bi Mimin langsung ikut tampa banyak bertanya. Toh, orang-orang di kampung juga sebagian besar sudah mendengar skandal kembang desa mereka yang teryata dijadikan wanita simpanan.


“Apa bibi lihat suami Ella saat Ella masih belum sadar?”


Wanita paruh baya itu menggengkan kepala. “Semenjak bibi datang, cuma ada nak Gara yang berjaga.”


Estrella—wanita muda itu tersenyum getir mendengarnya. Dia memang tidak melihat pria yang masih berstatus suaminya semenjak kemarin. Tepatnya semenjak pria itu berkata akan pergi bekerja. Untung saja saat membuka mata dia menemukan orang-orang yang sangat dia rindukan. Siapa lagi jika bukan bi Mimin dan suaminya. Kedatangan mereka sedikit banyak telah membuat emosi Ella lebih stabil, karena mereka bisa menjadi tempat Ella berkeluh-kesah.


Ella bisa dengan bebas mencurahkan semua perasaan yang dia rasakan kepada mereka. Terutama soal rasa sedihnya pasca keguguran. Bi Mimin dan suami dengan sabar menemani, mendengarkan dan memberikan wanita muda itu masukan. Bagaimana pun juga mereka menyayangi Ella, karena Ella sudah mereka anggap seperti putri sendiri. Oleh karena itu mereka ikut terpukul pasca mengetahui jika Ella mereka yang polos ternyata ditipu oleh pria yang dia cintai. Alih-alih dijadikan satu-satunya, ternyata Ella malah dijadikan wanita simpanan.


Ella sebenarnya sangat menunggu kehadiran Darren. Akan tetapi, pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu tidak kunjung datang.


Sehari, dua hari, tiga hari, hingga satu pekan lamanya dia lalui tanpa kehadiran sang suami. Ella yang masih dalam tahap recovery sempat meminta dipertemukan dengan Darren, namun keinginan itu ditolak mentah-mentah oleh Damian. Sampai Ella diperbolehkan pulang sekali pun, Darren yang notabene sangat ingin dia jumpai tak kunjung muncul.


“Ella ingin bertemu mas Darren, kenapa kamu terus menghalangi?” tanya Ella pada suatu kesempatan. Dia ngotot ingin bertemu Darren karena ingin mendapatkan kepastian.


Pria itu pergi seenaknya saat dia terpuruk karena kehilangan buah hati. Ella bahkan sampai saat ini tidak tahu di mana makan buah hatinya. Hanya Darren yang tahu. Akan tetapi pria itu sulit ditemui. Bahkan orang-orang yang dipekerjakan pria itu juga berkesan menghalang-halangi.


“Tuan Darren menitipkan ini kepada saya. Beliau berpesan untuk memberikannya setelah kondisi Anda lebih stabil.”


“Apa ini?” bingung Ella seraya mengambil berkas coklat yang disodorkan tangan kanan suaminya itu.


Dengan cepat Ella membuka berkas tersebut. Mengeluarkan isinya—sebuah kertas butih yang dibubuhi tinta hitam—agar dapat dia lihat dan baca. Seperkian detik berikutnya, tubuh wanita muda itu mematung hebat kala melihat salah satu pojok kertas yang dibubuhi sebuah tanda tangan atas nama Darren Aryasatya Xander.


“Ini apa maksudnya?” tanyanya linglung.


“Surat perceraian,” jawab Damian enteng. “Tuan Darren sudah memutuskan untuk bercerai dengan Anda.”


“Tidak mungkin. Mas Darren tidak mungkin sejahat ini sama Ella!” bantah Ella tak terima. Dengan emosi kertas itu dia sobek menjadi beberapa bagian.


“Sobek saja. Lagi pula saya sudah menyiapkan beberapa lembar untuk antisipasi,” kata Damian datar. “Anda tidak dapat menghindar, karena perceraian ini sudah direncanakan sejak awal.”


“Maksudnya?”


“Perceraian sudah menjadi akhir bagi hubungan Anda dan tuan Darren. Sekarang Anda lebih baik tanda tangani surat itu, dan kembalilah ke kampung halaman Anda. Semua kebutuhan Anda sudah saya persiapkan.”


“Tidak. Ella tidak mau berpisah.”


Damian menautkan kening mendengarnya. “Maksud Anda? Saya sudah berbaik hati memikirkan kebutuhan Anda setelah Anda menandatangani surat itu. Anda tidak akan mendapatkan apa-apa jika pun memilih ngotot untuk mempertahankan pernikahan bersama tuan Darren.”


“Ella gak butuh apa-apa. Ella butuh mas Darren—“


“Tapi tuan Darren tidak membutuhkan Anda,” potong Damian. Dia kemudian kembali buka suara, “yang tuan Darren butuhkan adalah nyonya Ev dan darah dagingnya. Anda bukan lagi kebutuhan tuan Darren.”


Ella menggelengkan kepala cepat. “Mas Darren butuh Ella. Ella tahu itu. Ella tahu karena mas Darren selalu memuji Ella—“


“Memuji bukan berarti mencintai,” potong Damian lagi. “Tuan Darren memang butuh Anda di saat dia tidak mendapatkan kepuasaan dari wanita yang dia cintai.”


“….”

__ADS_1


“Apa kamu belum sadar juga?” tekan Damian. “Kamu ini cuma sebatas perantara. Pelampiasan sebuah ketidakpuasaan.”


Damian menghela napas berat setelah berkata demikian. Dengan perlahan suami Dewita itu melonggarkan dasi yang terasa men-cekik. Berbicara dengan wanita muda satu itu benar-benar membutuhkan kesabaran extra.


“Sampai kapan Anda akan seperti ini? sikap Anda yang seperti ini sudah banyak membuat orang susah.”


“M-aksud kamu?” lirih Ella dengan suara tercekat.


“Tuan Darren bukannya tidak mau menemui Anda, akan tetapi karena berniat menemui Anda yang hari itu harus kembali menjalani operasi, tuan Darren mengalami kecelakaan hebat hingga mengakibatkan dirinya kehilangan kesadaran hingga detik ini.”


“APA?!” Pekik Ella tertahan. Air matanya tanpa sadar ikut bercucuran mendengar informasi tersebut.


“Tuan Darren divonis koma untuk waktu yang tidak dapat ditentukan,” tambah Damian. Awalnya dia tidak mau bercerita, namun dia memilih jujur agar lawan bicaranya mengerti kondisi hubungan mereka yang kian toxic.


“Tuan Darren maupun Anda sudah tidak lagi menjalani hubungan yang sehat, karena sejak awal hubungan kalian sudah salah. Apa Anda masih tidak sadar akan teguran yang sudah diberikan oleh-Nya?”


“….”


“Baik Anda atau tuan Darren sudah Tuhan peringatkan bukan? Hubungan kalian salah. Tidak sehat. Hubungan seperti itu hanya akan membawa petaka. Sekarang coba Anda pikirkan, apa saja kemalangan yang terjadi akhir-akhir ini? jika diakumulasikan, semua itu tidak sebanding dengan kehancuran yang terjadi akibat hubungan tidak sehat kalian.”


Damian menghela napas lagi. Lama-lama dia emosi sendiri jika terus begini. Sudah hilang pula image-nya yang irit bicara karena harus menjelaskan point A sampai point Z agar mistress sang atasan mengerti.


“Apa Anda tidak lelah?” Damian bertanya seraya menatap sang lawan bicara dengan mata memincing. “Tidak lelah mempertahankan hubungan yang sudah tidak utuh?”


“Ella…..”


“Mungkin kamu tidak. Tapi, berbeda dengan tuan Darren. Dia kelelahan. Karena satu kesalahan fatalnya, dia dibuang oleh keluarganya sendiri. Kehilangan karir, kehilangan wanita yang dicintai, bahkan hampir kehilangan kepercayaan sang putra.”


Tangis Ella kian deras mendengarnya. Ella menangis karena desakan berbagai rasa yang melingkupi dada. Sakit, sesak, sedih, marah, dan benci. Semua itu bersarang di dalam dada. Ella tidak bodoh. Dia tahu ke mana alur pembicaraan ini berakhir.


“Saya beri waktu dua hari untuk berpikir.” Damian kembali buka suara. “Untuk sementara waktu Anda akan tinggal di tempat lain bersama orang tua angkat Anda. Elgara yang akan mengantar kalian ke sana.”


Ella tak lagi mampu mengangkat kepala. Wajah sayu yang dibasahi oleh air mata itu tertunduk kian dalam. Kedua tangannya sibuk meremat ujung rok dari terusan yang dia gunakan.


Keributan.


Perceraian.


Percobaan pembunuhan.


Keguguran.


Kemudian, kecelakaan.


Semenjak Ella menginjakkan kaki di kota ini, rentetan kejadian itu menemani perjalannya tinggal di sini. Seolah-olah tidak ada habisnya, Tuhan benar-benar memberikan teguran secara beruntun. Dia juga kian dihinggapi rasa bersalah saat merenungkan rentetan kejadian yang ternyata dipicu oleh kehadirannya.


Oleh karena itu selama tinggal di rumah yang lebih mirip ‘pengasingan’ itu, Ella lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menangis dan melamun.


Bi Mimin sampai khawatir membuatnya. Elgara yang eksistensinya beberapa waktu kebelakang sering terlihat di sekeliling Ella juga tidak dapat menyembunyikan rasa cemas.


Namun, dengan cara ini Damian berharap Ella dapat mempertimbangkan ucapannya. Elgara juga menghargai usaha tangan kanan atasannya. Elgara tidak punya kuasa untuk ikut campur lebih jauh, karena sadar akan posisi. Toh, dia tidak mau membuat orang salah paham akan rasa iba yang dia tunjukkan.


🥀🥀


“Aku sudah memaafkan kamu.”


Satu kalimat yang diucapkan dengan nada tanpa emosi itu berhasil membuat lawan bicaranya mendongkrak.


“Mbak Ev sudah maafkan semua kesalahan Ella?”


“Hm. Sekarang lebih baik kamu berdiri,” jawab si pemilik nama. Dengan suka rela dia membantu lawan bicaranya untuk berdiri, dan mengarahkan dia untuk duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


“Aku sudah memaafkan kamu. Tapi, tidak untuk melupakan kesalahan itu,” tambah Ev. “Lagi pula semua itu sudah berlalu. Aku memang sudah memaafkan kamu. Hanya saja untuk melupakan semua kesalahan fatal yang Darren lakukan bersama kamu rasanya sulit. Ingatan itu akan selalu ada, terpatri di dalam hati.”


Ella kembali menitihkan air mata. Dia merasa jadi wanita paling jahat karena telah menghancurkan sebuah ikatan pernikahan. Setelah diberi waktu untuk berpikir, Ella akhirnya setuju untuk berpisah.


Damian benar, hubungannya dengan Darren tidak sehat. Ella juga sudah lelah mendapatkan tekanan. Percuma saja bertahan sekuat tenaga jika hadirnya sudah tidak lagi dibutuhkan. Apalagi sekarang dia hanya wanita sebatang kara yang sudah memiliki citra buruk di mata masyarakat. Ditambah dia tidak lagi sempurna sebagai seorang wanita, karena divonis akan sulit mendapatkan keturunan.


“Aku juga sudah ikhlas jika memang Darren bahagia bersama kamu. Lagi pula aku juga sudah menemukan seseorang yang dapat membuat aku dan putraku bahagia.”


“Kami setuju untuk bercerai, mbak.” Ella berucap dengan suara parau. Membuat Ev tertegun untuk beberapa saat karena terkejut.


“Ella baru sadar kalau selama ini Ella egois. Ella mau menang sendiri. Tanpa sadar Ella telah membuat seseorang yang Ella cintai tersakiti.”


Ev mengernyitkan kening mendengarnya. “Kamu mencintai Darren?”


Ella mengangguk ragu. “Apa salah jika Ella mencintai pria sesempurna mas Darren?”


Ev menggeleng seraya tersenyum kecil. “Darren memang mudah dicintai oleh lawan jenis.”


“Termasuk mbak Ev?” tanya Ella, tanpa tedeng aling-aling.


Ev tersenyum mendengarnya. “Dulu. Sebelum aku membuang jauh perasaan itu.”


“Karena Ella?” lirih Ella.


“Bukan,” sahut Ev. “Mungkin karena landasan hubungan kami yang tidak benar sejak awal.”


“Maaf mbak,” ujar Ella sekali lagi. “Jika saja Ella tidak bertemu mas Darren waktu itu, pasti saat ini mbak Ev masih berstatus istri mas Darren.”


“Untuk apa sekarang berandai-andai? Toh, semua takdir yang digariskan Tuhan telah terjadi.” Ev mengalihkan pandannya pada sembarangan arah. “Ini sudah takdir kami. Aku dan Darren tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya. Dan kamu, telah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pemisah di antara kami.”


Ella semakin menangis deras dibuatnya. Napas wanita muda itu bahkan sampai tersenggal-senggal karena dadanya dilingkupi rasa sesak. Seolah-olah semua perkataan Ev adalah racun yang berhasil meni-kam jantungnya secara perlahan.


“Maaf, mbak Ev. Maaf. Maafin Ella. Ella salah, Ella jahat.”


Bak telah diprogram secara otomatis, bibir mungilnya kembali melontarkan kata maaf. Membuat Ev yang duduk di sampingnya ikut merasa iba. Ella tidak sepenuhnya bersalah di sini. Karena perselingkuhan terjadi karena kontribusi 2 belah pihak. Lagipula Ella awalnya tidak tahu menahu soal status Darren.


Semua itu tentu sudah menjadi bagian dari takdir. yang Tuhan gariskan. Ev tidak dapat menampik perihal tersebut.


Ev juga tahu berat jika berada di posisi Ella. Terlepas dari semua kesalahan yang telah dia perbuat. Ella baru saja kehilangan bayinya, kini harus berpisah dengan pria yang dicintainya pula. Ev juga tidak bisa membantu apa-apa. Yang bisa dia lakukan sebagai sesama wanita yang lebih dewasa dan open minded, dia hanya bisa memberi pengertian dan masukkan agar Ella tidak kembali jatuh pada lubang yang sama.


“Ella akan pergi dari kota ini,” katanya setelah tangisnya mereda. “Mbak Ev tenang saja, Ella tidak akan pernah muncul lagi di hadapan mbak Ev.”


Ev mengangguk paham. “Pergilah jika itu membuat kamu merasa lebih baik. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan dengan pria yang lebih baik di luar sana.”


Ella mengangguk seraya tersenyum. Kendati lelehan air mata masih tampak di mata. “Sebelum Ella pergi, apa boleh Ella minta izin untuk bertemu mas Darren?” tanyanya hati-hati.


Ev tertegun untuk beberapa saat. Namun, detik berikutnya dia mengizinkan. “Tentu saja.”


“Terima kasih, mbak Ev. Ella benar-benar tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apalagi untuk membalas kebaikan mbak Ev,” lirih Ella.


Ev menggelengkan kepala. Tangannya bergerak, menyentuh bahu ringkih Ella. “Hiduplah dengan baik untuk kedepannya. Kamu juga harus belajarlah dari masalalu.”


Ella mengangguk disela tangisnya. Dia akan mendengarkan pesan dari malaikat berwujud manusia ini. Ella tidak akan melupakannya. Ella akan belajar melupakan masa lalu dan mencoba hidup dengan baik untuk kedepannya.


🥀🥀


TBC


GIMANA? KOMENTAR PLEASE!


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Sukabumi 21/05/22


__ADS_2