
EXTRA PART : AQIQAH BABY DAN
“Hm. Kirim saja file dokumennya lewat surel. Nanti akan saya periksa.”
Pria tampan dengan setelan piyama hitam bermotif salur itu tampak membalas ucapan seseorang dari seberang, dengan tangan lain digunakan untuk menutup pintu.
“Jika besok masih ada yang perlu diurus, hubungi saja sekretaris saya. Besok saya ada acara keluarga, jadi tidak bisa diganggu.”
Dengan langkah pelan, pria itu mendekat ke arah tempat tidur berukuran king size di mana sang istri tengah berbaring. Ketika tiba di dekat tempat tidur bersamaan dengan terputusnya panggilan tersebut, dia langsung tersenyum saat melihat wajah lelap sang istri. Namun, saat menoleh ke samping sang istri, dia menemukan sang putra yang baru saja menggeliat dan membuka mata.
“Kenapa Dan bangun hm?” sapanya seraya membawa buah hatinya dalam gendongan sebelum menangis dan membangunkan sang istri.
“Dan seharusnya tidur. Lihat, Mère saja sampai ketiduran karena menjaga Dan.”
Alih-alih kembali melanjutkan tidurnya, bayi mungil yang baru berusia 6 hari itu tampak menggeliat seraya menguap. Membuat sang ayah gemas sendiri melihat setiap gerak-gerik si kecil. Dicium pipi kemarahan sang putra secara bergantian, sehingga bayi itu kian menggeliat tak nyaman.
“Dan tidur lagi, ya. Perè ambilkan ASI, mau?”
Sembari membawa sang putra dalam gendongan, pria rupawan itu berjalan ke arah lemari pendingin berukuran mini yang tersimpan di pojok ruangan. Lemari pendingin berukuran mini itu sengaja diletakkan di sana untuk menyimpan ASI hasil pumping. Kebetulan produksi ASI sang istri secara alami sangat banyak, sehingga Ev cukup rajin melakukan pumping dan ASI hasil pumping di simpan sebagai stok.
Hampir satu minggu menyandang status baru, membuat pasangan Darren dan Ev masih berusaha semaksimal mungkin menyesuaikan kondisi mereka saat ini. Dari yang awalnya mereka tinggal berdua, kini bertiga semenjak kehadiran baby Dan. Ada banyak perubahan yang terjadi semenjak baby Dan lahir. Darren maupun Ev selalu berusaha membagi waktu dan pekerjaan dengan baik. Mereka juga selalu menyempatkan sedikit waktu untuk melakukan deeptalk sebagai sarana untuk berkomunikasi.
Sebagai seorang suami dan ayah, Darren juga selalu siap dan siaga. Darren selalu mengutamakan kondisi istri dan sang buah hati, apalagi Ev masih rawan terkena baby blues syndrome jika tidak Darren damping dengan baik. Namun, sejauh ini Ev tidak pernah mengeluhkan apapun. Wanita cantik itu terlihat sangat menikmati perannya sebagai seorang ibu. Sekalipun jam istirahatnya jadi kacau balau semenjak kelahiran si kecil.
“Sudah tidur lagi,” lirih Darren saat melihat putra sematawayangnya yang sudah terlelap lagi, padahal ASI yang Darren ambilkan belum diminum sedikitpun.
Dengan gerakan ekstra hati-hati, pria keturunan Xander itu memindahkan sang putra ke dalam box bayi. Setelah bersusah payah memindahkan sang putra, Darren beralih kepada sang istri. Dia kemudian ikut bergabung, lantas membawa tubuh wanita cantik itu merapat padanya. Sekalipun telah melahirkan putra pertama mereka, tubuh sang istri tidak banyak berubah. Hal itu merupakan bukti dari betapa gigih dan rajinnya Ev menjaga pola makannya. Semenjak melahirkan, Ev juga sudah rajin makan-makanan yang bergizi agar produksi ASI nya tidak terhambat. Di samping itu, Ev juga sudah mulai aktif melakukan olahraga ringan yang aman dia lakukan untuk mengembalikan porsi tubuhnya yang ideal.
“Kok bangun? Pasti gara-gara aku?”
Wanita cantik yang baru saja membuka mata itu menggeleng samar. “Dan barusan bangun?”
Sang suami mengangguk kecil. “Sekarang udah tidur lagi.”
“Enggak nangis, kan?”
“Enggak. Cuma ngulet-ngulet doang. Pas aku ambilin ASI yang disimpan di lemari pendingin, dia malah lanjut tidur.”
“Kamu dikerjain baby Dan, mas?” seulas senyum tipis terbit di wajah cantik tersebut.
“Kayaknya iya. Mungkin karena seharian ini aku sibuk kerja, jadi Dan cari perhatian supaya aku gendong.” Darren tersenyum kaku saat mengingat kesibukannya hari ini. dia bahkan tidak sempat menyapa si kecil dan saat bangun pagi, sedangkan saat pulang kerja, si kecil juga sudah tidur nyenyak. “Besok acara aqiqah baby Dan jadi, ‘kan?”
Sang istri mengangguk seraya menatap sang suami.
“Persiapannya sudah selesai?”
“Sudah. Tinggal eksekusi.”
“Maaf, ya. Aku tidak bisa bantu kamu prepare acara aqiqah putra kita,” sesal Darren. Dia memang langsung dilimpahi banyak pekerjaan setelah cuti empat hari pasca Ev melahirkan. Ayahnya saja—owner sekaligus founder perusahaan—lebih suka melimpahkan semua pekerjaan pada putranya, agar pria yang usianya sudah pertengahan abad itu punya banyak waktu luang bersama cucu pertamanya.
“It’s okay. Lagipula enggak terlalu banyak yang harus dipersiapkan. Tamu undangan yang besok hadir juga cuma keluarga dan orang-orang terdekat. Deesa sama Dewita juga tadi ikut bantu mempersiapkan semuanya.”
Besok adalah hari ke-7 kelahiran putra pertama mereka. Rencananya, besok akan diadakan acara aqiqah untuk Dan. Aqiqah yang akan digelar tidak akan mengundang banyak orang, karena Darren dan Ev sudah setuju untuk merahasiakan wajah putra mereka sampai berusia 40 hari. Saat berusia 40 hari nanti, acara tasyakuran akan kembali digelar secara besar-besaran sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran putra pertama mereka. Untuk acara esok hari, hanya orang-orang terdekat saja yang diundang. Para anggota keluarga dan kerabat mereka juga menghormati keputusan Darren dan Ev. Mereka juga sudah berjanji tidak akan menyebarkan wajah si kecil Dan, sebelum orang tuanya sendiri yang mempublikasikan.
“Sekarang ayo kita tidur lagi,” ajak Darren seraya membawa sang istri agar semakin dekat dengannya. “Besok kita harus bangun pagi untuk aqiqah baby Dan.”
“Hm,” gumam Ev yang masih mencari posisi paling nyaman dalam dekapan sang suami.
“Besok gantian, biar aku yang urus sisanya,” bisik Darren. “Kamu cukup duduk yang manis.”
“Aku udah manis kok,” sahut sang istri dengan suara kecil.
“Iya. Saking manisnya, aku sampai takut diabetes lihat senyum kamu,” jawab Darren seraya mencuri satu kecupan di bibir ranum sang istri.
“Gak usah mulai. Lupa, masih harus puasa?”
__ADS_1
“Ah, iya. Belum boleh buka, ya?”
“Belum!” jawab sang istri tegas. “Kata dokter Deesa apa? Puasa. Jadi, jangan mulai. Nanti kamu pusing sendiri,” tambah sang istri, mewanti-wanti.
Darren tersenyum lebar seraya memeluk sang istri erat. “Ok, kalau gitu sekarang kita tidur aja. Takutnya aku khilaf—“
Kalimat ayah muda itu terpotong seketika saat suara tangisan sang putra yang melengking mengudara. Refleks, pasangan suami-istri itu langsung beranjak dari posisi berbaring.
“Tuh, kan. Baby Dan bangun lagi!” ketus sang istri seraya buru-buru beranjak, berjalan mendekat ke arah box bayi sang buah hati.
“Lah, kok jadi aku yang salah sih, sayang?” bingung Darren, tidak terima disalahkan begitu saja.
“Terus siapa yang salah? Aku?” tanya Ev lagi dengan Dan yang sudah berpindah dalam gendongan. Wanita cantik itu lantas bergerak ke sofa berwarna abu-abu yang nyaman digunakan sebagai tempat untuk menyusui.
“Iya, iya. Aku yang salah,” ralat Darren cepat. Ingat, peraturan tertinggi yang tidak bisa didebat oleh para suami, point pertama adalah istri tidak pernah salah. Point kedua, jika istri melakukan kesalahan, maka kembali ke point pertama. Darren juga tidak pernah menyela, mendebat, ataupun bahkan melawan saat istri tercintanya mengomel.
Sekelas sahabat Rasulullah yang ditakuti dan disegani oleh kawan maupun lawan juga tidak pernah melawan saat istrinya mengomel. Siapakah beliau? Beliau adalah sayyidina Umar Bin Khatab. Ketika istrinya mengomel, sayyidina Umar terdiam karena teringat 5 hal. Yang pertama, Istri adalah benteng api neraka. Kedua, istri adalah pemelihara rumah. Ketiga, istri adalah pengasuh anak-anak. Keempat, istri adalah penjaga penampilan. Kelima, istri adalah penyedia hidangan.
“Baby Dan udah tidur. Sini, biar aku yang pindahkan ke box bayi. Kamu lanjut tidur aja,” kata Darren saat putra mereka berhasil ditidurkan kembali setelah kenyang minum ASI langsung dari sumbernya.
“Ev,” panggilnya lagi, saat sang istri tak kunjung menjawab.
Saat diperhatikan lebih seksama, ternyata sang istri ikut tertidur. Darren tersenyum tipis melihatnya. Sang istri pasti sangat kecapean hari ini. Maka dengan segera dia membawa sang putra untuk dibaringkan kembali di box bayinya. Lalu Darren kembali untuk memindahkan sang istri ke tempat tidur mereka. Tidur Ev cukup pulas, karena sampai Darren memindahkannya ke tempat tidur sekalipun, wanita itu tampak tidak terganggu. Darren tahu betul Ev kelelahan dan kurang istirahat. Itulah resiko yang umum terjadi pada seorang istri yang juga baru menyandang status baru sebagai seorang ibu.
Dipandangi wajah damai sang istri lamat-lamat. Wajah cantik inilah yang selalu hilir-mudik menghiasi momen-momen penting dalam hidup seorang Darren Aryasatya Xander. Dirangkum wajah cantik itu oleh kedua telapak tangannya, agar wajah cantik itu mendongkrak. Dengan perasaan penuh kasih dan sayang, Darren menjatuhkan satu kecupan hangat di kening sang istri seraya berkata.
“Selamat tidur, sayang. Semoga kamu tidur dengan nyenyak dan mendapatkan mimpi indah. Terima kasih karena telah menjadi istri dan ibu yang sangat hebat. Jazakillah (semoga Allah membalas kebaikanmu) sayang.”
🌼🌼
Kelahiran buah hati di antara sepasang suami-istri adalah momen yang sangat ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Sebagai bentuk rasa syukur atas kelahiran sang buah hati, para orang tua biasanya menggelar acara aqiqah. Aqiqah tersebut tentu dilakukan sesuai dengan tata cara yang disunnahkan oleh Rasulullah. Hukum aqiqah sendiri adalah sunnah muakkad menurut jumhur (golongan terbanyak) ulama.
Dari bahasa Arab, aqiqah berasal dari kata Al qat’u yang berarti memotong. Kata ini memili dua makna. Makna yang pertama adalah memotong rambut bayi yang baru lahir. Sedangkan makna yang kedua, memotong atau menyembelih hewan. Menurut tata cara yang disunnahkan Rasulullah, yaitu dengan cara menyembelih binatang ternak lalu dibagikan kepada kerabat atau tetangga. Menurut istilah, aqiqah adalah proses pemotongan hewan ternak pada hari ke tujuh setelah bayi dilahirkan. Penyembelihan hewan ternak ini sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Untuk jumlah hewan ternak yang disembelih juga berbeda antara bayi laki-laki dan perempuan. Bagi bayi laki-laki sebanyak dua ekor kambing, sedangkan untuk bayi perempuan sebanyak satu ekor kambing. Namun, jika keluarga belum mampu untuk melaksanakan aqiqah pada hari ke tujuh, maka dapat dilakukan pada hari ke-14 atau hari ke-21. Jika masih belum mampu juga, makan kapan saja sampai diberikan kemampuan untuk melaksanakannya.
Bayi laki-laki itu tampak tertidur dengan pulas dalam balutan kain lembut serba berwarna baby blue. Kedua orang tuanya juga kompak menggunakan pakaian dengan dominasi warna baby blue. Seiras dengan warna dekorasi ruang tengah di mansion mereka yang dihiasi oleh berbagai pernak-pernik berwarna baby blue dan putih.
“Kok tidur sih, Ev?”
“Tadi sempat bangun, terus minum susu. Pas digendong ayahnya langsung tidur lagi.”
“Wih, husband kamu ada bakat juga buat nidurin baby Dan, ya?” puji wanita bernama Dewita itu—kekasih Damian lebih tepatnya.
Ev hanya menanggapi ucapan sang sahabat dengan senyum kecil. Dia hari ini menggunakan terusan berwarna baby blue berkancing di bagian atas yang ramah untuk digunakan busui—ibu menyusui—sepertinya. Sedangkan sang suami, tampil cool dengan kemeja berwarna baby blue berlengan pendek yang dipadukan dengan celana kain. Sang suami memang sudah sibuk sejak pagi karena ikut mengontrol jalannya acara aqiqah putra mereka.
Hari ini cukup banyak kegiatan yang akan diselenggarakan. Mulai dari pemotongan hewan kurban, nanti daging hewan kurban tersebut akan dimasak, kemudian akan dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, hingga orang fakir. Acara selanjutnya memotong rambut baby Dan, pemberian nama untuk baby Dan, kemudian mendoakan baby Dan agar dapat menjadi anak yang sholeh dan terlindung dari godaan syaitan serta pandangan buruk.
“Anak lo ganteng banget, gemes gue lihatnya.”
“Of course. Dia putraku. Wajah tampannya hasil copy paste dari wajah tampanku,” jawab ayah dari bayi laki-laki yang tengah dikerubungi oleh tiga pria dewasa tersebut.
“Kalau masalah itu, gua gak bisa mendebat. Dia memang kloningan lo,” tambah Dewangga. Pria itu sejak tadi merelakan jari telunjuknya untuk jadi pegangan jari-jari mungil si kecil Dan.
“Saya masih tidak menyangka Anda sudah memiliki seorang putra, tuan,” komentar Damian. Dia juga sama-sama terkesima semenjak pertemuan pertamanya dengan si kecil Dan yang begitu menggemaskan.
“Gue juga jadi pengen yang kayak baby Dan satu.”
“Saya juga.”
Damian ikut-ikutan ingin memiliki bayi seperti baby Dan. Hal itu tentu membuat Darren tertawa ringan. “Kalau mau, cepat cari istri. Kemudian buahi, agar cepat dapat hasil seperti ini.”
“Wah, bahasa lu, gak baik buat pendengaran anak lo,” ujar Dewangga seraya mendengus.
“Iya, tuan. Bahasa tuan terlalu frontal.”
Darren menatap sang sekretaris tajam. Bisa-bisanya Damian berkata demikian pada atasannya. Tidak bisa dibiarkan.
__ADS_1
“Ini bukan jam kerja, tuan. Saya punya hak untuk mengomentari Anda sebagai seorang teman, bukan sebagai bawahan,” kata Damian, seolah-olah tahu isi pikiran sang atasan.
“Kamu—“
“Mas!”
Kalimat Darren tidak jadi terucap karena panggilan sang istri. Belahan jiwanya itu tampak berjalan mendekat dengan senyum merekah di bibir ranumnya.
“Ada apa sayang?”
“Ada yang mau nyapa baby Dan,” jawab Ev seraya mengambil alih si kecil. “Dan tidak menangis selama aku tinggal, ‘kan?”
Darren, Damian dan Dewangga yang sejak tadi jadi babysitter Dan kompak menggeleng. Tiga pria rupawan yang biasa bersitegang di ruang meeting itu sempat kelimpungan saat dititipi si kecil Dan untuk beberapa waktu. Untungnya Dan tidak rewel. Bayi laki-laki itu anteng saja diurus oleh mereka.
“Siapa?” Darren bertanya seraya meraih pinggang sang istri agar wanita itu tidak berada jauh dari jangkauannya. Jika berada di keramaian seperti ini, Darren bawaannya ingin menempeli sang istri agar tidak ada pria lain yang berani melirik wanitanya.
“Mereka,” ucap Ev seraya menoleh ke samping.
Karena penasaran, Darren juga ikut menoleh ke arah yang sama. “Mereka….”
“Hai,” sapa salah satu dari ‘mereka’ yang Ev maksud. “Selamat atas kelahiran putra pertama kalian. Aku ikut bahagia atas kelahiran putra pertama kalian.”
“Terima kasih,” balas Ev mewakili. Dia tahu sang suami masih terjebak dalam keterkejutan. “Ini pasti Dayu?” sapa Ev ramah, beralih pada ke kanan.
“Iya. Ini Dayu, pasanganku.”
Pertanyaan Ev dijawab oleh orang yang sama, yaitu Dean Wijaya. Salah satu tamu undangan yang mendapatkan kesempatan untuk hadir ke acara aqiqah baby Dan adalah Dean Wijaya. Pria itu datang bersama teman wanitanya, yaitu Dayu. Ev kira Dean tidak akan datang. Ev sempat ragu saat undangan yang dia kirim tak kunjung mendapat balasan. Akan tetapi, Ev mendapat surprise saat Dean benar-benar datang bersama pasangannya walaupun mereka sempat terlambat datang.
“Mas, ayo sapa tamu kita,” bisik Ev seraya menatap sang suami dengan ekor matanya.
“Hm.” Darren berdeham kecil. Pelukannya di pinggang sang istri kian erat. Membuat siapapun yang melihat beranggapan jika Darren sangat posesif. “Selamat datang di rumah kami. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menghadiri aqiqah putra kami, Palacidio Daniel Adhitama Xander.”
Meskipun agak canggung, Darren tetap berusaha semaksimal mungkin untuk menyapa tamunya dengan ramah. Kecanggungan itu bisa ditangkap pula oleh Damian dan Dewangga. Keduanya kemudian memilih undur diri agar dapat memberi mereka ruang.
“Hm. Putra kalian sangat tampan,” puji Dean jujur. Seulas senyum juga tercipta di bibirnya. “Siapapun akan langsung dibuat jatuh cinta saat melihatnya.”
Ev tersenyum tipis mendengarnya. “Terima kasih atas pujiannya, uncle Dean,” balas Ev dengan suara yang dibuat mirip suara anak kecil.
Hal itu tentu membuat suasana canggung di antara mereka sedikit demi sedikit mencair.
“Aku benar-benar berterima kasih, karena kalian mau datang ke aqiqah baby Dan.”
“Kami kebetulan punya waktu luang, jadi menyempatkan untuk datang,” jawab Dean yang kini tengah mengajak si kecil Dan bermain dengan jemarinya.
Si kecil Dan sendiri sekarang berada dalam gendongan Dayu. Wanita cantik itu tampak luwes sekali saat menggendong Dan. Dan juga tidak menangis saat digendong oleh Dayu. Hal itu yang membuat Ev lega saat menyerahkan putranya. Lain dengan Darren yang tampak dongkol, karena bisa-bisanya sang putra langsung akrab dengan rivalnya.
“So, kapan kalian akan menyusul?” tanya Ev tiba-tiba. Melihat keterkejutan di wajah keduanya, Ev tersenyum kecil seraya melingkarkan tangannya di lengan sang suami. “Kalian sudah pantas menggendong bayi. Tante Deesy dan om Darwis pasti akan sangat senang jika diberi cucu seperti Dan satu.”
“Secepatnya,” jawab Dean tak disangka-sangka. Dayu sampai menatap pria itu secara langsung karena terkejut mendengar ucapan Dean.
“Secepatnya kami akan menyusul. Rencananya kami akan segera melangsungkan pertemuan keluarga. Doakan saja supaya planning tersebut lancar sampai hari H,” tambah Dean tanpa dosa.
“Tentu saja!” itu bukan Ev yang menjawab, melainkan Darren. “Kami akan mendoakan yang terbaik untuk kalian. Jangan lupa untuk mengirim undangan saat kalian hendak menikah nanti.”
Ev tersenyum lebar mendengar ucapan sang suami. Setidaknya sekarang hubungan mereka sudah lebih baik ketimbang beberapa tahun ke belakang. Sekarang setidaknya mereka sudah bisa menerima takdir dengan ikhlas. Lagipula siapa juga yang tahu dengan Qada dan Qadar Allah Subhanahu wa ta’ala? Tidak ada. Baik atau buruknya Qada dan Qadar, semua itu sudah menjadi takdir setiap umat-Nya.
🌼🌼
LAGI? ATAU UDAH?
KALAU LAGI, RENCANANYA NEXT PART BAKAL MUNCUL ESTRELLA. PENASARAN GAK SAMA REAKSI DARREN?
CUS, KASIH BUNGA SEKEBON 🌼🌻🏵️💮🌸🌷🌺🥀🌹💐🌹🥀🌺🌷🌺
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
Sukabumi 14/06/22
__ADS_1