
HAPPY READING 🔥
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Follow IG Karism022 jua!
M68 🥀 : PILIHAN TERBIJAK
Ketika memutuskan untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis, Ev sebagai orang tua tunggal harus mempertimbangkan banyak hal. Apalagi ada buah hati yang tumbuh kembang fisik dan psikis-nya harus diperhatikan. Hal itu juga menjadi pertimbangan cukup krusial bagi Ev. Namun, di sisi lain dia juga tidak bisa selamanya mengabaikan seseorang yang sudah dia ‘gantung’ perasaanya tanpa kepastian.
Ev tidak mau membuat Dan yang masih kecil salah kaprah nantinya. Oleh karena itu Ev harus bisa mempertimbangkan pilihan terbaik dan terbijak bagi dua kaum Adam beda usia yang sama-sama memiliki peran penting dalam hidupnya. Untungnya, pria yang selama ini telah mempertahankan rasa sukanya selama bertahun-tahun itu memberikan keleluasaan pada Ev. Dean membiarkan Ev memutuskan mau bagaimana hubungan mereka berjalan kedepannya. Pria itu juga tidak mengekang Ev, maupun memberatkan Ev. Dean juga menawarkan opsi backstreet—hubungan sembunyi-sembunyi atau dirahasiakan dari publik karena tujuan tertentu—agar hubungan mereka tidak menganggu tumbuh kembang putra semata wayangnya Ev.
Dean tahu betul seberapa besar harapan putra semata wayangnya Ev akan kasih sayang seorang ayah yang selama ini tidak mengetahui kehadirannya. Dean tidak mau menjadi pria egois—berujung menjadi penyebab rusaknya mimpi terbesar Dan. Setidaknya selama Dan belum mengerti kondisi orang tuanya, Dan berhak untuk mendapatkan kasih sayang mereka. Jangan sampai Dan berujung jadi anak broken home karena masalah di antara para orang dewasa. Untuk saat ini Dean sudah cukup puas dekat dengan anak itu sebagai ‘teman’ sang ibu. Dan terlalu kecil untuk memahami situasi toxic relationship yang melibatkan kedua orang tuanya.
“Buat apa hm?”
Suara familiar itu datang bersamaan dengan sepasang tangan yang melingkar di pinggang ramping berbalut afron maroon.
“Nanti Dan lihat. Siapa yang mau menjelaskan?” tegur wanita yang tengah sibuk menata macaron berbagai warna dan rasa di atas piring porselen.
“Dan sedang ganti baju. Dia excited sekali mau bertemu grandpa, grandma, sama yang lain.”
“Terus kenapa kamu masih di sini, D? Bukannya dari tadi Dan tidak mau lepas dari kamu?”
“Hm, barusan aku suap dia,” jawab pria rupawan tersebut seraya membalikkan tubuh lawan bicaranya.
“Kamu suap dia dengan apa?”
“Dia mau belajar musik. Aku menawarkan diri untuk menjadi coach Dan.”
“Sure?”
Pria bermarga Wijaya itu mengangguk seraya mengambil satu buah macaron yang baru saja sang pujaan hati tata. “Sweet,” katanya. “Seperti kamu,” imbuhnya.
Ev tersenyum tipis seraya menatap lawan bicaranya. “Mereka sudah dalam perjalanan, ‘kan?” tanyanya kemudian.
Hari ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu. Setelah mempersiapkan planning dengan matang dibantu oleh Dean, Ev akhirnya bisa mengundang orang-orang terdekatnya untuk datang. Itu pun setelah menyesuaikan schedule para tamu undangan yang terdiri dari orang-orang penting dari kalangan old money.
“Mereka sedang dalam perjalanan kesini. Mungkin sekitar lima belas menit lagi mereka baru sampai.”
Para tamu undangan yang terdiri dari orang tua Ev, orang tua Dean, pasangan suami istri Xander, Deesa, Dimi, dan Dewita yang datang bersama sang suami memang sudah landing sejak kemarin. Sedangkan kakek Ev sengaja tidak diikutsertakan karena kondisi kesehatannya. Setelah melakukan perjalanan dari ibu kota Negara Swiss, mereka menginap semalam di pusat kota kanton Bern. Kemudian melanjutkan perjalanan kembali pada pagi harinya. Awalnya Dimi—manager Ev—sempat bertanya-tanya kenapa Ev tiba-tiba mengundang mereka. Namun, Ev hanya membalasnya dengan pesan singkat jika ini sudah waktunya mereka mengetahui kebenaran soal keturunan Xander yang selama ini disembunyikan.
“Terus kenapa kamu belum ganti baju, D? Bukannya baju kamu sudah aku simpan di atas meja?” tanya Ev kemudian.
Pria yang baru saja menghabiskan macaron keduanya itu tersenyum kecil. “Aku akan segera berganti baju setelah Dan—“
“Om curang!”
Namun, kalimat pria itu terpotong karena suara familiar milik seorang bocah tiba-tiba terdengar. Baik Dean dan Ev langsung membentangkan jarak di antara mereka. Untung saja, barusan mereka hanya berdiri berhadapan, tidak lagi berpelukan.
“Jangan lari-lari, Schatz (sayang),” tegur sang ibu.
Anak lelaki yang tampak tampan mengenakan setelan tuxedo hitam itu tak menghiraukan. Dengan cepat dia menubruk kaki pria yang dia panggil dengan embel-embel Om.
“Apanya yang curang, little boy?” Dean bergerak, membawa tubuh bocah berusia 5 tahun itu ke dalam dekapan.
“Kenapa belum berganti baju? Om dari tadi ganggu Mère, ‘kan?”
__ADS_1
Dean terbahak mendengar tebakan bocah yang dia panggil ‘little boy’ itu. “Om cuma makan macaron karena kelaparan. Mère tidak memberi Om makan.”
“Benarkah? Tidak biasanya,” kata bocah itu seraya menggerakkan jemari kecilnya untuk menyentuh dagu. “Mère selalu berbagi makanan. Terkadang Mère juga menyuruh Dan untuk berbagi bekal dengan Jean yang tidak bawa bekal ke sekolah.”
“Siapa itu Jean?” kali ini Dean beralih, pertanyaan itu ditujukan pada sang ibu.
“Teman sekolahnya. Orang tua Jean sudah berpisah, sekarang dia tinggal bersama grandma-nya yang sudah lanjut usia. Jean jarang bawa bekal, jadi Dan kadang membawakan bekal lebih untuk Jean,” jelas Ev.
Dean mengangguk-angguk, paham. “Kita memang harus saling berbagi. Terutama kepada orang-orang yang kurang beruntung. Seperti Jean contohnya. Kalau suatu saat Dan bertemu dengan orang-orang kurang beruntung di luar sana, sedangkan Dan punya sesuatu yang lebih dari cukup untuk Dan sendiri, jangan sungkan untuk berbagi. Karena tangan yang di atas lebih baik ketimbang tangan yang di bawah.”
“Tangan yang dia atas lebih baik dari tangan yang di bawah? Itu maksudnya apa Om?” tanya Dan dengan raut polosnya yang menggemaskan.
Dean dan Ev yang melihat itu sama-sama menerbitkan senyum. “Akan Om jelaskan. Tapi, sebelum itu Dan harus ikut Om dulu. Kita biarkan Mère menyelesaikan tugasnya. Okay?”
“Okay!” seru si kecil antusias.
“Aku akan bawa Dan ke depan. Supaya kamu cepat menata kue-kue itu tanpa gangguan,” bisik Dean seraya mengedipkan sebelah matanya sebelum berlalu bersama Dan yang masih dalam dekapan.
Ev menggelengkan kepala melihat tingkah pria satu itu. Menakjubkan memang melihat interaksi dua kaum Adam beda generasi yang tiga bulan lalu sangat pasif satu sama lain. Namun, Dean memang punya cara ampuh tersendiri untuk mendekati Dan. Pria itu dapat mengambil hati Dan dengan singkat dengan cara natural. Karena Dean yang notabene lahir sebagai anak tunggal memang menyukai anak kecil. Dean bahkan pernah meminta diberikan adik sebagai hadiah sweet seventen karena sudah tidak tahan lagi jadi anak tunggal kaya raya. Sepi katanya. Tidak ada teman yang bisa diajak main atau jadi bahan keusilan.
Pembawaan dengan yang care, humble, friendly, dan bisa menjadi happy virus sewaktu-waktu, nyatanya mampu diterima dengan Dan dengan cepat. Sekali pun pada awalnya Dan menunjukkan respon datar, flat dan terkesan untouchable—mirip karakter ayah biologisnya sekali—akan tetapi, Dean tidak pernah patah semangat. Tujuan Dan bukan saja ingin dekat dengan Dan, namun ingin membuat Dan sedikit-demi sedikit merasakan perhatian seorang ayah pada umumnya. Sekali pun Dean tahu jika posisinya tidak akan pernah sebanding dengan posisi Darren sebagai ayah biologis Dan.
Setidaknya Dean berusaha untuk membuat Dan kecil bahagia sebagai seorang teman yang dapat anak itu ajak bercerita, bermain, bersenda gurau, hingga dapat dia minta untuk mengantar-jemput sekolah. Dean tidak keberatan. Dia menikmati semua itu. Oleh karena itu dia rela pulang-pergi Jakarta-Swiss tiga bulan ini. Jika presentase kebersamaan Dean dan Ev dibandingkan dengan kebersamaan Dean dan Dan, maka presentase kebersamaan Dean & Dan akan jauh lebih banyak. Ev juga tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting Dan dan Dean sudah bisa beradaptasi satu sama lain.
Mendekati waktu makan siang, rombongan para tamu kehormatan telah tiba di kediaman Ev. Para penghuni rumah yang terdiri dari Ev, Dean, Dini beserta kedua orang tuanya—yang bekerja untuk Ev—ikut menyambut kedatangan mereka. Lantas mereka diboyong masuk untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh, dijamu dengan berbagai menu makanan lezat dari berbagai penjuru dunia, diakhiri dengan kumpul-kumpul di pekarangan belakang rumah yang telah disulap sedemikian rupa agar bisa menjadi tempat yang nyaman untuk mengobrol. Di sana mereka menghabiskan waktu untuk berbincang-bincang seraya menikmati pemandangan bentangan danau dan keindahan alam Interlaken.
“Sebenarnya alasan apa yang membuat Ev mengundang kita semua ke sini?”
Diana Xander adalah orang pertama yang bertanya. Dia baru saja menikmati sepotong cheesecake blueberry buatan tangan ajaib Ev.
“Ada yang ingin Ev perkenalkan,” lanjutnya.
“Kalau dia yang ingin Ev perkenalkan, mama sudah kenal Ev,” sahut Diana seraya tersenyum ke arah Dean yang berdiri di samping Ev. Pria itu tampak tampan mengenakan tuxedo hitam.
“Sayang sekali, acara perkenalan ini bukan untuk saya tante,” katanya, dibuat agak sedih. Diana menanggapinya dengan senyum kecil.
“Lalu, siapa yang mau kamu kenalkan sayang?” sahut Elina Atmarendra yang sejak tadi duduk di samping sang suami sambil menikmati teh Oolong hangat.
“Seseorang yang seharusnya sejak lama Ev perkenalkan.”
“Kalau begitu, sekarang di mana dia?” Ayah Ev ikut angkat suara.
“Saya juga ingin melihatnya. Kira-kira, siapa orang spesial yang akan Ev perkenalkan,” tambah ayah Dean.
Ev tersenyum seraya menatap orang-orang terkasihnya sekali lagi. “Semoga kalian semua mengerti kenapa Ev menyembunyikannya setelah ini. Ev janji, setelah kalian melihat dia, Ev akan menjawab pertanyaan apapun yang kalian lontarkan.”
Setelah berkata demikian, Ev membalikkan badan. Menatap ke arah sebuah pintu yang terbuka lebar. Tempat di mana di menyakini jika little angel-nya tengah bersembunyi.
“C’mon, Schatz (sayang). Jangan membuat mereka menunggu,” panggil Ev. Para tamu undangan yang menunggu semakin dibuat penasaran olehnya.
“Schatz (sayang).” Ev memanggil lagi.
Satu sekon, dua sekon, tiga sekon, pada sekon kelima, sosok bertubuh mungil itu menampakkan diri. Membawa serta satu buket bunga mawar putih segar dalam jalinan kedua tangannya. Ketika berhasil mencapai posisi sang ibu, sosok rupawan dalam balutan tuxedo hitam itu tersenyum hangat seraya menyapa para tamu undangan.
“Hello, grandma, grandpa, uncle, autny, salam kenal semuanya.”
__ADS_1
Suara sosok mungil itu terdengar tampak gugup. Namun, dia tetap berani memperkenalkan diri. Suasana kontan menjadi hening. Mereka semua terpaku pada dia seorang. Objek yang membuat berbagai pertanyaan muncul di kepala, kecuali bagi segelintir orang yang sudah mengetahui eksistensinya, seperti Deesa misalnya.
“Ya Tuhan, cucuku.”
Dan orang pertama yang mengakui Dan adalah Diana Xander. Wanita paruh baya itu langsung bergerak cepat, meraih tubuh mungil Dan dengan air mata yang sudah bercucuran. Memeluknya erat, seolah-olah dia telah menemukan seseorang yang sudah lama dia rindukan.
“Pa, dia cucu kita,” ujarnya seraya menatap sang suami yang masih tampak shock. “Lihat pa, rambut, mata, hidung, bibir, bentuk wajah dan caranya tersenyum mirip sekali dengan anak kita ….Darren.”
“Ma…..” Dazen Xander ikut beranjak dari kursinya. Tatapan pria itu masih tampak tak percaya. “Dia ….cucu kita?”
Diana mengangguk membenarkan. “Mama yakin sekali, pa. tidak perlu tes DNA, karena wajahnya mirip sekali dengan Darren saat masih kecil,” ujar Diana disela-sela tangisannya.
Elina yang tampak shock juga ikut mendekat. “Ev, tolong jelaskan sama mommy. Anak ini ….apa benar cucu mommy?”
Ev menarik napas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Suara tangis masih terdengar. Dia juga bisa melihat jika sang sahabat sekarang ikut menitihkan air mata. Sebuah pelukan mampir di bahunya, memberikan dukungan moril. Dia tahu Dean tengah memberinya kekuatan untuk menjelaskan kebingungan di antara mereka.
“Benar. Dia putra Ev dan Darren. Namanya Palacidio Daniel Adhitama Xander,” ungkap Ev, menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepala mereka.
“Ya Tuhan, daddy sudah punya cucu, Ev!” seru Aston bahagia. Sampai-sampai air mata tidak terasa keluar dari sudut matanya.
“Kita sudah punya cucu sebesar ini, dad,” sahut sang istri yang sekarang ikut mendekati Dan. Membawa cucu yang sangat dia tunggu-tunggu ke dalam pelukan. “Ini grandma sayang. Grandma.”
Suasana yang tadinya tenang kini menjadi riuh oleh suasana tangis haru. Mereka menyambut kehadiran Dan dengan suka cita. Sekali pun masih tidak menyangka jika selama ini Ev telah berjuang keras membesarkan Dan seorang diri di luar negeri. Setelah kondisi lebih kondusif, Ev membawa dua album berisi foto-foto Dan sejak berusia 2 minggu hingga foto terbaru. Ev menceritakan semua kebenaran yang telah dia simpang secara baik lima tahun ini. hingga sang fajar meredup di ufuk lain bumi, Dan masih menjadi objek perhatian. Satu persatu silih berganti memeluk dan menciumnya penuh kasih sayang.
Saat makan malam tiba, salah satu di antara mereka memilih menyelinap. Memisahkan diri dari yang lain yang tengah bersiap untuk makan malam bersama.
“Angkat, tuan. Angkat telepon saya,” gumamnya seraya menunggu sambungan telepon di terima oleh seseorang di seberang.
“Angkat tuan.” Dia kembali mencoba menelpon, perasaanya sudah tidak menentu saat ini. seseorang di seberang harus dia beritahu. Jika tidak, rasa bersalah terus akan menghantui.
“Hm. Ada apa, Dam.”
Panggilan telepon itu terhubung. Dengan helaan nafas lega, dia lantas membalas. “Tuan, ada yang ingin saya—“
Namun, kalimat itu tidak rampung diucapkan karena handphone-nya sudah direbut oleh seseorang. Lantas benda pipih tersebut dilemparkan begitu saja hingga membentur tembok pembatas.
Dengan kesal Damian berbalik, hendak memarahi pelaku yang telah lancang mengambil dan melemparkan handphone-nya. “Apa yang—om lakukan??”
“Jangan berani-berani kamu mengatakan kebenaran ini pada Darren.”
Damian terhenyak mendengarnya. “Tapi, Om. Darren berhak tahu—“
“Ini adalah pelajaran untuk Darren. Biar dia mencaritahu sendiri soal darah dagingnya.” Pria paruh baya yang tengah berbicara dengan raut wajah serius itu memotong. “Anak durhaka itu akan merasakan sakit yang teramat jika mengetahui ada darah daging yang telah lahir dari wanita yang dia sakiti.”
“….”
“Saya tahu kamu bekerja untuk Darren. Namun, untuk kali ini saya meminta sebagai ayah angkat kamu. Jangan beritahu Darren soal Dan. Biarkan takdir yang bekerja dengan sendirinya.”
Jika sudah begitu, maka Damian tidak bisa apa-apa. Dagen adalah orang yang masuk dalam kategori sangat dia hormati. “Baik, Om.”
“Satu lagi, alihkan semua aset yang sudah diperuntukan untuk cucu saya. Tulis namanya, serahkan kepada saya untuk ditanda tangani. Kemudian ambil setengah dari saham milik Darren untuk dibalik nama menjadi milik Palacidio Daniel Adhitama Xander. Penerus keluarga Xander yang baru.”
“Jika itu yang om inginkan, maka posisi Darren sebagai CEO akan mudah digulingkan,” kata Damian ragu.
“Mungkin ini sudah saatnya dia melepaskan posisi itu. Dia memang tidak becus mengemban tugas sebagai CEO,” balas Dazen sebelum beranjak pergi.
🥀🥀
__ADS_1
TBC
Sukabumi 16/04/22