
NOTE : WAHAI READERS YANG BUDIMAN, SELAMAT MEMBACA. JANGAN LUPA LIKE, VOTE & KOMENTAR SETELAH KALIAN BACA PART DARI SUDUT PANDANG DARREN YA!!
M52 🥀 : EGO, KETEGUHAN & KETAKUTAN SEORANG XANDER
Seorang pramusaji berjenis kelamin perempuan tampak tersenyum ramah seraya menghidangkan satu porsi roti bakar yang diolesi alpukat dan scrambled egg, Bircger muesli—salah satu menu sarapan favorit ala masyarakat Swiss yang terbuat dari kombinasi serpihan gandum, berbagai macam buah, kacang-kacangan, perasan lemon dan susu—serta segelas susu hangat.
“Terima kasih.”
Wanita dengan perut buncit yang tampak jelas itu mengucapkan terima kasih seraya tersenyum ramah pada si pramusaji. Pagi hari ini, wanita berkewarganegaraan Indonesia itu memilih breakfast di luar rumah pasca jalan-jalan pagi di sekeliling tempat tinggalnya. Udara yang sejuk dengan pemandangan yang memukau mata di dekat danau, membuatnya tergoda untuk mampir ke salah satu kedai untuk menikmati breakfast.
“Kita makan dulu, ja, Schatz (ya, sayang),” ujarnya seraya menyentuh perut buncitnya sayang.
Di tempat ini, dia tidak perlu khawatir dengan baby bump-nya. dia bisa dengan leluasa menggunakan pakaian yang dapat memperlihatkan bagian menonjol tersebut. Kehamilannya sudah memasuki minggu ke-28. Sejauh ini, perkembangan janin di dalam rahimnya baik dan sehat. Namun, belakang dia sering mengalami kontraksi. Terakhir kali kontraksi terjadi kemarin, saat dia pergi ke Paris untuk menemui sang suami.
Ev belum sempat berkonsultasi dengan dokter kandungannya, karena Deesa—dokter kamdungan pribadinya—berencana datang hari ini. Ev pikir kontraksi itu lumrah dirasakan, seiring dekatnya masa persalinan. Namun, saat pulang dari jalan-jalan paginya, Ev kembali merasakan kontraksi hebat.
Belum juga tiba di rumahnya, Ev sudah mengalami pecah ketuban. Cairan bening itu mengalir, menuruni betis hingga kaki. Ev tentu didera rasa cemas. Rasa sakit kian menjadi-jadi, melilit di area perut. Sialnya lagi, tidak ada siapa-siapa di rumah. Karena Dimi masih ada pekerjaan di Jenewa. Sedangkan El pergi ke Zermaat, dan maid yang bekerja untuk Ev tengah membeli beberapa kebutuhan di pusat kota Bern.
“Ya Tuhan, ada apa dengan ibu muda ini.”
Seorang biarawati yang tengah menyapu daun-daun kering di balik pagar tempat Ev bersandar, datang menghampiri dengan raut penuh keterkejutan. Ev tidak menyadari jika dirinya berhenti di depan sebuah rumah ibadah. Tak berselang lama, seorang pemuka agama berjenis juga datang menghampiri. Sang Bapak yang sempat Ev temui beberapa kali, langsung mengenali Ev yang memang tinggal tak terlalu jauh dari rumah ibadah tersebut. Dengan bantuan bapak dan biarawati itu pula, Ev dibawa ke rumah sakit. Dokter kemudian memberikan pernyataan jika bayi dalam kandungan Ev harus segera dilahirkan lewat metode caesar. Maka orang pertama yang mereka cari adalah sang suami. Orang yang akan mereka pintai persetujuan.
“Lakukan prosedur tersebut secepatnya. Saya El Attar Atmarendra, yang akan bertanggung jawab sepenuhnya.”
Pada akhirnya, orang yang mereka pintai persetujuan adalah El Attar Atmarendra. Kakak sulung Evelyn yang sangat menyayanginya, melebihi siapa pun. Orang yang mengambil alih tugas untuk menyambut kehadiran cucu pertama keluarga Xander dan Atmarendra.
El pula yang melantunkan baik demi baik kalimat adzan di telinga Dan yang jantungnya sempat berhenti bekerja. El yang ada di samping Ev saat wanita itu bertaruh nyawa di antara hidup dan mati, hingga bertaruh melawan malaikat maut yang hendak membawa putranya pergi.
🥀🥀
Dua porsi American breakfast disajikan di atas meja, salah satunya tepat di hadapan seorang pria yang hanya menggunakan celana olahraga selutut tanpa atasan. Hidangan breakfast yang terdiri dari bahan simple, namun kaya gizi seperti telur, kacang merah, sosis sapi, dan roti tawar itu dibuat secara handmade. Untuk bahan telur, bisa dibuat omelette ataupun telur mata sapi yang ditambahkan seasoning seperti garam dan lada hitam agar menambah rasa lezat. Sementara itu, untuk kacang merah sendiri bisa direbus hingga empuk terlebih dahulu, kemudian ditumis dengan dressing tomat alias saus tomat. Sedangkan untuk roti tawar, bisa dikreasikan menjadi menu French toast dengan cara merendam roti dengan campuran berisi telur yang dikocok, butter cair, susu putih cair, gula dan vanili cair. Roti kemudian dipanggang bersama sosis sapi hingga berwarna kecoklatan. Jadilah sepiring American breakfast yang dapat menjadi menu sehat untuk breakfast di pagi hari.
“Anda terlihat sedang banyak pikiran?”
Pertanyaan itu dilontarkan oleh pria yang baru saja menyodorkan segelas air putih ke objek di hadapannya. Tanpa diduga-duga, sebuah jawaban yang dilontarkan oleh lawan bicaranya membuat pria berkacamata itu menautkan kening dalam-dalam.
“I’am in love and despair all time once (Aku lagi jatuh cinta sekaligus putus asa secara bersamaan).”
“Maksud Anda?” tanyanya, menunggu jawaban yang lebih clear.
“Aku bingung.” Hanya itu yang menjadi jawaban dari lawan bicaranya.
Membuat pria yang berprofesi sebagai asisten pribadi itu semakin kebingungan. Dia—Damian—memang ikut perjalanan bisnis bersama sang atasan yang seharusnya pergi bersama sekretarisnya saja. Namun, karena desakan pria bermarga Xander tersebut, mau tidak mau dia harus ikut. Alih-alih tinggal di hotel menemani sekretaris cantiknya yang kebetulan memiliki darah negeri ini, atasannya malah memilih tinggal di unit apartemen tipe studio milik asisten pribadinya.
“Kenapa Anda harus bingung, ini adalah keputusan yang Anda pilih.”
“Aku merasa terlalu jauh mengambil langkah untuk menyakitinya.”
Ah, Damian mengerti kemana arah pembicaraan ini berlangsung. Dia sempat berpikir jika sang atasan jealous akan hubungan yang diam-diam dijalin bersama sekretarisnya. Ternyata, bukan karena itu.
__ADS_1
“Kenapa Anda sekarang merasa demikian? Bukannya di awal-awal pernikahan?” tanya Damian hati-hati, seraya menyuapkan sepotong French toast ke dalam mulut.
“Aku melakukan ini karena kami terlibat perjanjian. Toh, aku tidak pernah ingkar janji. Itu adalah prinsip yang selalu aku pegang teguh.”
“Tapi, Anda menyakiti wanita yang Anda cintai karena prinsip tersebut.”
“Hm. Itulah kenapa aku sekarang bingung.” Pria rupawan yang shirtless itu tampak muram.
“Lagi pula, kenapa Anda sekarang merasa bersalah? Bukannya Anda sudah berulang kali melakukan kesalahan seperti semalam?”
“Bukan berulang kali, tapi dua kali,” koreksi si lawan bicara.
Damian mengangguk seraya tersenyum tipis. Atasannya yang sudah menjadi teman dekatnya sejak zaman sekolah itu memang muram semenjak semalam. Dia menyalahkan dirinya sendiri, pasca menemui sang istri yang sudah tidak lama dijumpai. Salahnya, dia malah kissing dengan wanita lain setelahnya. Jika kalian bertanya kenapa? Jawabannya hanya sebatas bayaran. Toh, yang memulai juga si wanita alias sekretarisnya.
Damian tahu betul jika tidak ada hubungan staff with benefit di antara atasan dan sekretaris itu. Semua murni hanya rekayasa. Hal itu dilakukan karena sang atasan yang katanya ingin membuat sang istri kesal padanya, berakhir pada perang dingin di antara mereka. Semua itu dia lakukan karena tidak mau perasaan yang lambat laun tumbuh ke permukaan merusak rencana dan tujuan awalnya menikah dengan sang istri.
Darren Aryasatya Xander sejak kecil sudah dipersiapkan untuk menjadi pewaris dari kerajaan bisnis yang keluarganya miliki. Karena posisi tersebut, dia tidak bisa leluasa menikmati hidup seperti remaja lelaki kebanyakan. Sebagian besar waktu di masa mudanya dihabiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. Untuk urusan asmara hingga jodoh saja, orang tuanya yang sudah memberinya fasilitas. Hal itu dilakukan agar Darren hanya fokus pada posisinya sebagai pewaris keluarga Xander. Lambat laun, ambisi mengisi posisi CEO merenggut sebagian besar tujuan hidupnya.
Darren tidak lagi memiliki waktu untuk mengurusi urusan pribadi. Dia harus mengesampingkan masalah pribadi, agar tuntutan dari pihak keluarga yang semakin hari semakin terasa menc*kik segara dia tuntaskan. Ketika akhirnya dia menerima fasilitas asmara yang telah dipilihkan, pada awalnya dia tentu ingin menolak. Urusan pendamping hidup saja, masa harus difasilitasi oleh orang tua. Namun, ketika tahu kandidatnya adalah seorang gadis yang menjadi primadona di tempatnya dulu menimbang ilmu, Darren mengesampingkan penolakan itu.
Dia tahu calon pendamping hidupnya. Sebatas tahu nama, keluarga, latar belakang, pekerjaan dan circle pertemanan. Namun, tidak tahu soal urusan yang lebih privasi. Namun, dilihat sekilas, dia adalah kandidat paling cocok untuk mengantarkan Darren pada tujuannya, yaitu kursi CEO. Dia ibarat golden tiket yang bisa membuat Darren langsung menduduki kursi panas tersebut.
Awalnya memang begitu. Niatnya seperti itu. Kendati demikian, Tuhan berkata lain dengan membuat mahluk sempurna bernama Evelyn Angelista sedikit demi sedikit berhasil memasuki teritorial Darren. Membuat sosok yang tak pernah tahu apalagi mengenal kata ‘cinta’ itu, mulai mengetahui, mengenal dan merasakannya. Hanya saja, kala sadar jika sebentuk rasa bernama cinta itu telah tertanam di dalam dada. Darren telah terikat, terjerat, pada perjanjian yang dia lontarkan sendiri. Darren tahu betul, butir pasal mana yang akan dia langgar jika melibatkan perasaan di antara perjanjian mereka. Oleh karena itu, jalan yang Darren ambil adalah berlindung dalam sifat kaku, datar, dingin, dan tidak peduli pada wanita yang telah dia persunting secara resmi.
Padahal, jauh dalam lubuk hati yang paling dalam, Darren adalah tipikal pria yang cemburuan. Over protectif, over possesiv, hingga over perfekstif. Ingin sekali dia membuat sang istri hanya menjadi miliknya seorang. Akan tetapi, dia kembali disadarkan oleh perjanjian. Maka yang dapat dia lakukan pada awal-awal pernikahan adalah bersikap dingin hingga berpura-pura menjalin hubungan terlarang.
“Sekarang bagaimana? Apa perlu saya ikut turun tangan?” tanya Damian yang sudah menghabiskan setengah sarapannya.
“Hm, tidak. Jangan dulu ikut campur,” ujar Darren yang baru mau menyentuh sarapannya. “Kami baru menikah. Lebih baik begini, berjauhan untuk sementara waktu. Dengan begini, aku bisa fokus beradaptasi dengan posisi CEO. Dia juga bisa fokus pada pekerjaannya.”
“Pertanyaan itu berat sekali, Dam.” Darren tampak semakin muram.
Damian berdehem canggung. “Maksud saya, kenapa Anda tidak jujur saja? Bisa jadi nyonya Ev juga bisa mempertimbangkan perasaan Anda. Maka kemungkinan besarnya, perjanjian di antara Anda dan nyonya bisa dibatalkan, dan pernikahan kalian bisa diselamatkan. Dalam artian hubungan Anda dan nyonya bisa dimulai dengan benar.”
“Jujur soal apa? soal aku yang menikahi dia karena ingin mendapatkan kursi CEO?”
Damian menggelengkan kepala. “Soal perasaan Anda tentunya.”
“Sebelum mengetahui perasaanku, dia sudah terlebih dahulu sakit hati mengetahui jika aku menggunakannya sebagai alat untuk mendapatkan kursi CEO.”
Damian bungkam setelahnya. Begitu pula dengan Darren.
“Jika dengan hubungan seperti ini dia tetap bisa menjadi milikku, aku akan tetap memilih seperti ini. Karena kau tidak rela dia menjadi milik orang lain.”
“Lalu bagaimana dengan perasaan Anda?” tanya Damian. “Anda tentu memiliki perasaan, kebutuhan, juga hak sebagai seorang suami. Bagaimana dengan itu?”
“Itu….akan dijawab oleh waktu,” jawab Darren lesu. “Jika pada suatu ketika aku tidak bisa menahan hasrat karena tidak dapat menyentuhnya, kemungkinan aku butuh pelampiasan.”
“Jika Anda membutuhkan hal semacam itu, maka masalah di antara Anda akan semakin rumit,” ujar Damian, memperingati.
“Entahlah, Dam. Kita lihat saja nanti. Sejauh mana aku mampu bertahan karena egoku sendiri.”
Damian mengangguk, paham akan maksud ucapan sang atasan. Pria dan ego. Dua hal yang sudah menjadi kesatuan yang sulit dipisahkan. Begitu pula Darren dengan egonya untuk mengamankan kursi CEO, dengan keteguhan pada janji yang dia pegang, mengakibatkan dia sendiri sulit memilik wanita yang dia cintai.
__ADS_1
“Dam.”
“Iya, ada apa, tuan?” pria yang tengah berkutat dengan cucian di wastafel itu menoleh, menatap ke arah sang lawan bicara.
“Semalam aku bermimpi aneh.”
“Mimpi?”
Pria keturunan Xander itu mengangguk. Raut wajahnya masih tampak muram. “Semalam aku kesulitan tidur, aku terlelap sekitar pukul satu dini hari. Dan mimpi itu membuat tidurku semakin kacau.”
“Memangnya Anda bermimpi apa?”
“About baby boy.”
“Apa?” bingung Damian, mencoba memastikan pendengaran.
“Tentang bayi laki-laki. Aku melihat bayi laki-laki yang tengah menangis dalam gendongan seorang wanita. Wanita itu juga tampak menangis, tetapi wajahnya terlihat blur. Padahal aku sendiri tidak tahu siapa mereka, tapi kenapa suara tangisan bayi itu terus menghantuiku?”
Damian menghentikan aktivitasnya, kemudian mengelap tangan yang basah menggunakan lap kering. “Itu hanya bunga tidur, tuan. Anda tidak perlu khawatir.”
“Mimpi itu terasa seperti nyata, Dam.”
“Mungkin efek dari pil tidur yang Anda konsumsi.”
Pria rupawan bermarga Xander itu tampak berpikir untuk sejenak. Namun, mimpi yang mengganggunya semalam memang sangat seperti nyata. Suara bayi itu menggema, menghantui gendang telinga. Bohong jika Darren tidak terganggu oleh suara mahluk mungil tersebut.
“Bagaimana jika wanita, ah….maksudku gadis bar yang aku tiduri itu hamil, Dam?”
“Itu, tidak mungkin,” jawab Damian ragu. “Seperti yang Anda ketahui, nyonya Ev sudah membereskan masalah wanita itu. Anda bisa pegang ucapan nyonya Ev.”
“Tapi, tetap saja. Aku harus mencari dan menanyakan hal itu secara langsung. Apa kamu sudah menemukan keberadaan wanita itu, Dam?”
“Wanita itu sudah tidak ada di Negaranya, tuan. Kemungkinan besarnya wanita itu kabur dengan membawa uang yang nyonya berikan. Dari keterangan orang terdekat wanita tersebut, dia tinggal bersama ibu dan bayi yang baru dilahirkannya. Jadi, kemungkinan besar wanita itu tidak mungkin hamil.”
“But, she a f*cking virgin.”
“Dia seorang ibu tunggal, Tuan. Mana mungkin masih dalam keadaan perawan,” bantah Damian.
“Tapi, darah itu….”
“Mungkin itu bukan darah yang menunjukan verginitas, tuan. Bisa saja itu hanya trik untuk menipu Anda dan nyonya. Buktinya, wanita itu menghilang setelah menerima cincin seharga jutaan dollar.”
“F*ck!” umpat Darren murka. “Bagaimana pun juga, aku ingin kamu menemukan wanita itu. Bawa dia ke hadapanku, Dam. Dalam keadaan bernyawa ataupun tidak.”
“Baik, tuan. Akan segera saya laksanakan.”
“Satu lagi.” Darren berujar seraya menatap lawan bicaranya lekat. “Sepulang dari sini, pindahkan Elisè ke bagian Data Analyst. Aku ingin kamu yang menjadi sekretaris, aku tidak membutuh dia lagi.”
Damian kembali mengangguk. “Sesuai keinginan Anda, tuan.”
🥀🥀
TBC
__ADS_1
GIMANA? ADA YANG BERUBAH PIKIRAN?
Sukabumi 27/03/22