Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M21 : SUAMIMU, SUAMIKU


__ADS_3

M21 🥀 : SUAMIMU, SUAMIKU



Akan segera menjadi ayah, membuat seorang pria pasti merasa bahagia. Hal itu pula yang dirasakan oleh Darren saat ini. Siapa sangka jika wanita yang dinikahi lima bulan lalu itu dapat memberinya keturunan secepat ini. Ah, Darren jadi tidak sabar menunggu kelahiran buah hatinya. Mengingat usianya sudah cukup matang untuk menjadi seorang ayah. Kelak, ada sosok mungil yang memanggilnya ‘ayah’ berlarian kesana-kemari di sekeliling rumah ini. Membayangkan saja membuat Darren tersenyum lebar.


“Mas, sudah bangun?”


Darren yang tengah duduk sambil menyandarkan punggung ke headboard itu menoleh. Menatap ke arah sumber suara familiar itu berasal.


“Hm.”


“Baru bangun atau udah dari tadi?” tanya sang istri yang tengah berjalan mendekat.


Wanita mungil itu tampak menggemaskan, sekalipun hanya terbalut gaun rumahan bermotif flora yang amat longgar di tubuh mungilnya.


Darren tak menjawab, tetapi tangannya sigap menarik sang istri agar kian mendekat. Membuat wanita yang tengah hamil muda itu terhuyung pelan, tetapi mendarat dengan mulus di dada bidang sang suami.


“Kenapa tidak membangunkan aku?”


“Mas kelihatan tidur nyenyak sekali, Ella gak tega,” jawab Ella, seraya menempatkan kedua tangannya di dada bidang Darren. Membuat jeda di antara mereka.


“Jangan tinggalkan aku lagi, Ella.”


“S-iapa yang tinggalin mas Darren, Ella bangun karena memang sudah pagi. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan seorang istri di pagi hari.”


Mendengar sang istri berkata panjang lebar seperti itu, membuat Darren menerbitkan senyum. “Bagimana kabarnya hari ini?” tanyanya kemudian, seraya mengelus perut langsing sang istri dari luar permukaan perut.


“Baik.”


“Dia tidak rewel?”


Ella menggeleng.


“Dia tidak menginginkan sesuatu?”


Ella kembali menggeleng.


“Bagaimana dengan ibunya? Apa menginginkan sesuatu?”


Ella tersenyum sembari kembali menggelengkan kepala. Kendati ini kehamilan pertama, belum ada gejala-gejala signifikan yang terjadi, kecuali mual dan muntah. Berangsir-angsur nafsu makannya juga mulai kembali, walaupun masih belum bisa sepenuhnya makan nasi.


“Mas mendingan cepet mandi, terus turun ke bawah.”


Kening Darren tiba-tiba bertaut mendengarnya.

__ADS_1


“Kenapa? Mau Ella temani.”


Kontan, kailmat yang diucapkan dengan ekpresi polos wanitanya itu membuat Darren meloloskan tawa. “Kedengarannya menyenangkan. Mungkin aku juga bisa menengok dia,” ujar Darren seraya menekan pelan elusan di atas permukaan perut sang istri.


“M-aksud Ella bukan gitu,” ralat sang istri. Wajah ayunya tampak bersemu merah hingga ke telinga.


“Mas mendingan mandi sekarang, terus turun ke bawah. Bibi juga udah nyiapin sarapan,” ujar Ella seraya beranjak dari posisinya. Sekalipun posisi itu membuatnya merasa sangat nyaman. “Ah, iya, Ella hampir saja lupa.”


“Ada apa?” tanya Darren yang juga ikut beranjak.


“Ada perempuan cantik yang datang. Katanya kenalan masa Darren.”


“Kenalanku?”


Ella mengangguk antusias. “Partner. Mbak-nya cantik banget loh, mas. Ella mau deh kalau suatu saat ini kita punya putri cantik seperti mbak-nya.”


Darren tampak berpikir untuk sejenak. Kenalan? Partner berjenis kelamin perempuan? Siapa?


Seingat Darren, yang mengetahui tempat ini hanya Damian. Tidak ada lagi. Lantas, siapa partner berjenis kelamin perempuan yang istrinya maksud?


Karena penasaran, Darren mimilih untuk segera mandi, kemudian turun ke lantai bawah. Namun, sebelum turun ke bawah, pria itu menghela nafas datar kala melihat segelas susu yang diperuntukan khusus untuk ibu hamil tersimpan di atas meja. Tampak belum disentuh sama sekali oleh si empunya.


“Ella, kenapa ini belum diminum?”


Darren bertanya kala menuruni tangga. Dari sana dia bisa melihat Ella yang tengah bercakap-cakap dengan seseorang. Ketika tiba di udakan tangga terakhir, gerakannya kontak berhenti kala sepasang netra tertangkap olehnya.


Tempat di mana rahasia terbesar seorang Darren Aryasatya Xander tersimpan. Entah sejauh mana dia mengetahui rahasia Darren sekarang.


“Mas, ini mbak yang Ella bicarakan tadi.” Ella menyambut sang suami dengan senyum hangat. Kemudian Ella beralih, menatap sang tamu. “Mbak, ini mas Darren-nya.”


“Ah, iya.”


Sosok yang istrinya katakan sangat cantik itu akhirnya bersuara. Ekspresi wajahnya tampak flat, tetapi Darren tahu jika dibalik semua itu ada banyak hal yang dia sembunyikan. Justru ekspresi flat itulah yang harus diwaspadai.


“Mbak sama mas Darren bisa ngobrol berdua, Ella tinggal ke belakang dulu. Takutnya gak enak ngobrolin pekerjaan, sementara ada Ella yang gak tahu apa-apa.” Sekelumit senyum terbit di bibir Ella kala kalimat itu berakhir.


Tanpa menunggu respon dari sang suami atau tamu-nya sendiri, Ella pamit undur diri. Wanita itu cukup tahu jika dia tidak akan ‘nyambung’ jika terlibat dalam obrolan seputar ‘pekerjaan’ Ev dan Darren.


“Tetap di sini.”


Namun, sebelum benar-benar pergi, sebuah suara sudah menghentikan langkah Ella. Membuat wanita muda itu kembali bertanya.


“Kenapa, Mbak?”


“Aku akan segera pergi. Kamu tetap di sini.”

__ADS_1


Kalimat itu mungkin tidak berarti apa-apa bagi Ella, selain makna jika sang tamu akan segera meninggalkan kediamannya. Sedangkan bagi Darren yang masih bungkam, kalimat itu berhasil membuat perasaanya terganggu. Pergi bukan berarti menyelesaikan perkara yang ada di antara mereka. ‘Pergi’ yang wanita itu maksud adalah awal dari masalah yang sebenarnya.


“Darren Aryasatya Xander, senang bisa melihatmu di sini. Di tempat yang membuatku cukup lelah mencari. Bahkan sempat menyah dan ingin berhenti. Akan tetapi, ternyata ungkapan soal ‘tidak akan pernah ada kerja keras yang mengkhianati hasil’, benar adanya. Jika saja aku menyerah, karena lelah mencari, mungkin aku tidak akan menemukanmu di sini.”


Ev tersenyum miring. Baru kali ini dia repot-repot bicara panjang kali lebar, padahal hatinya sudah seperti diiris-iris. Apalagi saat melihat suami dan wanita simpanan suaminya berdiri berdampingan.


“Ev, kau….”


“Biarkan aku menyelesaikan kalimatku, tuan Darren yang terhormat.” Ev menyela. Membuat Darren kembali mengatupkan bibir.


“Perjanjian kita masih berlangsung, bukan? Kamu sendiri yang memiliki keputusan untuk mengakhiri segalanya. Jadi, aku harap kamu segera kembali. Atau, aku yang akan melayangkan gugatan untuk mengakhiri semua ini.”


Ella yang pada dasarnya tidak tahu menahu soal hubungan sang suami dan Ev, hanya terpaku pada status keduanya yang katanya partner. Mendengar kata ‘perjanjian’ dan ‘diakhiri’ dalam satu kalimat, membuat perasaanya mengatakan jika ada yang tidak beres.


“Kenapa tiba-tiba mbak Ev mau mengakhir perjanjian kerja dengan mas Darren? Apa ada masalah?” tanyanya, polos.


Ev tersenyum congkak. “Iya, tentu saja. Dan keselahan itu ada pada suamimu.” Yang sayangnya suamiku juga, lanjut Ev di dalam hati. “Dia telah mengingkari salah satu point yang tertera pada perjanjian kami.”


“Tapi, mbak….”


“Berhenti ikut campur jika kamu tidak mengerti ke mana pembicaraan ini mengarah.” Mata Ev berkilat, bukan marah, tetapi lebih pada mengintimidasi. Membuat Ella ketakutan.


Ev tidak berniat membuat masalah dengan siapapun. Kedatangannya ke tempat ini murni karena rasa penasaran yang begitu menggunung.


“Mas,” lirih Ella seraya mundur satu langkah. “M-aaf kalau Ella ikut campur.”


Darren mengepalkan tangannya, kemudian beralih menatap tamu tak diundang yang telah lancang. “Jaga bicaramu, Ev. Dia….”


“Pregnant, right?” tanya Ev datar. “Keturunan Xander ada di dalam rahimnya, sementara aku….” Ev menggantung kalimatnya. Matanya yang berkilat gelap menatap Darren, kemudian wanita yang pria itu rengkuh pinggangnya.


“.....hanya tameng bagi putra kebanggaan keluarga Xander.”


Ev tersenyum tenang, kemudian berjalan maju. Mengikis jarak di antara mereka. “Suamimu,” suamiku, lanjut Ev di dalam hati. “Punya banyak hutang budi yang belum dilunasi.”


“M-aksud mbak apa?” cicit Ella kecil.


“Sekalipun perjanjian di antara kami berakhir, seorang Darren Aryasatya Xander tidak akan bisa membayarnya.”


Setelah berkata demikian, Ev berbalik. Langkahnya mengayun mantap meninggalkan pasangan suami istri yang masih terpaku di tempat. Bahunya tetap tegar, sekalipun banyak guncangan yang menghantam jiwa dan raga.


...🥀🥀...


...To Be Continue...


...Next??...

__ADS_1


...Jangan lupa peraturannya. Like, vote, komentar, follow Author & share ❤️...


...Tanggerang 11/01/21...


__ADS_2