
M27 🥀 : TIDUR SERANJANG
Ada berbagai jenis, bentuk dan aroma bath bom yang tersebar di berbagai belahan dunia. Mulai dari yang harganya puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Berbagai brand kenamaan seperti The Body Shop dan Lush juga ikut serta meluncurkan salah satu keperluan bathtub ini. Karena mengandung essential oil dari berbagai tanaman, buah, bunga, dan rempah, bath bom dapat berfungsi sebagai aromaterapi, dapat membuat tidur nyenyak dan dan dapat membersihkan juga melembabkan kulit.
Seiring berjalannya masa, bath bomb juga mulai muncul dengan berbagai modifikasi. Mulai dari bentuk, aroma, bahan baku, hingga fungsi. Contohnya saja bath bom yang paling direkomendasikan tahun ini, mulai dari pokeball bath bomb, strawberry bath bomb, lucky cat, bath bomb busa, hingga bath bom s*x.
Seperti yang Darren ungkapkan, senyawa afrodisiak dapat meningkatkan gairah sexual. Biasanya, bath bom s*x mengandung afrodisiak dari bahan baku extra bunga melati dan ylang-ylang. Senyawa ini dapat meningkatkan gairah serta meredakan stress. Biasanya, produk bath bom ini banyak diburu untuk digunakan bersama pasangan, atau dijadikan sebagai hadiah pernikahan.
“Aku pikir ini bath bom aromaterapi biasa.”
Setelah cukup lama berdiam diri dalam kebisuan, Ev angkat bicara.
“Mama pernah lihat aku belanja lilin aroma terapi, kemudian beliau menawarkan bath bom yang katanya memiliki manfaat yang sama.”
Wanita cantik itu mendongkrak, menatap lawan bicaranya lekat. “Jadi, kamu tidak bisa menyalahkan aku, Darren. Aku tidak mengundang kamu untuk datang kepadamu. Kamu sendiri yang datang kepadaku.” Ev menyunggingkan senyum tipis di akhir kalimat.
Benar memang, bukan Ev yang mengundang Darren datang. Pria itu lah yang datang seorang diri. Salahkan dirinya jika dia terpikat akan pesona si empunya ruangan yang sedari dulu memang memiliki kadar kecantikan seorang dewi.
“Sekarang kamu bisa pergi,” perintah Ev to the point. “Aku mau istirahat.”
Darren tak mengindahkan. Masih enggan bergerak dari posisinya. Sebelah tangannya merengkuh pinggang Ev erat, sedangkan yang lain menyentuh dagu. “Kita akan tetap tidur bersama.”
“Apa… ahk! Turunkan aku, Darren!” racau Ev kala tubuhnya tiba-tiba saja melayang di udara. Pria itu dengan enteng membawa Ev secara bridal style.
“Hm, nanti.”
“Turunkan aku, Darren!” titah Ev kesal seraya memukul dada bidang suaminya itu. “Turunkan aku atau aku….”
“Akan kuturunkan,” potong Darren.
Benar saja, sedetik kemudian punggung Ev menyentuh material yang empuk dan lembut. Tidak terlalu cepat, karena Darren menurunkannya secara perlahan. Saat hendak memberontak, pria itu sudah terlebih dahulu menahan pergerakannya.
“Just sleep,” ujarnya.
“….”
“Aku serius, Ev. Hanya tidur bersama,” imbuhnya lagi, menjelaskan.
Ev tidak bersuara. Just sleep, katanya. Apa normal bagi pasangan seperti mereka tidur bersama, yang biasanya tidur seranjang demi kebutuhan sandiwara. Namun, kali ini tidak hujan maupun badai, pria itu ngebet sekali mengajaknya tidur bersama. Baik bermakna konotasi maupupun denotasi.
“Sudah lama kita tidak begini, Ev.”
Darren kembali buka suara. Pria itu kini ikut bergabung, membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Malah tangannya juga ikut lancang, kembali bertengger di pinggang Ev. Sedangkan tangan yang lain membawa kepala Ev pada dada bidangnya. Membuat wanita itu senyaman mungkin berada di sisinya.
__ADS_1
“Tidak seharusnya kamu berkata demikian kepada wanita yang selalu kamu abaikan dalam keadaan sadar ataupun tidak,” jawab Ev pelan.
Ev tidak mau lagi melawan, dia akan mengikuti alur yang Darren inginkan. Hanya saja, dengan cacatatan jiwa dan raganya aman dari pria yang tiba-tiba menunjukkan gelagat ‘buaya’ tersebut. Ev tidak mau kehormatannya yang dijaga dengan baik, diambil secara paksa. Apalagi oleh suaminya, pria yang sebentar lagi akan menyandang status mantan suami.
Jika dipikir-pikir, Darren bersikap aneh semenjak perselingkuhannya diketahui oleh Ev. Apa ini semacam trik agar Darren dapat mengulur waktu? Membuat Ev lengah lalu memcari celah agar dapat menghindar dari perpisahan yang seharusnya menjadi jalan keluar. Jika ya, picik sekali pria itu. Menarik-ulur perasaan seorang wanita tangguh seperti Ev, berharap jika pernikahan mereka yang berada di ambang kehancuran tetap bisa bertahan.
“Tindakan kamu ini tidak pantas ditujukan kepadaku, Darren.”
Ev kembali buka suara. Kedua tangannya mengepal tanpa Darren ketahui.
“Kenapa, Ev?”
“Karena aku bukan milikmu, begitupun sebaliknya.”
“Kita bisa saja lebih dari sekedar memiliki. Kita pasangan suami-istri, Ev.”
“Lagi-lagi kamu bertameng atas nama status suami-istri.” Ev teresnyum masam. “Jika kamu Darren Aryasatya Xander, suamiku. Kemana saja kamu selama ini? Kenapa aku, wanita yang telah menggunakan cincin pernikahan sejak lima tahun lalu, tidak pernah merasakan perhatianmu.”
“….”
“Kenapa kamu diam, Darren?” Ev mendongkrak, menatap lawan bicaranya lamat-lamat. “Kamu pikir selama ini cuma kamu yang menderita karena ikatan ini? Tidak. Aku pun sama. Bahkan aku tidak pernah bisa bernafas lega sehari saja semenjak menyandang status sebagai istrimu. Seadangkan kamu, asik memadu kasih dengan wanita simpananmu di tempat itu.”
Darren masih memilih bungkam. Bohong jika kalimat-kalimat itu tidak menohok hatinya. Sisi emosional Ev yang tertuang dalam kalimat tersebut, agakanya mampu membuat Darren menyadari satu hal. Ternyata selama ini dia yang paling egois. Kendati demikian, dia melakukan semua itu karena memang butuh pengalihan dari segala tuntutan yang menghampiri. Maka Darren berlari ke wanita mungil itu—Ella—yang selalu ada untuknya. Wanita muda yang selalu siap menyerahkan jiwa dan raganya. Berbeda dengan sang istri yang terlalu sukar untuk digapai.
“Apa yang kamu mau, Ev?” tanya Darren tanpa ekspresi.
Ev tersenyum tipis. “Mari akhiri perjanjian ini, pernikahan ini. Maka kamu akan bebas bersama wanitamu, dan aku….”
“Dan kamu bebas dengan pria mu, begitu?” potong Darren datar.
“Tidak pernah ada seorang pria yang berani masuk ke dalam kehidupanku, kecuali kamu dan Dean. Jika ‘pria itu’ yang kamu maksud adalah Dean, why not? Dia tulus mencintaiku. Bukti ketulusannya sudah terpampang secara nyata. D’EV. Kamu sendiri tahu jika tempat itu dia dedikasikan untukku.”
Rahang Darren mengeras. Ev bisa merasakan dari kulit jemarinya. “Kenapa, kamu marah?” tanya Ev jenaka. “Kenapa harus marah, suamiku. Toh, tidak ada gunanya. Kamu juga tidak peduli kepadaku, apalagi mencintaiku.”
Ev kembali menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Senang rasanya dapat memutar balik keadaan. Tidak perlu pakai otot, jika otak cantiknya saja mampu memberi solusi.
“Ayo kita berpisah, suamiku. Supaya kamu bisa segera hidup bahagia dengan keluarga kecilmu. Sedangkan aku….”
“Tidur, Ev. Jangan banyak bicara.”
Darren memotong tanpa ekspresi.
“Kenapa? Kamu kesal?” pancing Ev, belum mau mengalah. Ev yang sekarang ini, jika diabaikan malah semakin menjadi. “Atau…. Kamu cemburu?”
__ADS_1
“Jangan bicara omong kosong!” Darren menatap lawan bicaranya tajam. “Tidur, atau aku tiduri kamu,” acam Darren.
Ev tersenyum tipis. “Baik, untuk kali ini saja aku akan menurut kepadamu, suamiku. Besok-besok, mungkin tidak akan pernah….”
Darren mengatupkan rahang. Tidak mau lagi mendengar kalimat pedas keluar dari mulut Ev, dengan cepat dia membungkamnya dengan ciuman dalam. Mel*m*tnya keras, namun tetap berperasaan. Dia tahu Ev terkejut, tetapi dia tetap tidak mau berhenti, supaya wanita itu berpikir dua kali jika ingin melontarkan kata-kata pedas.
“Tidur, atau aku benar-benar akan membuatmu terjaga semalaman,” ujarnya kala melepaskan bibir ranum Ev yang sekarang agak bengkak.
“Kau harus membayar mahal jika merusak asetku, Darren,” ujar Ev sarkasme, kesal karena hari ini bibirnya terus jadi incaran.
“Hm. Sekarang tidur, jangan bicara lagi.”
Ev memutar bola mata malas. Namun, saat Darren membawa kepalanya pada tempat yang cukup nyaman untuk menyandar, Ev tidak menolak. Biar saja malam ini dia merasakan tempat yang dulu pernah dia jadikan tempat paling favorit untuk bersandar. Walaupun Ev sadar jika kenyamanan itu juga sempat dirasakan oleh wanita lain.
🥀🥀
“Kamu gak pulang, ya?”
Pertanyaan yang lolos dari bibir tanpa perona itu terlontar begitu saja, kala seorang wanita yang tengah hamil muda itu terbangun di tengah tidurnya. Jemari lentiknya menyentuh bagian kosong, di mana sosok yang sekarang dia rindukan biasa berbaring.
“Ella rindu sekali, padahal baru sehari.” Monolognya. “Kamu juga rindu ayah, ya?” tanyanya seraya membelai perut rampingnya dari luar kain.
“Ayah sedang mengurus pekerjaan penting. Jadi, kita harus sabar menunggu ayah pulang.”
Ella, wanita yang tengah hamil muda itu menyunggingkan senyum kecil. Dia merasakan rindu teramat dalam, padahal suaminya baru pergi. Rasanya dia ingin sekali bersandar di dada bidang pria itu. Karena dalam posisi tersebut Ella bisa tidur dengan sangat nyenyak.
“Mas, apa kamu sekarang sudah tidur? Atau jangan-jangan, kamu belum tidur karena sibuk bekerja?” gumamnya pada ruangan yang begitu sepi.
Jarum jam yang menggantung di dinding sudah menyentuh angka dua dini hari. Ella risau. Isi kepalanya bertanya-tanya, mengkhawatirkan kondisi sang suami di luar sana. Ella harap urusan suaminya cepat selesai, agar pria itu dapat kembali pulang. Bukannya Ella egois, tapi dalam kondisi seperti ini, dia sangat-amat ingin diperhatikan lebih oleh suaminya.
“Kamu boleh kerja keras demi aku dan bayi kita, mas. Tapi jangan lupa jaga kesehatan. Karena kami di sini menunggu kamu pulang.”
...🥀🥀...
...TBC...
...Gimana?? Next??...
...Ini nulisnya pake perjuangan sekali, supaya readers gak kelamaan nunggu. Dicap koyo juga nih tangah 😂...
...Wokee, jangan lupa like, vote, komentar yang banyak, share follow & Author 🥰...
...Tanggerang 23/01/21...
__ADS_1