Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M28 : MULAI TERUNGKAP


__ADS_3

M28 🥀 : MULAI TERUNGKAP



🥀🥀


Sepasang kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu perlahan mengerjap. Tidurnya mulai lasak. Hendak bergerak, namun tertahan oleh sesuatu. Kemudian, kelopak mata itu terbuka perlahan. Menyesuaikan cahaya yang mulai merembes masuk ke dalam retina. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang familiar. Kemudian, dia merunduk, menemukan gundukan berwarna hitam yang samar.


Tangannya bergerak, menyentuh gundukan hitam yang pasti sumber dari tekanan yang mampir di tubuh bagian atasnya. Saat disentuh, bola matanya kontak mengerjap waspada. Bagian tubuh yang terasa halus dan lembut di jemarinya itu, bukan miliknya. Melainkan milik partner tidur seranjangnya semalam. Ev langsung yakin akan opini tersebut.


“Darren?” panggil nya, memastikan. Apakah si empunya sudah bangun?


“Hm.”


Pria itu sudah bangun. Terbukti dari dehaman samar yang barusan terdengar.


“Menyingkir dari atas tubuhku,” ujar Ev penuh penekanan.


“Lanjutkan saja tidur mu, ini masih pagi.”


Ev memutar bola mata malas. Bagaimana dia bisa lanjut tidur saat tubuh mereka tumpang-tindih begini?


“Cepat menyingkir!”


“Hm.”


“Darren!” kesal Ev.


Sudah bagus dia berbaik hati kemarin malam, membiarkan pria tersebut tidur di ranjangnya. Sekarang, pria itu malah membuat Ev jengkel di pagi hari.


“Senyawa afrodisiak nya masih tertinggal.”


Ev terdiam sejenak. Mungkin benar, senyawa itu masih tertinggal. Mengingat Ev menggunakan bath bomb yang ternyata bath bomb s*x itu untuk berendam. Tapi, apa urusannya? Jangan bilang jika efek senyawa tersebut malah lebih dominan dirasakan Darren. Ev juga merasakan tubuhnya agak aneh semalam. Namun, Ev mati-matian menahan. Apalagi Darren ada di sisinya semalam. Jika Ev bisa menahan efeknya, bagaimana dengan Darren? Semalam saja pria itu hampir lepas kendali.


“Jangan bilang kamu h*rny, Darren?”


Pria itu tidak menjawab. Masih betah berlama-lama di posisinya. Dia memang bangun terlebih dahulu. Saat terbangun, Darren menemukan Ev yang masih terlelap dengan nyenyak berbantalkan lengannya. Darren akui jika tengah tertidur saja, Ev bisa terlihat sangat cantik. Apalagi dengan pakaian yang cukup membuat iman kaum Adam lemah. Tidak terkecuali bagi Darren. Bohong jika dia tidak h*rny alias terangs*ng. Toh, saat terbangun dia disuguhi wanita cantik, berpakaian sexy, plus…. Berstatus istrinya pula.


“Singkirkan pikiran kotor apapun yang ada dalam otakmu, jika itu melibatkan aku.” Ev berujar seraya menarik beberapa helai rambut Darren.


“Hm.”


Darren merespon, tetapi tidak mengindahkan. Dia malah asik membenamkan wajahnya di leher Ev yang menguarkan aroma harum. Darren juga tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Niat awalnya bukan begini. Dia hanya ingin menekankan bahwa Ev akan tetap menjadi istrinya, sampai dia sendiri yang akan melepaskan wanita tersebut. Hanya saja, entah mengapa, belakangan dia malah memiliki ketertarikan lebih pada istri pertamanya itu. Apalagi saat melihatnya memiliki semangat menggebu-gebu kala mengutarakan niat untuk berpisah.


“Menyingkir, Darren. Atau aku….”


“Atau apa?” Darren mendongkrak, menjauhkan wajahnya dari tempat persembunyian. Dalam sekejap, posisi Ev sudah berada di bawah kungkungan pria tersebut.


“Kenapa kamu menganggu pagi hariku, Darren Aryasatya Xander!” ujar Ev, mulai tersulut emosi.


Darren tersenyum miring. Ini yang membuatnya tertantang, sifat pemberontak Ev yang tidak diketahui banyak orang. Darren tertantang untuk menjinakkannya.


“Aku tidak menganggu mu, Ev.”


“Tindakanmu barusan menganggu sekaligus membuatku merasa dilecehkan.”


“Dilecehkan? Kita ini suami-istri, Ev. Hal semacam itu lumrah dilakukan,” dalih Darren lancar.

__ADS_1


Ev tersenyum sinis mendengarnya. “Itu berlaku untuk pasangan suami-istri normal, bukan seperti aku dan kamu.”


Darren mendegus mendengarnya.


“Sekarang minggir!” titah, Ev. Namun, Darren tidak mengindahkan. “Minggir atau aku akan….”


Ev tidak lagi melanjutkan kalimatnya, kala merasakan sesuatu yang menusuk bagian bawah tubuhnya. Sedetik kemudian, dia menatap lawan bicaranya horor. “Sudah aku katakan, aku bukan objek fantasi liar mu, Darren. Jadi, menyingkir dari tubuhku sekarang juga, dan urus kem*lu*nmu itu!”


Setelah berkata demikian, Ev membuat gerakan cepat agar dapat meloloskan diri. Namun, kala cepat oleh gerakan sigap Darren.


“Kenapa? Itu hanya morning wood.”


Darren sadar kemana arah pembicaraan sang istri. Tapi benar, itu hanya morning wood. Kondisi yang normal dialami oleh kaum Adam yang sudah dewasa ketika bangun tidur di pagi hari.


“I know. But,” kalimat Ev menggantung seketika.


“But?” ulang Darren. Menanti jawaban sang istri.


“Bagiku itu tidak sopan,” lanjut Ev. “Sudah beruntung aku mengizinkan kamu tidur di sini, Darren. Tapi, kamu malah memperlakukan aku seperti ini.”


“Seperti apa maksudmu?” tanya Darren to the point.


“You touch my body, tanpa izinku.” Ev menatap lawan bicaranya lekat. “Jangan membuatku marah lebih dari ini, Darren. Karena kamu tahu sendiri apa akibatnya jika membuatku marah.”


Darren tidak menjawab. Namun, untuk sejenak pria rupawan itu menatap lawan bicaranya lamat-lamat. Seolah-olah tengah merekam wajah cantik Ev baik-baik dalam ingatan. Ev yang risih ditatap sedemikian rupa, baru saja hendak melayangkan protes. Namun, terjeda oleh tindakan paling tidak pernah Ev harapakan datang dari seorang Darren Aryasatya Xander.


Cup!


“Morning, Evelyn. Maaf jika kehadiranku membuat pagi mu terganggu.”


Pria itu mengecup Ev. Hanya sebatas kecupan, tetapi damage-nya mampu membuat Ev membeku. Pasalnya kecupan itu jatuh di kening. Ev selalu meyakini jika kecupan yang jatuh di kening lebih spesial dari kecupan yang jatuh pada bibir. Karena biasanya kecupan di kening cenderung lebih menonjolkan sebuah ketulusan dan keseriusan.


“There’s something wrong with him (ada yang salah dengan dia),” gumam Ev pelan, saat kesadarannya perlahan kembali.


Darren baru saja menghilang di balik connecting door. Sekarang, Ev seorang diri dengan perasaan tak menentu.


“Atau mungkin ini hanya sebatas taktik,” lanjutnya seraya tersenyum sinis.


Ev beranjak, meninggalkan ranjang. Saksi bisu Ev dan Darren yang tidur bersama tanpa didasari oleh sandiwara. Wanita cantik yang mengenakan sleepwear silk dress itu kemudian berjalan menuju walk in closet. Tempat di mana sebuah brangkas tersimpan. Ev memasukkan beberapa digit nomer untuk membuka benda tersebut. Saat benda itu terbuka, Ev menarik sebuah map coklat dengan nama ‘pengadilan agama’ di atasnya.


Seberkas senyum tipis, tetapi mengandung rasa miris tersungging.


“Percuma saja kamu melancarkan berbagai taktik, Darren. Pasalnya, keputusanku sudah bulat dan tidak dapat diganggu gugat.”


🥀🥀


Wanita muda yang mengenakan terusan berwarna merah jambu itu tampak berseri-seri saat gilirannya tiba. Seraya membawa buku berwarna merah jambu pula, dia maju. Mendekati seorang wanita berhijab syar’I yang akan memeriksa kandungannya.


“Buku KIA nya sudah dikasih, ya?”


“Iya,” jawabnya pelan seraya menunjukkan buku berwarna merah jambu tersebut. Buku KIA atau buku kesehatan ibu dan anak.


Buku KIA mencakup informasi tentang awal kehamilan hinga anak usia 6 tahun. Buku berwarna merah jambu itu biasanya diberikan saat pertama kali periksa kehamilan. Buku ini sangat penting, karena selain berisi tentang informasi awal kehamilan hinga anak usia 6 tahun, buku ini juga sebagai media komunikasi antara tenaga kesehatan dengan ibu hamil, balita, dan keluarga. Buku KIA juga berfungsi sebagai catatan kesehatan bagi ibu hamil dan balita.


Hal itu juga baru diketahui oleh Ella yang baru memeriksakan kehamilannya untuk pertama kali. Buku bersampul merah jambu itu sangat berharga untuknya. Bukan hanya dia saja wanita hamil yang hari ini berbondong-bondong mendatangi posyandu. Melainkan ada banyak. Kehadiran Ella juga disambut hangat oleh wanita hamil dan ibu muda lainnya. Mereka beramai-ramai mengucapkan selamat atas kehamilan pertama Ella.


Ella senang sekali. Rongga dadanya senantiasa dilingkupi kebahagiaan pasca dinyatakan positif hamil.

__ADS_1


“Neng Ella, tunggu dulu.”


“Eh, iya, kenapa Sit?” tanya Ella kebingungan, saat seorang perempuan yang datang tergopoh-gopoh menghampiri.


“Tungguan, atuh. Ada yang mau Siti kasih tau.”


“Kenapa kamu panggil aku?”


“Ini, neng. Ada yang mau Siti kasih tau.”


“Kasih tau naon atuh?” tanya perempuan lain yang sejak tadi berdiri di samping Ella.


“Nih, lihat dulu. Apa yang Siti temuin di gugel.”


“Gugel?” bingung Ella dan perempuan di sampingnya.


“Alat canggih pokonamah,” ujar Siti seraya menyodorkan handphone yang layarnya menyala. “Perempuan cantik banget yang waktu itu datang ke rumah neng Ella teh ternyata artis, tau gak?”


“Masa ah?”


“Iya. Lihat sendiri, mukanya ada di HP suamiku. Pas diketik namanya, langsung muncul. Tah, kan, berebet.” Heboh Siti saat muncul berbagai gambar di layar.


“Wah, iya.” Perempuan yang berdiri di samping Ella menimpali.


Ella mengangguk dalam diam. Masih memperhatikan gambar yang tertera di layar. “Terus, yang mau Siti tanyain apa?” Tanyanya kemudian.


“Ini,” perempuan bernama siti itu menekan sebuah gambar. “Mereka teh katanya ‘couple goals’. Ari couple goals teh, apa neng artinya? temen kerja?”


Ella menautkan kening mendengarnya. “Ella, kurang tau.”


“Iya, kali, Sit. Katanya si teteh cantik itu partner kerjanya tuan Darren di kota. Berarti bener, temen kerja.”


“Iya, sih. Tapi, masa temen kerja berdua terus fotonya?” Siti kembali menyodorkan layar yang menyala itu pada Ella. “Temen kerja memangnya suka foto pake baju pengantin juga?”


Ella terdiam. Matanya masih terkunci pada objek penglihatan saat ini. Seuntai kata yang tertoreh di bawah foto suaminya dengan wanita yang katanya ‘partner kerja-nya’ itu berhasil membuat isi kepalanya berkelana.


“Neng Ella juga gak tau banyak soal hubungan perempuan cantik itu sama suami neng Ella, ‘kan?” tanya Siti tiba-tiba. “Hati-hati, neng. Jangan sampai suami neng Ella selingkuh sama temen kerjanya itu.”


Deg!


“M-aksud Siti apa?” Ella menatap lawan bicaranya tidak suka. “Mungkin mas Darren sama mbak Ev foto pakai baju itu untuk kebutuhan pekerjaan.”


Siti menganggukkan kepala singkat. “Bisa juga sih. Tapi, ini apa maksudnya, neng?” tanya Siti seraya menekan sebuah gambar dengan tulisan ‘Intip potret perjalanan 5 tahun pernikahan Darren Xander & Evelyn Xander yang Selalu Tampak Serasi’. Untuk beberapa saat, ketiga kaum Hawa itu dibuat menunggu karena jaringan internet yang lemot. Saat terbuka, ketiganya dibuat tercengang. Terutama Ella. Apalagi saat jemari terus digulirkan kian ke bawah, ada banyak foto yang membuat rongga dada wanita itu kian sesak.


...🥀🥀...


...TBC...


...Next? jangan lupa julid duluuu 🤣...


...Ini typing nya ngebet, maaf kalau banyak typo 🙏...


...Aku lagi banyak kerjaan, jadi gak bisa nyantai di atas jam sembilan malam....


...Tencuu buat yang udah setia menunggu ❤️...


...Ok, jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️...

__ADS_1


...Tanggerang 28/01/22...


...00.06 WIB...


__ADS_2