Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M60 : RESMI JADI SATU-SATUNYA


__ADS_3

NOTE : DIREKOMENDASIKAN UNTUK DIBACA DENGAN DIAWALI BASMALAH & ISTIGHFAR. LEBIH BAIK BACA SETELAH BUKA PUASA, KARENA BACA PART INI MENIMBULKAN KEKECEWAAN, KEJULITAN, KEKESALAN, BISA JUGA BERUJUNG KEMARAHAN 🙏✌️


HAPPY READING 🔥


M60 🥀 : RESMI JADI SATU-SATUNYA



“Konferensi pers yang ditunggu-tunggu akhirnya digelar secara resmi. Evelyn didampingi sang manager beserta asisten pribadinya akhirnya memberikan klarifikasi soal perceraiannya. Super model cantik yang pernah menetap di Paris itu mengatakan jika alasan dia dan sang suami bercerai karena sudah tidak ada kecocokan lagi. Setelah menikah lima tahun lamanya, tanpa kehadiran seorang anak di antara mereka—akhirnya Evelyn dan Darren resmi berpisah secara baik-baik.


Santer juga terdengar kabar burung jika perceraian Evelyn ada hubungan dengan CEO agensi yang menaunginya. Namun, kabar itu dibantah oleh manager Evelyn saat konferensi pers. Sebagimana yang telah publik ketahui, jika Evelyn dan CEO D’EV entertainment memang memiliki hubungan dekat semenjak kecil.”


Suara dari presenter berita infotainment itu tampak menggema, mengisi sebuah ruangan keluarga mewah di mansion milik putra Xander dan istri pertamanya. Sedangkan di sebuah sofa mewah berwarna abu beludru, seorang wanita mudah tengah duduk sembari mengelus perut buncitnya. Di sebelah tangannya, ada satu tangkai anggur hitam premium varietas terbaik yang dibeli langsung dari negeri asalnya—Jepang.


“Hampir semua stasiun televisi menayangkan berita yang sama. Bunda bosan. Apa kamu juga bosan melihatnya, nak?” gumam wanita tersebut seraya mengelus baby bump-nya yang terlapisi dress khusus wanita hamil berwarna baby pink dari brand kenamaan.


“Pada akhirnya kita yang berhasil keluar sebagai pemenang, nak. Sekarang kita bisa memiliki ayah seutuhnya,” tambahnya seraya tersenyum lebar.


Saat ini usia kehamilannya sudah memasuki minggu ke-21. Sejauh ini kondisi dia maupun si jabang bayi dalam kandungannya sehat. Sekali pun dia harus menghadapi berbagai macam masalah internal maupun eksternal. Kurang lebih 4 bulan sudah dia menetap di sini, meninggalkan kampung halamannya. Menemani sang suami yang tengah menjalani proses perceraian. Sekarang, suaminya sudah resmi bercerai dengan istri pertamanya.


Apa dia bahagia sekarang? Jawabannya tentu saja ya. Dia bahagia juga lega karena sekarang suaminya hanya miliknya seorang. Ah, maksudnya milik berdua—bersama calon buah hati mereka yang akan segera lahir ke dunia. Setelah ini dia yakin jika sang suami akan lebih fokus memperhatikannya dan sang buah hati. Karena pria itu tidak lagi memiliki perioritas lain setelah mereka. Namun, belakangan pria rupawan itu jarang pulang ke rumah. Sekali pun pulang, hanya untuk mengambil berkas dan berganti pakaian. Sudah lebih dari tiga bulan, dia tidak merasakan kehangatan pria tersebut. Suaminya itu kian menjadi sosok yang semakin dingin dan terkesan untouchable.


“Sekarang publik sedang dibuat bertanya-tanya oleh kabar simpang-siur yang datang dari Darren Aryasatya Xander.”


Wanita muda yang tengah hamil itu kembali memusatkan perhatian pada layar 48 inchi di hadapannya. Sembari mengunyah buah anggur yang terasa manis, sedikit asam tanpa memiliki biji itu, dia menyimak dengan baik apa yang tengah dibawakan oleh si pembicara.


“Belakangan tersebar foto yang diduga kuat Darren Aryasatya Xander yang baru saja keluar dari rumah sakit, bersama seorang wanita muda. Foto yang sama juga pernah tersebar di internet, saat pertama kali mencuatnya kabar soal kandasnya hubungan couple golas tersebut.”


“Itu ….bukannya foto waktu Ella chek up,” gumam wanita muda tersebut. “Ternyata ada yang mengambil foto Ella sama mas Darren secara diam-diam.”


Seulas senyum tercipta di bibir mungilnya. “Apa mbak Ev juga melihat pemberitaan ini?” pikirnya, menerawang jauh ke angkasa. “Kalau iya, bagaimana perasaannya, ya? Marah, atau malah biasa saja? Lagi pula Ella yakin kalau mbak Ev juga punya hubungan spesial sama lelaki yang dibicarakan di televisi. Mereka juga kelihatan cocok, kayak Ella sama mas Darren. Iya, kan, nak?” tanyanya riang, seraya mengelus baby bump-nya.


Dia memang cukup up to date mengikuti perkembangan kasus perceraian sang suami lewat televisi. Karena hanya lewat benda elektronik itu dia bisa mengakses hiburan dan bisa mengakses informasi lainnya. Hingga saat ini, ruang geraknya masih dibatasi. Dia masih dilarang meninggalkan mansion, dilarang memasuki ruangan milik mantan nyonya rumah ini dan ruang kerja sang suami, hingga dilarang mengakses dunia luar lewat alat komunikasi canggih seperti handphone. Jika ada tamu yang datang, baik diundang atau pun tidak diundang, dia dilarang berkeliaran dan wajib berada di kamarnya.


“Owh, jadi ini mistress gak tau diri itu?”


“Uhuk ….uhuk….”


Wanita muda yang tadinya tengah khusu mengunyah anggur itu seketika tersedak karena suara feminim yang tiba-tiba mengagetkan dirinya.


“Uhuk ….uhuk …. pelayan ….tolong bawakan Ella minum, cepat!”


Seorang maid yang kebetulan mendengar panggilan itu lantas datang dengan langkah tergopoh-gopoh. Membawa segelas air putih untuk nyonya ‘baru’ di mansion itu.


“Anda baik-baik saja, nona?” tanya maid yang khusus ditugaskan untuk menjaga wanita muda tersebut.


“Iya, tenggorokan Ella sudah terasa lebih baik,” jawab sang nona.

__ADS_1


“Wah, wah, berlagak jadi nyonya baru ternyata.”


Ella—wanita yang tengah hamil itu refleks menoleh, mencari asal-muasal dari suara feminim tersebut. Mata penuh rasa penasaran itu langsung bersirobak dengan mata berwarna ember yang cantik. Pemilik mata cantik itu juga memiliki para yang rupawan. Tubuhnya tinggi, semampai dan ideal. Dibalut oleh Shiny purple of shoulder dress yang dipadu padankan dengan alas kaki berupa hak yang tidak terlalu tinggi.


Bibirnya yang dipulas Lipstik rounge Coco plush tampak menyunggingkan senyum skeptis. Di sebelah tangannya, wanita itu menenteng Flap bag warna lilac lansiran rumah mode Chanel. Salah satu label favorit ketiga yang hampir dimiliki oleh semua selebriti Indonesia. Tas material lambskin dengan aksen quilted ini juga merupakan The most iconic bag of all time yang tak pernah lekang oleh zaman. Overall, penampilan wanita itu branded dari atas sampai bawah.


“Siapa kamu? Kenapa bisa masuk ke rumah ini?” tanya Ella dengan mata menyipit.


“Lah, situ nanya?” wanita itu menjawab seraya melangkah kian dekat. “Gak usah basa-basi deh, basi. Lagian, gue ke sini juga bukan buat nyari situ.”


Ella semakin mengernyit mendengarnya. “Sebenarnya kamu siapa, kenapa lancang sekali masuk ke rumah suami Ella.”


“Rumah suami situ? Hellow. Gue koreksi ya, rumah ini beserta isinya milik Ev. Jangan ngaku-ngaku deh.”


“Kamu kenalan mbak Ev?” tebak Ella. “Maaf, Ella gak tahu. Tapi, mbak Ev sudah tidak tinggal di sini lagi—“


“Udah tahu, kelesss,” sewot wanita cantik tersebut. “Lagian gue ke sini mau nyari laki. Bukan nyari situ. Takutnya, laki gue lo godain dengan tampang polos bin dungu itu.”


Ella terhenyak mendengarnya. Dia tentu tidak senang dikatai demikian. Apalagi tamu yang dia hadapi tidak diundang pula. “Jaga bicara kamu, ya. Ella enggak gitu.” Belanya. “Lagian Ella enggak tahu siapa cowok kamu.”


Wanita cantik itu tersenyum miring, “kalau gue bilang laki gue suami lo, lo percaya?”


“Apa? gak mungkin itu mas Darren,” sanggah Ella tak percaya.


“Berarti lo memang gak tau apa-apa soal cowok yang jadi laki lo itu.” Senyum remeh kembali tersungging di bibir yang dipulas Lipstik rounge Coco plush tersebut. “Gue spill sedikit infonya nih, kalau laki lo itu bukan baru pertama kali ini punya ‘mainan’ kayak lo. Dia bahkan pernah ada main sama sekretarisnya yang dulu.”


“Ya iyalah. Memangnya, lo pikir dia anggap lo apa? kalau udah puas dipake, palingan lo juga dibuang ke laut, ups.” Wanita cantik itu tersenyum keki.


“Kamu ini benar-benar tidak punya tata krama dan sopan santun, ya? Sudah bertamu tanpa undangan, sekarang kamu jelek-jelekin suami aku?” ujar Ella tidak terima.


“Lah, itu lebih cocok ditujukan buat lo. Gak punya tata krama dan sopan santun. Datang tanpa diundang di acara anniversary Ev, terus sekarang lo rebut lakinya.”


“Jaga bicara kamu, aku gak gitu!” wanita muda yang tengah hamil itu terpancing emosi. Dengan cepat dia beranjak, hendak menyerang lawan bicaranya. Namun, sudah ditahan terlebih dahulu oleh maid yang sedari tadi menonton adu mulut keduanya.


“Jangan nona.”


“Lepaskan tangan Ella. Biar Ella kasih wanita itu pelajaran supaya punya sopan santun.” Ella berontak, mencoba menyentak tangannya yang dipegang erat oleh maid bernama Dyana tersebut.


“Biarin rubah berekor Sembilan itu lepas, Dyn,” ujar wanita cantik itu santai. “Biar kita tau wujud aslinya.”


“Tutup mulut kamu!”


“Lah, mulut-mulut gue, hak gue dong. Lo gak usah ngatur.”


“Nona Dewita, jangan begini. Nona sama-sama sedang mengandung, tidak baik bertikai seperti ini.” lerai Dyana.


Tamu yang datang tak diundang itu memang Dewita. Mantan model itu datang untuk mencari sang suami, karena dia tak menemukan suaminya itu di kantor. Teleponnya juga tidak dapat dihubungi. Kata sekretaris pengganti sang suami, pria itu sudah pergi bersama sang atasan semenjak satu jam yang lalu. Jadi, Dewita datang ke sini untuk mencari sang suami, karena mendadak dia ingin makan junk food ditemani sang suami. Alih-alih menemukan sang suami, Dewita malah menemukan wanita hamil yang tengah asik menonton televisi sembari menikmati buah anggur. Parahnya lagi, tayangan yang tengah ditonton adalah berita soal retaknya sebuah rumah tangga karena kehadirannya. Dewita tentu berhasrat untuk menghujat wanita yang sama-sama tengah berbadan dua itu.

__ADS_1


“Dia pasti lagi kesenengan, Dyn. Karena sekarang Ev sama Darren udah resmi bercerai. Merasa dia yang menang, padahal perceraian bukanlah kekalahan Ev, tapi kemenangannya.”


Setelah berkata demikian, Dewita tersenyum anggun seraya bersidakep dada. Ketika Ella baru saja hendak buka suara untuk membalas perkataan Dewita, suara derap langkah dari arah pintu utama membuat niat itu urung.


“Itaa, kamu ada di sini?”


“Yang!” seru Dewita heboh, seraya menatap si empunya suara dengan mata berbinar. “Aku nyariin kamu karena baby D tiba-tiba mau makan junk food.”


“Junk food? Aku gak salah dengar, ‘kan?” pria yang mengenakan jas berwarna dark gray itu menatap sang istri dengan mata menyipit.


“Lah, anak kamu yang mau, yang. Mau makan beberapa macam junk food sekaligus, mulai dari cheese burger, fried French, chicken nugget, chicken wing, chicken wrap, ditutup sama minuman float sama ice cream vanilla.” Dewita menjawab dengan bibir yang dibuat mengerucut. Sebelah tangannya ikut memprovokasi—dengan cara mengelus perut buncitnya.


“Lagian kamu ya, kemarin aku tunggu pulang dari brunch, lunch, sampai dinner. Tapi, kamu gak pulang-pulang. Makanya hari ini aku nekad nyariin kamu. Aku, tuh, takut kamu nyari mainan baru di luar sana, karena sekarang aku gemoy karena hamil, gak s*ksoy lagi.”


Jika bukan berada di kediaman orang lain, Damian—suami wanita hamil itu—pasti sudah menghujani wajah cantik sang istri dengan ciuman, saking gemasnya. Kemarin dia memang tidak sempat pulang karena terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Dia juga tidak sempat menghubungi sang istri, jika hari ini dia akan pulang, karena handphone-nya kehabisan baterai.


“Kamu bicara apa sih, Ta?” lirih Damian seraya mengecup kening sang istri. “Kita pulang sekarang, ya. Jangan buat keributan di rumah orang, cuma karena kamu ngidam makan junk food.”


“Ish, nyebelin.” Ketus Dewita seraya mencubit lengan sang suami. “Ya udah, ayok pulang. Risih juga lama-lama di sini, soalnya ada rubah macam itu….” Tunjuk Dewita menggunakan dagu, mengarah ke arah Ella yang masih berdiri di samping Dyana.


“Sudah, Ta.” Lerai Damian seraya merangkul pinggang sang istri. “Maaf jika istri saya telah membuat keributan. Dia memang begitu jika sedang kelaparan.”


“Ayang, ih!” rajuk Dewita kesal. Luntur sudah image sangar yang telah dia tunjukkan tadi.


Damian tersenyum tipis kala melirik sang istri, kemudian kembali menatap istri atasannya dengan datar. “Tuan Darren tidak akan pulang hari ini. Beliau berpesan agar Anda tidak menunggu kepulangannya,” ujarnya memberitahu. “Kalau begitu saya dan istri saya pamit undur diri. Semoga hari Anda menyenangkan.”


Setelah berkata demikian, pria rupawan yang mengenakan kacamata itu pamit undur diri bersama sang istri. Meninggalkan Ella—si nyonya rumah sementara—yang tampak mematung di tempatnya.


“Kenapa….”


“Kenapa apanya, nona?” tanya Dyana, kala mendengar gumaman Ella.


‘Kenapa kamu terasa semakin menjauhi aku, mas?’ lanjut Ella di dalam hati.


Melihat interaksi sekretaris suaminya dengan istrinya, Ella tidak menampik rasa iri yang hadir di dalam hati. Dia sadar jika akhir-akhir ini Darren semakin menjaga jarak. Pria itu jarang pulang, sekali pun pulang, dia tampak enggan berinteraksi dengan istri mudanya itu. Kondisi itu tentu membuat Ella sangat sedih, karena merasa tidak diperhatikan lagi. Padahal saat ini dia tengah mengandung. Seharusnya dia diberi perhatian lebih, karena ada keturunan pria itu di dalam rahimnya.


“Nona, Anda melamun?”


Ella tersentak. Dengan cepat dia menoleh, menatap maid di sampingnya dengan raut wajah kesal. “Kamu bisa kembali ke belakang, Ella gak mau diganggu!”


“B-aik, nona.”


🥀🥀


TBC


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Sukabumi 07/04/22


__ADS_2