
NOTE: KOREKSI TYPO NYA, YA!
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
M62 🥀 : TERGANGGU & PENGANGGU
Riuh suasana bandara international Soekarno Hatta sudah terliha sekali pun sang fajar baru saja muncul di ufuk timur. Para calon penumpang hingga penuggu kedatangan, berseliweran di mana-mana. Keramaian itu pula yang menjadi pemandangan seorang wanita cantik yang datang bersama beberapa anggota keluarga dan kerabat dekatnya.
Dia tampak lebih fresh dan jauh lebih muda mengenakan atasan jaket jeans berwarna biru tua dengan bagian lengan yang longgar, dipadukan dengan celana slim fit dengan detail belahan di mata kaki. Untuk menunjang penampilannya, dia mengenakan sneakers putih bertali hitam dan backpack kecil. Rambutnya dibiarkan terurai, hingga melambai-lambai karena angin. Untuk menghirdari orang-orang mengetahui identitasnya, dia sengaja menggunakan topi dan kacamata hitam.
“Kamu yakin mau pergi sendiri? Tidak mau aku temani? Aku takut kamu kenapa-kenapa di sana.”
Nada risau terdengar dari seorang pria yang hari ini outfit-nya tak kalah trendy. Pria rupawan itu mengenakan celana jeans, dengan atasan T-shirt putih yang dilapisi jas semi formal dengan warna dark blue.
“Aku akan baik-baik saja, Dean. Kamu terlalu berlebihan.”
“Tapi, Ev, I mean—“
“Kamu punya banyak pekerjaan di sini, jangan coba-coba untuk membuat alasan,” sela si empunya nama.
“Tapi, aku hanya ingin mengantar kamu, dan memastikan kamu selamat sampai tujuan.” Pria itu membela diri. Dia memang sempat nekad ingin membeli tiket agar bisa pergi mengantar sang pujaan hati.
“Kamu do’akan aku saja supaya selamat sampai tujuan. Setelah itu, kamu selesaikan pekerjaan kamu di sini. Akhir tahun nanti, kamu baru boleh menyusul aku ke sana. Lagipula di sini masih ada Dimi dan Deesa.”
“You’re all I need (hanya kamulah yang aku butuhkan),” rajuk pria bermarga Wijaya tersebut.
“Ya ampun, Dean. Kenapa kamu memberatkan Ev dengan tingkah mu ini? Ev pergi ke sana untuk menenangkan diri,” lerai sang ibu yang ikut mengantar Ev.
“Dengarkan apa kata ibumu, nak,” tambah mommy Ev, ikut melerai.
“Baiklah, mam and mom tersayang,” jawab si empunya nama, pasrah.
Melihat interaksi pria rupawan itu dengan para ibu, membuat Ev tersenyum sendiri. Dia memang akan segera berangkat ke Paris, seorang diri. Ah, maksudnya bersama Dimi yang juga akan menjumpai sang ibu. Sebelum pergi, Ev sudah memastikan semua keperluannya telah di-packing dengan rapih. Untuk sementara waktu, Emilio juga diungsikan ke kediaman Dean. Karena pria itu yang menawarkan diri secara sukarela untuk menjaga anak kesayangan Ev.
Keberangkatan Ev pagi ini diantar oleh orang tuanya, orang tua Dean, Dean, Dimi, dan Deesa. Sedangkan Dewita yang sudah heboh ingin ikut mengantar sejak kemarin, belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Dewita kemana, ya, Dees? Kok belum datang?”
“Gue juga gak tahu, Ev. Padahal tadi dia udah on the way ke sini.”
Ev menghela nafas kecil. Padahal sebentar lagi Ev boarding. Namun, salah satu bestie-nya itu belum muncul juga.
“Good morning, ladies and gentleman. His is a pre-boarding announcement for passengers of Garuda Airlines on flight number 414B to Paris. We would like to invite those passengers with small children and any passengers who require special assistance to start boarding first. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will start in approximately ten minutes. Thank you.”
(Selamat pagi, penumpang sekalian. Ini adalah pengumuman pre-boarding untuk penumpang Maskapai Garuda Airlines dengan nomor penerbangan 414B tujuan Paris. Kami mengundang para penumpang dengan anak kecil dan penumpang yang membutuhkan bantuan khusus untuk melakukan boarding terlebih dahulu. Mohon persiapkan pas naik dan identitas anda. Boarding regular akan mulai dalam waktu sekitar sepuluh menit. Terima kasih)
Panggilan boarding (naik ke dalam pesawat) kepada penumpang terdengar menggema dari pengeras suara. Airport Announcement (pengumuman di bandara) barusan adalah pre-boarding Announcement atau pengumuman yang ditujukan kepada penumpang yang membawa anak kecil dan penumpang berkebutuhan khusus untuk melakukan boarding (masuk pesawat).
“Ev, sebentar lagi you boarding juga. Sebaiknya di-chek-chek lagi, ada yang ketinggalan atau enggak?” tanya Dimi memastikan. Pria itu memang yang paling mengurus kebutuhan Ev.
“Sudah, Dim. Barang-barang Dini juga udah di-chek ulang. Iya, kan, Din?”
Gadis muda yang mengenakan long blazer berwarna pastel itu mengangguk. “Semua sudah saya chek, nona tenang saja.”
“Kamu dengarkan, Dim?”
“Of course. Telingaku masih berfungsi dengan baik,” jawab pria tersebut. Sontak mengundang tawa dari yang lain.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Airport Announcement kembali terdengar. Ev pun harus segera berpmaitan dengan para anggota keluarga dan kerabat yang sudah mengantar. Dipeluknya mereka satu per satu. Ev pun berjanji akan menjada diri dengan baik di sana. Suatu saat nanti, mereka akan bertemu kembali. Jika waktunya sudah tiba, Ev yakin itu akan terjadi.
“Jaga diri di sana, ya, sayang. Mama harap Ev dapat menemukan kebahagiaan di sana. Jangan lupa hubungi mama jika Ev sudah sampai,” pesan Diana.
“Iya, ma. Tapi, Darren….”
“Jangan risau soal anak itu. Mama sendiri yang akan menjamin keamanan kamu dari Darren,” ujar Diana meyakinkan.
Ev mengangguk seraya mengulum senyum.
Sebenarnya kepergian kali ini agak membuat Ev sedih. Bagaimana pun juga, setelah ini Dimi pasti akan berjibaku keras meng-handle pekerjaan yang Ev tinggalkan. Para orang tua juga akan berusaha menekan pemberitaan yang muncul di berbagai media. Bagaimana pun juga kepergian Ev lambat laun pasti akan tercium oleh awak media. Akan ada tanda tanya besar yang ikut mengiringi nantinya.
“Ev!”
Mendengar namanya dipanggil, wanita cantik itu menoleh. Dari kejauhan, tampak seorang ibu hamil berjalan tergesa-gesa. Tak peduli jika baby bump-nya dapat membuat orang lain ngeri melihatnya. Mereka pasti akan berpikir; bumil kok tingkahnya absurd dan bikin sawan begitu?
“Aku pikir kamu tidak jadi datang,” ujar Ev, menyambut kedatangan ibu hamil tersebut. Diekori oleh sang suami di belakangnya.
“Gini, Ev. tadi ada problem dikit …..hos ….hos….” ucapnya dengan deru nafas memburu.
“Itaa, Tarik nafas dulu yang benar. Lalu keluarkan perlahan-lahan,” interupsi sang suami.
“Apaan sih, yang?”
“Nafas kamu jadi tidak beraturan karena berjalan tergesa-gesa. Itu tidak baik, Ta.”
Dewita memutar bola mata malas, mendengar ucapan sang suami. “Ini juga kita telat karena kamu yang lebih mengutamakan jenguk atasan kamu itu!”
“Jenguk?” bingung Ev.
Tidak hanya Ev, beberapa orang di sekelilingnya juga tampak terkejut. Sisanya tampak biasa saja.
“Jadi kamu belum tahu, Ev?”
Ev menatap Dewita lurus-lurus. Detik itu juga, Dewita tersenyum kikuk karena sadar akan kesalahannya. “Aku keceplosan,” lirihnya.
“Ada apa ini? jenguk? Siapa yang sakit memangnya? Bukannya atasan Damian cuma Darren?” tanya Ev retoris. “Tolong jelaskan sama aku, apa maksud dari ucapan kamu tadi, Dew?” tuntut Ev.
“Ev, sayang.” Diana Xander bergerak, maju. Membuka suara.
“Ada apa ini, Ma? Apa mama tahu sesuatu?”
“Sebenarnya, semenjak kemarin Darren….”
“Darren kenapa, ma?”
“Darren ….dilarikan ke rumah sakit karena ditemukan tidak sadarkan diri di ruang kerjanya.”
Ev terpaku mendengarnya. Raut wajahnya membeku. “Darren sakit apa? Kenapa bisa sampai tidak sadarkan diri? Dia tipikal orang yang selalu menganut pola hidup sehat. Tidak mungkin dia sakit secara mendadak.”
Ev tidak percaya jika pria yang memiliki imunitas kuat seperti Darren bisa jatuh tak sadarkan diri di ruang kerjanya. Sebenarnya, apa yang terjadi pada pria itu?
“Tolong jujur sama Ev, mah. Darren sakit apa?”
Diana tersenyum tipis seraya menyentuh bahu Ev lembut. “Kamu tidak perlu khawatir, Ev. Darren cuma butuh istirahat yang cukup. Dia terlalu gila bekerja sehingga tubuhnya down.”
Ev terdiam mendengarnya. Dengan tenang, Diana Xander memberi pengertian padanya. Dean juga ikut memberi Ev pengertian.
“It’s okay, Ev. Dia tidak akan semudah itu terbunuh hanya karena tidak tidur berpuluh-puluh jam lamanya.”
__ADS_1
Maksud hati ingin menghibur, Dean malah mendapat cubitan maut dari Deesa. Membuat pria itu meringis kesakitan.
“Sakit, cimol!” protes Dean.
“Makanya kalau mau ngelawak lihat situasi dan kondisi. Gak sadar ibu dari objek kejulitan lo ada di depan kita?!” balas Deesa, seraya melirik Diana Xander hati-hati.
Alih-alih marah, wanita bermarga Xander itu memilih tersenyum ramah. “Pergilah Ev. Jangan jadikan kondisi Darren sebagai halangan bagi langkahmu. Mama bisa menjamin Darren akan baik-baik saja. Sekali pun ada sesuatu yang terjadi padanya, mama akan langsung menghubungi kamu.”
Ev baru saja hendak menjawab ucapan Diana, namun terpotong oleh suara Airport Announcement yang memberitahukan jika pesawat yang Ev tumpangi akan segera take off.
“Kalau begitu Ev pamit pergi. Jaga diri kalian baik-baik.” Pamit Ev seraya mengulas senyum tipis di akhir kalimatnya. “Sampai jumpa di lain waktu.”
Satu fakta soal kondisi ‘mantan’ sang suami tidak dapat menggagalkan rencananya unuk pergi. Ev mungkin sempat risau saat mendengarnya. Namun, Ev kembali diingatkan oleh fakta dan kenyataan yang ada. Saat ini mereka sudah bukan lagi suami-istri. Darren sekarang hanya memiliki seorang istri. Estrella namanya. Semua hal yang bersangkutan dengan Darren, sudah bukan lagi urusan Ev, melainkan urusan wanita kampung tersebut.
🥀🥀
“Mas Darren mau makan apa? Biar Ella belikan jika mas tidak mau makan bubur ini.”
Pria yang baru saja siuman dari tidur panjangnya itu tampak mengernyitkan kening dalam. “Sudah aku bilang, aku tidak lapar.”
Entah berapa kali dia menegakan jawaban dari pertanyaan yang sama. Namun, sang ‘istri’ terus saja bertanya perihal yang sama.
Tiga puluh menit yang lalu, dia terbangun di ruangan yang didominasi oleh warna putih tersebut. Sekelebat bayangan kemudian muncul, mengingatkan dirinya soal alasan kenapa dia sampai bisa berakhir di atas bed dalam ruangan berbau khas obat-obaan tersebut.
“Panggil Damian. Aku ingin bicara dengannya,” titah Darren seraya melirik sang istri.
“Damian?”
“Sekretaris ku.”
“Tapi, tidak ada siapa-siapa di luar, mas,” ujar wanita itu, polos.
“****!” umpat Darren lirih. “Kemarikan handphone ku, biar aku menghubungi Damian.”
Sang istri mengangguk. Kemudian dengan cepat dia mengambil handphone sang suami yang tersimpan di atas meja dekat sofa. Namun naas, karena belum juga benda tersebut sampai ke tangan pemiliknya, benda teresbut sudah terlebih dahulu meluncur bebas ke atas lantai yang dingin. Menimbulkan suara yang cukup nyaring.
“Astaga, Ella!” bentak Darren frustasi. “Sekarang dengan cara apa aku bisa menghungi Damian, hah?”
“Maaf, mas. Ella gak sengaja.” Cicit wanita muda itu, merasa bersalah.
Pria yang berada di ata bed iu tampak mendegus sebal. “Sekejap saja kamu jangan berulah, Ella. Saat ini kepalaku rasanya ingin pecah, apalagi ditambah dengan tingkah lakumu itu.”
“Tapi mas, Ella—“
“Diam!”
Kalimat pembelaan diri wanita muda tersebut kembali tertelan bulat-bulan karena sudah dipotong oleh sang suami.
“Lebih baik kamu jangan banyak bicara. Diam dan jangan menganggu.”
“Apa kehadiran Ella menganggu, mas?” tanya sang istri seduh.
Pria bermarga Xander itu tampak menatap lawan bicaranya datar. Sedetik kemudian, dia menjawab dengan enteng.
“Ya. Kamu sekarang tidak lebih dari seorang penganggu, puas?!”
🥀🥀
TBC
__ADS_1
Sukabumi 09/04/22