
NOTE : HAPPY READING đĽ
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE â¤ď¸
M64 đĽ : HIDUP BARU BERSAMAMU
Dua orang ibu yang telah lama berpisah dari buah hatinya, pagi itu bertemu setelah sekian lama. Pertemuan mengharu-biru itu disaksikan secara langsung oleh dua pria yang memiliki hubungan erat dengan mereka.
âMère rindu sekali sama Dan,â ungkap wanita yang tengah memeluk tubuh mungil yang hampir satu tahun tidak dapat dia temui secara langsung. Membayar rasa haus seorang ibu yang telah terpisah jauh dari buah hatinya.
âDan juga rindu, mère,â jawab anak lelaki yang baru genap berusia 5 tahun itu riang.
Wanita cantik yang tampil dengan gaya santai yang simpel, tetapi tetap chick itu tersenyum manis. Pagi ini dia menggunakan kaus putih dan celana baggy jeans model undone hem berwarna biru, kemudian dipadukan dengan long coat berwarna coklat sebagai outher. Tampilannya dipermanis dengan selop berwarna putih dan slim bag Louise Vuitton. Sedangkan rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
âBagaimana kabar kesayangan Mère? Sehat? Selama Mère pergi tidak nakal, âkan?â
âDan sehat, Mère. Dan juga tidak nakal. Kalau Mère tidak percaya, Mère bisa tanya nanny,â jawab anak lelaki yang memiliki rupa rupawan itu menggunakan bahasa Jerman yang fasih. Bahasa sehari-hari yang dia gunakan selama tinggal di Interlaken. Sedangkan untuk memanggil sang ibu, dia menggunakan bahasa Paris. Bahasa ketiga setelah Inggris dan Jerman yang telah dia pelajari. Sedikit demi sedikit, sang ibu juga mengajarkan bahasa Indonesia. Bahasa Negara kelahiran orang tua anak lelaki tersebut.
âMère percaya sama Dan,â kata wanita bermarga Atmarendra itu seraya mengurai pelukan. Ditatapnya wajah rupawan sang putra yang hampir 80% lebih menuruni rupa ayah biologisnya. Wajah little angel yang selama ini menjadi pemecut semangatnya dalam melanjutkan hidup.
Demi Dan, Ev rela tinggal lebih lama bersama pria yang tidak peduli padanya. Mempertahankan hubungan pernikahan yang sejak awal sudah salah secara mati-matian, agar Dan mendapatkan hak-nya sebelum orang tuanya resmi berpisah. Sekarang Ev telah resmi berpisah dari Darren. Ev juga sudah mengamankan hak sang putra. Begitu pula dengan beberapa dokumen legalitas dan identitas yang dapat dibutuhkan sewaktu-waktu.
âMère, di mana Perè? Apa Perè tertinggal di belakang? Dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Perè.â pertanyaan polos dari sang putra, sontak membuat senyum di bibir Ev luntur.
Orang-orang yang berada di sisinya juga tahu betul betapa sensitif-nya topik obrolan tersebut. Namun, lambat-laun, Dan pasti akan menagih janjinya untuk dipertemukan dengan sang ayah. Seseorang yang sangat ingin bocah lelaki itu temui sejak dia mengenal dunia.
âSayang, begini, Perè masih ada pekerjaan di luar sana,â tutur Ev seraya mengusap surai jelaga milik sang putra.
âBegitu, ya?â
Ev mengangguk. âDan tidak apa-apa, kan, jika harus menunggu Perè lagi?â
Bocah lelaki itu mengangguk, sekali pun Ev bisa melihat raut antusias yang meredup di bola matanya. âDan masih bisa menunggu Perè. Tapi, Perè benar-benar akan datang, kan? Kata nanny, nanti Perè pulang di ulang tahun Dan yang keenam.â
Bocah lelaki yang sudah sangat pintar di usianya yang masih dini itu mengutarakan keinginannya, sembari menunduk dan memainkan jemari. Melihat itu, sebagai seorang IbuâEv merasa telah gagal memberikan kebahagiaan untuk sang putra. Karena bagaimana pun juga, kebahagiaan Dan akan sempurna jika anak itu sudah berhasil menjumpai sosok yang membuatnya ada di dunia ini.
âMère, Dan enggak mau birthday cake, ataupun kado. Dan cuma mau Perè. Dan mau bertemu Perè. Mau lihat Perè dari dekat. Mau peluk Perè.â
Pertahanan bocah lelaki itu pecah. Air mata mulai menumpuk di kelopak matanya. Karena tidak mau menangis di hadapan sang ibu, dia mencoba menahan isakan dengan cara menggigit bagian dalam bibirnya. Melihat usaha itu, hati Ev malah kian dihantam rasa sakit tak berujung.
âJangan ditahan, sayang. Kalau Dan mau menangis, maka menangislah. Mère tidak akan marah hanya karena Dan menangis karena merindukan Perè.â
Ditariknya perlahan tubuh sang putra yang ternyata sudah mulai bergetar. Ev membawa buah hati yang dia pertaruhkan hidup dan mati ke dalam rengkuhan. Bersamaan dengan itu, tangis bocah kecil itu pecah. Suara isakannya terdengar lirih, namun berhasil menyayat hati setiap orang yang mendengarnya. Terutama Ev.
Selama ini dia lebih banyak memantau sang putra lewat nannyâpengasuh Danâatau pun lewat sambungan telepon. Ev hampir tidak pernah menyaksikan sang putra menangis, sekali pun saat Dan terkena campak saat usianya menginjak tiga tahun. Dan termasuk anak yang kuat, tidak cengeng, dan mandiri. Oleh karena itu, saat menyaksikan sang putra menangis dengan mata kepalanya sendiri, hati Ev terasa hancur.
__ADS_1
Hatinya sakit seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Karena keegoisan orang-orang dewasa, anak sekecil Dan harus merasakan hidup di pengasingan.
âMère janji, sayang. Sebelum usia kamu genap enam tahun nanti, Mère akan mempertemukan Dan dengan Perè. Tapi, sebelum itu, Mère mau mengenalkan Dan pada orang-orang yang sangat menyayangi Dan.ââsekali pun mereka tidak mengetahui keberadaan kamu. Tapi, ibu yakin jika mereka sangat menyayangi Dan, lanjut Ev di dalam hati.
âSiapa mereka itu, Mère?â cicit Dan kecil, masih dalam pelukan sang ibu.
Ev tersenyum kecil seraya mengusap punggung Dan sayang. âSie bestehen aus Onkel, Tante, Opa, Oma aund jemand Bosonderem (mereka terdiri dari Om, Tante, Kakek, Nenek, dan seseorang yang special). Dan mau bertemu mereka, âkan?â
âJa. Dan mĂśchte (Ya. Dan mau).â
đĽđĽ
âBelakangan ini banyak terjadi masalah dalam sektor impor maupun ekspor pangan. Biasanya pihak kita dapat mengatasinya dengan baik. Namun, kali ini pihak kita kesulitan menanganinya. Ketersediaan pangan segar kualitas premium juga mulai menurun. Terutama dari kota B, kota utama penghasil berbagai jenis pangan segar. Kita sekarang hanya bisa bergantung pada hasil impor. Apa Anda memiliki solusi untuk masalah ini?â
Semua mata yang ada di meeting room itu mengalihkan perhatian secara serentak pada seorang pria yang menduduki kursi kebesaran dengan nama CEO tertera di sebuah name tag akrilik.
âPak, apa Anda mendengarkan penjelasan barusan?â panggil pria yang tadi baru saja menjelaskan akan masalah yang tengah terjadi secara rinci.
âPak? Anda mendengar saya?â
Pria yang mengenakan jas berwarna dark gray itu tersentak. Manik jelaga miliknya langsung menatap sekelilingâyang mana saat ini tengah menatapnya pula. Mendapati konsentrasi sang atasan yang tampaknya buyar, Damian berinisiatif membuka pembicaraan.
âCEO kita sudah menyiapkan beberapa skema untuk mengantisipasi masalah yang terjadi. Hal ini memang bukanlah solusi utama, tetapi setidaknya bisa menjadi antisipasi untuk sementara waktu.â
Damian dengan cekatan mengoperasikan MacBook miliknya yang sudah terhubung dengan proyektor yang menyala. Karena tindakan cekatan itu, Darren bisa selamat dari kejadian memalukan yang bisa membuat posisinya semakin diragukan. Pria itu memang tidak bisa berkonsentrasi pada meeting yang tengah dihadapi. Pikirannya bercabang kemana-mana. Terutama pada seorang wanita yang kini entah di mana rimba nya.
âPak, hal ini bisa dibicarakan baik-baik,â lerai Damian. âJangan membuat keributan di sini. Apa Anda mau dewan direksi menyaksikan perbedaan ini?â
âF*ck you. Bela saja manusia tidak berguna ini. Makin hari tingkahnya makin menyamai orang depresi.â
âDewââ
âApaan? Lo gak tahu gimana kerja kera gue menghadapi krisis ini, âkan? Lo belakangan ini gak bisa fokus kerja. Lo bahkan gak bisa ngasih solusi buat masalah yang bisa dibilang sangat mengkhawatirkan,â sembur Dewangga, kesal.
Meeting baru saja selesai dilaksanakan. Dengan segenap emosi yang terkumpul di dalam jiwa, pria itu memuntahkan semua unek-uneknya, setelah menahan Darren dan Damian agar tetap berada di ruangan. Dia kesal karena Darren tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan karena masalah pribadi.
âGue tau lo baru kehilangan Ev, tapi lo gak bisa terus-menerus begini. Hidup akan terus berlanjut, sekali pun lo sama Ev berpisah.â Dewangga menguyar rambut kecoklatan miliknya, gusar. âPenyesalan selalau datang terlambat. Kalau di awal, namanya bukan penyesalan, tapi pendaftaran. Sekarang lo tau arti kata itu, kan?â lanjutnya.
âEv udah memilih pergi untuk memulai hidup baru. Sedangkan lo, kenapa gak bisa melakukan hal yang sama? Lo juga harusnya bisa memulai hidup baru. Lo masih punya tanggung jawab sama wanita lain. Istri lo yang lugu bin dungu itu lagi bunting anak lo, âkan? Sampai kapan lo bakal gini, hah?â
ââŚ.â
âSebagai teman, juga partner bisnis lo, gue cuma mau bilang ini bukan Darren yang gue kenal. Berhenti stuck di satu titik yang sebenarnya dimulai dari kesalahan lo sendiri. Ev gak akan kembali kalau lo gini. Wanita simpanan lo juga gak bakal bahagia kalau lo gak bisa lepas dari masa lalu. Lo juga bakal kehilangan posisi CEO kalau terus begini. Fokus, Darren. Fokus sama apa yang mau lo kejar untuk ke depannya.â
âEv,â lirih Darren.
__ADS_1
âKalau lo mau Ev, lo harus mencoba berdamai dengan waktu. Dia butuh waktu. Dan selama waktu itu berlangsung, lo harus tetap menjalankan kehidupan lo seperti semula. Tapi,â
âTapi apa?â tanya Darren.
âLo lupa sama mistress lo yang lagi bunting? Mau lo apain? Dia gak mungkin diam aja jika terus menerus diginiin.â
ââŚ.â
âDengerin gue, cewek yang kelihatan polos dan pendiam, kalau sekalinya berulah âŚ. beuh, lo gak bakal bisa ngebayangin se-fatal apa ulahnya.â
Darren bungkam. Masih mencoba meresapi setiap kalimat yang meluncur dari bibir sang lawan bicara.
âGue yakin lo masih Darren Aryasatya Xander salah satu lulusan terbaik Harvard University yang gue kenal. Lo biasanya bijak, gak plin-plan. Lo pasti bisa melewati masa-masa tersulit ini.â
âHm.â
âSatu lagi,â ucap Dewangga seraya memegang sebelah bahu Darren. âLain kali jangan maruk. Istri satu aja gak habis-habis. Lah, lo malah maruk punya dua istri. Hasilnya, lihat? Apa yang terjadi sama hidup lo. Ancur. Berantakan. Terombang-ambing.â
Setelah berkata demikian, Dewangga melenggang pergi begitu saja. Meninggalkan Darren dan Damian di ruangan tersebut.
Apa yang katakan Dewangga memang ada benarnya. Karena maruk alias serakah, sekarang hidupnya hancur, berantakan, dan terombang-ambing. Hingga dia pulang ke mansion besarnya, kata-kata Dewangga masih berbekas di pikirannya. Saat seorang wanita dengan perut buncit menghampirinyaâmenyambut kepulangannya, mengambil alih sebelah tangannya untuk disalami, membawakan tasnya, menawarkan makanan malam dengan suara lembut miliknya. Sekali pun beberapa waktu ke belakang eksistensinya tidak dia pedulikan.
âKenapa lihatin Ella begitu, mas?â
Dia berdiri di samping nya. Dengan cekatan melayani kebutuhan suaminyaâdalam urusan perut terutama. Sekelebat pertanyaan tiba-tiba muncul di benak Darren.
Apa ini jawabannya? Hidup baru bersamanya? Apa dia harus mulai membuka hati kembali, mengikhlaskan kepergian istri pertamanyaâkemudian melaksanakan tanggung jawabnya pada wanita yang tengah mengandung buah hatinya.
Namun, ada hampa yang mendera. Ada rasa yang masih setengah tak rela. Kendati demikian, apa salahnya mencoba memperbaiki hubungan mereka. Setidaknya sampai bayinya lahir ke dunia. Setelah itu, jika perceraian adalah jalan yang terbaik, maka Darren akan menceraikan dia tanpa pikir panjang.
âElla.â
âIya, mas?â
âMalam ini aku tunggu di kamarku.â
âA-pa, mas?â kaget si empunya nama.
Darren tak bergeming. Pria itu memilih beranjak, kemudian menambahkan. âAku tidak suka dibuat menunggu.â
đĽđĽ
TBC
MASIH MAU LANJUT? AUTHOR CUMA MAU BILANG KALAU READERS YANG MASIH BERTAHAN SAMPAI PART INI, KALIAN HEBAT!!
__ADS_1
Makin hebat kalau li
Sukabumi 11/04/22