
M19 🥀 : SEBUAH ALAMAT
“Jika kamu dalam posisi istri sah Juan, apa Darren yang berlaku sebagai Juan akan memilihmu, Ev?”
Pertanyaan yang tiba-tiba saja dilontarkan oleh pria yang tengah memegang gelas bertangkai berisi sampanye itu berhasil membuat Ev tertegun. Semenjak mendengar cerita Deesa, Ev memang banyak berpikir soal pernikahannya. Bagaimana jika suatu saat nanti rahasia besar Darren terbongkar dan menimbulkan skandal besar. Lambat laun hal itu pasti akan terjadi. Ev tidak munafik, tetapi dia tak mau jika sampai masalah pribadinya jadi konsumsi publik. Ev juga tidak mau tindakan Darren menyakiti banyak pihak, apalagi orang-orang yang dia sayangi.
“Belum terlambat untuk jatuh terlalu dalam, Ev. Berhentilah berjuang, lepaskan dia dan berbalik arah. Ada aku yang siap menggantikan posisinya.”
“Dean, aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu.”
Ev memejamkan mata untuk sejenak. Meredam rasa sesak yang menyeruak. Selalu saja begini. Hubungannya dengan Dean maupun Darren memang membutuhkan tenaga extra untuk menghadapinya. Dua pria itu, selalu saja berhasil membuat hidupnya tak tenang.
“Aku mengerti, Ev.” Dean tersenyum tipis seraya menatap sampanye di tangannya. “Mungkin saat ini masih terasa sulit melepasnya, tapi besok tidak ada yang tahu. Bisa saja kamu berubah pikiran. Aku akan tetap menunggu sampai waktu itu tiba.”
Setelah berkata demikian, Dean pergi meninggalkan Ev. Membuat wanita cantik itu seorang diri di antara keramaian yang membuatnya semakin kesepian. Berada di tengah orang-orang yang tampak tersenyum sumringah, malah membuat Ev kesepian. Dia butuh tempat yang sunyi agar dapat menenangkan diri.
Oleh karena itu Ev pamit pada Deesa untuk pergi ke rooftop. Tempat ini memang disewa secara ekslusif oleh pihak penanggung jawab acara. Oleh karena itu mereka bisa puas menikmati dinner dengan berbagai fasilitas pendukung yang ada. Namun, Ev memilih menyingkir dari keramaian. Dia tidak mau menjadi objek menyedihkan hanya karena terus merutuki nasibnya ditengah-tengah teman-temannya yang tampak bahagia.
“Kamu di sini rupanya.” Suara yang teramat familiar itu terdengar bersama dengan sebuah jas yang terlampir di bahu Ev. “Pakai, jangan di lepas. Di sini anginnya kencang,” imbuhnya.
Ev tak berniat untuk membantah perintah itu. Toh, di sini anginnya memang cukup kencang. Membuat leher, bahu, lengan, hingga punggung Ev disapa angin malam.
“Kamu mengikuti aku?”
“Mengikuti?” pria rupawan itu mengulang seraya tersenyum tipis. “Ini namanya kebetulan yang menyenangkan, Ev.”
“Aku ingin sendiri, Dean. Apa kamu tidak mengerti?”
“Selama aku masih hidup, tidak akan aku biarkan kamu seorang diri.”
Ev tertegun mendengarnya.
“Ah, ada satu hal yang ingin kulakukan bersamamu sejak tadi.”
“Apa?”
“Dance with me, Ev.”
“Eh?” Ev menautkan kening mendengarnya.
“Dulu kita partner dansa yang hebat, Ev. Kita selalu menjadi pusat perhatian jika sudah berada di area dance floor. Aku hanya ingin mengulangnya.”
“Sekarang, di sini?” tanya Ev memastikan.
“Hm. Kenapa? Kamu tidak mau?” Dean menaikkan sebelah alis matanya tinggi-tinggi. Dulu mereka memang partner berdansa. Orang tua Ev menyiapkan guru dansa khusus untuk Ev yang suka menari. Sedangkan Dean yang sedari dulu tidak dapat jauh dari Ev, kebetulan dipilih sebagai partner Ev untuk berlatih dansa.
__ADS_1
Ev menggeleng. Kali ini, dia akan melupakan fakta jika dulu seseorang yang sempat ia anggap ‘sahabat’ paling dipercayai, mencintainya. Ev hanya ingin mengingat memori di masa lalu, ketika setiap waktu masih dapat dilewati dengan berbagai warna. Bukan lagi suram seperti saat ini.
Ev menerim uluran tangan Dean. Malam ini dia akan berbaik hati, melupakan fakta yang ada. Bagaimanapun juga Dean adalah sosok yang sukar dia benci sekaligus. Pria itu sudah ada dalam hidup Ev sejak lama. Bohong jika Ev tak merindukan hari-hari yang mereka lewati.
🥀🥀
“You terlihat sangat senang, Ev.”
“Aku?”
Dimi yang baru saja mengeluarkan satu setel pakaian dari pihak ambassador menoleh, menatap wanita cantik yang saat ini hanya mengenakan kamisol berwarna putih gading yang mempertontonkan bahu, lengan dan paha mulusnya. Wajah cantik itu tampak berseri, beda sekali dengan hari-hari biasanya.
“Ya, you. Ada yang terjadi kemarin?”
Yang ditanya tidak menjawab, melengos begitu saja menuju meja rias.
“Ev, you rahasiakan sesuatu?”
“Aku? Tidak.” Ev menjawab seraya membuka sebuah botol kaca berukuran mungil. “Semalam Dean mengajakku menemui guru dansa kamu dulu. Ternyata sekarang sanggar milik guru kami sudah ditutup, dan pindah ke Jogja.”
“What? Kamu dan Dean?” kaget Dimi. “Kalian sudah berbaikan?”
“Kami memang tidak bermusuhan, Dim. Hanya saja aku masih belum bisa menerima kenyataan jika dia berambisi mendapatkan hatiku.
Dimi mengangguk seraya mengeluarkan sebuah Runched dress. Gaun yang menonjolkan runched atau detail kerutan itu terdiri dari two pieces. Gaun cantik berwarna pastel itu dibuat dengan sedemikian rupa agar dapat menonjolkan lekuk tubuh si pemakai. Pagi ini Ev akan melakukan pemotretan menggunakan gaun tersebut.
Setelah pria itu mengajak Ev berdansa, dia membawa Ev berkunjung ke rumah guru les dansa mereka. Dulu Ev sangat dekat dengan guru les tari-nya. Tidak hanya sampai di situ, Dean juga mengajak Ev mengunjungi sekolah SMA mereka. Tempat yang menjadi saksi bisu awal mulanya hidup penuh kepalsuan Ev dimulai. Intinya, walaupun sederhana, pria itu paling tahu hal-hal yang mampu membuat Ev bahagia.
Trink
Lamunan Ev buyar seketika kala ada satu notifikasi masuk. Handphone yang kebetulan tersimpan di atas meja rias itu kemudian Ev raih, mengecek notifikasi yang masuk. Ev memang memiliki dua handphone, satu untuk urusan pekerjaan, satu lagi khusus untuk real life. Wanita cantik itu mengernyitkan kening kala sebuah foto hasil share lock dikirimkan oleh Dean, lengkap dengan alamat yang tertera di bawahnya. Dua kalimat juga menyusul setelahnya, membuat Ev seketika berkata.
“Dimi, batalkan pemotretan hari ini.”
“What? Are you insane, Ev?!”
Ev tak menggubris. Wanita cantik itu kemudian beranjak menuju walk in closet. Meninggalkan Dimi yang masih dihantui rasa terkejut. Bagaimana bisa dia membatalkan pemotretan, sedangkan deadline-nya hari ini.
“Anwar aku ke suatu tempat, Dim.”
Ev kembali dengan setelan yang sudah rapih dengan setelan serba hitam dari atas sampai bawah.
“You mau kemana sebenarnya,” tanya Dimi seraya menyusul Ev yang sudah meninggalkan kamar.
“Alamatnya sudah aku kirim lewat WhastApp.”
__ADS_1
Dimi hanya bisa menganga, terkadang Ev memang suka diktator. Padahal, di sini Dimi yang berstatus manager wanita cantik itu.
“Sebenarnya kita mau kemana, Ev? you seenaknya saja membatalkan pemotretan, padahal DP-nya udah ditransfer,” gerutu Dimi yang kini menjadi driver Ev.
“Jalan saja, Dim,” jawab Ev yang masih sibuk mengakurasikan google maps dengan alamat yang didapat.
Tidak ada lagi aura bahagia di wajah cantik itu, membuat Dimi urung banyak tanya. Setelah berjam-jam lamanya mengemudi, hingga tangan Dimi pegal sendiri, mereka tiba di sebuah perkampungan setelah melewati jalan yang cukup terjal dengan medan yang sukar dilewati. Dimi bahkan beberapa kali dibuat mengumpat kesal karena medan jalan yang dilalui. Untung saja dia cukup handal mengendarai Jeep Rubicon wrangler yang hari ini dia bawa untuk menjemput Ev.
“Kamu tunggu di sini, Dim. Biar aku yang turun.”
Dimi yang sudah tidak memiliki tenaga banyak, hanya berdehem kala Ev turun dari mobil. Jeep Rubicon wrangler yang mereka kendarai baru saja parkir di depan sebuah rumah dua lantai yang tampak asri. Seorang wanita bertubuh mungil tampak tengah asik menyiram bunga menggunakan selang. Tubuh mungilnya tampak tenggelam dalam sebuah dress rumahan bermotif flora yang panjangnya mencapai bawah lutut.
Ev membawa kakinya yang terbalut sneakers mahal mendekat. Sadar ada yang datang, wanita itu mendongkrak. Mengalihkan perhatian dari bunga-bunga yang tengah disiram ke arah wanita cantik dalam balutan pakaian serba hitam, kecuali mini bag yang terlampir di bahu dan sneakers.
Kulit seputih porselen milik wanita yang tengah berjalan dengan anggun itu tampak berkilauan kala tertimpa cahaya. Membuatnya tampak tidak nyata, sekaligus terpanah.
“Mbak, siapa ya?”
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Ev menurunkan sunglasses hitam yang dia gunakan. Membiarkan netra nya menatap lekat wanita mungil yang pernah dia lihat dari foto yang Dean kirimkan. Jadi, ini wanita simpanan suaminya?
Sebuah alamat yang Ev dapatkan ternyata benar-benar membawanya pada sebuah kebenaran. Wanita yang sempat dia lihat dari foto, sekarang berdiri tegap di hadapannya dengan sebelah tangan memegang selang, sedangkan satu tangan lain mengelus perut ratanya pelan. Gerakan itu kontan membuat jantung Ev berderu kian seru.
“Apa Darren ada?”
Di dalam hati, Ev berharap wanita itu berkata ‘tidak’ agar hatinya tak dihinggapi rasa sesak. Namun, detik berikutnya jantung Ev dihantam godam tak kasat mata. Perkataan Dean seperti benar. Sebuah alamat yang dia dapat adalah kunci dari sebuah kebenaran.
“Mbak kenalannya mas Darren ya? Mas Darren-nya ada di dalam. Kayaknya masih tidur.”
...🥀🥀...
...TBC...
...Telat update lagi 🙏🙏...
...**Ada aja kesibukan pas mau nulis, jadi ketunda-tunda. So, gimana menurut readers? masih mau lanjut? Spoiler next part, 'Patner Berumah Tangga'...
...Cus, ramaikan komentar, biar aku semangat update lagi ☺️👍**...
...Jangan lupa mampir juga ke lapak CLBK or Cerita Lama Belum Kelar (Story Triple D)🔥...
...Numpang promosi juga, buat yang mau beli novel Arragean, PO dibuka sampai tanggal 12 ya 😘...
...Buruan chek out, biar bisa peluk Arragean versi cetak ❤️...
__ADS_1
...Note : Tandai Typo, pasti bertebaran 🙏...
...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr yang banyak 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...