Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M17 : KAMU SAKIT


__ADS_3

M17 🥀 : KAMU SAKIT


Setelah melakukan perjalanan berjam-jam lamanya, Darren tiba di pelataran rumahnya yang berada di tengah rimbunnya hutan. Tempat yang selintas tampak seperti setting di dalam cerita dongeng. Berbagai jenis tanaman hias, mulai dari jenis bunga-bungaan, dedaunan, hingga rerumputan, tertata rapih di sekeliling rumah. Berbagai bunga juga ditaruh dalam pot, tampak menghiasi bagian depan rumah.


Darren tahu betul tangan kreatif siapa yang melakukan semua itu. Itu tentu tangan yang sama dengan tangan yang selalu ia rindukan sentuhan seringan bulunya. Ah, lebih tepatnya pada si empunya tangan. Maka dengan segera Darren memasuki rumah. Pintu di buka oleh asisten rumah tangga yang sudah kelewat ia hafal.


Netra nya bergerilya, mencari keberadaan sang istri. Biasanya wanita mungil itu akan menyambutnya dengan senyum secerah mentari, dan pelukan hangat. Namun, bukannya kehadiran sang istri yang ditemukan, melainkan suara seseorang yang tengah muntah dengan hebat yang ditangkap gendang telinganya. Suara itu kebetulan berasal dari kamar mandi yang berada di dekat dapur.


“Ella?”


“M-as Darren?”


Pria rupawan itu merendah, kemudian mendekati sang istri. Memegang tengkuk belakangnya pelan, kala wanita bertubuh mungil itu kembali diserang mual.


“Mas pergi aja, Ella bisa sendiri,” ujar sang istri parau.


Darren tentu tak setuju. “Tidak. Aku akan di sini sampai kamu selesai.”


“Tapi ini jijik, mas.”


Wajah mungil milik wanita cantik itu tampak pucat kala berkata demikian. Membuat Darren kian meradang. Mana bisa dia pulang disambut dengan kondisi sang istri yang seperti ini. Dan sekarang, sang istri malah mengusirnya hanya karena takut dia ‘jijik’.


Kendati demikian, Darren tak berniat beranjak sedikitpun dari sisi sang istri. Pria yang masih mengenakan setelan formal itu dengan telaten memijit tengkuk belakang sang istri, berharap agar dapat membantu mempercepat proses mual dan muntah yang istrinya alami. Wanita itu tampak tersiksa sekali karena rasa mual yang berasal dari bagian perut.


“Kenapa kamu bisa sampai begini?” tanya Darren setelah Ella menyelesaikan acara muntahnya.


Sekarang pasangan suami istri itu sudah berpindah tempat ke kamar utama.


“Permisi, tuan. Ini, tehnya, buat neng Ella.”


Belum sempat pertanyaan itu dijawab oleh istrinya, bi Mimin yang muncul dari balik pintu sudah terlebih dahulu menginterupsi. Darren berdeham, membiarkan bi Mimin melakukan tugasnya. Memberikan teh hangat dengan campuran irisan lemon itu pada Ella yang tengah bersandar pada head bed.


“Tuan, sebaiknya neng Ella dibiarkan istirahat dulu. Soalnya non Ella kurang tidur dari semalam.”


Mendengar informasi itu, sontak Darren melarikan tatapan pada sang istri. Pantas saja wajah cantik yang pucat pasi itu juga tampak kuyu. Walaupun tanpa make up, biasanya wajah itu tampak berseri-seri. Tidak seperti hari ini. Namun, Darren akui jika sang istri tampak memancarkan aura berbeda. Entah aura apa, tapi Darren bisa merasakannya cukup kuat.


“Tidur, bukankah kamu kesulitan tidur?” titah Darren seraya melepas jas yang dikenakannya.


Bi Mimin baru saja dipersilahkan untuk kembali ke dapur. Nanti, setelah Darren menidurkan sang istri, dia akan bertanya secara langsung pada bi Mimin yang full time berada di samping sang istri. Darren harus tahu apa penyebab utama sang istri jatuh sakit.


“Tidur,” ujar Darren lagi seraya ikut bergabung di tempat tidur.


“Enggak mau, mas.”


Mendapati penolakan dari sang istri, pria rupawan itu kontan buka suara. “Kenapa?”

__ADS_1


“Mau peluk mas, kangen.”


“Peluk?”


Ella mengangguk polos. Dia memang tak sungkan berkata jujur, karena memang begitu keadaannya. Hal itu pula yang malah membuat Darren merasakan kebahagiaan luar biasa karena kehadirannya ternyata telah dinanti-nanti.


“Kemari.”


Mendapati interupsi seperti itu, Ella kemudian menerbitkan senyum lebar. Dengan gerakan perlahan dia mendekat, merapat, melekat. Membuat jarak di antara mereka terkikis habis, layaknya rindu yang awalnya terbentang begitu panjang. Dengan senang hati pula, Darren menerima pelukan itu. Karena alasan inilah dia datang ke sini. Menemui wanita ini. Wanita yang jauh-jauh dia simpan di tempat yang tak mudah ditemukan, juga diakses. Karena pada dasarnya Darren memang membangun tempat ini untuk ‘hajat-nya’ seorang diri. Ada sebuah planning yang dia rancang matang-matang. Utamanya agar hanya dia yang memiliki akses VIP untuk menjangkau tempat ini.


Hal itu Darren lakukan karena tempat ini layaknya surga yang berada di tempat terpencil dan terisolasi. Siapa yang menemukannya, dapat mengelola dan memanfaatkannya dengan benar, maka niscaya akan ada banyak keuntungan yang didapat. Begitu pula dengan Darren.


Di tempat ini dia mendapatkan kehidupan yang layak, lengkap dengan ketenangan, kesenangan dan kebahagiaan sebagai seorang pria seutuhnya. Dia dihormati, juga dicintai. Semua orang di sini ada dalam genggamannya, semata-mata karena dia pandai memanipulasi kesempatan menggunakan kecerdasan.


“Jadi sejak kapan istri saya mengalami gejala seperti itu, bi?” tanya Darren yang baru saja mendudukkan dirinya.


Di hadapannya, bi Mimin baru saja menghidangkan secangkir kopi yang biasa tuannya pinta.


“Mungkin sekitar beberapa hari dalam seminggu kebelakang, tuan.”


“Lalu, kenapa tidak menghubungi saya?”


“Bibi udah coba menghubungi tuan, tapi terkendala jaringan,” jawan bi Mimin, menjelaskan. “Pas pesan bibi sudah terkirim, pesannya tidak tuan baca.”


Darren tahu betul dia ‘sibuk’ mengurus apa sampai-sampai tidak mengecek telepon selama berada di ibu kota. Siapa lagi kalau wanita cantik yang telah berani-berani menghantui isi kepalanya.


“Neng Ella juga sering mogok makan karena sering merasa mual. Maunya makan yang asem-asem, kayak mangga.”


“Mangga?” bingung Darren.


“Iya, tuan. Kadang minta dibuatin rujak ulek atawa petis mangga muda. Bibi aja ngilu lihat neng Ella makan. Padahal dia gak mau makan nasi, katanya sebel.”


“Dia sama sekali tidak mau makan nasi?”


Bi Mimin mengangguk. “Iya, tuan. Katanya kalau lihat nasi bawaannya pengen muntah terus.”


Darren terdiam sejenak.


“Hampura (maaf) tuan, bibi cuma mau menyampaikan sesuatu yang selalu menganggu pikiran bibi.”


“Silahkan.”


“Apa tidak sebaiknya neng Ella dibawa ke puskesmas untuk diperiksa?”


Darren tampak berpikir untuk sejenak. Layanan kesehatan utama di tempat ini memanglah puskesmas desa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari sini. Ada tim medis yang cukup memadai, didatangkan langsung dari ibu kota yang bertugas di sana. Beberapa bahkan memilih menikah juga menetap di tepat ini.

__ADS_1


“Bibi pikir neng Ella perlu dibawa ke rumah sakit, supaya diperiksa.”


“Jadi menurut bibi, istri saya mengidap penyakit yang serius?”


Bi Mimin menggeleng seraya menundukkan kepala. Melihat itu, Darren menautkan kening kebingungan. “Bisa jelaskan maksud dari ucapan bibi apa?”


“Begini tuan, apa mungkin neng Ella….”


“Ya, istri saya kenapa?”


“….hamil.”


Darren kontak terdiam. Pregnant? istri kecilnya hamil?!


“Maksud bibi istri saya hamil?”


“I-tu cuma prediksi bibi, atuh. Soalnya, non Ella beberapa hari belakangan menunjukkan gejala-gejala seperti wanita hamil.”


“Apakah benar begitu?” tanya Darren tak percaya.


“I-ya, tuan. Begini-begini, bibi juga pernah hamil dan melahirkan,” ujar bi Mimin seraya tersenyum tipis. “Gimana atuh, tuan? Apa tidak sebaiknya neng Ella dibawa ke puskesmas.”


Darren tampak berpikir untuk sejenak. Sedetik kemudian, pria itu berdiri dari duduknya. Membuat bi Mimin yang tengah menunggu-nunggu dibuat kebingungan.


“Panggil saja tenaga medis terbaik di sini untuk datang memeriksa istri saya.”


“Baik, tuan.”


...🥀🥀...


...TBC...


...Ev New Year dulu sama Dean, jadi absen muncul. BTW, ini update tepat pukul 00.00 loh 😂...


...(Demi readers, padahal tadi udah bobo 😄)...


...Kalau mau up cepat, peraturannya masih sama, satu orang harus komentar 5 butir. Kemarin juga harusnya up cepat, tapi aku sibuk sama kerjaan di dunia nyata 🙏...


...Jangan lupa mampir juga ke lapak CLBK or Cerita Lama Belum Kelar (Story Triple D)....


...Ramaikan dengan komentarrrrr🔥...


...Note : Tandai Typo, pasti bertebaran 🙏...


...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr yang banyak 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...

__ADS_1


__ADS_2