Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M33 : PERMINTAAN EV


__ADS_3

M33 🥀 : PERMINTAAN EV


Deru nafas tak beraturan terdengar kala kelopak matanya dipaksa terbuka begitu saja. Seolah-olah dia baru saja didorong ke sebuah jurang yang begitu dalam, dia terhenyak bangun saking terkejutnya. Dalam mimpi yang membuat kinerja jantungnya berpacu hebat, Darren bisa merasakan kehilangan yang mendalam. Ada dua hal paling berharga yang seolah-olah telah direnggut dari hidupnya. Dia tidak tahu apa itu. Yang pasti, mimpi itu terasa sangat nyata.


“Ev?”


Maka hal pertama yang dia cari adalah sosok sang istri. Wanita yang 5 tahun telah menemani. Wanita yang seharusnya dia limpahi cinta tiada henti. Evelyn Xander, sang istri. Permaisuri di kediaman ini.


“Ev?” panggilnya lagi, kala tak menemukan sosok tersebut di kamarnya.


Dia kemudian beralih, menuruni anak tangga dengan cepat. Mencari-cari keberadaan sang istri seperti orang kesetanan di seluruh penjuru rumah.


“Demi Tuhan, di mana kamu, Ev?” panggilnya frustasi.


“T-uan.”


Mendengar ada suara dari arah belakang, Darren kontak berbalik badan. “Ada apa?” tanyanya datar.


“I-tu, nyonya Ev sudah menunggu tuan di taman belakang.”


“Ev, istriku?”


Maid itu mengangguk. Meng-iyakan jawab dari pertanyaan Darren. Sekalipun kepalanya tunduk, tak mau asal menatap langsung ke arah sang majikan.


“Dia ada di taman belakang?”


“Iya, tuan. Nyonya ada di taman belakang, sedang—“


Darren tak lagi menunggu kalimat maid itu usai diucapkan. Dia terlebih dahulu beranjak, meninggalkan maid itu sendiri. Yang terpenting saat ini adalah menemukan sang istri. Evelyn Xander. Yang katanya ada di taman belakang.


Jarak dari rumah utama ke taman belakang yang tadinya cukup jauh, jadi terasa sangat dekat kala Darren mengambil langkah lebar-lebar menuju tempat tersebut. Hijaunya pemandangan menyambut pria tersebut saat memasuki taman belakang. Berbagai jenis bunga tampak tengah bermekaran, menghiasi setiap penjuru taman belakang yang jarang terjamah orang.


Tiba di area gazebo yang sengaja dibangun di tengah-tengah taman, Darren menemukan sosok itu. Sosok yang dia cari setengah mati. Dia tampak duduk di depan meja bundar sembari menikmati sesuatu dalam cangkir keramik bermotif bunga teratai. Di atas meja juga tersaji berbagai jenis makanan yang biasa dihidangkan untuk breakfast. Lengkap dengan smoothies dan potongan buah segar sebagai sumber serat.


Bibir ranum yang tampak dipulas lipstick warna nude itu tak bersuara sekalipun. Hanya sepasang mata yang seolah-olah menyambut kedatangan Darren yang tampak tergesa-gesa. Tiba di hadapan wanita tersebut, Darren tak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukan. Erat. Darren memeluknya seolah-olah tidak akan ada kesempatan lagi baginya untuk melakukan hal tersebut.


“Ada apa?” Ev buka suara seraya mengurai pelukan.


“Tunggu. Biarkan seperti ini sebentar lagi, Ev.” Tahan Darren.


Wanita cantik yang mengenakan summer dress itu tidak merespon, tidak pula menunjukkan perlawanan. Him need a hug. Entah mengapa Ev tiba-tiba yakin jika pria itu benar-benar membutuhkan sebuah pelukan.


“Kamu pulang?” tanya Darren kala pelukan mereka terurai.


“Kamu pikir aku akan pergi ke mana?” tanya Ev datar. “Kamu menungguku pulang?”


“Hm.”


“For what? Bibi juga bilang kamu menolak diobati. Apa kamu sudah bosan hidup?”


Darren menautkan kening simetris mendengarnya. “Kamu pikir karena siapa aku begini?”


“Karena ulahmu sendiri, apa lagi,” jawab Ev santai. Kedua tangannya terlipat di depan dada. “Salah kamu datang ke anniversary D’EV, padahal sejak awal kamu menolak datang.”


“Aku datang karena mengetahui istriku menjadi partner pria lain.”


Ev tersenyum tipis. “Istri?” aku muak mendengarnya—lanjut Ev di dalam hati. “Sebaiknya kamu duduk dulu, Darren. Ada yang ingin aku bicarakan.”

__ADS_1


“Pembicaraan tentang apa?” tanya Darren sembari mengikuti perintah Ev. Menarik salah satu kursi untuk dia duduki.


“About you and me (tentang aku dan kamu),” jawab Ev seraya meraih poci kaca yang terisi oleh susu full cream hangat. Menuangkannya pada gelas kosong yang berada di depan Darren. Perhatian kecil seperti itu sudah jadi bagian dari tugas Ev sebagai seorang istri. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, tugas sebagai istri seorang Darren Aryasatya Xander harus tetap Ev emban hingga jatuh pada tempo yang telah disepakati.


“Kita sudah menikah lima tahun lamanya, Darren.” Ev berucap to the point. “Apa kamu sadar jika kita sudah bersama selama itu?”


“Hm.”


“Sesuai kesepakatan yang kita buat sejak awal, ada beberapa hal terkait—“


“Jika ini soal perceraian, jangan harap aku akan menyetujui.” Darren menyela kalimat Ev, bahkan sebelum rampung diucapkan.


“Listen, Darren.” Ev memutar bola mata sebal, tak suka kalimatnya disela begitu saja. “Pekan depan aku mau kita merayakan anniversary ke-5.”


“Kenapa tiba-tiba?” tanya Darren. Sepasang netra-nya menatap sang lawan bicara lekat. Seolah-olah tengah menggali sebongkah kebenaran yang tersembunyi.


“Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, Mama dan Mommy sudah menyiapkan schedule untuk anniversary kita. Kita hanya perlu memenuhi keinginan para orang tua.”


“Hm.”


“Aku juga ingin di anniversary kita nanti, tidak ada satupun media yang meliput.”


“Kenapa begitu?” bingung Darren.


Ev tersenyum simpul. “Ingin saja, supaya anniversary kita lebih berkesan intim dan kekeluargaan. Tamu yang datang juga hanya berasal dari keluarga, kerabat dan sahabat dekat.”


Darren tampak berpikir untuk sejenak. Tidak biasanya Ev meminta hal seperti ini. Wanita itu biasa di sorot lensa kamera di manapun dia berada. Setiap acara-acara besar yang melibatkan nama Ev di dalamnya, berbagai media pasti berlomba-lomba untuk mendapatkan informasinya. Namun, kali ini wanita cantik itu menginginkan sebaliknya.


“Bagaimana?”


Ev tersenyum mendengarnya. “Kalau begitu, aku akan hubungi Mama nanti.”


“Apa hari ini kamu ada acara, Ev?” tanya Darren tiba-tiba.


“Em, tidak. Aku free hari ini.” Ev menatap Darren lagi. “Memangnya kenapa?”


“Bersiap-siaplah. Pukul Sembilan nanti aku ingin membawamu ke suatu tempat.”


Kening Ev bertaut mendengarnya. “Ke suatu tempat? Memangnya kamu tidak masuk kerja?”


“Aku cuti,” jawab Darren santai seraya mengangkat gelas yang telah Ev isi susu full cream.


“Mentang-mentang kamu CEO, kamu jadi bisa sewenang-wenang?” sindir Ev.


“Aku tidak pernah mengambil cuti selama ini Ev. Anggap saja ini sebagai kompensasi kerja kerasku selama ini.”


“Ya, ya, ya. Kamu memang tidak pernah cuti, tuan Darren Aryasatya Xander yang terhormat. Tetapi, sering kali pergi ke luar kota dengan dalih urusan kantor, padahal kepentingan pribadi.”


“Ev, kamu—“ baru saja Darren hendak menyuarakan rasa tidak terima akan kalimat Ev, suara deringan telepon sudah terlebih dahulu menyela.


“Aku harus mengangkat telpon.” Ev menggoyangkan benda pipih dengan logo apel tergigit di tangannya sebagai isyarat. “Ini penting,” lanjutnya.


“Hm.”


Ev tersenyum kecil, kemudian beranjak. Jemarinya dengan lihai menggeser icon hijau di atas layar touchscreen. “Iya, Dean. Ada apa?”


“Dean?” gumam Darren tanpa sadar. Tatapannya tak lepas dari punggung mungil Ev yang mulai menjauh. “Mau apa lagi pria sial*n itu?”

__ADS_1


Emosinya memanas setiap kali mendengar nama keturunan Wijaya itu terlontar dari bibir sang istri. Sungguh, dia muak mendengar nama Dean Wijaya.


“Darren,” panggil Ev kala kembali.


“Hm. Ada apa?”


“Sepertinya aku tidak bisa ikut bersamamu.”


Darren menautkan kening mendengarnya. Matanya menatap sang istri lurus-lurus. “Kenapa tiba-tiba? Bukannya tadi kamu setuju?”


“I’am sorry. But, I have to go somewhere.”


“Kemana?”


“BSD.”


“Dengan?” tanya Darren dengan alis bertaut.


“Dean.”


“Kenapa harus dengan dia?!”


Ev menatap lawan bicaranya dengan raut bingung. “Kenapa, ada masalah? Aku tidak membutuhkan izin darimu untuk pergi kemanapun, dengan siapa pun. Begitupun sebaliknya. Bukannya begitu perjanjiannya?”


Tanpa menunggu persetujuan Darren, Ev kemudian berbalik setelah berkata demikian. Lebih baik dia pergi, karena tujuannya untuk berbicara dengan pria itu sudah terlaksana. Toh, sebentar lagi ada Dean yang akan menjemputnya. Pria itu sudah tidak pernah ingkar soal kata-kata yang dia lontarkan. Jika barusan dia mengatakan akan menjemput Ev menggunakan jet pribadi miliknya, maka Ev yakin 100% jika pria itu sebentar lagi pasti akan datang dan burung besi tersebut.


Lihat saja sebentar lagi. Pangeran Ev akan datang dengan burung besi kebanggaan nya.


🥀🥀


TBC


Author Note's :


Hello, readers. Apa kabar?


Maaf baru bisa update Mistress lagi 🙏


Terhitung sudah 10 hari aku libur menulis. Seminggu kebelakang, aku pulang ke Sukabumi. Pas pulang, aku dapat kabar kalau anak bos aku positif covid. Aku tentu parno, soalnya terakhir kali komunikasi sama dia pas mau pulang. H-3 pulang, ibuku mendadak sakit keras. Aku takut beliau yang kena covid karena aku. Tapi, Alhamdulillah itu gak terjadi.


Ibuku ternyata sakit DBD dan tipes. Keadaannya cukup mengkhawatirkan, sampai-sampai aku gak ada waktu buat nulis karena harus gantian jaga ibu. Baru hari ini bisa update lagi. Padahal part ini sudah aku simpan sebagai sejak masih di Tanggerang. But, baru bisa dilanjutkan.


Mohon maaf banget buat readers nunggu 🙏


Tencu juga buat yang selalu mengingat aku lewat komentar, itu sungguh menyemangati aku ☺️


Sebagai gantinya, aku bakal double update hari ini. Tunggu ya 👋


Jangan lupa, like, vote, komentar & follow Author ❤️


Follow juga IG Karisma022


FB Karisma Yknp


Sukabumi 21/02/22


05.10 WIB

__ADS_1


__ADS_2