Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M42 : TINDAKAN PERSUASIF


__ADS_3

NOTE : DIMULAI DARI YANG MANIS, DIAKHIRI DENGAN YANG PAHIT 😁


JANGAN LUPA KOMENTAR & VOTE ✌️


M42 🥀 : TINDAKAN PERSUASIF


Aroma harum yang mirip aroma pudding vanilla khas Italia bernama Panna Cotta, tercium saat satu loyang ukuran medium keluar dari dalam oven. Jejeran cookies garing berdiameter bulat berwarna coklat dengan bagian atas berwarna putih, tampak mengisi loyang. Cookies garing yang memadukan krim lembut rasa vanilla tersebut adalah hasil kreasi Ev yang terinspirasi dari sebuah cookies yang biasa dijual di mini market. Jika dibalik, ada motif batik kawung yang bermakna kesempurnaan dan penggambaran hati yang bersih.


Sang koki tampak tersenyum lebar kala hasil racikannya begitu sesuai ekspetasi. Acara baking hari ini didasari oleh rasa bosan dan jenuh, karena tidak ada pekerjaan seperti weekdays biasanya. Ev—sang koki—memilih baking atau membuat kue-kue yang sudah dia kuasa. Untuk para maid yang tadinya ingin membantu, mereka dijadikan sebagai juri tetap untuk ajang icip rasa. Keempat maid yang masih cukup muda itu kompak memberikan dua jempol untuk setiap kue yang Ev ciptakan.


“EV?!”


Namun, keseruan itu harus terganggu oleh keributan yang berasal dari suara sepatu yang bertubrukan dengan lantai marmer. Tak berselang lama, seorang pria yang mengenakan outfit formal, mulai dari jas hitam yang dipadukan dengan kemeja berwarna merah dengan bawahan celana pantalon hitam, tampak tergesa-gesa memasuki dapur.


“Dean, apa yang kamu—“


Grep!


“Kamu tidak apa-apa?”


Belum sempat Ev menyelesaikan kalimatnya, pria rupawan itu sudah terlebih dahulu membawa tubuhnya ke dalam rengkuhan. Semerbak wangi aroma woody, black pepper, dan citrus, yang menonjolkan sisi maskulin tercium dari badan pria tersebut.


“Dean, ada apa?” bingung Ev.


Para maid yang ada di ruangan tersebut kontan menundukkan kepala, kala melihat interaksi yang cukup intens di antara tuan dan nona muda mereka tersebut.


“Aku dengar pria bajing*n itu datang. Apa benar?”


“Maksud kamu Darren?”


“Hm.”


Ev tersenyum tipis mengetahui jika alasan dari tingkah absurd Dean ternyata karena Darren. “Bukannya kamu sedang berada di kantor?”


“Aku buru-buru ke sini saat tahu pria itu datang. Lagi pula, CEO nya juga tidak ada. Aku hanya seorang CFO di sana, tugasku masih bisa dihandle dari luar kantor.”


“Kamu mulai malas kerja, ya,” ujar Ev seraya mengurai pelukan.


“Apa boleh buat, aku khawatir sama kamu,” jawab Dean seraya mengedipkan bahu, acuh. “Tapi dia tidak macam-macam sama kamu, ‘kan?” tatapan Dean tampak memindai Ev dari atas hingga bawah.


Ev menggeleng seraya tersenyum tipis. “Aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu kembali ke kantor.”


“Tidak mau,” tolak Dean. “Lebih baik aku di sini, menemani kamu.”


“Tapi aku di sini tidak sendiri, Dean. Aku bersama para maid sedang membuat kue.”


Pria rupawan itu menoleh ke sekeliling. Matanya kemudian menemukan empat maid yang tengah menunduk dalam.


“Ada orang ternyata, aku tidak sadar,” gumamnya seraya menggaruk pelipis.


Melihat itu, Ev tak kuasa menahan senyum. Ternyata seorang Dean Wijaya juga bisa salting alias salah tingkah. “Makanya lihat-lihat kalau mau peluk.”


“Aku tadi terbawa perasaan, Ev,” belanya.


Ev mengangguk paham. Kemudian beralih pada empat maid yang masih berdiri di tempat. “Kalian bisa kembali ke belakang. Biar saya yang selesaikan kekacauan di sini.”


Tanpa membantah, para maid itu kemudian pamit undur diri. Meninggalkan Ev dan Dean di ruangan yang dipenuhi aroma manis tersebut.


“Kamu buat apa?” tanya Dean kemudian, penasaran.


“Cookies. Mau?”

__ADS_1


“Boleh.”


Ev mengambil sekeping cookies yang sudah dingin dari dalam loyang, kemudian memberikannya pada Dean. Membiarkan pria itu menjadi penikmat pertama cookies rasa pudding vanilla khas Italia bernama Panna Cotta.


“Gimana?” tanya Ev dengan penuh harap. Berharap rasa cookies itu bisa diterima oleh lidah Dean yang notabenenya tidak terlalu suka manis.


“Good. Rasa manisnya pas, tidak kemanisan buatku. Cream vanila nya juga enak,” komentar Dean bak seorang master chief. Melihat itu, Ev kontan tertawa kecil. Setahunya, Dean memang tidak terlalu suka makanan yang manis. Tapi, Ev tadi membuat cookies ini dengan takaran manis yang menurutnya masih bisa ditolelir.


“Yakin, enak? Enggak ngada-ngada demi aku, ‘kan?” tanya Ev curiga.


“Mana ada,” bantah Dean. “Aku suka, kok. Suer,” imbuhnya.


“Iya-iya, percaya.”


Keduanya kemudian larut dalam obrolan seputar kegiatan Ev selama stay at home. Dean bahkan enggan kembali ke kantor karena alasan takut Darren kembali dan menganggu Ev. Dean juga sudah meminta keamanan di mansion Atmarendra untuk diperketat. Mengingat jika kenekatan putra Xander itu tak dapat ditebak.


🥀🥀


Seorang wanita paruh baya yang mengenakan dress berwarna hijau lumut yang jatuh di bawah lutut, tampak memasuki sebuah lobi rumah sakit. Kedua matanya yang terbingkai frame kacamata hitam beredar untuk sejenak, sebelum dia melangkah menuju lift untuk mengakses lantai 5. Sempat ada penahanan saat dirinya tiba di lantai 5 yang katanya bagian dari tempat Very Very Important Person atau VVIP. Namun, setelah menunjukkan kartu namanya, wanita itu dipersilahkan masuk.


Setiap ruangan yang pasti memiliki fasilitas mewah itu dia lewati satu per satu. Hingga langkah kakinya tiba di ujung lorong, di hadapan ruangan dengan nomor A113, wanita itu berhenti melangkah. Tangannya yang bebas dari pegangan tas kulit yang dia bawa, meraih kenop pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Toh, dia yakin jika ruangan yang dia datangi tidak salah.


Dalam sekali tarikan, pintu bercat putih itu terbuka lebar. Memperlihatkan sepasang insan yang tengah berbagi saliva lewat sebuah tautan. Kontan, wanita paruh baya yang melahirkan salah satu dari dua insan itu meradang. Tensi darahnya naik tak terhadang.


“Dasar anak tidak tahu malu!” ujarnya keras, sehingga mampu membuat dua insan yang tadinya asik berbagi saliva itu sadar akan kehadirannya.


“M-amah.”


Wanita itu maju, melangkah masuk. Mengikis jarak yang ada di antara mereka. Tanpa tedeng aling-aling, sebelah tangannya terangkat. Memberikan tamparan keras pada putra semata wayangnya.


“Mau sampai kapan kamu buat mama kecewa, Darren Aryasatya Xander?!” tanyanya murka.


“Mama sudah janji pada Ev akan mendapatkan persetujuan kamu untuk bercerai. Tapi, hingga detik ini kamu masih mencoba mengulur waktu. Kamu membuat Ev menunggu dalam ketidakpastian, sedangkan kamu sendiri malah asik-asikan memadu kasih dengan wanita simpanan mu?!”


Darren yang menjadi tersangka utama tidak bisa berbuat apa-apa. Kedatangan ibunya yang tiba-tiba benar-benar tidak tepat waktu. Sebenarnya, apa yang dilihat ibunya tak sepenuhnya benar. Tadi, mereka itu hanya ….terbawa suasana. Sungguh, Darren ingin sekali menjelaskan pada sang ibu kondisi yang sebenarnya. Namun, sang ibu sudah terlebih dahulu meledak-ledak.


“Sebenarnya apa yang kamu mau, Darren?” tanya Diana Xander lemah.


Awalnya Diana datang ke mansion sang putra kala menjelang waktu makan siang. Dikarenakan dia tak kunjung mendapatkan tanda tangan sang putra. Pada kunjungan ke dua, Diana harap dia dapat bertemu sang putra, dan dapat melunakkan sifat bebal putranya itu. Bagaimanapun juga Ev harus segera mendapatkan kepastian agar tidak menderita lebih lama lagi. Namun, setibanya di mansion milik putra dan menantunya itu, Diana tidak mendapati siapapun. Tidak terkecuali wanita simpanan sang putra yang pagi tadi dia temui.


Saat hendak memeriksa lantai atas, Diana mendapatkan informasi jika Darren ada di rumah sakit. Tengah menemani wanita simpanannya yang mengalami kecelakaan kecil—jatuh di kamar mandi—karena kecerobohan sendiri. Berbekal informasi dari bi Surti, Diana langsung menuju ke rumah sakit yang dimaksud. Siapa sangka jika kedatangannya malah disambut dengan adegan yang cukup membuat hati nuraninya teriris.


“Cepat tanda tangani gugatan perceraian ini, dan kamu bisa melakukan apapun sesuka kamu,” ujar Diana persuasif.


“Ma, Darren tidak mau bercerai dengan Ev.”


“Lalu kamu akan tetap menduakan Ev?!”


“Bukan begitu maksud Darren, ma. Darren—“


“Tanda tangani, atau mama tidak akan menganggap kamu sebagai putra mama lagi.”


Deg!


Bola mata pria rupawan yan tampak frustasi itu terbelalak. Apa kata ibunya barusan? Tidak akan menganggap dirinya sebagai putra? Bagaimana bisa hanya karena seorang menantu, darah daging sendiri tidak dianggap?


“Bagaimana bisa mama bicara seperti ini? Darren ini darah daging mama, bukan Ev,” ujarnya frustasi.


“Iya, kamu darah daging mama. Tapi, perbuatan kamu sudah diluar batas, Darren. Apa kamu sadar jika perbuatan kamu ini sudah menyalahi aturan dan menyakiti banyak pihak?”


“Darren cuma ingin bahagia, Ma.”

__ADS_1


“Bahagia katamu? Apa menikah dengan Ev tidak dapat membuat kamu bahagia?”


“Bukan begitu, ma. Darren….”


“Apa bahagia yang kamu maksud adalah bersama wanita tidak tahu diri di sampingmu itu?” sela Diana.


“Ma, tolong jangan bawa-bawa Ella. Dia tidak tahu apa-apa. Ella di sini juga korban.”


“Korban?” ada nada menyindir terselip di kalimat Diana. “Dia yang tidak mau mencari tahu latar belakang pria yang hendak dinikahi, kamu bilang korban? Wanita simpanan kamu ini polos atau dungu?” habis sudah kesabaran Diana Xander.


Wanita yang duduk di atas bed rumah sakit di samping tempat Darren berdiri itu tampak berderai air mata. Bohong jika hatinya tidak sakit dikatai demikian oleh wanita yang berjasa besar melahirkan pria yang dia cintai.


“Jaga bicara mama. Mama tidak seharusnya bicara begitu soal Ella. Dia itu sedang….” Darren menggantung kalimatnya. Ada ragu yang membelenggu kala hendak melanjutkan.


Diana menautkan kening melihat ekspresi sang putra. “Dia kenapa, Darren?” tanyanya, menuntut jawaban.


“Ella…. Sedang mengandung, ma.”


“A-pa?!”


“Ella sedang mengandung keturunan Xander,” ujar Darren gamblang. Toh, pada akhirnya keluarganya juga akan tahu soal kondisi sang mistress yang tengah berbadan dua. "Dia mengandung bayi Darren."


“Ya, Tuhan, Darren Aryasatya Xander. Dosa apa yang mama dan papa buat di masa lalu, sehingga kami memiliki putra seperti kamu.” Diana yang tampak shock mendengar informasi tersebut, hampir terhuyung ke belakang jika saja tidak berpegangan pada tembok.


“Mama,” panggil Darren risau seraya mendekati sang ibu.


“Jangan berani-berani kamu mendekati mama, Darren.” Cegah Diana, tidak mau disentuh putranya sendiri. “Kamu benar-benar sudah kelewatan.”


Mendengar kalimat yang terlontar dengan penuh rasa kekecewaan itu, Darren merasakan beban yang tiba-tiba menimpa rongga dadanya. Menimbulkan rasa sesak yang amat kentara. Dia juga sakit melihat wanita yang melahirkannya tersakiti.


“Tanda tangani gugatan perceraian ini, dan mama akan segera pergi dari sini. Mama janji tidak akan menghalangi kamu untuk meraih kebahagiaan,” ujar Diana tanpa ekspresi.


“Ma, bukan itu maksud Darren.”


“Tanda tangani, Darren!” titah sang ibu mutlak.


Untuk sejenak Darren tampak terhenyak. Namun, detik berikutnya, dengan tangan gemetar, pria rupawan itu meraih map yang ibunya sodorkan. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, pun dengan sesak yang kian menyiksa rongga dada, pria rupawan itu akhirnya membubuhkan tanda tangan. Dengan cepat Diana menarik gugatan cerai yang telah ditanda tangani oleh putranya itu. Sekalipun Darren masih tampak linglung kala sang ibu menarik paksa benda tersebut.


“Mulai detik ini, kamu bukan lagi Darren Aryasatya Xander yang mama lahirkan puluhan tahun lalu. Kamu bebas melakukan apa yang kamu mau. Mama maupun papa tidak akan menganggu hidup kamu.”


“Ma…” lirih Darren lemah.


“Semoga pilihan kamu ini benar Darren. Melepaskan Ev demi wanita itu, mama harap kamu tidak menemukan penyesalan besar di kemudian hari,” ujar Diana seraya menyeka air mata yang hampir jatuh dari ekor matanya. Hari ini, dia merasa telah gagal mendidik putra kebanggaannya. Putra yang dia lahir kan susah payah, ternyata berani menyakiti seorang wanita baik-baik seperti Ev begitu dalam.


“Mama sangat kecewa dengan pilihan kamu, Darren. Kedepannya, kamu bebas melakukan apapun tanpa harus memikirkan nama baik keluarga Xander. Satu hal lagi, keluarga Xander tidak akan menerima wanita simpanan kamu maupun bayi kalian. Dia bukanlah bagian dari keluarga Xander. Sampai kapanpun, bagian dari keluarga Xander adalah Ev dan keturunan yang lahir dari rahimnya.”


🥀🥀


TBC


TARIK NAPAS, BUANG. YOK, ULANGI MAK DIANA. TARIK NAPAS, BUANG.


GIMANA BUAT PART INI? MASIH MAU LANJUT? MAU KETEMU DAN LAGI? ATAU LANJUT KASIH DARREN-ELLA KARMA??


JAWAB DI KOLOM KOMENTAR YA!


JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR, VOTE, LIKE, KOMENTAR & SHARE ❤️


Follow IG Karisma022 juga supaya gak ketinggalan info ✌️


Sukabumi 13/03/22

__ADS_1


__ADS_2