
NOTE: WAHAI READERS YANG BUDIMAN, PART INI MENGANDUNG KLUE. JADI, HARAP CERMAT MEMBACANYA 🧐
PART 2K KATA, SEMOGA KENYANG 👏
M38 🥀 : PERSIDANGAN
🥀🥀
Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh Diana Xander demi mewujudkan keinginan orang-orang terkasihnya. Wanita itu selalu saja punya cara agar keinginan tersebut tercapai sesuai target. Darren sangsi dari ucapan sang ibu. Belum genap 24 jam pasca wanita itu berjanji pada Ev, dia telah kembali melancarkan gencatan senjata pada sang putra. Pagi-pagi sekali, supir pribadi Diana Xander sudah datang membawa dokumen gugatan cerai yang baru.
Bahkan Diana berpesan agar sang supir menunggu di sana sampai dokumen tersebut benar-benar ditandatangani oleh Darren. Mau tidak mau, suka tidak suka, di pagi yang suram itu, Darren harus berhadapan dengan selembar surat yang dikeluarkan oleh pengadilan agama tersebut. Mata hitam jelaga miliknya tampak meneliti setiap untai kalimat yang tercetak hitam di atas kertas putih tersebut. Secara garis besar, tidak ada kerugian yang timbul karena perceraian ini. Pihak Ev juga tidak menuntut banyak, tidak pula menuntut mansion yang saat ini Darren tempati.
Karena masalah ini pula, Damian—sekretaris Darren—sudah bertandang sejak pagi-pagi buta. Pria itu dibuat sibuk bekerja, menangani apa yang bisa dia tangani terkait masalah ini. Apalagi Darren juga meminta Damian menyelidiki sang istri lebih intens.
“Dam, singkirkan kertas ini. Aku tidak mau melihatnya,” ujar Darren pada akhirnya. Muak melihat selembar kertas tersebut.
“Tapi, tuan—“
“Apa lagi? Apa perintahku kurang jelas? Singkirkan kertas ini, sial*n!” umpat Darren murka.
Damian yang hanya bisa mengangguk patuh, kemudian mengambil kertas tersebut. Namun, sebelum benar-benar menghilangkannya dari hadapan Darren, dia mengingatkan sesuatu.
“Jika tuan lupa, biar saya ingatkan kembali. Tuan Dazen berpesan jika tuan mempersulit perceraian ini, tuan akan kehilangan sebagian besar saham perusahaan, bahkan posisi CEO.”
“F*ck!” Darren mengumpat. “Sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku? Dulu mereka mendesakku untuk menikahinya, dengan iming-iming kursi CEO. Sekarang, mereka kembali mendesakku untuk menceraikannya, dengan gertakan kursi CEO pula. Apa mereka tidak sadar jika semua ini terjadi juga karena campur tangan mereka.”
Damian yang melihat betapa kacau sang atasan, hanya bisa menghela nafas kecil. Dia juga tidak bisa berbuat banyak. Karena di sini, atasannya itu memang salah karena telah bermain api. Padahal dia sudah memiliki wanita sempurna sebagai istri. Sekalipun pernikahan mereka dimulai dengan perjanjian hitam di atas putih, seharusnya tuannya itu patuh pada peraturan yang ada. Jika tidak, siapa yang akan menanggung akibatnya? Tentulah dirinya sendiri.
“Apa yang harus aku lakukan, Dam?” tanya Darren tiba-tiba. Raut wajahnya tampak frustasi kala menatap sang sekretaris. Kantung mata yang gelap tampak bergelayut di bawah kelopak mata. Darren memang tidak berhasil memejamkan mata barang sejenak saja. Yang ada, dia malah terus terbayang-bayang wajah cantik sang istri. Evelyn Xander.
“Ini keputusan yang sulit, tuan. Saya tidak bisa sembarangan memberi solusi.”
Darren tersenyum miris mendengarnya. “Setidaknya, beri aku masukan, Dam.”
Damian mengangguk dalam diam. “Semua ini sebenarnya kembali pada Anda, tuan. Jika anda memang menginginkan nyonya Ev, anda bisa meminta maaf dan memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Akan tetapi, masalah ini agaknya sukar diperbaiki.” Damian menjeda sejenak, menyempatkan diri melihat ekspresi sang atasan sebelum melanjutkan.
“Sebelum itu, Anda harus tahu terlebih dahulu alasan kenapa Anda menginginkan nyonya Ev. Apakah karena ingin menggunakannya sebagai penjaga kestabilan posisi Anda di perusahaan, atau karena Anda memang menginginkannya sebagai seorang lelaki.”
Keheningan tercipta kala kedua pria itu sama-sama terdiam. Darren tampak tengah memikirkan ucapan sang sekretaris yang dari dulu memang tidak pernah gagal memberinya masukan-masukan. Damian dikenal sebagai pria yang dapat berpikir secara logis dalam keadaan apapun. Hal itu pula yang membuat Darren mempertahankan Damian. Selain itu, etos kerja, loyalitas, profesionalisme dan solidaritas nya juga patut diacungi jempol.
“Maaf jika saya lancang bicara seperti ini. Namun, jika memang tuan menyayangi nyonya Ev, tidakkah tuan tau sendiri apa yang nyonya Ev alami selama menjadi istri tuan? Dilihat dari bagaimana besarnya usaha nyonya Ev, hingga akhirnya memilih melayangkan gugatan cerai, itu tidaklah mudah.”
“Langsung ke intinya saja, Dam,” ujar Darren seraya memijit pelipis.
“Secara kasar itu dapat menandakan jika nyonya Ev sudah lelah bertahan. Nyonya Ev juga wanita biasa, terlepas dari sehebat apa dia berusaha menjadi sempurna. Sudah kodrat mereka menjadi mahluk perasa dan paling peka. Apa tuan pernah memikirkan perasaan nyonya Ev selama kalian menikah? Apa nyonya Ev tertekan? Apa nyonya Ev tidak bahagia? Apa tuan pernah memikirkannya?”
“Kurasa tidak,” jawab Darren parau. Bohong jika ucapan Damian barusan tidak menohok.
“Lewat perceraian ini, keinginan nyonya Ev sebenarnya hanya satu.”
“Apa itu? Apa semua fasilitas yang aku berikan masih kurang? Apa lagi yang dia inginkan?” tanya Darren bertubi-tubi.
“Kebebasan.”
Darren terbungkam. Yah, freedom. Soal satu itu dia tidak bisa memberikannya pada Ev. Selama menikah, Ev hanya menghabiskan waktunya untuk bekerja, memenuhi kewajibannya sebagai istri yang baik dan menantu yang baik. Hanya itu, tak lebih. Darren bahkan tak yakin pernah melihat Ev bahagia selama mereka menikah.
“Nyonya Ev hanya menginginkan hal itu, tuan. Tidak lebih.”
“….”
“Sekarang, keputusan sepenuhnya ada di tangan Anda. Selagi Anda memikirkannya matang-matang, surat ini akan tetap berada di sini,” ujar Damian seraya meletakkan kertas gugatan perceraian tersebut di atas meja makan. Tepat di mana Ev biasa makan.
“Jika Anda setuju untuk bercerai, sidang pertama akan dilangsungkan minggu depan. Saya akan segera mengkonfirmasi lawyer jika Anda setuju. Jika berjalan lancar tanpa hambatan, Anda dan nyonya Ev akan resmi bercerai tiga atau empat bulan lagi.”
“Hm.”
Hanya itu jawaban yang Darren berikan sebagai respon. Tak lama kemudian, Damian pamit undur diri untuk segera kembali ke kantor. Darren mengizinkan. Membuat dirinya kembali ditemani hening dan sepi dalam ruangan megah tersebut. Pada umumnya proses perceraian memang akan memakan waktu maksimal 6 bulan di tingkat pertama, baik di pengadilan Negeri maupun pengadilan Agama. Kendati demikian, jika proses sidang berjalan dengan lancar, maka waktu yang diperlukan biasanya hanya 3-4 bulan. (*Mohon koreksi jika salah)
“Mas Darren.”
Mendengar namanya dipanggil, pria rupawan itu menoleh ke arah sumber suara tersebut. “Ada apa?” tanyanya datar.
“Tadi Ella masak sarapan sama bi Surti di belakang. Mas mau sarapan sekarang?”
Darren tersenyum miring seraya menatap sebuah cangkir berukiran huruf D&E. Inisial dari nama Darren & Ev yang terisi oleh cairan berwarna hitam pekat. Perutnya terasa sudah kenyang hanya dengan menikmati setengah cangkir caffein. Namun, dia juga tidak mau membuat istri kecilnya itu bersedih hati. Apalagi semalam istrinya itu juga pasti tertekan juga terkejut. Pasalnya dia tidak tahu apa-apa. Sedangkan posisinya terus menerus dipojokkan.
Hanya saja, entah mengapa dia malah berharap Ev lah yang berdiri di sana. Menawarinya sarapan seperti biasa.
“Hm, boleh.”
__ADS_1
Senyum sumringah tampak tercetak jelas di wajah yang tampak lebih fresh itu. “Kalau begitu biar Ella ambil dulu di belakang.”
“Tidak perlu,” tahan Darren. “Duduk saja, biar bibi yang bawakan sarapannya ke sini. Kamu sudah terlalu banyak bekerja.”
Ella mengangguk cepat. Akhirnya sang suami kembali memperhatikan dirinya. Setidaknya, itu yang membuatnya yakin. Jadi, sekarang dia menarik kursi di sebelah kiri, dekat sang suami. Namun, baru saja hendak duduk di kursi tersebut, suara sang suami kembali terdengar.
“Jangan duduk di situ.”
“K-enapa memangnya, mas?” tanyanya polos. Perasaan semua kursi di meja makan sama saja, tidak ada name tag yang tertera di sana. Jadi, dia bebas duduk di manapun, bukan?
“Itu tempat duduk, Ev. Tidak ada yang boleh mendudukinya selain Ev.”
“T-empat duduk mbak Ev?” kaget Ella.
Darren mengangguk singkat. “Kamu bisa duduk di kursi manapun. Tapi tidak di kursi itu.”
Ella mengangguk seraya menunduk. Kepalanya tertunduk menatap lantai marmer yang terasa dingin. Kedua tangannya terkepal di samping tubuh, tersembunyi dari pandangan sang suami. Bohong besar jika harga dirinya tidak tertohok. Perkara tempat duduk saja, istri pertama bahkan memiliki tempat tersendiri di rumah ini.
Ella yang notabene baru memasuki, bahkan tinggal di kediaman semegah ini, tentu memiliki rasa penasaran tinggi pada setiap sudut tempat yang dapat dijangkau oleh mata. Namun, seharusnya dia sadar akan batasan. Beberapa orang maid juga tampak memperlihatkan gelagat tak suka atas kehadirannya yang sok kenal. Hal itu dapat terlihat saat pertama kali menginjakkan kaki ke dapur untuk membuat sarapan. Niatnya Ella cuma ingin meminjam peralatan untuk memasak. Namun, karena dia tidak tahu di mana letak peralatan yang dibutuhkan, jadilah dia banyak menyusahkan orang lain.
Ella juga sempat kena tegur bi Surti saat hendak mengenakan celemek, hanya karena celemek itu kesayangan nyonya rumah ini.
“Ella.”
“Iya, mas.” Pandangan yang tadinya tertuju pada nasi dengan tumpukan lauk-pauk berupa tumis daging dengan paprika, tumis brokoli dan perkedel jagung itu teralihkan, karena si empunya mendongkrak. Menatap lawan bicaranya.
“Maaf.”
“Maaf untuk apa, mas?” bingung Ella.
“Menempatkan kamu dalam posisi ini,” ujar Darren menambahkan. “Kamu pasti sangat terluka.”
Ella menggelengkan kepala sebagai jawaban. “Sebenarnya Ella datang ke sini untuk mengetahui kebenarannya. Sekarang Ella juga enggak tau harus gimana. Ini terlalu rumit. Ella butuh waktu untuk memahami semua ini. Soal kenapa selama ini mas Darren bohong? Kenapa mas Darren nikahin Ella, padahal mas Darren udah punya mbak Ev. Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus berdatangan.”
Ella berhasil mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya. Namun, itu baru sebagian kecil. Bagian yang besarnya masih tersimpan dengan rapih. Ella bisa saja mengeluarkan semuanya. Soal betapa sedih dan hancur hatinya, pasca mengetahui jika dia adalah istri kedua. Bukan yang pertama. Dia merasa dibohongi, ditipu besar-besaran. Namun, apalah daya. Dia sudah jatuh cinta pada pria ini. Logikanya, sekalipun hati terus tersakiti, jika bisa terus bersamanya, kenapa tidak?
Lagi pula sebentar lagi suaminya juga akan bercerai. Itu berarti dia akan jadi satu-satunya. Bagaimana Ella bisa tahu semua itu? Ya, karena dia mendengar pembicaraan Darren dan Damian.
“Dengar, Ella. Untuk saat ini aku hanya bisa meminta maaf. Ini sepenuhnya salahku. Aku juga ingin minta satu hal.”
“Apa itu, mas?”
Ella terhenyak. Dalam diam, dia mencoba memastikan pendengaran.
“Ah, satu lagi. Jangan berkeliaran kemana pun saat aku pergi, dan jangan ikut campur soal masalahku dengan Ev. Kamu mengerti?” tanya Darren seraya menatap lawan bicaranya lekat.
“M-engerti, mas.”
“Bagus.” Darren menyelesaikan acara sarapannya yang tidak seberapa setelah mengucapkan kalimat tersebut. “Aku akan pergi.”
“M-as Darren mau kemana? Kerja? Atau….”
“Bukan urusanmu,” jawab Darren singkat, kemudian melenggang pergi begitu saja.
Meninggalkan sang istri yang tidak dapat berkutik di tempatnya duduk.
🥀🥀
“Good morning.” Sapaan hangat diberikan oleh wanita cantik yang wajahnya tampak berseri-seri tersebut. Tangannya sibuk menata The Japanese egg salad sandwich dan fruit sandwich.
“Morning, too Ev,” jawab pria rupawan yang tampak fresh dengan outfit casual. Dia baru saja selesai mandi setelah olahraga ringan di dalam kamar. “Om sama tante kemana? Tumben meja makan sudah sepi.” Tanyanya, melihat kondisi ruang makan yang tampak sepi.
“Mommy sama Daddy pergi ke firma hukum Om Dexter.”
“Menemui lawyer?”
Wanita cantik itu menggelengkan kepala singkat. “Entahlah. Padahal aku sudah bilang akan menangani perceraian ini sendiri.”
“Tidak apa-apa, Ev. Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.”
“Of course,” jawab si empunya nama seraya menghidangkan The Japanese egg salad sandwich di hadapan pria tersebut. Melayani tamu agung yang sudah menganggap rumah ini seperi rumah sendiri.
“Thanks,” ujar pria rupawan tersebut seraya tersenyum manis. Siapa pula yang tidak senang jika dilayani begini oleh seseorang yang sudah disukai sejak lama?
“Dean.”
“Hm?”
“Kamu hari ini enggak kerja?” tanya Ev saat dia sendiri sudah mengambil posisi duduk, menghadap satu porsi fruit sandwich di meja.
__ADS_1
“Hm, enggak kayaknya,” jawab Dean asal.
“Kok gitu?”
“Lagi males ke D’EV. Males ke Xander Company juga. Lebih baik hari ini aku menemani kamu.”
“Aku?”
Dean mengangguk seraya tersenyum tipis. Pria yang baru mengunyah sandwich-nya itu kemudian buka suara. “Hangout, mau?”
“Hangout?” ulang Ev dengan alis menukik. “Kamu lupa kalau semalam aku baru menggugat cerai Darren?”
“Aku tidak lupa. Yang ada aku akan selalu mengingatnya, karena hari itu kamu bisa lepas dari pria bajing*n itu.” Dean berpaling, menatap lawan bicaranya lekat. Seulas senyum terbit di labium. “Sebentar lagi kamu akan resmi berpisah dengan pria bajing*n itu. Pada saat hari itu tiba, apa kamu mau memberikan aku kesempatan, Ev?”
“For what?”
“Membuat kamu jatuh cinta kepadaku secara benar.”
Ev terdiam. Bungkam. Untuk sejenak wanita cantik itu tidak dapat berkata apa-apa. Apa maksud dari ucapan Dean itu adalah ingin mengajak Ev penjajakan? Begitu, kah? Ev mencoba menerka-nerka di dalam hati.
“Bagaimana?” tuntut Dean, meminta jawaban.
“Hm.”
“Hm berarti, ya?”
Ev mendongkrak, menatap lawan bicaranya lekat. “Ada satu hal yang harus kamu ketahui, sebelum bertekad membuatku jatuh cinta.”
“Apa itu?”
“Kamu akan tahu itu nanti, Dean. Tunggu saja,” ujar Ev misterius.
Kendati demikian, Dean yang sudah mendapat lampu hijau, setidaknya bisa bernafas lega. Hanya saja dia masih harus menunggu satu ‘hal’ lagi yang tengah Ev sembunyikan. Keduanya kemudian menikmati sarapan mereka dengan diam. Sesekali Ev menangkap basah Dean yang tengah menatapnya seraya mengunyah sarapan. Ketika tertangkap basah oleh Ev, Dean akan menyunggingkan seulas senyum tipis yang teramat manis.
Dean memang memutuskan untuk menginap, pasca semalam menemani Ev. Karena kehadiran Dean pula, sekarang kondisi Ev sudah jauh lebih baik. Dimi juga sudah meneror Ev sejak subuh. Pria itu memberitahu jika Ev dibebaskan dari jobdesk-nya hingga minggu depan. Dimi memberikan kebijakan itu agar Ev bisa fokus mengurus perceraiannya. Handphone Ev yang sempat di-nonaktifkan juga dipenuhi oleh notifikasi pesan singkat hingga miss call dari berbagai kontak. Mulai dari Diana Xander, Dessy Wijawa, hingga Dini—maid kepercayaan Ev—yang sudah pindah ke apartemen Ev bersama Emilio.
Ev hari ini free, tidak punya jadwal yang terlalu berarti. Mulai orang tuanya, Diana Xander, Dazen Xander, Darwis Wijawa, Dessy Wijawa hingga William Atamrendra, menyarankan Ev untuk beristirahat saja di rumah. Tuan putri keluarga Atmarendra itu dilarang melakukan apa-apa, karena para orang tua yang akan menyelesaikan semuanya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap Ev yang menjadi korban pemikiran kolot mereka.
Ketika tengah menikmati waktu luangnya sembari menonton film The Phantom Thread yang menceritakan kisah seorang couturier asal London—Reynold Woodcock—yang berjaya pada tahun 1950-an, suara ringtone handphone membuat fokus Ev teralihkan. Sebuah nama yang terdiri dari tiga huruf terpampang di layar yang menyala. Ev yang dapat menangkap nama tersebut tak dapat menahan senyum yang terbit di wajahnya.
“Asalamualaikum, schatz (sayang). Was ist es? Zuerst anrufen? (ada apa? tumben telpon duluan?”
Ketika sambungan telepon terhubung, Ev tidak langsung mendapat jawaban dari sapaannya. Malah terdengar suara kucing mengeong yang cukup jelas dari seberang. Ev menunggu dengan tenang, sembari mematikan siaran televisi. Tidak lama kemudian, terdengar sebuah suara yang amat dia rindukan mengalun dengan antusias.
“Mère!”
“Ja, Schatz (ya, sayang)”
“I miss you, when are you coming here, mère (Aku rindu, kapan kesini)?”
Ev tersenyum lebar kala suara itu melantunkan kalimat dalam bahasa Inggris. Setiap kali berhubungan lewat telepon, dia memang jarang menggunakan satu bahasa. Terkadang dua—bahasa Jerman & Perancis—terkadang juga tiga bahasa—Inggris, Jerman, Perancis—seperti yang dia kuasai. Akan tetapi, saat Ev menggunakan bahasa Indonesia, seseorang di seberang juga mengerti. Hanya saja sulit untuk menjawab menggunakan bahasa Indonesia.
“Dan sudah salat?” tanya Ev seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Done (Sudah).”
“Terus, sekarang Dan sedang apa?”
“Miss Mère (rindu Mère) !” seru suara di seberang antusias.
Ev mengangguk seraya mengalihkan tatapannya pada langit di luar jendela. “Mère will be there soon. Can you wait (Mère akan ke sana secepatnya. Kamu bisa menunggu)?”
“Kann (bisa).”
Ev mengangguk. Senyum masih terpatri di bibirnya. Obrolan kembali berlanjut dengan keantusiasan seseorang di seberang yang tak jemu-jemu membuat Ev tersenyum. Sekalipun ada bentangan jarak sejauh 11.552km. Mendengar suaranya saja, Ev sudah cukup puas. Karena lewat suara itu, rindu yang membelenggu dapat terobati sedikit demi sedikit.
🥀🥀
QUESTION : *Mère adalah kata kunci.
Dan adalah kuncinya.
Silahkan cari tau sendiri artinya, dan komentar sesukanya ☺️
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
TBC
__ADS_1
Sukabumi 03/03/22