Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M74 : PERLAHAN TERSISIHKAN


__ADS_3

NOTE : MISTRESS UPDATE 🔥


HAPPY READING 🔥


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW & AUTHOR SHARE ❤️


M74 🥀 : PERLAHAN TERSISIHKAN


“Sini, biar aku pindahkan Dan.”


Wanita cantik yang baru saja menyimpan piring kotor di wastafel itu mendekat seraya bersuara. Alisnya sedikit menukik kala pria yang menjadi lawan bicaranya hanya merespon lewat senyum tipis dan gelengan kepala.


“Belum nyenyak tidurnya. Nanti Dan bangun,” tambahnya, memberikan penjelasan.


“Biar aku pindahkan saja, kamu pasti pegal gendong Dan dari tadi. Dan sudah besar, berat badannya juga bertambah signifikan.”


“Tidak apa-apa, Ev. Lagi pula Dan terasa seringan bulu,” canda pria bermarga Wijaya tersebut.


Wanita cantik itu menggelengkan kepala—tak habis pikir dengan sikap kekeuh pria tersebut. Padahal putranya sudah menempeli dirinya semenjak satu jam yang lalu. Mungkin baru sekitar tiga puluh menit yang lalu putranya jatuh terlelap karena kekenyangan. Bocah lelaki berusia 5 tahun itu tampak terlelap dengan damai di dada bidang putra Wijaya tersebut. Mereka memang sempat dinner di luar sebelum pulang ke apartemen.


“Pindahkan Dan saja ke kamar, D. Nanti tangan kamu kesemutan jika terlalu lama—“


“I’am fine, Ev. Kenapa sih kamu nyuruh aku pindahin Dan? Segitu pelitnya kamu sama putra sendiri, sampai-sampai dia tidak boleh berbaring di tempat biasa kamu membaringkan kepala?” sela pria rupawan tersebut, menggoda sang lawan bicara.


“Terserah kamu deh,” balas si pemilik nama seraya mencubit bisep pria di sampingnya.


“Gak kerasa, Ev. Bisa ditambah volume cubitannya?” goda sang kekasih.


“D, gak usah bercanda, ya!”


Pria rupawan itu tertawa renyah kala berhasil membuat sang kekasih kesal. “Wait. Aku pindahin Dan ke kamar dulu, baru ladenin kamu.” Katanya, kemudian beranjak dari posisi duduknya. Membawa serta bocah mungil dalam gendongannya yang tengah terlelap.


“Apaan sih,” ketus Ev.


Wanita cantik itu diam-diam menyunggingkan senyum tipis seraya ikut beranjak. Ikut mengekori sang kekasih yang tampak telaten memindahkan putranya ke tempat tidur. Pria itu juga tidak lupa menurunkan suhu AC, lalu menarik selimut agar menutupi tubuh putranya.


“Ayo.”


“Kemana?” bingung wanita cantik yang masih aktif bekerja sebagai model tersebut.


“Dating,” jawab si pria seraya mengedipkan sebelah matanya jenaka.


“Masa Dan mau ditinggal,” protes si wanita saat pria itu menutup pintu dan membawa tubuhnya ikut beranjak karena tarikan jemari milik pria tersebut.


“Kencannya di ruang tamu aja, jangan jauh-jauh,” tambah si empunya nama. Membuat sang kekasih memberenggut sebal.


“Tadi katanya mau diladeni, sekarang kok malah diam?” tanyanya saat mereka sudah kembali mendudukkan diri di salah satu sofa yang berada di ruang tengah, bersisian dengan sebuah aquarium berukuran medium yang menjadi tempat tinggal anak lain si pemilik apartemen.


“Kenapa? Ada yang menganggu kamu?” tanya Dean seraya menyelipkan anak-anak rambut sang lawan bicara ke belakang telinga. “Kamu lagi mikirin your ex-husband?” tebaknya.


“No,” jawab Ev.


“And then?”


“Aku cuma bingung. Kenapa tiba-tiba kamu mengundurkan diri dari posisi CEO di D’EV.” wanita cantik itu menoleh ke samping, menatap pria tampan di sana dengan lekat. “Kenapa juga kamu memilih aku untuk mengisi posisi itu?”


Dean tersenyum lembut seraya membelai sisi wajah sang kekasih. “Karena posisi itu memang milik kamu. Aku dedikasikan D’EV untuk kamu, ‘kan?”


“Iya, tapi aku tidak punya pengalaman apa-apa soal posisi itu, D.”


“Jangan takut, Ev. Aku tahu kamu bisa mengatur D’EV. D’EV itu ibarat mimpi kamu. Aku percaya kamu pasti tahu harus melakukan apa untuk membuat mimpi itu kian berkembang pesat. Lagipula aku juga masih tetap kerja di D’EV, walaupun sesekali. Kamu tidak lupa jika aku owner D’EV bukan?”


“Iya, aku tentu saja ingat.” Ev menjawab seraya mencubit bisep sang lawan bicara.


“Kenapa sih kamu suka nyubit lengan aku? Gemes ya?” Tanya si empunya nama, penasaran. Alih-alih kesakitan setiap kali dicubit, dia malah merasa geli.


“Kemana hilangnya lemak-lemak di tubuh kamu yang membuat kamu terlihat cute? I miss it.” Jujur Ev.

__ADS_1


“Kamu mau aku fat lagi?”


Ev menggeleng. “Aku paling benci masa-masa itu. Masa di mana kamu terlihat sangat lemah dan tidak berdaya.”


Mendengar kalimat itu, Dean tersenyum tipis seraya menyerukan wajahnya di pucuk kepala sang kekasih. “Itu dulu, sebelum aku jadi manusia goodlooking.” Katanya pelan. “Saat itu aku gemuk, jelek, lemah, dan tidak berdaya. But, you make me change. Oleh karena itu sekarang dunia mengenal Dean Wijaya dengan wajah seperti ini.”


“Kamu berubah karena tekad kamu sendiri, bukan karena aku. Aku ini cuma supporter kamu.”


“Best supporter. Best partner in my live.” Pria rupawan itu tersenyum lagi sembari membawa sang kekasih dalam dekapan.


“Aku takut, D?” bisik Ev pelan, seraya membalas pelukan tersebut. Untuk pertama kalinya Ev mau membagi ketakutannya pada orang lain.


“Takut kenapa hm?”


“Kamu tiba-tiba menduduki posisi yang selama ini Darren dapatkan dengan berbagai cara juga usaha. Aku takut dia gelap mata dan malah berbuat gegabah. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”


“Tidak akan ada yang berani menyakitiku, Ev. Kecuali Tuhan dan kamu,” balas pria bermarga Wijaya tersebut.


Hari ini memang cukup berat baginya. Setelah membuat keputusan untuk menyerahkan posisi CEO pada sang kekasih, dia ditunjuk sebagai CEO di perusahaan inti milik keluarga Xander. Dikarenakan Dan belum genap berusia 17 tahun, sementara itu pemilik saham terbesar setelah Dan adalah dirinya. Oleh karena itu, setelah menjemput Dan di mansion Xander, Dean sempat membawa Ev dan Dan ke perusahaan Xander untuk menghadiri rapat umum pemegang saham atau RUPS yang diselenggarakan secara tiba-tiba dan bersifat rahasia.


Dalam rapat tersebut, Dazen Xander memimpin jalannya rapat selaku pemilik perusahaan. Pria itu juga mengenalkan cucu satu-satunya sekaligus calon pewaris keluarga Xander satu-satunya. Nama Palacidio Daniel Adhitama Xander kemudian dicatatkan secara sah sebagai pewaris utama keluarga Xander. Jika usianya sudah genap 17 tahun, maka semua hak, aset, dan posisi yang seharusnya dia miliki akan resmi menjadi miliknya.


Mulai besok Darren bukan lagi CEO di perusahaan milik keluarganya sendiri, melainkan rival abadinya—Dean Wijaya. Putra dari keluarga Wijaya yang dulu sekali pernah menjadi korban bully geng Darren saat masih duduk di bangku sekolah, hanya karena masalah kondisi fisik. Body shaming istilahnya. Mereka bahkan sempat membuat perundungan yang hampir mengakibatkan putra kesayangan keluarga Wijaya itu menyerah untuk bertahan hidup.


Namun, semua berubah semenjak dia mengetahui wacana keluarga Atmarendra yang hendak menjodohkan putri satu-satunya dengan keluarga Xander. Sudah bukan rahasia umum lagi jika keluarga Atmarendra selalu mengusahakan yang terbaik bagi putra-putrinya, tidak terkecuali soal pasangan hidup. Mulai dari El, Ed, hingga Ev. Ketiganya sama-sama sudah dipilihkan pasangan hidupnya. Mulai dari El yang dijodohkan dengan putri seorang bangsawan kaya raya asal Kanada. Namun, pernikahan itu tidak bertahan lama karena wanita pilihan keluarganya memilih lari bersama kekasihnya. Oleh karena itu hingga saat ini El memilih menetap di luar negeri dan mengurus pekerjaan di sana, karena hubungannya dengan keluarga Atmarendra kurang baik semenjak insiden tersebut.


Kemudian ada Ed—kakak kedua Ev—yang dijodohkan dengan mantan finalis putri Indonesia yang mewakili daerah Yogyakarta. Pria yang kini menjabat sebagai menteri itu masih bisa mempertahankan pernikahannya, sekali pun dilandasi oleh perjodohan karena dia dan sang istri sama-sama memiliki pemikiran yang sama, yaitu sepakat untuk mempertahankan pernikahan dan mencoba untuk saling mencintai. Sekali pun di awal-awal pernikahan mereka tetap seperti orang asing yang tinggal satu atap.


Terakhir, putri bungsu dan satu-satunya di keluarga Atmarendra dijodohkan dengan keluarga Xander. Keluarga paling potensial untuk princess mereka, terutama menurut William Xander.


“Mulai besok kita akan menempati posisi CEO di tempat yang berbeda, Ev. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk mempertahankan posisi CEO sampai tiba waktunya Dan yang mengisi posisi tersebut,” bisik Dean, berjanji pada sang kekasih hati. “Aku akan melakukan yang terbaik supaya kamu maupun Dan tidak lagi merasa terancam.”


🥀🥀


“Anda menyakiti putra Anda karena kesalahan Anda sendiri,” jawab Damian seraya mencoba berdiri dengan sisa kekuatannya. “Jika hari ini Anda kehilangan hak atas putra Anda, ataupun posisi CEO, semua itu murni karena kesalahan, kelalaian, ketidak konsistenan dan ketidak becusan Anda sebagai seorang ayah, maupun seorang pengusaha.”


“Tuan Damian memberikan dokumen ini untuk Anda.” Elgara—bodyguard yang menyodorkan sebuah berkas dalam map coklat itu berujar. Di hadapannya, sang atasan tengah menikmati segelas Americano.


“Apa ini?” tanyanya.


“Tuan Damian berkata ini tugas terakhirnya sebagai sekretaris Anda.”


Darren menautkan kening, kemudian tangannya terulur mengambil map berisi berkas tersebut. Dengan segara dia membuka, lantas mengeluarkan isi map tersebut. Ada dua berkas yang berbeda di dalamnya. Yang pertama berkas tentang hak asuh yang dulu sempat dia minta dibuatkan pada lawyer. Sedangkan satu berkas yang lain kian membuat keningnya bertautan. Kalimat yang berbunyi ‘SURAT PERJANJIAN PERCERAIAN’ tertera dengan sangat jelas karena dicetak dengan huruf kapital.


Ingatannya kemudian terlempar pada pembicaraannya dengan lawyer—saat itu dia memang meminta dibuatkan surat cerai jika anak dalam kandungan sang mistress sudah lahir ke dunia. Ternyata lawyer itu sudah melakukan tugasnya dengan baik. Bahkan Damian—yang baru saja jadi samsak hidupnya—telah melakukan tugasnya dengan baik hingga detik ini.


Di sini dia baru menyadari tindakannya sebagai atasan terlalu arogan karena mudah tersulut emosi. Padahal selama ini bawahan-bawahannya bekerja dengan kesetiaan yang tidak perlu diragukan lagi, tidak terkecuali Damian.


“Gugatan perceraian, ya?” gumamnya lirih.


“Tuan Damian juga berpesan agar Anda menghubungi lawyer jika ada yang perlu diperbaiki.”


Darren berdeham sebagai respon. Dia masing mempertimbangkan masalah perceraian dengan sang mistress. Di satu sisi dia tidak yakin bisa mempertahankan pernikahan mereka. Di sisi lain dia juga merasa jadi pria double brengs*k karena menceraikan wanita itu dalam keadaan tidak berdaya. Apalagi saat ini dia tengah mengalami Depresi postpartum. Setelah berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter, dia mengetahui bahwa kondisi sang mistress masuk kategori yang sangat mengkhawatirkan. Wanita muda itu butuh penanganan yang tepat, dan support yang orang-orang terdekat. Sedangkan, di sini dia tinggal sebatang kara.


“Panggil bodyguard yang kemarin ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadi wanita itu,” katanya kemudian. Tangannya mulai bekerja, memijit pelipis yang mulai terasa sakit. Sekarang dia bahkan terbiasa menggunakan kata ganti ‘wanita itu’ untuk merujuk pada sang mistress.


“Kebetulan saya yang bertugas menjadi pengawal pribadi nona Ella, tuan,” jawab Elgara, lugas.


Damian menaikkan pandangan. Menatap pria berkulit kecoklatan yang berdiri tegap di hadapannya.



“Apa kamu siap ditugaskan di daerah pedalaman, seperti yang sudah tertera di kontrak perjanjian?” tanyanya memastikan.


Elgara mengangguk dengan mantap. “Ya. Saya siap, tuan.”


“Hm.” Darren menghela napas lega untuk sejenak. “Setelah keluar dari rumah sakit, saya akan mengatur kepergian kalian ke sana. Tolong jaga wanita itu dengan baik.”

__ADS_1


“Baik, tuan.”


“Tempat itu merupakan kampung halamannya. Namun, setelah apa yang terjadi, pasti warga desa akan mencemooh dirinya. Tugasmu adalah untuk menjaga wanita itu dari semua tindakan yang dapat menyakitinya, baik secara fisik maupun psikis. Setiap bulan kebutuhan pokok kalian di sana akan aku cukupi. Begitu pula dengan kebutuhan keluarga yang kamu tinggalkan di sini.”


Elgara menggelengkan kepala dengan sopan. “Saya hidup sebatang kara, tuan. Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia, begitu pula dengan saudari saya,” paparnya.


“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu.”


Elgara mengangguk seraya tersenyum kecil. Ya, dia hidup sebatang kara, tanpa keluarga atau sanak saudara. Seperti wanita simpanan sang tuan yang masih terpenjara di atas bed rumah sakit.


“Kemana pun Anda memerintahkan saya pergi, tidak akan ada yang menunggu kepulangan saya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Elgara tanpa emosi. Lagi pula semenjak menandatangani kontrak perjanjian kerja dengan keturunan Xander itu, Elgara sudah bertekad bulat untuk setia. Toh, ini salah satu caranya untuk membalas budi atas perbuatan mulia yang dulu dilakukan oleh keturunan Xander tersebut.


“Kalau begitu kamu bisa pergi tanpa beban.”


“Iya, tuan.”


Darren mengangguk, paham. “Kamu akan menjaga wanita itu hingga kondisinya lebih memungkinkan. Atau sampai ada seorang pria tulus yang mau menerima kehadirannya sebagai seorang pasangan.”


Elgara tampak terhenyak mendengarnya. “Maaf, jika boleh tahu, apa maksud dari kalimat terakhir Anda, tuan?”


“Kami akan bercerai,” jawab Darren setelah menandaskan Americano miliknya.


‘Bercerai?’ batin Elgara. ‘Tega sekali tuan menceraikan wanita yang baru saja kehilangan bayinya. Bahkan kondisinya masih sangat mengkhawatirkan,’ lanjutnya di dalam hati. Tanpa sadar kedua tangannya terkepal karena emosinya tiba-tiba meningkat.


“Bercerai adalah jalan terbaik supaya wanita itu tidak lagi tersakiti. Aku sudah gagal mempertahankan wanita yang kucintai, jangan sampai aku menyakiti wanita itu lagi karena kegagalanku untuk kedua kali.” Darren menunduk untuk sejenak.


Perceraian adalah jalan terbaik. Dia percaya itu. Dia sudah gagal pada pernikahan pertama. Begitu pun pada pernikahan kedua yang memang dilakukan dengan cara tidak benar. Perceraian ini juga merupakan cara agar wanita itu tidak lagi menderita bersamanya. Toh, Darren sendiri tidak tahu hidupnya akan bagaimana kedepannya. Dia tidak lagi memiliki kejayaan yang dulu dia bangga-banggakan. Yang tersisa hanyalah puing-puing reruntuhan dari masa kejayaannya.


Dari hasil rapat umum pemegang saham atau RUPS, telah disepakati jika dia digulingkan dari posisi CEO. Sekarang posisi tersebut diisi oleh sang rival—Dean Wijaya. Yang dia sayangkan, posisi yang dia dapatkan dengan susah payah itu dengan medah direbut oleh rivalnya. Cih, miris sekali.


“Setelah keluar dari rumah sakit kalian pergilah. Aku juga akan memutuskan semua komunikasi dengan wanita itu agar dia bisa melupakanku,” tambah Darren santai, tanpa sadar kian membuat lawan bicaranya geram. Ingin sekali menampar sang atasan karena dia baru menyadari jika atasannya itu amatlah brengs*k.


“Dengan demikian wanita itu akan—“


PLAK!


Ternyata Tuhan menjawab keinginan Elgara dengan cepat lewat tangan mungil milik seorang wanita yang tengah hamil besar. Wanita cantik itu menampar sang atasan dengan sangat keras hingga membuat bekas cukup permanen di wajahnya.


“DASAR PRIA TIDAK TAU DIRI?!” bentak wanita hamil tersebut seraya berkacak pinggang di hadapan Darren.


“Kurang apalagi suami aku sama atasan gak tahu diri kayak kamu, hah? Kurang apa lagi!” dia—Dewita—istri Damian yang datang dengan segenap emosi di dalam hati, akhirnya mengeluarkan unek-unek di kepalanya satu per satu. “Ini balasan atas kesetiaan yang Damian berikan selama bertahun-tahun?!” katanya seraya menunjuk-nunjuk keturunan Xander tersebut.


“Damian, suami aku adalah satu-satunya orang yang selalu berpihak kepadamu di saat semua orang meninggalkan kamu karena sikap egois kamu. Dia setia kepadamu hingga detik ini, kecuali saat aku memintanya untuk menyembunyikan kebenaran soal Dan.”


Darren memicingkan mata mendengarnya. Jadi Damian berkhianat karena permintaan istrinya, batinnya.


“Jika kamu bertanya kenapa, itu karena aku mau kamu menceraikan Ev. Aku tahu kamu akan berupaya keras untuk rujuk dengan Ev jika tahu kalian memiliki seorang putra selama ini.”


Darren memejamkan matanya sejenak. Meresapi rasa kesal yang muncul pasca mendengar fakta tersebut. Ternyata selama ini sang sekretaris tidak berniat untuk berkhianat.


“Ingat ini baik-baik Darren Aryasatya Xander.” Dewita kembali buka suara seraya meredam emosinya yang kian bergejolak. “Aku bisa saja speak up ke media masa yang berkumpul di luar sana dan membeberkan semua perbuatan brengs*k kamu terhadap Ev. Tapi, aku tidak sepicik itu.”


Mantan model itu mendekat, menatap lawan bicaranya. Dari dulu dia mengakui ketampanan putra Xander tersebut, namun sayang akhlaknya kelewat minus.


“Aku cuma mengingatkan kamu, jika Tuhan tidak pernah tidur. Hari ini kamu telah menghajar suami aku tanpa ampun, satu-satunya orang yang tetap setia kepada kamu hingga akhir. Dia bahkan tidak melakukan perlawanan. Suatu saat nanti, kamu akan ditinggalkan oleh semua orang. Kamu akan kehilangan semua orang-orang yang kamu sayang.”


“….”


“Mulai detik ini, suami aku bukan lagi bawahan kamu. kamu dengar itu, Damian Widyatama bukan lagi pesuruh Darren Aryasatya Xander!”


🥀🥀


TBC


BAH, DARREN KAMU MULAI KEHILANGAN SOKONGAN BAIK SATU PER SATU 😌☺️


Sukabumi 28/04/22

__ADS_1


__ADS_2