Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M8 : BUKTI DIKHIANATI


__ADS_3

M8 🥀: BUKTI DIKHIANATI


Seorang wanita cantik tengah menikmati pemandangan kota dari atas Tower Bridge. Mobil yang ditumpanginya melaju dengan kecepatan rata-rata, membelah jalanan kota London yang cukup landai. Di sampingnya, seorang wanita muda tengah sibuk mengoperasikan MacBook. Sedangkan di kursi penumpang depan ada sang manager yang tengah sibuk memesan makanan secara daring. Memastikan jika setibanya mereka di tempat mereka menginap, makanan telah tersedia dan siap santap. Bersebelahan dengan driver yang kebetulan asli warga Negara ini.


“Ev, aku pesankan soft shell crab salad buat you makan. Menu itu lumayan berat buat bekal lambung,” ujar sang manager, buka suara. “Aku juga memesan buah segar dan protein milkshake.”


“Hmm,” respon si pemilik nama singkat.


Ia tidak memiliki tanaga lebih untuk menjawab. Toh, sang manager tahu apa yang bisa ia makan dan tidak. Karena tidak semua jenis makanan dapat diterima oleh lambung Ev. Hanya segelintir orang yang paham betul betapa pemilihnya lambung Ev untuk urusan makanan.


Tiba di hotel tempat mereka menginap, pesanan Dimi sudah diantarkan. Bukan hanya memesan soft shell crab salad, Dimi juga memesan protein milkshake untuk Ev. Lengkap dengan kudapan rasa asin dan manis untuk Ev. Sedangkan ia sendiri memilih memesan stick burger—burger isi keju dengan topping creamy souce dan brokoli yang dibumbui spicy—kemudian Dimi juga memesan beberapa menu kaya akan micin lainnya, karena ia memang pecinta micin. Sedangkan untuk asistennya, pria itu memesankan pasata Aglio E olio with salmon dan beberapa buah cup cake dan dessert box.


Dimi memang cukup selektif jika menyangkut perut. Apalagi saat ini Ev tengah menjalani pemulihan agar cidera yang dialaminya cepat sembuh. Ev juga mengalami facture saat dilakukan pemeriksaan scan. Walaupun tidak sampai patah, tetap saja hal itu menambah daftar panjang cidera yang Ev alami. Ia bahkan dilarang mengikuti catwalk hingga dua bulan ke depan. Oleh karena itu Dimi langsung membawa Ev berobat ke Negara ratu Elizabeth guna mempercepat pemulihan. Sekaligus untuk memberikan Ev waktu rehat barang sejenak.


“Wah, Dior masih menduduki top brand selama dan setelah Paris Fashion Week,” ujar asisten Ev, membuka percakapan. Wanita itu memang cukup up to date jika urusan dunia fahion. “Disusul juga oleh LV, chanel, Balmain, sampai Miu miu.”


“Iya. Soalnya global brand ambassador mereka bawa hoki,” timpal Dimi yang baru saja menuangkan cola dingin ke dalam gelas.


“Mungkin karena global brand ambassador mereka udah famous juga, jadi mudah naikin popularitas.”


Evelyn yang tengah duduk di sofa panjang dengan sebelah kaki di-gifs hanya menyimak pembicaraan keduanya seraya menikmati buah melon segar yang telah dipotong dadu. Rasanya manis, mungkin karena melon yang ia kunyah termasuk varietas unggulan. Saat ini mereka tengah berada di ruang keluarga, menonton televisi yang tengah menayangkan informasi seputar Paris Fashion Week musim ini yang batal Ev kunjungi.


“Sabar ya Ev, dua bulan kemudian you baru bisa beraksi di catwalk lagi.”


Ev tersenyum tipis seraya mengangguk. Ucapan Dimi yang tiba-tiba membahas soal pekerjaan itu menggelitik relung hatinya. Sebenarnya, Ev memang cukup terbebani karena kecelakaan yang menimpanya. Banyak pekerjaan yang terbengkalai. Namun, Ev bisa apa jika memang sudah takdirnya ia diberi cobaan dalam bentuk kecelakaan.


“Dim, aku istirahat duluan.” Ev beranjak dari posisinya. Dengan gerakan perlahan, wanita cantik dalam balutan dress sederhana dari Chanel melangkahkan kakinya menuju kamar.


Dimi memang memesan suite mewah dengan fasilitas tiga kamar tidur, ruang keluarga terpisah, mini bar full stok, kamar mandi dengan shower berdinding kaca, dapur mewah, private swimming pool, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya. Ev mendapatkan kamar tidur dengan view yang menghadap ke pemandangan kota London, sedangkan Dimi menempati kamar lain yang bersebelahan dengan asisten Ev.


Ev menatap pemandangan gemerlap kota London dari atas ketinggian dengan gamang. Cahaya-cahaya dari lampu yang ada di setiap penjuru, seperti ribuan bintang yang malam ini absen menghiasi langit. Ev sempat menduga akan turun hujan karena langit tampak begitu gelap, tetapi kenyataanya tidak. Sembari menikmati pemandangan dari ketinggian, Ev mendudukan dirinya di atas sofa panjang. Meluruskan kakinya yang dipasang gifs.


Ketika tengah menikmati me time-nya sembari menatap pemandangan kota London dari ketinggian, getaran dari teleponnya yang tersimpan di atas meja membuat Ev mengalihkan perhatian. Diambilnya benda yang layarnya tengah menyala tersebut, kemudian Ev menggeser icon hijau. Ternyata ada panggilan via video yang masuk atas nama Dewita.


“Ev, akhinya kamu angkat telepon aku!” ujar suara nyaring dari seberang.

__ADS_1


Ev tersenyum tipis saat layar teleponnya menampilkan siluet seorang wanita cantik dengan background sebuah florist.


“I sorry, Dew. Tadi aku sedang ada urusan di luar,” jawab Ev jujur.


Dewita adalah mantan patner Ev di dunia modeling. Setelah dinikahi oleh seorang sekretaris kaya raya yang tak lain dan tak bukan adalah sekretaris Darren, Dewita banting stir menjadi owner barkery dan mengelola sebuah florist yang cukup terkenal di ibu kota. Tidak mudah baginya melepas karier di dunia modeling. Mengingat dunia modeling lah yang telah membesarkan namanya. Namun, hal itu sudah menjadi keputusan Dewita kala ia menerima lamaran dari pria yang dicintainya.


“How are you darl? Aku dengar cidera yang kamu alami cukup parah. Sampai-sampai harus di-gifs, ya?”


Ev tersenyum tipis seraya mengangguk. “Cuma cidera ringan, Dew. Facture juga.”


“OMG. Aku turut berduka ya, Ev. Maaf tidak bisa menengok kamu ke rumah sakit, soalnya waktu itu aku juga masih jetlag. Maklum lah, baru pulang honeymoon circle 2.”


Terdengar tawa riang dari seberang. Raut bahagia tampak di wajah ayu khas wanita Indonesia tersebut. Ev cukup mengenal Dewita, mengingat mereka pernah merasakan pahit-asam-manis-nya dunia modeling bersama. Semenjak menikah dengan Damian, Dewita memang jauh lebih tampak bahagia. Sekalipun ia sesekali sempat curhat pada Ev jika ia rindu dengan sensasi saat berlenggak-lenggok di atas catwalk.


“Don’t worry, Dew. Take your time. Lagipula cidera ini juga tidak terlalu parah. Mungkin dua atau tiga bulan aku harus off catwalk.”


“Iya. Sekarang yang paling utama adalah kesehatan kamu, Ev. Soal pekerjaan, bisa di-cancel dulu lah. Aku yakin Dimitri pasti bisa cancel jobdesk kamu untuk sejenak.”


Ev mengangguk seraya mengulas senyum. Obrolan mereka kemudian berlanjut pada cerita honeymoon circle 2 antara Dewita dan Damian di Labuan bajo. Dewita memang sejujur itu dengan Ev. Dulu saat sekolah modeling di Paris, mereka juga sempat tinggal bersama. Kepribadian Dewita yang humble dan easy going membuatnya mudah membangun relasi pertemanan. Sejauh ini, Ev berteman dengan Dewita karena memang Dewita bukan sosok teman yang toxic.


Awalnya Ev sempat terkejut saat mendengar berita pertunangan Dewita dan Damian mengingat berkepribadian mereka yang 180° berbanding terbalik. Jika Dewita itu humble dan easy going, Damian lebih condong kearah pribadi yang irit bicara dan membatasi pergaulan. Dewita juga tergolong wanita yang cerewet dan happy virus, tidak bisa diam dan paling anti jika dibatasi. Namun, semenjak menjalin hubungan dengan Damian, ia mulai berubah.


“Oke,” jawab Ev seraya mengangguk paham.


Tidak lama kemudian sambulan telepon via video itu terputus. Sebelum Damian menyadari jika sang istri tengah melakukan panggilan dengan Ev, Ev sudah mengahkirinya cepat-cepat. Baru saja hendak menyimpan benda pipih tersebut, satu nama kembali muncul di ID Caller. Ev mengernyitkan kening, pasalnya ada nama Dean di ID Caller. Ev memilih untuk mengabaikan telepon tersebut, kemudian melenggang pergi menuju kamar mandi dengan langkah perlahan. Ia tidak memiliki cukup mood untuk menerima telepon dari pria yang masih mengejar-ngejarnya itu.


Lima belas menit kemudian, saat Ev baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Ev kembali mengambil telepon, saat dihidupkan, ada beberapa miscall dari kontak Dean, plus dengan beberapa pesan singkat dari kontak yang sama. Sembari mendudukkan dirinya di depan meja rias, Ev membuka pesan singkat yang Dean kirimkan. Mengingat bukan hanya satu pesan yang pria itu kirimkan, membuat Ev pusing sendiri melihat notifikasinya.


Saat membuka room chat-nya dengan Dean, beberapa butir pesan langsung terpangpang. Tidak lupa dengan beberapa buah foto yang langsung terunduh secara otomatis. Ev menautkan kening saat membaca pesan yang Dean kirimkan. Tautan itu kian dalam kala Ev melihat foto yang telah terunduh secara keselurusan.


Foto-foto tersebut berjumlah lima buah. Foto yang pertama memperlihatkan sebuah rumah dengan pekarangan luas yang didominasi oleh tumbuhan yang hijau. Ev bisa membayangkan betapa sejuknya tinggal di pemukiman yang asri seperti itu. Untuk sekilas tidak ada yang aneh dari foto tersebut. Ev kemudian beralih pada foto kedua. Di foto tersebut memperlihatkan siluet seorang wanita yang tengah sibuk dengan selang air. Foto diambil agak jauh, dengan posisi si wanita memunggungi kamera. Ev kemudian beralih pada foto ketiga. Foto tersebut memperlihatkan siluet seorang pria yang baru saja keluar dari mobil yang terparkir di halaman rumah yang dikelilingi pemandangan yang asri tersebut.


Ev menautkan kening kala memperbesar foto ketiga. Ia kemudian beralih pada foto keempat yang memperlihatkan si wanita dan pria yang saling berpelukan. Dilanjut dengan foto kelima, di mana keduanya tampak bergandengan tangan memasuki rumah. Ev baru menyadari sesuatu saat mengamati lebih detail siluet si pria. Mulai dari kendaraan yang digunakan, pakaian, postur tubuh, hingga gaya rambut. Sekalipun foto diambil dari jauh, dengan posisi objek membelakangi kamera, Ev yakin familiar dengan si pria.


Ev yakin jika mobil yang digunakan pria dalam foto tersebut familiar di matanya. Ia juga familiar dengan pakaian yang digunakan pria dalam foto tersebut. Postur tubuh tinggi, tegap, warna kulit, hingga potongan rambut. Tidak salah lagi, Ev mengenal siluet tersebut. Siluet yang tak lain dan tak bukan adalah suaminya sendiri.

__ADS_1


Ev terdiam untuk sejenak. Tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Jikalau benar itu Darren, suaminya. Ev harus apa?


Pria itu memang suaminya. Namun, hanya sebatas di atas kertas. Kendati demikian, yang membuat Ev kecewa adalah tindakan pria itu yang telah berbohong dibelakangnya. Darren telah mengingkari perjanjian mereka dengan cara melanggar sebutir rules yang tertera di dalam kontrak yang mereka setujui.


Selama 5 tahun usia pernikahan kontrak mereka, Ev selalu menjaga batasan yang telah disetujui. Ia selalu menjaga image sebagai seorang istri, terutama statusnya sebagai istri Darren Aryasatya Xander. Ev juga selalu mengutakan keluarga, baik keluarganya sendiri maupun keluarga Darren. Oleh karena itu, Ev selalu berusaha menghadiri setiap acara keluarga yang digelar, sekalipun tidak ada Darren di sisinya. Ev selalu berusaha menguatkan hati dan menulikan telinga saat berbagai pertanyaan mampir, terutama soal momongan. Sehingga Ev kebal mendengar pertanyaan seputar ‘kenapa Ev belum hamil juga?’ dari pihak keluarga dan kerabat.


Namun, apa yang Ev dapatkan pasca berjuang selama 5 tahun ini? Kebohongan dan pengkhianatan. Darren telah mengingkari janji. Pria itu telah membohonginya. Ev sadar jika Darren belakangan ini berubah cukup dratis. Pria itu menjadi semakin tidak tersentuh. Ia jarang pulang dengan alasan pekerjaan, sulit dihubungi, bahkan kerap kali mangkir kala ada pertemuan keluarga.


Lima tahun terasa cukup bagi Ev menajamkan intuisi sebagai seorang istri. Jika ditanya apakah Ev kecewa? Of course YES. Hati istri mana yang tidak terasa sakit saat suaminya kedapatan berkhianat?


Walaupun mereka menikah karena perjanjian, seharsunya bukan begini cara Darren menyuarakan tindakan pemberontaknya. Jika pria itu merasa kurang mendapatkan ‘something’ dari Ev, seharusnya Darren mengatakannya secara gamblang. Bukan begini caranya.


Ev meremas baju bagian di mana hatinya berada. Sesak dirasa mendera, kala bayang-bayang suaminya tengah bersama wanita lain tersenyum bahagia. Ev sempat menyangkal opini jika suminya telah memiliki wanita lain. Sempat, sebelum Dean memberikan bukti yang semakin memperkuat opini tersebut. Ketika tengah larut dalam bayang-bayang menyesakkan dada, suara ringtone telepon membuat Ev kembali mendapatkan kesadaran.


Nama Dean kembali muncul di layar. Untuk sejenak, Ev mempertimbangkan untuk menerima atau menolak sambungan tersebut. Namun, detik berikutnya, jemari yang dihiasi nial art cantik itu bergerak menggeser icon hijau. Membiarkan suara seorang pria di seberang sana mengalun sedetik kemudian.


“Bagaimana, Ev. Sekarang kamu percaya jika suamimu tidak setia?”


Ev tidak menjawab, masih dengan telepon yang tersangga di telinga.


“Ev, kamu masih mendengarkan?” tanya suara di seberang.


“Apa sebenarnya tujuan kamu melakukan semua ini, Dean?” Ev buka suara pada khirnya. Terdengar suara kekehan ringan dari seberang.


“Tujuanku? Tentu agar kamu sadar, Ev.”


“Kamu tidak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku dengan Darren.” Ev menghela nafas perlahan setelahnya. Dean memang sulit diwanti-wanti jika sudah urusan hati.


“Maaf, aku tidak bisa tidak ikut campur jika itu soal kamu, Ev. Tidak akan aku biarkan pria bajingan seperti Darren terus menyakitimu.”


...🥀🥀...


...TBC...


...Gimana part ini?...

__ADS_1


...jangan lupa like 👍 Komentar 💌 Tekan icon ♥️ share 📲 dan follow Author 🥰...


...Sukabumi 07/10/21...


__ADS_2