Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M76 : APAKAH INI KARMA-NYA?


__ADS_3

...SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1443 H....


...MINAL AIDZIN WAL PAIDZIN. MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN 🙏🏻...


M76 🥀 : APAKAH INI KARMA-NYA?


“Maaf, kartu Anda sudah tidak dapat digunakan, tuan.”


“A-pa?” kaget pria berkemeja hitam tersebut. “Coba yang ini,” ujarnya seraya menyodorkan katu berwarna hitam pada waiters di hadapannya.


“Yang ini juga sudah tidak dapat digunakan, tuan.”


“****!” umpat keturunan Xander itu murka. Hanya untuk membayar segelas coffe dari coffe shop langganannya saja, sekarang dia tidak mampu. Hampir semua kartu ATM yang dia dapatkan dari perusahaan sebagai fasilitas penunjang, aliran dananya telah dibekukan. Sekarang dia hanya bisa menggunakan kartu debit miliknya pribadi.


“Kalau begitu gunakan kartu yang ini,” ujarnya seraya menyodorkan black card miliknya. “Bagaimana, bisa?”


Waiters itu mengangguk. Darren baru bisa menghela napas lega setelahnya. Dia harus mempermalukan dirinya sendiri hanya karena lamban membayar segelas coffe. Sampai-sampai antrean di belakangnya mengular. Semua itu tidak akan terjadi jika kartu ATM miliknya tidak dibekukkan.


Padahal baru tiga jalan empat bulan ini dia menikmati gajinya secara utuh pasca bercerai—biasanya sebagian gaji masuk ke rekening Ev sebagai istrinya. Dia juga sudah tidak mendapatkan tunjangan suami-istri sebesar 10% dari gaji pokok, karena sudah bercerai. Yang ada setengah gajinya terancam dipotong sebagian untuk sang mantan istri. Perusahaan milik keluarganya memang berkiblat pada regulasi yang ditetapkan pemerintah. Mantan istri diperbolehkan menuntut setengah gaji dari suaminya. Regulasi tersebut merujuk pada PP nomer 10 tahun 1983 tentang izin perkawinan dan perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil atau PNS. Regulasi ini kemudian mengalami perbaruan setelah keluarnya PP Nomor 45 tahun 1990. (Mohon koreksi jika salah)


Setelah mengendara dengan kecepatan sedang, Darren tiba di perusahaan tempatnya bekerja saat jarum jam menyentuh angka delapan. Darren tiba di perusahaannya bersamaan dengan kehadiran CEO baru yang menggantikan posisinya. Ketegangan tampak tergambar dengan jelas saat dua pria berwajah rupawan itu bersitatap. Mereka berdiri beberapa langkah di depan pintu masuk, di balik pintu kaca yang terbuka lebar itu ada jejeran dewan direksi hingga staf-satf dari beberapa divisi.


“Anda datang di waktu yang tepat,” sapa sang rival, ramah. “Mari masuk bersama, dan tunjukkan ‘keharmonisan’ di antara kita.”


“Cih, keharmonisan?” pria bernama Xander itu berdecih mendengar kalimat lawan bicaranya. “Lupa jika kita tidak seakrab itu?”


“Kita bisa jadi akrab untuk kedepannya.”


“Itu tidak akan terjadi,” jawab Darren lugas. Dengan pandangan datar dia kemudian mendahului sang lawan bicara memasuki perusahaan.


Hal pertama yang dia lihat pasca melewati pintu adalah sebuah penyambutan yang meriah. Lengkah dengan kehadiran sang pemilik perusahaan—owner—yang juga ayahnya sendiri. Dazen Xander.


Seperkian detik berikutnya, memori Darren terlempar pada hari paling bersejarah dalam hidupnya. Di mana hari itu dia juga disambut dengan meriah saat pertama kali bekerja sebagai CEO. Beberapa hari pasca meresmikan pernikahannya dengan Evelyn.


“Mau kemana kamu?”


Langkah kaki berbalut pantofel hitam itu terhenti seketika. “Ke ruanganku, pa. Ke mana lagi?”


“Sekarang ruangan itu bukan milik kamu lagi,” sahut Dazen Xander.


Darren terdiam untuk seperkian detik. Sebelum dia mengagguk seraya tersenyum sengit. “Iya, Darren sudah tahu. Darren bukan lagi pemilik ruangan itu.” Darren menatap sang ayah lamat-lamat. “Tapi, pa, apa kontribusi Darren untuk perusahaan selama ini tidak ada artinya sama sekali? Kenapa papa dengan mudah menggulingkan Darren? Bukan kah itu tidak adil?” tanyanya retoris.


“Tentu saja adil,” jawab Dazen santai. “Pasalnya papa sudah menemukan kandidat yang lebih potensial untuk posisi itu.”


“Maksud papa dia lebih potensial dari anak papa sendiri?” Darren ingin tertawa mendengar ucapan sang ayah. “Papa lupa latar belakang putra sendiri? Lupa dengan prestasi dan kontribusi putra sendiri di dunia bisnis?”


“Papa tidak lupa,” kata Dazen. “Tapi, papa juga tidak membenarkan tindakan seorang pemimpin yang melakukan mengkorupsi waktu untuk kepentingan pribadi.”


Bak disambar petir di siang bolong. Darren terbeliak mendengarnya. “Maksud papa?”


Dazen membuang muka, enggan melihat wajah sang putra. “Kamu pikir papa tidak tahu pekerjaan kamu selama menghabiskan waktu di luar kota?”


“Pa, Darren—“

__ADS_1


“Tindakan kamu itu tidak patut dibenarkan,” potong Dazen. “Menggunakan pekerjaan sebagai alasan untuk kepentingan pribadi.”


“….”


“Jadikan ini sebagai pelajaran untuk kedepannya. Tindakan kamu sudah melanggar peraturan yang sudah papa buat. Selain itu kamu juga sudah menyelewengkan jabatan kamu untuk mempekerjakan Damian dengan tidak manusiawi.”


“Apa? Itu tidak benar, pa!” bantah Darren.


“Dewita—istri Damian telah membuat laporan tertulis soal sikap kamu yang semena-mena. Kamu bahkan terancam dipidanakan karena telah melakukan penyerangan.”


“Itu kesalahpahaman,” sangkal Darren. Tidak menyangka jika istri Damian benar-benar membalas balik.


“Kamu bisa memberikan keterangan itu saat bertemu dengan bagian HRD.” Dazen berkata demikian setelah menatap sang putra sejenak. “Sekarang kemarilah, berikan ucapan selamat pada CEO yang baru.”


Darren menatap sang ayah tidak percaya. Kedua tangannya mengepal erat, meresapi rasa malu karena ego yang tertumpas habis-habisan. Dia tidak sudi sama sekali memberikan ucapan selamat pada seseorang yang telah merebut posisinya. Tidak akan pernah.


“Selamat? seseorang yang bisanya merebut dan memiliki bekas pakai Darren Aryasatya Xander tidak pantas diberi ucapan selamat!"


Oleh karena itu, alih-alih menuruti perintah sang ayah, Darren memilih memutar badan dan meninggalkan tempat tersebut setelah berkata demikian.


Dia tidak akan menjatuhkan ego atau harga dirinya lagi. Dia datang ke sini dengan hormat, dan akan pergi dengan hormat pula. Sebelum diusir tanpa hormat, dia bertekad untuk pergi sebelum mereka melakukan hal tersebut. Sebelum datang ke perusahaan, dia sudah mendapatkan jawaban dari salah satu rekan bisnisnya di luar negeri. Mereka akan datang ke Indonesia untuk memberikan kucuran dana. Darren rencananya akan membangun bisnisnya mulai dari nol. Dia yakin, dia pasti bisa membangun kerajaan bisnisnya sendiri.


“Apa kamu sudah melihat pemberitaan yang sedang tanding topik?”


“Ah, berita soal tuan Darren?”


Pria yang baru saja hendak masuk ke pantry itu terdiam seketika. Langkahnya membatu di depan pintu.


“Iya. Sudah. Sumpah, gue terkejut banget.”


“Entahlah. Namanya juga seorang pria. Pasti ada saja yang kurang, sekali pun sudah diberi yang hampir mendekati kata perfect.”


Pria yang tadinya hendak mengambil air putih paca membenahi banrang-barang miliknya itu, terpaksa mengurungkan niat tersebut. Jiak saja ada office boy yang biasa dia suruh-suruh, dia tidak harus capek-capek mengambil minum sendiri. Hanya saja tadi office boy yang biasa tengah sibuk membantu memindahkan barang-barang CEO yang baru. Alih-alih mendapatkan minum saat tiba di pantry, dia malah mendapati dua staff wanita yang tengah membicarakannya.


Darren juga baru tahu jika Ev telah mengenalkan Dan. Itu pun tanpa disengaja, karena mendengar obrolan dua staff wanita barusan. Maka dengan segera dia membuka handphone, mencaritahu soal kebenaran dari berita simpang-siur tersebut. Ternyata benar, Ev telah memberikan klarifikasi lewat siaran langsung di akun Instagram resminya. Di sana Ev memperkenalkan Dan secara terbuka. Ev juga tidak menutupi fakta bahwa Dan adalah darah daging seorang Xander. Satu fakta yang membuat Darren lega. Karena setidaknya sang putra dikenal dunia sebagai darah dagingnya. Darah daging seorang Darren Aryasatya Xander.


“Ada apa?” tanyanya, pasca menggeser icon berwarna hijau. Tiba-tiba saja sebuah panggilan masuk saat dia tengah menonton siaran langsung yang dibagikan sang matan istri. Ada nama salah satu bodyguard yang dipekerjakan olehnya, tertera di layar.


“Nona Ella kembari mengamuk tuan.”


“Apa? bagaimana bisa?” kagetnya. “Bukannya tadi dia baik-baik saja saat aku pergi?”


“Nona mengamuk setelah melihat berita di televisi. Kemudian nona terus-menerus mencari Anda.”


Pri berambut hitam itu menghela napasnya susah payah. Lagi, lagi, dan lagi masalahnya bertambah. “Aku akan segera kembali dalam sepuluh menit,” ujarnya final.


Dengan segera dia berbalik badan setelah mematikan sambungan telepon. Dia terpaksa pulang lebih cepat karena kondisi sang mistress yang kembali mengkhawatirkan. Wanita itu katanya kembali berulah pasca menonton televisi.


“Astaga, apa dia tidak bisa sehari saja tidak membuatku pusiang?” geramnya lirih.


Dengan kecepatan di atas rata-rata, Darren memacu kendaraan roda empat miliknya. Jalanan sudah cukup lenggang, karena sudah lewat jam sibuk—jam berangkat kerja. Dengan demikian dia percaya diri mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Toh, dia juga harus cepat sampai ke rumah sakit. Namun, semua rasa percaya itu mengundang marabahaya pasca mobil yang dikendarainya memasuki area persimpangan.


Darren melanggar rambu lalu lintas, dia terus melajukan kendaraannya sekali pun lampu merah sudah menyala. Alhasih kendaraan yang ditumpangi olehnya tertabrak oleh kendaraan lain yang datang dari arah berlawanan. Darren tidak sempat banting setir.

__ADS_1


Karena tambarakan yang tidak terelakan itu, kendaraan yang tumpangi Darren terseret hingga terbalik, kemudian menabrak pembatas jalan yang terbuat dari beton. Membuat body mobil buatan Jerman itu rusak berat di beberapa bagian.


Bahkan ledakan terdengar tidak lama setelahnya. Asap dan percikan api kemudian muncul dari bagian depan mobil. Membuat beberapa orang saksi yang kebetulan berada di area tersebut berteriak meminta tolong dengan histeris. Mengkhawatirkan kondisi si pengemudi yang masih terjebak di dalam kendaraan tersebut.


🥀🥀


“Pasien harus menjalani operasi kembali agar bekas jahitan yang terbuka dapat ditangani.”


Dokter wanita yang sudah paruh baya itu bergumam kecil seraya menatap pasien di atas bed rumah sakit di hadapannya. Pasien itu baru saja jatuh pingsan setelah dibius karena mengamuk dengan brutal. Wanita itu bahkan membuat ruangan tempatnya di rawat inap seperti kapal pecah. Semua benda yang dia gapai dilemparkan ke sembarangan arah. Pisau buah yang ada di dekat keranjang buah saja hampir melukai bodyguard yang bertugas menjaganya.


“Lalu bagaimana, dok?”


“Kita harus menunggu persetujuan wali pasien.”


“Walinya sedang dalam perjalanan,” jawab Elgara—bodyguard yang kebetulan bertugas. “Selain itu apa ada yang perlu dikhawatirkan lagi, dok?”


Dokter itu mengangguk. “Gejala Depresi postpartum yang dialami pasien semakin buruk. Pasien sudah memasuki ketegori stress berat. Hal ini dapat berakibat fatal pada kondisi kejiwaannya.”


“….”


“Jika terus-menerus begini, paisen bisa saja berakhir di RSJ.”


“RSJ??” bingung Elgara, mencoba meyakinkan pendengaran.


“Rumah sakit jiwa,” tutur si dokter. “Itu adalah opsi terakhir jika kondisi kejiwaan pasien sudah tidak dapat kami tangani.” Dokter wanita itu kemudian menoleh, menatap lawan bicaranya.


“Saya tahu kamu begini karena iba, Elgara.”


“….”


“Iba itu perasaan manusiawi. Namun, jangan sampai karena perasaan tersebut kamu terjerumus ke dalam masalah orang lain,” katanya menasehati. “Saya bicara begini bukan sebagai dokter. Melainkan sebagai seorang yang mengenal orang tua kamu. Sebagai seseorang yang mendapat amanah untuk menjaga kamu.”


“Saya paham, dok.” Elgara menjawab dengan senyum tipis. “Terima kasih atas nasehatnya. Saya akan mencoba mengontrol rasa iba mulai dari sekarang.”


Dokter itu tersenyum untuk seperkian detik. “Kalau begitu saya pergi dulu. Suruh suami pasien menemui saya di ruangan setelah tiba di sini.”


Elgara mengangguk. Kemudian dia meninggalkan dokter itu berlalu. Membuat suasana di ruangan itu kembali di selimuti keheningan. Tatapannya kembali tertuju pada satu titik. Titik di mana seorang wanita muda berwajah pucat nan pasi yang beberapa menit kebelakang memberontak, meracau, dan menangis seperti pasien gangguan jiwa berada. Sungguh miris jika mengingat kejadian tersebut. Dada Elgara bahkan hampir saja terluka karena pisau buah jika respect nya tidak cepat. Untung saja Tuhan masih memberinya kesempatan untuk hidup.


“Kamu ini mempersulit dirimu sendiri. Jika saja kamu memilih mundur dan menerima kenyataan, ending-nya tidak akan seperti ini.”


Elgara menghela napasnya sejenak. “Untuk itu, aku iba kepadamu. Namun, hanya sebatas rasa iba. Tidak lebih. Lagi pula aku punya seseorang yang aku—“ kalimatnya terpotong begitu saja saat mendengar decitan pintu yang terbuka dari luar.


“Apaan?” tanyanya kala wajah sang rekan muncul di balik pintu dengan napas berderu.


“Tuan Darren …..”


Elgara menautkan kening mendengarnya. “Tuan kenapa?”


“Tuan ….terlibat kecelakaan hebat saat dalam perjalanan ke rumah sakit.”


🥀🥀


TBC

__ADS_1


JANGAN lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️


Sukabumi 2/05/22


__ADS_2