Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
PART EXTRA : PLANNING & WISHLIST


__ADS_3

PART EXTRA 🌼 : PLANNING & WISHLIST



Jika seseorang diberi kesempatan untuk melihat masa depan, apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Ada dua kemungkinan yang akan dia pilih setelah mendapatkan kesempatan itu pastinya. Merubah atau membiarkan apa yang dia lihat jadi kenyataan. Namun, jika apa yang dia lihat perlu dirubah, pasti dia akan melakukan berbagai cara untuk merubah alur yang telah dia lihat—agar apa yang telah diperlihatkan tidak pernah terjadi.


Keputusan itu pula yang diambil oleh pria berinisial DAX yang telah mendapati sebuah mimpi yang menurutnya lebih mirip isyarat. Jika mimpi itu jadi kenyataan, maka tidak ada kata ‘happy ending’ bagi akhir hidupnya. Yang ada hanyalah penyesalan juga penderitaan. Sekarang dia terbangun dalam situasi sebelum terjadinya awal perkara dari hidupnya. Ya, awal dari perkara itu dimulai dari mini bar. Oleh karena itu, sebisa mungkin dia tidak keluar dari villa, apalagi sampai mendekati area mini bar.


“Darren, kamu belum mau makan? ini sudah larut, dan sejak tadi kamu terus saja berkutat dengan pena dan kertas.”


Ah, selain membatasi pergerakan agar tidak keluar villa—setidaknya untuk malam ini—pria bermarga Xander itu sejak tadi lebih banyak menghabiskan waktu untuk berkutat dengan pena dan kertas.


“Makanlah terlebih dahulu. Nanti makanannya dingin.”


Wanita cantik yang mengenakan evening dress sederhana berwarna hitam itu kembali bicara. Di hadapannya sudah tersaji beberapa jenis makanan, di antaranya fish and chips, salmon with creamy garlic souce, ada juga menu otentik khas Maldives seperti garudhiya atau sup tuna yang dimasak dengan bumbu sederhana. Selain itu ada pula beberapa jenis hidangan pastry.


Sadar akan perhatian sang istri yang sedari tadi dengan sabar menanti, membuat pria rupawan itu tersenyum tipis seraya menghentikan aktivitasnya.


“Kamu sendiri sudah makan Ev?” tanyanya kemudian seraya meninggalkan pena dan kertas yang sedari tadi dia limpahi perhatian.


“Aku sudah makan beberapa potong pastry tadi. Sekarang aku temani kamu makan saja. Kamu belum makan sejak siang bukan?”


Pria rupawan itu sampai di samping tempat sang istri duduk. “Tapi aku tidak suka makan sendiri, Ev,” ujarnya memberitahu.


“Oleh karena itu aku temani,” sahut sang istri seraya tersenyum manis.


“Makanlah bersamaku,” titah sang suami.


“Tapi—“


“Sesekali makan di atas jam makan malam tidak akan membuat kamu gemuk, sayang.”


Wanita cantik yang baru saja dipanggil ‘sayang’ itu speechless mendengarnya. Dia baru tahu efek dari panggilan dengan embel-embel yang menurutnya cenderung ‘lebay’ itu mampu membuatnya begini.


“Kenapa? Tidak suka dipanggil say—“


“Fine. Aku makan sama kamu,” potongnya cepat.


Darren Aryasatya Xander tersenyum kecil melihat perubahan ekspresi wajah sang istri. Dia menikmati setiap ekspresi yang muncul di wajah cantik itu. Kegiatan sederhana yang tidak pernah bisa dia lakukan didalam mimpi.


Sepasang suami-istri itu kemudian menikmati acara makan malam yang sudah lewat dari jamnya dengan hidmat. Sesekali sang istri—Ev—melayangkan delikan tajam sebagai protesan karena sang suami tak melepaskan pandangan darinya barang sedetik pun. Hal itu tentu membuat Ev salah tingkah. Padahal bisanya sang suami tidak bertingkah demikian.


“Kamu mau kerja lagi?”


Melihat Darren yang kembali mendekati pena dan kertas yang tadi dia tinggalkan, Ev kontan buka suara. Wanita cantik itu kemudian melirik jarum jam yang telah menunjukkan waktu hampir tengah malam. Ev sendiri sudah bersiap untuk tidur setelah menyelesaikan urusannya dengan perawatan malam yang rutin dia lakukan. Setelah makan malam tadi, mereka memang sempat mengobrol sebentar di balkon seraya menikmati pemandangan langit malam dan hamparan lautan yang begitu sunyi.


“Aku hanya ingin membereskan kekacauan yang sudah aku lakukan,” balas Darren. Pria itu kemudian mengambil pena dan kertas yang tadi dia gunakan untuk mencatat beberapa planning dan wishlist.


Sejak tadi dia memang tidak bekerja dalam artian menulis sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan, melainkan mencatat beberapa planning dan wishlist yang ingin dia wujudkan untuk kedepannya. Tanpa sepengetahuan sang istri tentunya.


“Ayo tidur,” ajaknya seraya merangkul pinggang ramping sang istri.


Ev mengangguk tanpa suara. Dia tahu Darren sedang banyak pikiran, terutama soal masalah di perusahaan. Jadi sebisa mungkin Ev menemani pria tersebut, siapa tahu dengan begini dia bisa membantu menghibur Darren walaupun sedikit.


“Jangan terlalu banyak pikiran, Darren. Semua pasti akan baik-baik saja, ada Damian dan orang-orang kepercayaan kamu di sana.”


Darren yang baru saja membaringkan tubuhnya menoleh ke samping, tempat di mana sang istri berbaring.


‘Ah, Ev kira aku masih memikirkan masalah perusahaan ternyata,’ batinnya.


Padahal bukan itu yang Darren pikirkan. Dia cenderung lebih memikirkan cara untuk mewujudkan planning dan wishlist agar dapat mewujudkan akhir cerita yang bahagia untuk mereka. Salah satu wishlist Darren juga menghadirkan malaikat kecil bernama Palacidio Daniel Adhitama Xander. Hasil dari kesalahan satu malamnya dengan sang istri di alam mimpi. Namun, kali ini menghadirkan Dan dengan tata cara yang baik dan benar.


Diraihnya bahu sang istri agar wanita cantik itu semakin dekat dengannya. “Aku tidak akan memikirkan apapun lagi selagi kamu ada di dekatku.”


“Kalau begitu kamu harus bisa tenang. Jangan jadikan masalah di perusahaan sebagai beban.”


“Hm. Sekarang pikiranku hanya akan tertuju kepada kamu.”


Ev tertawa kecil mendengarnya. Dia sungguh tidak menyangka akan mendengar kalimat seperti itu keluar dari mulut pria yang menjadi suaminya.


“Kenapa?” tanya Darren dengan alis bertaut. “Apa ada yang lucu di wajahku?”


Ev menggeleng. “Aku cuma tidak menyangka kamu berkata demikian.”


“Memangnya apa yang salah dengan ucapanku barusan?”


Ev kembali menggeleng. “Kamu benar-benar Darren, ‘kan? Putra Xander yang sangat kaku, yang menikahi aku beberapa minggu lalu?”

__ADS_1


Kening Darren ikut bertaut mendengarnya. “Hm?”


“Aku rasa kamu menemukan kepribadian baru setelah kamu bangun dari tidur panjang mu.” Tawa Ev kini menghilang, digantikan dengan tatapan lurus yang langsung menghunus ke netra lawan bicaranya. “Apa ini karena kamu tidur pas maghrib, ya? Itu kan, katanya pamali.”


“Maksud kamu?”


“Kamu ketiduran sejak sore, kan?”


Darren mengedipkan bahu seraya memainkan anak rambut yang menutupi wajah sang istri. “Entah. Aku rasa tertidur selama beberapa tahun saking lamanya. Aku bahkan bermimpi, dan mimpi itu terasa seperti kenyataan.”


“Iya. Itu karena kamu tidurnya lama. Kamu bahkan meninggalkan waktu beribadah. Kalau kata orang sunda, tidur di waktu mahrib itu pamali.”


Darren tampak berpikir sejenak. Melihat pria rupawan itu berpikir dengan keras hingga keningnya bertaut, membuat Ev gemas sendiri. Tanpa sadar, jemari-jemari lentiknya terangkat guna menyentuh lipatan tersebut.


“Kenapa?” tanya Ev saat tatapan mereka bertemu. Pria rupawan itu menatap Ev makin lekat sehingga membuat Ev mengira jika dia marah. “Maaf kalau tanganku lancang—“


“Kamu tidak lancang, Ev” potong Darren cepat. “Kamu boleh menyentuhku di manapun. Seluruh tubuhku boleh kamu sentuh karena—“


“S—udah, aku mengerti,” potong Ev seraya menyerukan wajahnya di dada bidang Darren.


Sadar jika kalimatnya membuat sang istri salah paham, sudut-sudut bibir Darren bergerak. Menciptakan seberkas senyuman. Tangannya kemudian terulur guna mempererat pelukan dan satunya lagi bergerak menyentuh rambut lembut dan harum milik sang istri.


“Ev,” panggilnya.


“Hm?”


“Kamu mendengar sesuatu?”


“Apa?” bingung Ev yang masih bersembunyi dalam rengkuhan dada bidang sang suami yang hanya dilapisi kaus putih polos. Membuat Ev bisa merasakan dengan betul permukaan kulit berotot di baliknya.


“Di sebelah kiri, coba rasakan dan dengarkan lebih seksama lagi.”


Ev terdiam mendengarnya. Namun, tanpa sadar wanita cantik itu mengikuti interupsi sang suami. Benar saja, setelah mendengarkan secara seksama, Ev mendengar sesuatu yang berasal dari balik rongga dada Darren.


“Kamu mendengar dan Merasakannya? Dia begitu ….karena kamu,” kata Darren. Senyum masih bertahan di bibirnya. Semburat merah yang samar kini bahkan tampak menghiasi wajahnya.


“Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya anggota tubuhku itu bereaksi seperti ini saat dekat dengan kamu.” Pelukan itu kemudian Darren urai, menciptakan jarak di antara mereka agar dapat melihat wajah satu sama lain. “Sebesar itu pengaruh kamu terhadapku, Ev. Tubuh maupun hatiku. Apa kamu tahu, selain organ penting bagi manusia, hati juga berfungsi sebagai penyimpan nutrisi, penghasil protein, tempat memproduksi empedu dan….”


“Dan?” tanya Ev, menunggu kalimat selanjutnya. Karena tiba-tiba Darren membawa-bawa masalah biologi, Ev jadi penasaran sendiri.


“….dan tempat menyimpan cintaku untuk kamu.”


Darren sendiri tertawa lepas melihat ekspresi sang istri. Dia puas melihat wajah merah Ev yang begitu menggemaskan juga cantik dalam waktu bersamaan.


“Belajar dari mana sih gombalan predator seperti itu?” sinis Ev seraya mencubit bisep Darren. Sebal karena pria itu masih saja tertawa.


“Damian,” jawab Darren jujur.


Ev kontan membelalakkan mata mendengarnya. Panta saja, batinnya. Damian yang sebelas-dua belas datar, dingin dan flat seperti Darren mana tahu cara menggoda. Paling mentok, pria itu pasti mencari ‘materi’ untuk menggombal lewat aplikasi pintar seperti google atau tiktok.


“Tapi aku jujur soal sebesar apa pengaruh kamu untuk hidupku, Ev.” Darren kembali buka suara. Tawa tak lagi bersisa. Kini yang tersisa hanya keseriusan di matanya. “Jadi kamu jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku, karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu.”


Ev yang diserang tanpa aba-aba itu hanya bisa terdiam dengan pandangan terkunci pada lawan bicaranya. Darren sungguh berbeda dari Darren yang dia kenal. Darren yang saat ini menatapnya benar-benar menampilkan kesan seorang pria yang begitu jatuh cinta hingga tergila-gila padanya. Bukan Darren yang dulu—yang selalu mementingkan ego, bahkan cenderung menyembunyikan perasaan yang dia rasakan dibalik egonya itu. Karena sifat itu pula, Darren jadi salah satu orang yang sulit ditebak.


“Aku akan melakukan apapun agar kamu tetap tinggal. Karena hidupku hanya terasa cukup jika bersama kamu,” ujar Darren lagi seraya menyentuh surai sang istri. Menyelipkannya ke belakang telinga, agar tidak menghalangi jarak pandang. Pandangannya kemudian jatuh pada sepasang labium ranum yang begitu menarik perhatian.


“Can I kiss you, Ev?” izinnya kemudian.


Membuat Ev terkejut, karena tidak biasanya Darren meminta izin terhadap apa yang ingin dia lakukan.


“Maaf kalau tiba-tiba aku membuat kamu terkejut. Soalnya kamu terlihat sangat cantik sampai-sampai….” Darren memotong kalimatnya seraya memejamkan matanya frustasi. Sial, wajah cantik sang istri yang sejak tadi diam bak wanita penurut ternyata mampu membuat syahwat nya bergejolak.


“Ev, aku tidak bermaksud macam-macam….”


“Aku istri kamu,” potong Ev tiba-tiba. “Kamu punya hak atas aku, karena aku sudah menjadi milik kamu.” dua kalimat yang Ev tambahkan itu ibarat lampu hijau yang bersinar begitu cerah bagi Darren. Membuatnya langsung tersenyum senang seketika.


“Bagaimana jika aku tidak puas hanya dengan satu ciuman?” tanyanya tiba-tiba.


Ev tampak terkejut mendengarnya. Namun, Ev bukan anak kemarin sore. Dia tahu tujuan mereka diasingkan ke tempat ini. Honeymoon bukan kah identik dengan suatu kegiatan yang membuat sepasang suami-istri semakin dekat?


Nah, hal itu pula yang ingin direalisasikan oleh para orang tua. Mereka diasingkan, dijauhkan dari dunia luar agar fokus honeymoon. Supaya sepulang dari tempat ini dapat membawa kabar gembira bagi mereka.


“Maka lakukan apa saja yang membuat kamu puas,” sahut Ev sebagai jawaban dari pertanyaan Darren.


Pria tampan itu menerbitkan senyum semakin lebar. Dikikisnya jarak di antara mereka, sehingga dia dapat mengecup kening sang istri. “Terima kasih karena telah memberi aku izin,” katanya kemudian. Tangannya lantas bergerak meraih bagian belakang tengkuk sang istri agar wajah cantik jelita itu mendongkrak, menatapnya seorang. Tanpa menunggu lama lagi, Darren mengambil alih sepasang labium ranum milik sang istri yang begitu menggoda untuk dia pang--ut.


Awalnya hanya pertemuan dua labium yang menciptakan romansa berdebar di dalam dada, juga rasa manis yang terkecap indra perasa. Seperkian detik berikutnya pertemuan itu sudah mulai berganti menjadi lebih liar. Mulai melibatkan sesa—pan, ku—luman hingga lu—matan yang menggairahkan. Meringkas jarak di antara mereka, hingga meniadakan batasan yang berarti antara sepasang anak Adam tersebut.

__ADS_1


“Ev.”


Mendengar suara bariton berat dan serak itu memanggil namanya, si pemilik nama yang sedang berupaya menormalkan deru napas kembali menatap ke arahnya. Pria rupawan itu kini menjulang di atasnya, tengah berupaya melepaskan penutup bagian atas tubuhnya dengan asal. Setelah berhasil, penutup itu dia lemparkan ke sembarang arah. Kini tubuh atletis yang sudah mengkilap basah oleh keringat itu terpampang secara nyata. Menggoda sepasang tangan untuk menari-nari di sepanjang kulit yang tampak menggoda untuk diraba.


“Kamu bisa bilang sekarang jika ingin berhenti.” Suara berat dan serak karena menahan syahwat itu kembali mengudara. Membuat setiap sel dalam tubuh Ev bergejolak karenanya.


“Selesaikan apa yang sudah kamu mulai Darren. Jangan berhenti.”


Mendapatkan lampu hijau untuk kesekian kali, pria rupawan itu menerbitkan senyum seraya kembali merendahkan tubuh. Mengurung sang istri yang sudah terkulai lemah di bawahnya kembali terpenjara. Syahwat sudah sama-sama melingkupi tubuh keduanya. Mendorong keinginan lebih untuk menciptakan pengalaman pertama yang belum pernah mereka coba.


“Kalau begitu biarkan aku memiliki kamu seutuhnya malam ini,” bisik Darren di telinga sang istri. Dilanjutkan dengan kecupan manis yang dia tinggalkan di pelipis.


Tidak ada lagi kata mundur dalam kamus Darren setelah mendapatkan izin untuk ke sekian. Dirasa sudah cukup melakukan foreplay—pemanasan yang bertujuan untuk menciptakan komunikasi positif antara suami dan istri—Darren mantap melanjutkan ke tahap selanjutnya.


Setelah dua minggu menghabiskan waktu di salah satu pulau atol paling diminati itu, akhirnya mereka baru bisa melaksanakan kegiatan ‘inti’ dari serangkaian acara honeymoon yang telah disusun sedemikian rupa. Darren akan memiliki Ev untuk seutuhnya malam ini. Sekaligus mematahkan mimpi yang sempat menghantui. Meyakinkan hati jika masih ada kesempatan untuk meraih kata ‘happy ending’ bagi akhir cerita mereka.


🌼🌼


“Masih terasa sakit?”


Mendapat pertanyaan demikian untuk ke sekian kalinya, wajah cantik jelita itu kembali memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan pria yang bertanya tanpa dosa itu baru saja menatap sang istri kembali, setelah menyimpan gelas bekas minum sang istri dan dirinya di atas nakas. Menurut penelitian, minum air putih setelah berhubungan dapat membantu mengembalikan cairan yang telah hilang lewat keringat, melancarkan peredaran darah dan baik untuk mencegah kram atau kesemutan.


“Kenapa? Apa sakit sekali rasanya? Muka kamu sampai merah—“


“Stop it!” potongnya seraya membawa jari telunjuknya ke hadapan bibir sang suami. Bibir yang beberapa waktu lalu menari-nari di setiap jengkal kulitnya. Mengingat itu, bibirnya yang agar bengkak kontan menggumamkan kata istighfar.


“Kenapa? Menurut teori rasanya memang akan sakit jika baru pertama kali berhubungan. Jika sudah berulang kali tidak akan sakit lagi, Ev.”


Si pemilik nama menatap lawan bicaranya kicep. Apa ini semacam kode untuk ronde selanjutnya? Belum sempat menanyakan hal itu secara langsung, tubuhnya tahu-tahu sudah melayang di udara, membuatnya terpekik kecil.


“Kamu apa-apaan, Darren?!”


“Aku tahu kamu tidak akan bisa tidur dengan kondisi tubuh lengket. Jadi, kita membersihkan badan terlebih dahulu sebelum tidur,” jawab pria rupawan yang kini dengan enteng menggendong sang istri ala bridal style.


Mereka memang baru selesai melakukan hubungan ‘itu’ beberapa saat yang lalu. Dan setelah berhubungan ‘itu’, sifat Darren langsung berubah. Berubah dalam artian lebih pengertian. Pria itu bahkan dengan gentle membersihkan sisa cairan yang masih tertinggal di tubuh sang istri. Sekali pun sang istri masih kerap merasa malu, karena ini pertama kalinya dia full naked di depan seseorang. Namun, Darren dengan sabar memberi sang istri pengertian.


Alumni Harvard university itu mengatakan jika ini juga pengalaman pertama baginya. Sekali pun dulu dia sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, bahkan tinggal cukup lama untuk mengasah kemampuan di sana, tak lantas membuatnya hidup dengan gaya bebas. Darren Aryasatya Xander tetap menjaga diri agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan yang dapat membuat masa depannya hancur.


“Tunggu sebentar di sini, aku akan mengisi air di jacuzzi.”


Ev yang diturunkan di atas closet hanya mengangguk kecil. Kedua tangannya memeluk erat jalinan selimut yang membungkus tubuhnya.


“Berendam dengan air panas akan mengurangi sedikit rasa sakitnya.” Darren kembali berbicara pasca menghidupkan keran agar jacuzzi terisi oleh air. Dia kemudian kembali menghadap sang istri, kemudian merendahkan tubuhnya agar dapat melihat wajah jelita Ev dengan seksama.


“Kenapa hm?”


“Kenapa?” bukannya menjawab, Ev malah balik bertanya. Membuat pria yang hanya menggunakan celana pendek itu tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri.


“Kenapa aku baru sadar kalau kamu menggemaskan sekali,” ucapnya seraya memainkan rambut panjang sang istri.


“Darren!” protes Ev sebal.


“Merengek saja tetap menggemaskan.”


“Aku tidak sedang merengek Darren,” ketus Ev karena tingkahnya disalah artikan oleh sang suami.


“Lantas kenapa hm?”


Ev memilih tidak menjawab. Membuat Darren semakin gemas melihatnya. Pria rupawan itu kemudian menghadiahi hujan kecupan di pucuk kepala sang istri sebagai bentuk rasa senang yang tercipta.


Bermesraan dengan Ev ternyata membuatnya lebih mudah melepaskan hormon oksitosin. Hormon yang membuatnya lebih nyaman bersama sang istri. Kemudian suara gemercik air mengalihkan perhatian, ternyata air di jacuzzi sudah hampir penuh. Dengan penuh kehati-hatian, Darren membawa sang istri ke dalam Jacuzzi untuk berendam.


“Take your time, sayang. Aku akan menggunakan shower untuk mandi,” kata Darren seraya berjongkok di samping jacuzzi tempat sang istri berendam. Dia seolah-olah tahu jika Ev masih belum terbiasa bersamanya jika dalam kondisi full naked. Pria itu kemudian mengecup pucuk kepala Ev sebelum beranjak.


Sebelum benar-benar masuk ke dalam bilik shower, suara pria rupawan itu kembali terdengar. Mengucapkan kalimat yang tidak pernah Ev duga-duga sebelumnya. Kalimat yang sarat akan pengertian, padahal Darren bukanlah tipikal pria yang seperti itu. Namun, kali ini pria itu mematahkan stigma yang melekat pada dirinya, demi istri tercinta.


“Aku sudah menambahkan essential oil sebagai aroma terapi supaya kamu nyaman. Aku juga akan mandi dengan cepat supaya bisa mengganti seprai agar kamu bisa tidur dengan nyaman.”


🌼🌼


TBC


EXTRA PART YANG MERESAHKAN YA, BUND 🥵🥵


GIMANA? MAU LANJUT LAGI? SATU EXTRA PART LAGI PAS YA KAYAKNYA?? KALAU MAU, RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Sukabumi 22/05/22


__ADS_2