
M12 🥀 : PERHATIKAN AKU SEORANG
“Darren?”
“Ada apa? Apa kamu membutuhkan sesuatu?”
Pria rupawan yang tengah duduk menghadap sebuah laptop yang menyala itu menjawab dengan cepat. Membuat wanita cantik yang duduk di atas ranjang itu lumayan terkejut.
“Apa tidak sebaiknya kamu kembali ke kamarmu?”
“Tidak bisa selama Mama dan Mommy masih berkeliaran di rumah ini.”
Ev mengangguk paham. Keberadaan pria itu di kamar Ev memang cukup menimbulkan kecanggungan. Namun, Ev tidak dapat mengusir pria itu, karena bisa saja menimbulkan kecurigaan.
“Habiskan makananmu, kemudian istirahat,” titah Darren diktator.
Ev memutar bola mata malas seraya kembali memusatkan perhatian pada mangkuk berisi sup kelengkeng di tangannya. Suhu tubuh Ev berangsur-angsur menurun saat matahari kembali menutup hari. Kehadiran Diana dan Elina yang masih berkeliaran di rumah ini, membuat Ev dan Darren mau tidak mau harus kembali bersandiwara sebagai pasangan yang harmonis.
“Kenapa tidak dihabiskan?” pertanyaan yang tiba-tiba datang itu membuat Ev terhenyak untuk sejenak.
“Kenyang,” jawabnya singkat.
“Habiskan.”
“Kenyang, Darren. Apa kamu tidak mengerti Bahasa manusia?”
Pria rupawan yang entah sejak kapan berdiri di samping ranjang itu tidak menjawab. Namun, tangannya bergerak mengambil alih mangkuk di tangan Ev. Tanpa Ev duga kemudian, pria rupawan itu mengudarakan sesendok sup kelengkeng ke hadapan bibir Ev.
“Ayo, habiskan. Mama dan Mommy berpesan agar kamu menghabiskan makanan ini.”
“Aku kenyang Darren. Kamu saja yang habiskan,” ujar Ev, menolak.
Ev sudah menikmati setengah soup yang berisi campuran kelengkeng kering, jamur putih suir, biji lotus, dan bunga lili, yang dicampur gula kemudian direbus.
“Jangan kekanakan, Ev. Kamu tahu sendiri aku tidak suka makanan manis.”
Ev menoleh, menatap Darren lekat. “Kamu tidak suka manis, tapi kamu tetap menikmati makanan manis buatan wanita itu.”
“Apa?” Darren menautkan kening mendengar gumaman Ev.
“Sini, aku bisa makan sendiri.”
Ev kemudian mengambil alih mangkuk di tangan Darren, menghiraukan kebingungan Darren. Sedangkan pria itu dibuat bertanya-tanya karena rasa penasaran. Namun, hingga soup dalam mangkuk tandas tak bersisa, Ev tak kunjung menjelaskan apa yang tadi samar-samar Darren dengar.
__ADS_1
“Darren.”
“Hm?”
“Ada kemungkinan Mama atau Mommy menginap. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Ev, tiba-tiba.
“Terpaksa kita tidur satu kamar.” Darren berkata demikian seraya menanti ekspresi Ev.
Ev manggut-manggut. “Kamu yakin Mama atau Mommy enggak curiga? Gimana kalau mereka masuk ke kamar sebelah?”
Kamar sebelah adalah kamar yang digunakan Darren selama ini. Jika Diana atau Elina memasuki kamar tersebut, maka tamat sudah riwayat sandiwara mereka.
“Lalu apa gunanya connecting door yang aku buat beberapa tahun lalu, Ev?”
Ev terdiam, kemudian menerbitkan senyum tipis di bibir pucatnya. “Aku lupa jika kita actor dan aktris yang professional dalam bersandiwara. Tidak terkecuali dengan totalitas tanpa batas yang terlibat di dalamnya.”
Darren menaikkan sebelah alisnya tinggi.
“Jadi untuk hari ini hingga Mama dan Mommy masih berkeliaran di rumah ini, perhatikan aku seorang Darren. Just me.”
Setelah berkata demikian, Ev membaringkan tubuhnya. Menarik selimut, kemudian berbaring menyamping. Memunggungi Darren yang tampak mematung di tempatnya. Jika mereka pasangan suami istri pada umumnya yang saling mencintai, mungkin Darren akan menganggap istrinya marah jika berkata demikian. Namun, dalam posisi mereka saat ini, kalimat Ev malah terdengar ambigu bagi Darren.
🥀🥀
Ev sontak membeku kala jemari besar milik sang suami menyentuh sudut bibirnya. Di hadapan Ev dan Darren yang duduk bersisian, Diana dan Elina tampak mengulum senyum. Mereka tampak puas melihat interaksi pasangan suami istri tersebut.
Diana dan Elina memang masih berada di sana hingga jam makan malam berlangsung. Rencananya, Diana Xander akan menginap. Sedangkan Elina tidak jadi menginap, karena setelah makan malam, suaminya menjemput. Orang tua Ev harus kembali ke kota Kembang karena ada beberapa urusan yang urgent.
“Untuk sementara waktu, kalian lebih baik puasa olahraga ranjang. Mengingat Ev masih sakit.”
Ucapan mommy Ev yang tiba-tiba dan berkonotasi vulgar itu kontan membuat Ev tersedak. Wanita cantik yang masih tampak pucat itu tersedak soup yang terbuat dari pure wortel yang tengah dinikmatinya. Dengan sigap Darren menyodorkan segelas air putih pada Ev, kemudian menepuk-nepuk punggung Ev perlahan.
“Darren juga tahu situasi dan kondisi, jeng,” ujar ibu Darren, mewakili aspirasi sang putra.
Mommy Ev tersenyum tipis. “Ya, takutnya mereka tetap melakukan kegiatan ranjang, padahal Ev dang sakit.”
“Mom, please.” Ev buka suara setelah merasa tenggorokannya membaik. “Darren tidak mungkin memaksa Ev untuk berhubungan badan, sedangkan kondisi Ev seperti ini.”
Darren yang disebut-sebut mengalihkan pandangannya pada sang istri. Entah berapa kesempatan, Ev selalu membelanya terlebih dahulu. Sedangkan ia sendiri, kapan membela Ev?
“Mommy tidak perlu khawatir.” Darren tiba-tiba buka suara. Sebelah tangannya bergerak mengenggam tangan Ev yang tampak mungil dalam genggamannya. “Darren tidak akan membuat putri kesayangan Mommy semakin kelelahan.”
Mommy Ev tersenyum lebar seraya mengangguk. “Ev beruntung sekali memiliki suami pengertian seperti kamu, Darren. Sekalipun Ev belum bisa memberimu keturunan, kamu tetap setia mencintainya.”
__ADS_1
“Setia mencintai?” ulang Ev di dalam hati. Ingin sekali ia tertawa kala mendengar ucapan sang mommy. Daren setia dan mencintainya? Big no. pria itu bahkan hanya peduli pada Ev saat terpaksa harus bersandiwara. Ev kemudian menoleh, menatap pria rupawan yang tengah mengenggam tangannya. Menyalurkan rasa hangat yang tidak pernah sempat Ev rasakan.
“Iya, Mom. Ev sangat beruntung memiliki suami seperti Darren yang sangat setia mencintai Ev.” Ev berkata seraya menatap Darren lekat. Dibalas tatapan tak kalan lekat dari sang suami.
“Oleh karena itu, Ev sangat bahagia selama ini.”—walaupun kenyataannya Ev menderita, hingga sempat merasa sekarat. Lanjut Ev di dalam hati.
🥀🥀
“Neng, itu pudding mangga nya udah mendidih.”
“Ah, iya, Bi.”
Wanita bertubuh mungil itu buru-buru bergerak, meraih pegangan panci. “Aww!”
“Astagfirullah, neng Ella.” Bi Mimin yang tengah mempersiapkan mika di atas meja makan, buru-buru mendekat. Mematikan kompor, kemudian membawa tangan sang nyonya muda yang tidak sengaja memegang gagang panci menuju keran air.
“Kenapa bisa begini atuh, neng?” tanya bi Mimin seraya membasuh tangan sang nyonya di bawah aliran air. “Pasti neng Ella enggak fokus, ya? Jadinya begini.”
“M-aaf, Bi. Tadi Ella kurang fokus,” sesal si empunya nama.
“Iya, gak papa neng. Biar Bibi yang lanjutin buat pudding mangga nya. Neng Ella istirahat aja di kamar. Tapi, Bibi obatin tangan neng Ella dulu pake salep.”
Ella mengangguk, membiarkan bi Mimin mengobati kulit telapak tangannya yang sebagian telah berubah menjadi merah. Ella memang kurang fokus saat hendak mengangakt panci berisi pudding manga yang tengah ia aduk di atas kompor. Alhasil, gadis itu memegang gagang panci tanpa lap.
Gadis itu kerap kali kehilangan fokus belakangan ini, karena kebanyakan melamun. Lamunan itu tak pernah jauh dari sosok yang telah lama menghilang dari jangkauan mata. Sosok itu pergi tanpa pamit, setelah mereka melalui malam panjang penuh gairah bersama. Ketika terbangun di pagi hari, ah pagi beranjak siang lebih tepatnya, Ella tidak lagi menemukan sosok itu.
Sosok yang malam sebelumnya sempat membuatnya tebang ke bintang-bintang.
Sosok yang mampu membuatnya memohon demi kenikmatan yang membuatnya lupa daratan dan lautan.
Ella merindukan sosok itu. Sudah empat dua minggu lebih sosok rupawan itu tak tampak. Ella benar-benar merrindukan sosok yang selalu melimpahinya dengan kasih sayang itu. Sosok yang irit bicara, tetapi sangat perhatian dan hangat. Penyayang, dan memiliki cinta yang besar tanpa bisa Ella ukur.
Ella bersyukur mendapatkan cinta sebesar itu, apalagi pria itu hanya mencintainya seorang. Ella bisa melihat di matanya, jika pria itu hanya melihatnya seorang. Tidak akan da wanita lain yang mampu menggesar posisinya di hati pria rupawan tersebut.
“Mas Darren, Ella rindu.” Gumam Ella lirih, seraya menatap satu-satunya foto sang suami yang terpajang di dinding. Foto pernikahannya dengan pria rupawan tersebut.
“Kapan mas Darren pulang, Ella ingin segera bertemu.”
...🥀🥀...
...TBC...
...Gimana perasaan kalian setelah baca part ini?...
__ADS_1
...Jangan lupa like 👍 vote 💯 komentarrrr yang banyak 💌 share 📲 dan follow Author ❤️...