Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M32 : APAPUN UNTUK EV


__ADS_3

M32 🥀 : APAPUN UNTUK EV


Istrinya tidak kembali. Dalam keadaan normal, suami mana yang tidak risau bilamana sang istri tidak kunjung kembali hingga tengah malam menjelang. Hal itu pula yang dirasakan oleh Darren kala Ev—istrinya—tak kunjung kembali. Pria rupawan yang tampak babak belur itu dibuat menunggu berjam-jam lamanya di ruang tamu. Para maid sampai-sampai tidak berani memejamkan mata, karena tuan mereka yang menolak diobati tak kunjung beristirahat.


Darren akhirnya bisa lolos dari cengkraman bodyguard Dean setelah Damian datang bersama orang-orangnya. Walaupun berhasil lolos, tetap saja wajah rupawan nya dihiasi oleh memar-memar.


“Ev, kemana kamu?”


Darren mengeram lirih. Sakit di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan hatinya yang meradang. Bodyguard Dean memang sempat menghajarnya—lewat aksi keroyokan—empat orang lawan satu. Darren tidak dapat melawan karena tubuhnya dijegal oleh dua orang. Sumpah demi nama Tuhan, Darren akan membalas penghinaan yang hari ini dia dapatkan dari seorang Dean Wijaya.


Tubuhnya babak-belur.


Harga dirinya diinjak-injak.


Istrinya direbut pula.


Bahkan hingga detik ini, wanita cantik itu seolah-olah lupa akan jalan pulang.


“Apa kamu memilih bermalam di tempat pria sial*n itu, Ev?”


Darren beranjak, mendekat ke arah Emilio yang sedari tadi tampak mencemooh dirinya. “Apa ibumu itu tidak lagi memiliki harga diri? Sehingga dia berani bermalam di tempat pria asing dengan status masih istriku?”


Emilio—ikan arwana silver red super—tampak menatap Darren dari balik aquarium sejenak. Sebelum ikan gempal itu melengos, memutar tubuh kemudian berenang santai menuju sudut aquarium yang lain.


Darren mengepalkan tangannya kuat, hingga buku-buku jemarinya memutih. “Ibu dan anak sama saja.”


Karena tidak ada tanda-tanda sang istri akan pulang, Darren memutuskan untuk beranjak. Meninggalkan area ruang tamu. Toh, berapa lama pun dia menunggu, sepertinya wanita itu tak akan muncul. Lebih baik dia segera mendinginkan kepala di bawah guyuran air dingin dari shower. Sedangkan untuk luka lebam yang dia alami, entahlah. Darren tak peduli. Niat hati ingin sang istri yang mengobati.


Wanita itu benar-benar membuat suasana hatinya menjadi runyam.


Untuk sejenak, Darren melupakan sesuatu dalam ingatannya.


Dia melupakan wanita muda yang berada jauh di sana. Wanita muda yang tengah digerogoti oleh rasa penasaran juga kekecewaan.


Di sisi lain, sumber dari kerisauan seorang Darren Aryasatya Xander tengah mendapat limpahan cinta yang tak terukur nilainya. Seorang wanita paruh baya yang sedari tadi menemaninya, melarang wanita cantik itu pergi kemanapun. Bahkan dia memintanya untuk menginap di mansion milik keluarga Wijaya.


“Tante masih pengen ngobrol banyak sama kamu. Kamu nginep aja di rumah, tante. Gimana?”


Wanita cantik yang mendapat tawaran menggiurkan itu memilih memasang senyum tipis. “Nanti suami Ev nyariin, tante. Dia agak ‘susah’ tidur kalau enggak ada Ev,” alibinya.


“Memangnya Darren datang? Mana dia? Biar tante sendiri yang minta izin buat bawa kamu.”


Ev tersenyum tipis seraya menggeleng. “Darren enggak datang, tante. Dia ada pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan.”


Wanita paruh baya itu mengangguk paham. Di sampingnya, seorang pria paruh baya tampak tersenyum kecil ke arah Ev.


“Sudahlah, mah. Sekarang, kan, Ev istrinya Darren. Mana mungkin dia bisa seenaknya menginap.”


“Iya, pa. Tapi, mamah kangen banget sama Ev. Terakhir ketemu Ev pas acara resepsi, kan? Setelah itu kita pindah ke California.”


“Hm.”


Melihat interaksi pasangan tersebut, Ev hanya bisa tersenyum kecil. Perasaanya juga tak nyaman, karena tidak dapat memenuhi keinginan orang tua sahabatnya itu. Mereka—Darwis Wijawa & Dessy Wijawa—memang sudah menganggap Ev seperti putri sendiri. Dahulu mereka bahkan sudah berangan-angan akan mendapatkan Ev sebagai menantu. Namun, siapa sangka jika William Atmarendra—kakek Ev—sudah terlebih dahulu menjatuhkan keputusan.


Menghancurkan impian Dessy memiliki menantu seperti Ev.

__ADS_1


“Malam ini Ev pasanganku, Ma, Pa,” sela sebuah suara yang diiringi dengan pelukan posesif di pinggang Ev, memberi tahu.


“Dean,” lerai Ev, malu akan Darwis dam Dessy.


“Jangan coba-coba jadi pembinor ya, De.” Dessy menatap sang putra tajam.


“Pembinor? What this?” bingung Dean.


“Masa kamu yang tinggal di Indonesia gak tahu pembinor? Mama aja yang tinggal di luar tau tuh.”


“Please, Mam. Ini pasti ajaran sesat Deanny, ya?”


Dessy melotot mendengar ucapan sang putra. “Kamu pikir Deanny tahu ajaran sesat dari mana, kalau bukan dari kamu?”


“Kok Dean?” bingung si empunya nama.


Ev yang melihat interaksi mereka tersenyum tipis. Keluarga Wijaya dari dulu memang selalu harmonis dengan cara yang terbilang unik. Kehangatan yang tercipta di antara para anggota keluarga Wijaya, selalu menggoda Ev untuk bergabung ke dalamnya.


“Jangan kebanyakan gaul sama Deanny, mam. Nanti lupa usia,” ujar Dean mewanti-wanti. Mengingat si empunya nama—Deanny—memiliki sifat tengil dan absurd yang tidak ada duanya.


Deanny sendiri adalah sepupu Dean dari pihak ayah. Gadis muda itu sudah beberapa tahun tinggal bersama Darwis Wijawa dan Dessy Wijawa yang menetap di California, karena Deanny mengambil studi di UCL atau Universitas California.


“Intinya, hari ini Ev enggak bisa nginep. Dia ada janji di tempatku,” ujar Dean menegaskan.


Dessy menatap putranya lamat-lamat. “Ev istri orang loh, De. Masa mau nginep di tempatmu?”


Melihat gelagat Dessy yang tampak mencurigai ucapan Dean, Ev angkat suara. “Kita cuma mau bahas—“


“Jangan-jangan kamu mau ajak Ev affair, ya?” tebak Dessy tiba-tiba.


Plak!


“Aw, mam, sakit,” protes Dean kala bisepnya kena pukul.


“Kamu ini bodoh atau gimana? Kalau mau sesuatu jangan mengambilnya dengan cara yang kotor. Ambil dengan cara baik-baik.”


Dean mengernyitkan kening mendengarnya. Setelah berkata demikian, Dessy beralih pada Ev.


“Ev sayang, jangan mau diajak yang tidak-tidak sama Dean atas alasan apapun itu. Sekalipun jika itu atas nama cinta. Bukannya tante tidak menginginkan kalian bersama, tapi tante ingin kalian bersama jika memang Ev sudah bukan milik pria lain.”


Dua kalimat panjang itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Ev mengerti. Ketimbang memarahi niat sang putra yang awalnya hanya ajang godaan itu, Dessy Wijaya lebih cenderung mementingkan kehormatan Ev. Jika memang putranya serius ingin bersama Ev, maka tunggu Ev lepas dari cengkraman keturunan Xander. Itupun jika memang Ev bisa lepas darinya.


Dessy menyayangi Ev setulus itu. Dia tidak mau kehormatan Ev dipertanyakan apalagi dipertaruhkan hanya karena bujuk rayu sang putra yang sedari dulu memang jatuh hati setengah mati padanya. Dessy sepenuhnya menyetujui jika mereka bersama. Hanya saja jika mereka bersama lewat cara yang benar, bukan cara yang salah. Karena wanita itu tidak mau hubungan yang telah dibangun antara keluarga wijaya, Atmarendra maupun Xander kandas begitu saja karena perkara asmara di antara anak-anak mereka.


“Kamu mau menunjukkan apa, Dean?”


Pertanyaan itu Ev lontarkan kala Dean menggandengnya memasuki unit pria tersebut


“Something.”


Ev menautkan kening mendengarnya. Sebelum jarum jam menyentuh angka 11, Dean memang membawa Ev pergi dari acara anniversary D’EV. Pria itu membawa Ev ke unit apartemennya, karena ada sesuatu yang ingin ditunjukkan. Dengan penuh perhatian, pria rupawan itu membawa Ev ke ruang tengah. Mendudukkan nya di sofa empuk berwarna silver, menghadap langsung ke arah balkon. Ev sudah lama tidak mendatangi tempat ini. Mungkin tiga atau empat tahun lalu terakhir kali dia berkunjung. Tak banyak yang berubah dari interior dan tata letak di dalamnya. Namun, yang menarik perhatian Ev di sana.


“Tunggu sebentar, akan aku ambil.”


Ev mengangguk. Sepeninggalan si empunya rumah, wanita cantik itu beranjak. Membiarkan jas yang sedari tadi melindungi bahunya dari terpaan angin malam teronggok begitu saja di atas sofa. Hal pertama yang menarik perhatian Ev adalah deretan foto yang tersusun rapih di dinding dekat televisi. Semua foto itu cuma memiliki satu objek yang sama, sekali pun dengan latar berbeda.

__ADS_1


Semua foto itu adalah foto Ev. Dari masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa. Semua tentang Ev tersimpan rapi dalam potret-potret tersebut. Ev bahkan tidak tahu kapan foto itu diambil.


“Hei, sedang melihat apa?”


Ev menoleh, kemudian angkat bicara. “Foto itu…. Fotoku?”


Dean tersenyum tipis sebelum menjawab. “Hm. Itu potret lama kamu yang aku simpan di memory card. Memory card-nya sempat hilang, tapi nanny menemukannya kembali saat membongkar barang-barang ku dari zaman SMA. saat aku mencoba memulihkan data dan file di dalamnya, hanya 60% data dan file yang dapat diselamatkan.”


Ev seharusnya tahu sebahagia apa Dean saat sang nanny—pengasuhnya sewaktu bayi—menemukan memory card tersebut dalam tumpukkan barang-barang dari zaman SMA. dia bahkan berjibaku memulihkan data-data dan file didalam memory card tersebut seorang diri, seharian lamanya. Untung saja, beberapa data dan file masih bisa diselamatkan. Sebagian besar data dan file itu adalah potret Ev yang diam-diam dia abadikan. Mulai dari masa kanak-kanak hingga mereka beranjak dewasa.


Tidak lagi mau kehilangan kenangan-kenangan itu, Dean kemudian memutuskan untuk mencetak semua gambar Ev agar dapat dia pajang di seluruh bagian apartemen. Biar saja dia dicap tergila-gila kepada Ev, toh begitu adanya. Jika raga wanita itu tidak ada di sampingnya, setidaknya ada potret-potret Ev yang dapat menemani.


“Kenapa ekspresi mu begitu? Kamu tidak suka?” tanya Dean saat dia baru saja selesai menjadi room tour dadakan bagi Ev.


Ekspresi wanita cantik itu tidak bisa Dean tebak setelah mengetahui berapa banyak koleksi Dean. Toh, Dean juga berencana menjadikan apartemen ini aset untuk Ev. Sebagai bentuk rasa cintanya yang ke sekian.


“Dean.”


“Hm,” jawab Dean ragu. Takut-takut Ev menganggapnya aneh karena begitu obsesi padanya.


“Segitunya kamu suka aku?” Ev bertanya seraya memalingkan wajah. Menatap Dean lekat.


Dean menatap lawan bicaranya lekat, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


“Apa kamu tidak lelah, Dean? Dari dulu kamu terus memperjuangkan perasaan kamu. Sedangkan aku….. hingga saat ini belum bisa membalasnya,” lirih Ev.


“Itu keinginanku, Ev.” Dean akhirnya buka suara. “Aku memperjuangkan kamu selama ini, karena aku percaya kamu pantas untuk diperjuangkan.”


Setelah berkata demikian, Dean meraih map coklat yang sedari tadi teronggok di atas meja. Alasan kenapa dia membawa Ev ke tempat ini.


“Jika kamu bertanya apa aku lelah? Jawabannya sudah pasti, yes. Oleh karena itu, sekarang aku menunggu kamu untuk memperjuangkan kebebasan mu sendiri.”


Map itu Dean buka. Isinya dia keluarkan semua. Dibiarkan berserakan di atas meja yang terbuat dari kaca tembus pandang.


“Ini semua bukti kebusukan suamimu. Sekarang keputusan ada di tanganmu, Ev. Kamu bisa diam dan memilih terus menyakiti diri sendiri, atau memilih menggunakan semua ini untuk lepas darinya.”


Ev tak menjawab. Matanya menatap lekat pada puluhan foto, beberapa lembar kertas terlipat, dokumen berstempel juga ber-paraf, hingga dua buah flash disk.


“Semua ini lebih dari cukup untuk membuat suamimu merasakan akibat dari perbuatannya.”


🥀🥀


TBC


Spoiler next part ⚠️



Mau lanjut? jangan lupa ramaikan dulu part ini. Wajib komentar, karena aku suka baca komentar readers. Apalagi yang panjanggg 😘


Maaf belum bisa update rutin, karena selain kerja, rencananya aku juga bakal ikut UTBK-SBMPTN. Doain lancar ya 👋


Don't forget to vote, komentar, like, follow Author & share 📲


Tanggerang 08/02/22

__ADS_1


__ADS_2