Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M71 : LUAPAN FAKTA


__ADS_3

NOTE : HALO, AUTHOR UPDATE LAGI NIH 😁


NUNGGUIN YA? CUS, DISIMAK BAIK-BAIK.


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


HAPPY READING 🔥


M71 🥀 : LUAPAN FAKTA


“Nama saya Drey. Kemarin saya telah melakukan percobaan pembunuhan pada wanita simpanan tuan saya—Darren Aryasatya Xander. Jika kalian bertanya kenapa? Saya melakukan semua itu atas dasar kebencian. Saya benci wanita itu. Wanita simpanan yang sok polos, padahal hatinya busuk. Dia adalah penyebab hancurnya pernikahan tuan Darren dan nyonya Evelyn. Mereka berpisah bukan karena tidak memiliki kecocokan lagi, melainkan karena penghianatan yang dilakukan tuan Darren. Tuan Darren menjalin hubungan gelap dengan wanita itu, menikahinya diam-diam tanpa sepengetahuan nyonya Evelyn. Sekarang wanita itu sedang mengandung.


Bahkan setelah resmi bercerai, wanita itu tinggal di rumah nyonya Ev. Dia berlagak menjadi nyonya rumah, bahkan lancang menggunakan barang-barang nyonya Ev tanpa izin. Saya muak melihatnya. Saya muak melihat wanita itu bahagia di atas kesedihan nyonya Ev yang selalu berperilaku baik pada siapa pun. Jadi, saya memutuskan untuk mencampurkan extra bunga oleander dan rumput Fatimah dalam takaran yang cukup banyak dalam adonan cupcake yang saya buat untuk wanita itu. Saya melakukan ini untuk menyelamatkan bayi itu. Supaya dia tidak terlahir sebagai alat pencetak uang bagi ibunya. Tindakan saya murni dilakukan oleh keinginan saya sendiri, tanpa ada campur tangan orang lain.”


Pria yang tengah menikmati satu porsi special fried rice with sausage tersedak hebat setelah menonton sebuah video yang tengah tranding topik di berbagai media sosial. Tagar #mistressxander juga menjadi tranding di twitter dan telah di retweet jutaan kali. Tagar yang hampir saja juga menjadi fyi di aplikasi tikt*k.


“You bercanda?” tanyanya tidak percaya, pada seseorang di seberang yang baru saja menelepon.


“Cari tahu sendiri deh. Di sini lagi hot banget berita itu.”


“Serius?”


“Ya iyalah, masa bo’ong. Si pelaku juga udah digelandang ke kantor polisi.”


Dimi—pria itu tidak lagi memiliki selera makan setelah mendengar penjelasan dari seseorang di seberang.


“Ev udah tau belum sih kalau salah satu maid-nya kesandung kasus ini?”


“Hm, kayaknya belum,” jawab Dimi. “Nanti deh dikasih taunya. Soalnya—“


“Ada apa, Dim?”


Si pemilik nama terhenyak mendengar suara familiar tersebut. Dia dengan cepat tersenyum kikuk seraya mematikan sambungan telepon. “Ah, ini. Ada telpon dari bestie you.”


Ibu satu anak yang baru datang dari arah dapur itu mengangguk. Dengan gerakan santai dia kemudian menghidangkan satu porsi sour vegetable soup atau sayur asem untuk Dimi di atas meja.


“Ev.”


“Hm?”


“You udah lihat ini? Berita yang lagi tranding di tanah air.”


“Tentang apa?” bingung si empunya nama. Ev lantas menerima uluran handphone dari sang manager. Dia mencoba menonton pemberitaan yang tengah tranding topik itu dengan hidmat. “Ini ….Drey?”


Dimi mengangguk. “Maid di mansion you. Dia melakukan percobaan pembunuhan sama simpanan your ex-husband.”


Wanita cantik itu tercekat mendengarnya. Detik berikutnya dia menggelengkan kepala tegas. “Ini tidak mungkin terjadi. Drey itu anak baik, Dim. Dia sudah sembuh. Dia gak mungkin melakukan ini.”


“Tapi ini faktanya, Ev. Drey bahkan mengunggah video klarifikasi di akun media sosial pribadinya sebelum menyerahkan diri ke polisi.”


Ev tampak shok mendengar penuturan Dimi. Drey adalah salah satu maid termuda yang Ev kerjakan di mansion itu. Dulu dia bertemu Drey di jalanan. Drey pernah depresi dan sempat dirawat di RSJ karena trauma di masa lalu. Drey dulunya pernah menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri. Mental Drey juga semakin diperburuk dengan tindakan bullying dan pelec*han yang pernah dia terima semasa SMA. Ev yang waktu itu terketuk pintu hatinya, membawa Drey pulang. Ev juga membawa Drey konsultasi pada psikolog dan psikiater.


Tidak mudah membuat Drey kembali memiliki semangat hidup. Ev melakukan pendekatan berkala agar Drey mau percaya pada niat baiknya untuk membantu Drey lepas dari jerat trauma. Setelah dinyatakan sembuh dan emosinya stabil, Drey dipekerjakan oleh Ev di mansion nya. Selain memberi Drey pekerjaan dan tempat tinggal, Ev juga memperkenalkan keluarga baru. Di mansion itu Drey kembali merasa disayangi, diperhatikan juga dibutuhkan.


Ev mengenal Drey sebagai anak yang introvert. Namun, gadis itu sangat ulet dan pandai dalam urusan menghafal. Adanya kasus yang melibatkan Drey tentu saja membuat Ev terkejut bukan main. Dia tidak percaya jika Drey yang dulu depresi karena hampir membuat ayahnya—yang sering memukulinya—meregang nyawa karena didorong dari tangga, kini melakukan tindakan yang lebih extrim.


“Nyonya Ev, Drey ….. Drey…..”


Dini yang datang dengan tergopoh-gopoh, membuat Ev kembali mendapatkan kesadarannya. “Kita harus kembali, nyonya. Drey ….membutuhkan nyonya,” ujarnya terbata-bata. Air mata bahkan sudah merembes di ujung matanya.


Ev terdiam. Pulang? Untuk mewujudkan satu tindakan itu dia harus mengumpulkan banyak keberanian. Karena pasti ada banyak awak media yang tengah menunggu klarifikasinya.


“Dini benar, Ev. Lagi pula Dan juga dibawa ke sana bukan?”

__ADS_1


“El,” panggil Ev, mengenali suara deep husky tersebut.


Pria pemilik suara itu tersenyum kecil. Dia baru saja kembali dari luar pasca mendengar kabar yang tengah tranding topik di tanah kelahirannya. El memang sempat mengungsi ke Zurich saat keluarganya—ibu dan ayahnya—datang bersama rombongan yang lain beberapa hari ke belakang. Hubungan putra sulung Atmarendra itu memang kurang baik dengan orang tuanya, karena itu El memilih menetap di luar negeri selama ini.


“Munculnya kasus ini akan kembali menimbulkan pembahasan soal perceraian kalian. Jika tebakanku benar, kehadiran Dan di sana akan jadi sangat berbahaya.”


Ev menatap sang kakak lekat. Dan memang berhasil dibawa oleh kakek dan neneknya setelah meyakinkan Ev dengan berbagai cara. Mereka berjanji akan menyembunyikan Dan dari ayah kandungnya—agar Ev sendiri yang mempertemukan ayah dan anak itu.


“Aku juga baru dapat kabar dari salah satu pemegang saham di perusahaan milik keluarga Xander. Si assh*le itu akan segera digulingkan dari posisi CEO. Kandidat terkuat sebelum Dan genap berusia 17 tahun adalah Dean. Coba kamu pikir, apa si assh*le akan diam saja saat posisinya terancam? Apalagi ancaman terbesar yang tampak di matanya adalah Dean—rivalnya?”


“Dean ….dalam bahaya?” tanya Ev lirih.


“Hm. Dean harus berjaga-jaga karena kita tahu sendiri bagaimana gilanya putra seorang Xander.”


“Kalau begitu aku harus segera pulang El.” Pungkas Ev pada akhirnya. “Drey, Dan maupun Dean membutuhkan aku. Aku tidak mau keegoisan Darren kembali menyakiti orang-orang yang aku sayangi.”


🥀🥀


“Yang tenang di sana. Papa sudah mengikhlaskan kepergian kamu.”


Pria yang mengenakan pakaian serba hitam dari atas hingga bawah itu bergumam kecil seraya menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Taburan bunga-bunga segar juga menghiasi bagian atasnya, lengkap dengan sebuah nisan bernama Danadyaksa Xander. Nama Danadyaksa Xander sendiri berarti putra Xander penjaga kemakmuran. Dia memberikan nama itu pada calon pewarisnya yang ternyata berjenis kelamin laki-laki, namun Tuhan telah mengambilnya kembali sebelum dia sempat lahir ke dunia.


Putra pertamanya itu disemayamkan di kompleks pemakaman milik keluarga Xander. Lokasinya tidak terlalu jauh dari mansion utama keluarga Xander. Jaraknya sekitar 500 meter dari wing bagian barat daya. Prosesi pemakaman hanya dihadiri beberapa orang kepercayaannya, dan beberapa petugas pemakaman dari TPU terdekat. Sekarang hanya ada dia di sana. Calon ayah yang tengah meratapi rasa sesal karena tak berhasil menjaga titipan Tuhan dengan baik.


“Tuan.”


Masih ada orang lain ternyata, batinnya. Dia pikir semua orang sudah pergi, atau mungkin tengah menertawakan nasibnya di luar sana. Dia sudah tahu mengenai pemberitaan yang tengah tranding di jagad maya. Identitas sang mistress sudah diketahui publik. Sekarang aib itu bahkan jadi konsumsi publik. Dia tidak memungkiri rasa sesal, kesal, marah, juga lelah yang kian bertambah karena perihal tersebut.


“Ada apa?”


“Nona Ella sudah siuman. Saya baru mendapatkan informasi dari rumah sakit. Dia meraung-raung mencari keberadaan bayinya, sehingga para dokter membutuhkan obat bius untuk menenagkannya.”


Pria keturunan Xander itu memijit kepalanya yang terasa pening. “Aku akan istirahat sejenak. Nanti aku datang ke rumah sakit untuk melihat kondisinya.” Dia memang tidak sempat memejamkan mata sejak kemarin. Alhasil sekarang kepalanya terasa mau pecah.


“Baik tuan.”


“Bukan cuma papa yang kehilangan kamu, tapi ibumu juga. Dia kehilangan kamu. Apa yang harus papa lakukan pada ibumu? Papa sudah terlalu banyak menyakiti ibu sambung mu—ah, jika saja kamu punya lebih banyak waktu, papa akan kenalkan kamu sama mama Ev. Dia wanita yang sangat baik dan juga penyayang. Dia pasti akan menerima kamu dengan baik….”


Kalimat itu tercekat begitu saja di kerongkongan. Di balik kaca mata hitam yang membingkai kedua matanya, ada air mata yang mulai merembes. Berlomba-lomba keluar dari penampungan.


“Selain mama Ev, sekarang papa juga telah banyak menyakiti ibumu. Dia menjadi seperti ini setelah memaksakan diri masuk ke kehidupan papa. Padahal papa sudah berulang kali melarangnya. Tapi pada dasarnya ibu kamu itu keras kepala. Jika saja dia menurut untuk segera pulang, kamu ….pasti akan selamat.”


Jika saja. Jika wanita itu menuruti perintahnya. Bukan mementingkan ego dan sikap keras kepalanya. Mungkin hari ini dia tidak perlu kehilangan calon pewaris. Kendati demikian, dia juga sadar jika wanita itu juga pasti merasakan kehilangan yang sama besar. Di pasti merasakan sakit yang sama dalam.


Calon bayi yang dia nanti-nanti telah gagal bertahan. Kondisi wanita itu juga tak kalah buruk—bahkan dia sempat mengalami cardiac arrest. Tetapi para dokter berhasil membuat jantungnya kembali berdetak. Wanita itu juga tidak perlu menjalani pengangkatan rahim karena kondisi rahimnya tidak robek—seperti yang sempat didiagnosa oleh dokter di awal. Pendarahan murni terjadi karena kontraksi, bukan karena rahimnya robek. Oleh karena itu para dokter langsung sigap menyelamatkan dia. Pihak rumah sakit juga sudah meminta maaf secara simbolis karena sempat salah memberikan diagnosa. Namun, karena kandungan oksitosin tinggi hingga mengakibatkan keguguran, wanita muda itu akan kesulitan memiliki keturunan di kemudian hari.


Ketika matahari beranjak semakin tinggi, Darren mengambil langkah meninggalkan pemakaman. Dia memilih singgah terlebih dahulu ke kediaman orang tuanya untuk beristirahat. Mungkin tidur beberapa jam akan membuat energinya kembali pulih. Sebelum kembali ke rumah sakit untuk menghadapi sang istri.


Tiba di kediaman orang tuanya, Darren disambut oleh keheningan. Entah di mana mereka berada. Darren juga tidak tahu apakan orang tuanya sudah mengetahui kabar duka ini?


Sembari menjatuhkan tubuh letihnya di atas sofa, pandangan pria rupawan itu tampak menatap kosong ke sembarang arah. Ketika tengah larut dalam lamunan, sebuah benda berdiameter bulat tiba-tiba menggelinding ke arah kakinya yang terbalut pentofel hitam.


“Siapa yang berani memainkan bola milikku….” Kalimat pria yang tampak kesal saat mengambil benda bulat dengan tanda tangan pesepak bola idolanya itu tergantung begitu saja, saat sosok mungil tiba-tiba berdiri di hadapannya.


Untuk sepersekian detik mata jelaga miliknya menatap sosok mungil yang berdiri dalam radius beberapa meter itu tanpa berkedip. Sama halnya dengan sosok mungil itu yang juga menatapnya dengan lekat. Tatapan bocah polos itu tampaknya berhasil mengundang debaran liar di jantungnya.


“Siapa ….kamu?” tanya Darren ragu. Dari rupa yang tertangkap oleh mata, dia tampak bercermin pada masa lalu. Sosok mungil itu memiliki rupa yang ….sama dengannya waktu kecil. Sungguh, mirip sekali.


“What are you doing here?” tanya Darren lagi.


Alih-alih menjawab, bocah kecil itu tampak mengucapkan kata lain yang membuat Darren menautkan kening.


“Perè!” panggilnya antusias seraya memperlihatkan senyum lebar.

__ADS_1


“Perè?” bingung Darren.


“Perè, ini Dan! Ini Dan, Perè.” Bocah mungil itu berseru girang seraya mengikis jarak di antara mereka.


“Kamu bicara apa?” bingung Darren. “Aku tidak mengerti kamu bicara apa!”


“Ini Dan, Perè!” saking antusiasnya, bocah mungil itu terus berujar menggunakan bahasa jerman dan Perancis, tanpa menggunakan bahasa Indonesia yang memang belum sepenuhnya dia kuasai.


“Jangan mendekat, anak aneh!” sergah Darren tegas saat bocah kecil itu berdiri tepat di hadapannya. “Aku tidak tahu siapa kamu.”


“Perè Ini Dan. Perè lupa?”


“Aku tidak tahu kamu bicara apa.” Darren mengangkat tangannya, menginterupsi bocah mungil di hadapannya untuk berhenti bergerak. “Jangan membuat kepalaku semakin sakit,” keluhnya.


“Tapi Perè, Dan mau peluk Perè…..” bocah mungil itu tampak berkaca-kaca menatap lawan bicaranya.


“Tunggu, kenapa kamu malah menangis? Apa aku menyakitimu? Tidak bukan? Jadi, diamlah.” Darren bergerak gelisah di posisinya. “Tunggu dulu, sejak kapan ada anak kecil di rumah ini?” gumamnya. Seingatnya maid di rumah ini tidak ada yang memiliki anak sekecil ini.


“Apa jangan-jangan kamu anak angkat mama dan papa?” Darren kembali menatap bocah kecil itu sengit. “Jadi mereka mengadopsi anak kecil dari panti asuhan di luar negeri?”


Darren beringsek, mengikis jarak di antara mereka. Ditatapnya lekat-lekat bocah mungil yang sialnya ….begitu memiliki kesamaan rupa dengannya. “Jadi karena wajah polos yang mirip diriku ini, mereka memilihmu menjadi pengganti ku?” sinis nya.


“Kita memang memiliki kesamaan dari segi rupa,” tambah Darren. ‘Mungkin jika anakku masih hidup, dia akan memiliki rupa seperti anak ini,’ batinnya di dalam hati.


“Tapi karena wajah yang kamu miliki,” Darren merendahkan tubuhnya, menyamakan dengan bocah mungil di hadapannya. “Aku jadi semakin muak,” tambahnya seraya mencengkeram rahang mungil milik bocah tersebut.


“Perè….”


“Kenapa, kamu takut?” seringai devil tampak menghiasi labium Darren. “Aku ini bukan pria baik, asal kamu tahu. Aku bahkan sanggup menyingkirkan semua aral yang melintang, menghadang jalanku. Jika kamu termasuk dalam aral melintang itu, aku tidak akan segan menyingkirkan mu.”


Cengkraman pria itu semakin mengerat, membuat bocah mungil itu mulai merasakan rasa sakit. Namun, dia sama sekali tidak melawan. Rasa rindu yang teramat besar pada sosok yang dia panggil ‘Perè’ itu telah membuatnya mengesampingkan rasa sakit. Sekali pun dia tidak dapat menyembunyikan rasa takut pada sosok tersebut.


“Perè…”


“Apa? kamu takut?”


“Perè….”


“Apa? aku tidak mengerti. Sebaiknya kamu diam, jangan membuatku semakin muak. Atau aku akan….” Kalimat Darren terpotong, namun cengkeramannya menguat pada rahang mungil itu. “….menyakitimu lebih dari ini.” Tambahnya seraya tersenyum sinis.


Bocah kecil itu tersenyum kecil, sekali pun rasa sakit dan takut menggerogotinya. “Dan schön dich kennenzulernen Perè. Dan vermisse dich so sehr Perè (Dan senang bertemu Perè. Dan rindu sekali sama Perè),” ucapnya dengan suara kecilnya.


“Apa-apaan anak ini,” kata Darren bingung karena tiba-tiba dadanya terasa sesak mendengar ucapan bocah tersebut. “Kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa kamu mirip denganku hah? Kenapa? Apa—“


“Darren!”


Darren menoleh ke arah sumber suara tersebut. “Mama, Darren—“


“Kamu apakan dia, Darren!” Diana yang baru saja menuruni anak tangga langsung menghampiri sang putra. Mengambil alih bocah mungil yang tampak berkaca-kaca tersebut. “Dan baik-baik saja, ‘kan?” tanya Diana risau.


Bocah kecil itu menggeleng seraya tersenyum kecil. Namun, air mata tak dapat terbendung dari kelopak matanya. Melihat itu Diana merasa telah gagal menjaga ‘cucu’ satu-satunya dengan baik. Dengan cepat wanita paruh baya itu memeluknya, lantas menatap sang putra tajam.


“Kamu ….benar-benar seorang ayah yang buruk!” ujarnya sebelum beranjak. Meninggalkan sang putra yang tampang kebingungan.


“Aku ….ayahnya? bagaimana bisa?”


🥀🥀


TBC


Author said : Bisa dong Bambang!


Dih, kesel sama babang Darren 🤬

__ADS_1


Ada yang sama kesel? cus, komentar 👇


Sukabumi 21/04/22


__ADS_2