
NOTE : JANGAN LUPA VOTE & KOMENTAR SETIAP PARAGRAF 😁
M41 🥀 : KONDISI SANG MISTRESS
Terkadang seseorang melakukan hal diluar perkiraan tanpa sadar, hanya karena rasa iri yang dapat berkembang jadi dengki. Namun, hal itu sebenarnya tidak seutuhnya terjadi.
Bagi Estrella, dia bukan tanpa sengaja mengenakan salah satu perhiasan milik istri pertama suaminya. Melainkan karena dia memang iri, karena ada nama sang suami terukir di benda tersebut. Sebagai mana hati seorang istri kebanyakan, dia hanya ingin mengklaim lebih banyak soal haknya. Kendati demikian, cara yang dia lakukan memang salah.
Hal itu pula yang memicu pandangan kian buruk soal dirinya. Terbukti dari semua pembicaraan yang tadi ibu dari suaminya lontarkan. Wanita itu tampak semakin membenci dirinya. Tidak lagi mau menambah masalah, Ella kemudian memilih mengembalikan benda tersebut pada tempatnya. Sudah cukup dia berbuat lancang. Dia harus patuh akan aturan yang suaminya telah tentukan, agar posisinya tidak semakin terancam.
Namun, siapa sangka jika nasib naas kemudian datang di sepersekian detik berikutnya. Seumpama balasan yang langsung Tuhan berikan secara kontan. Saat hendak keluar dari kamar mandi pasca buang air kecil, wanita muda itu terpeleset dan jatuh menimpa lantai marmer yang dingin. Agaknya percikan air yang keluar saat dia mandi pagi, belum sepenuhnya kering. Mengakibatkan lantai basah dan cukup licin, sehingga dapat membuatnya limbung karena tidak kuat menahan berat badannya sendiri. Atau mungkin, karena dia juga terlalu banyak beban pikiran, sehingga kurang hati-hati mengambil langkah.
Untung saja tidak lama pasca kejadian, bi Surti yang hendak mengantarkan buah potong untuk istri muda tuannya itu datang dan melihat kondisi Ella yang tengah meringis kesakitan. Wanita itu tampak bersandar di dekat pintu kamar mandi, dengan aliran darah yang turun dari area betis hingga tercecer mengotori lantai berlapis marmer asli berwarna putih.
Bi Surti yang melihat itu langsung meminta bantuan maid lain untuk memanggil supir agar menyiapkan mobil. Dikarenakan Darren sulit dihubungi, bi Surti akhirnya menghubungi Damian yang notabene adalah sekretaris Darren. Bagaimanapun juga, Darren harus mengetahui kondisi istri mudanya. Apalagi wanita muda itu jatuh pingsan pasca perjalanan ke rumah sakit.
“Pada trisemester pertama, pendarahan memang sering terjadi. Sebagai calon orang tua baru, Anda perlu khawatir. Akan tetapi, kondisi seperti ini bisa jadi sangat berbahaya jika tidak cepat mendapatkan penanganan. Beberapa kondisi bahkan dapat memicu keguguran, pendarahan implantasi, sampai kehamilan ektopik.”
Penuturan dari wanita yang mengenakan snelli dengan name tag bernama Dr. Nona Shafira Malik , Sp.OG itu ditanggapi oleh anggukan kepala oleh pria yang baru saja tiba dengan tergesa-gesa. Di sampingnya, Damian—sang sekretaris—juga berdiri dengan mendengarkan secara hidmat.
“Intinya mereka tidak apa-apa?” Tanya Darren, meringkas semua penuturan si dokter dalam satu kalimat.
Dokter wanita itu tersenyum sopan sembari mengangguk. “Guncangan yang terjadi masih bisa dikategorikan aman. Kondisi ibu dan si bayi untuk saat ini baik-baik saja. Hanya saja, mereka masih harus bedrest di rumah sakit untuk memantau kondisi pasca insiden tersebut.” Dokter tersebut menjeda untuk sejenak. “Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap, baru bisa menerima kunjungan. Anda bisa menyelesaikan administrasi terlebih dahulu.”
“Baik, dok. Administrasinya akan segera saya urus,” ujar Damian mewakili.
Dokter itu mengangguk, kemudian pamit undur diri setelah menyelesaikan obrolan.
“Saya akan mengurus admistrasi nona Ella. Ada lagi yang Anda butuhkan, tuan?” Tanya Damian.
“Untuk saat ini tidak ada,” jawab Darren dengan tatapan kosong. “Biarkan bi Surti pulang bersama supir. Kemudian suruh mereka mengantarkan pakaian ganti untuk ku.”
“Baik, tuan. Akan saya sampaikan.”
Setelah menerima titah demikian, Damian undur diri. Meninggalkan Darren yang masih berdiri seorang diri di depan pintu yang tertutup rapat. Pria itu langsung menuju rumah sakit kala mendapatkan informasi jika istri mudanya dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya dibuat bekerja dua kali lebih keras saking risau nya. Dia tentu khawatir terjadi apa-apa pada calon penerusnya.
Bagaimanapun juga, Ella tengah mengandung calon penerus keluarga Xander. Tidak boleh terjadi apa-apa padanya selama calon penerus keluarga Xander belum lahir ke dunia.
“Mas ….Darren.”
__ADS_1
Pria rupawan yang duduk di sofa dekat pintu masuk itu menoleh. Mengalihkan tatapan dari layar MacBook yang menyala ke arah sumber suara tersebut. Tiga puluh menit yang lalu, wanita simpanan Darren itu dipindahkan ke ruang rawat inap Very Very Important Person atau VVIP. Hal itu Darren lakukan agar privasi wanita simpanannya tidak diganggu. Apalagi rumah sakit yang mereka datangi adalah salah satu rumah sakit milik keluarga Wijaya.
“Hm, kamu sudah bangun?”
Wanita muda itu mengangguk dengan raut wajah pucat pasi. “A-nak kita gimana, mas? Dia baik-baik aja, ‘kan?”
“Hm. Dia baik-baik saja,” jawab Darren apa adanya. “Apa yang kamu rasakan? Perlu aku panggil dokter?”
Wanita itu menggeleng seraya tersenyum lemah. Dia baru saja siuman pasca jatuh tak sadarkan diri enam puluh jam lamanya.
“Mas Darren kok bisa ada di sini? Bukannya tadi sedang ada di kantor?” tanyanya. Ada sebongkah rasa senang kala mengetahui orang pertama yang dia lihat saat terbangun adalah suaminya. Dia yang sempat merasa takut juga risau—akan kondisi si jabang bayi—kini bisa merasa lebih tenang karena kehadiran sang suami.
“Aku buru-buru datang saat bi Surti menelpon.”
Darren yang sudah datang mendekat, menatap sang istri lekat. “Kenapa kamu bisa sangat ceroboh?” tanyanya tanpa diduga. “Untung saja dia baik-baik saja. Bagaimana jika guncangan yang terjadi karena kamu jatuh di kamar mandi mengakibatkan keguguran?!”
“Itu ….Ella juga enggak sengaja, mas,” lirih Ella, merasa bersalah. Toh, dia memang tidak sengaja. Ibu mana yang mau membahayakan buah hatinya? Tidak ada. Termasuk Ella. Insiden jatuh di kamar mandi pagi tadi benar-benar murni kecelakaan.
“Sudahlah.” Darren kembali bersuara. “Jadikan ini sebagai pelajaran. Kamu adalah calon ibu, seharusnya kamu lebih berhati-hati.”
“I-ya, mas.”
“Apa itu?” tanyanya.
“Buah-buahan organik. Dokter Nona baru saja menambahkan catatan untuk kesehatan nona Ella. Nona Ella harus banyak makan buah yang mengandung serat, vitamin, dan kandungan gizi yang baik selama kehamilan.”
Damian mendekat, kemudian menyimpan barang bawaannya di atas meja. “Sesuai anjuran dokter Nona, nona Ella disarankan makan buah-buahan seperti apel, alpukat, berry, kurma, dan pisang. Buah-buahan itu mengandung vitamin C, B6, asam folat, kalium, dan mengandung senyawa lain yang dapat menguatkan kandungan, sehingga dapat meminimalisir terjadinya pendarahan.”
Ella tampak terpukau dengan penjabaran sekretaris suaminya itu. Pria berkacamata itu tampak memiliki wawasan yang luas, terlihat dari keluwesannya saat menjabarkan manfaat buah-buahan yang dia bawa.
“Simpan saja di sana, Dam. Biar suster yang nanti mengupas buah untuknya,” intrupsi Darren, tanpa minat. “Sebaiknya kita lanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda,” lanjutnya.
“Baik.”
Kedua pria itu kemudian melenggang pergi menuju satu set sofa yang berada di dekat pintu. Lengkap dengan sebuah meja berukuran medium yang dapat menampung dua buah MacBook. Kedua pria itu tampak serius membicarakan sesuatu, menghiraukan keberadaan si pasien yang merasa terlantar.
Tanpa sadar, sebutir air mata lolos dari ujung kelopak mata. Ella yang merasa terasing, memilih memalingkan badan. Memunggungi kedua pria tersebut, agar tidak dapat melihat air mata yang kian deras berjatuhan. Normal jika seorang wanita yang tengah hamil muda ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama sang suami. Ingin diperhatikan lebih, dimanja, bahkan selalu ingin dekat dengannya. Hanya saja, semua itu tidak berlaku bagi Ella. Sang Mistress. Wanita simpanan seorang CEO muda yang masih tersesat di tikungan jalan bernama asmara. Entah kemana hati pria itu akan berlabuh, karena dia sendiri belum menemukan keyakinan lebih.
“Saya baru mendapatkan foto ini, tuan.”
__ADS_1
Darren menggerakkan mouse yang terhubung pada kursor di layar agar membuka sebuah file yang dia dapatkan lewat sebuah surel. “Foto ini diambil dihari yang sama, saat nyonya Ev menghabiskan waktu di Jenewa.”
“Ev?” tanya Darren, tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
Sebuah foto mencetak gambar dua insan yang tampak tengah berpelukan. Dalam foto tersebut, si wanita tampak mengenakan dress chiffon motif flora berwarna mix antara tan, ungu hingga biru. Sedangkan si pria tampak mengenakan kemeja berwarna soft blue, dengan bawahan celana pantalon berwarna hitam. Mereka dipotret dari belakang, sehingga objek tampak membelakangi kamera.
“Apa dia yang bernama Dan?” tanya Darren, emosi. Pikirannya sudah bercabang kemana-mana.
“Saya belum bisa memastikannya, tuan. Akan tetapi, foto ini dapat saya pastikan asli. Nyonya juga sempat menginap di sebuah penthouse di daerah Zurich, atas nama Dan.”
Darren meremat jemarinya kuat. Dugaannya semakin kuat. Dia yakin jika ‘Dan’ ada kaitannya dengan keputusan bulat Ev untuk berpisah. Atau jangan-jangan, ‘Dan’ memanglah kekasih gelap Ev? Memikirkannya saja sudah membuat Darren meradang.
Dean Wijaya yang sampai detik ini berani mendekati istrinya saja sudah membuat gedek setengah mati, bagaimana bisa ada pria lain di luar sana yang curi start mendekati sang istri. Tidak bisa dibiarkan.
“Teruskan pencarian. Saya ingin informasi selengkapnya soal si bajing*n Dan!”
“Baik, tuan. Akan segera saya laksanakan.”
“Jika benar ada indikasi antara penyebab Ev ingin berpisah dengan si ‘Dan’ itu, jangan segan-segan untuk menghab*sinya.”
Untuk sepersekian detik, Damian hanya bisa mematung mendengar perintah sang tuan. Namun, sepersekian detik berikutnya, sebuah anggukan dia berikan. Toh, apa yang tuannya inginkan, akan dia dapatkan. Termasuk ….nyawa seseorang bernama Dan.
🥀🥀
TBC
DAN DALAM BAHAYA!
GIMANA NIH, LANJUT??
SENANG ELLA BAIK-BAIK AJA? ATAU MALAH KESELL??
CUS, JAWAB DI KOLOM KOMENTAR.
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Follow IG Karisma022 juga biar gak ketinggalan info ✌️
Sukabumi 12/03/22
__ADS_1