Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)

Berbagi Cinta: Mistress (Wanita Simpanan)
M65 : HABIS MANIS, SEPAH DIBUANG


__ADS_3

NOTE : HAPPY READING 🔥


JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR ✌️


M65 🥀 : HABIS MANIS, SEPAH DIBUANG


Pernah dengar peribahasa ‘habis manis, sepah dibuang?’


Ada yang tahu arti dari peribahasa tersebut?


Menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI, ‘habis manis, sepah dibuang’ memiliki arti ‘setelah tidak berguna atau tidak disukai lagi, lalu dibuang atau dilupakan’.


Peribahasa tersebut agaknya juga cocok disematkan pada mistress seorang CEO rupawan yang saat ini posisinya terlupakan. Wanita muda yang tengah hamil muda—yang malam ini mengenakan piyama tidur khusus untuk ibu hamil di atas lutut—itu tampak masih mencoba memahami situasi. Sesekali jemarinya meremas seprai berwarna dongker di ranjang king size milik suaminya.


Seperti perintah pria rupawan tersebut, setelah membenahi sisa makan sang suami—wanita itu bergegas bertandang ke kamar tidur sang suami. Kamar yang bersebelahan dengan kamar milik mantan istri pria tersebut. Salah satu ruangan yang ‘haram’ diinjak oleh sang mistress.


Awalnya dia berpikir jika 'ajakan' sang suami adalah awal yang bagus bagi hubungan mereka. Dia bahkan sampai berpikir jauh, seandainya malam ini akan berakhir indah. Namun, kenyataan semua imajinasi itu tidak seindah realita.


“Aku tahu kamu cukup pintar, Ella. Apa yang aku ucapkan tadi sudah jelas. Jadi, aku tidak perlu mengulangnya lagi.”


Pria rupawan yang sudah berganti kostum menjadi setelah piyama berwarna hitam motif salur itu buka suara. Dia sendiri tengah duduk di sofa seraya bersidakep dada.


“Kamu akan kembali ke kampung bersama seorang dokter kandungan profesional, perawat, pelayan, dan bodyguard pribadi. Semua kebutuhan kamu dan bayi yang akan kamu lahirkan akan aku cukupi.”


“….”


“Akan ada supir juga yang bersiaga selama 24 jam,” tambah pria rupawan tersebut.


“Lalu, bagaimana dengan mas Darren?”


“Aku akan tetap tinggal di sini. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku akan berkunjung sesekali.”


“Tapi, mas….”


“Ada apa lagi? Apa ada yang kamu butuhkan? Pakaian? Perhiasan? Pangan? Sebutkan saja. Aku pasti akan memenuhinya.”


Wanita muda yang duduk di ujung ranjang itu menggeleng. Dengan gerakan pelan dia beranjak, berjalan mendekat ke arah sang suami. “Bagaimana dengan bayi kita? Dia ….butuh mas Darren, sekali pun masih dalam kandungan. Dia ....ingin diperhatikan lebih oleh ayahnya.”


Hembusan nafas gusar terdengar. Disusul oleh sebuah jawaban. “Kamu pasti bisa menanganinya sendiri. Banyak yang harus aku tangani di sini. Selama aku sibuk menangani ini dan itu, sebaiknya kamu pulang ke kampung. Setidaknya di sana ada bi Mimin, suaminya, dan teman-teman kamu yang akan menjaga kalian.”


Wanita muda itu menundukkan kepala saat dia tiba di hadapan sang suami. “Tapi, Ella mau sama mas terus,” lirihnya. “Gimana ini ….Ella enggak mau pulang. Maunya sama mas Darren, di sini.”


Pria itu—Darren—mengeram lirih. Sulit sekali membuat wanitanya yang satu ini mengerti. Maka, hanya satu yang bisa dia lakukan. Jika bukan dengan cara ‘halus’, maka cara ‘kasar’ bisa dicoba untuk membuat wanitanya takluk.


“Kamu tetap harus kembali ke kampung!” kata Darren, tak dapat diganggu gugat. “Kenapa kamu bebal sekali sekarang, huh? Sudah aku katakan aku benci dibantah, Ella. Tapi kenapa kamu malah terus membantah?”


“Mas….”


“Nikmati sisa hari-harimu di rumah ini, sebelum kamu angkat kaki dari sini,” kata Darren final.


Setelah berkata demikian, pria itu beranjak dari tempat duduknya. Melangkah menu sebuah pintu yang merupakan connecting door antara ruangan ini dan ruangan di sebelahnya. Dengan kunci yang dia keluarkan dari dalam saku, pria itu membuka pintu. Kemudian menutupnya dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi berdebum yang cukup nyaring. Setelah suara debuman nyaring itu, dia menghilang di balik pintu.

__ADS_1


Meninggalkan wanitanya—agar wanita itu punya waktu untuk merenungkan semua ucapannya, Darren memilih singgah ke kamar sang istri. Ah, mantan istri lebih tepatnya.


Ruangan itu masih sama seperti terakhir kali si empunya menempati. Tata letak interior di dalamnya tidak ada yang berubah. Aroma feminim yang khas juga masih tertinggal. Masih beraroma si empunya ruangan. Darren kemudian membawa langkahnya menuju ranjang. Menjatuhkan diri di sana—tempat yang pernah menjadi saksi bisu keberengs*kannya pada sang mantan istri—sekarang ranjang itu terasa dingin. Mungkin karena merindukan si empunya yang biasa berbaring di atasnya.


Tanpa ada satu orang pun yang tahu, selama ini Darren sebenarnya tidak pernah tidur di kamarnya sendiri. Setelah letih bekerja, dia akan menyelinap masuk pada ruangan yang telah lama ditinggalkan ini. Berbaring di atas ranjang dengan aroma sang istri, berharap wania itu akan muncul dalam mimpinya jika dia berbaring di sana. Karena faktanya, hanya di ruangan ini dia mendapatkan ketenangan. Hanya di ruangan ini pula dia bisa sedikit mengurai rasa rindu yang menyiksa.


Karena di ruangan ini lah semua yang berbau tentang Evelyn tersimpan. Mulai dari memori tentang Evelyn, barang-barang, hingga sebagian besar koleksi pakaian dan lukisan Ev juga tersimpan di sini.


Ketika tengah berbaring sembari menghirup aroma Ev dalam-dalam, tangan Darren yang sempat terangkat tidak sengaja menyenggol sebuah foto berbingkai yang ada di atas nakas. Foto berbingkai itu kemudian jatuh, membuat kaca bingkainya hancur berkeping-keping. Suara jatuhnya benda itu saja sampai membuat telinga berdenging.


Dengan segera pria itu beranjak. Menghampiri pecahan-pecahan kaca bingkai dari foto yang kini tergeletak di atas lantai. Dengan hati-hati pria itu mengambil foto sang istri yang sekarang tidak dilindungi bingkai.


“Cantik,” pujinya, saat menatap foto yang menampilkan wajah cantik sang istri yang tengah berjalan di bibir pantai. Foto itu diambil saat mereka honeymoon di Maladewa.


“Apa ini?” gumamnya, saat mengetahui ada lembaran lain yang menempel di belakang foto tersebut. “Foto?”


Ternyata, lembaran yang lain itu adalah sebua foto bernuansa monokrom yang mencetak sebuah gambar kantong rahim. Darren bukan pria bodoh, sehingga tidak mengetahui arti dari gambar kantong rahim dengan sebuah titik putih di dalamnya. Selain gambar yang dia yakini sebuah janin, foto USG itu juga terdiri dari beberapa tabel atau angka-angka yang diukur dari pengukuran tungkai lengan, kaki, dan diameter kepala. Dari semua itu menghasilkan rumus yang menunjukkan berapa berat janin dalam kandungan.


“Ini, foto USG milik siapa?” bingung Darren.


Saat membalik hasil USG berukuran kecil itu, Darren menemukan sebuah tanggal dan kutipan berbunyi ‘our baby’ di bawahnya. Seketika itu pula kepala Darren langsung dihantam oleh berbagai pertanyaan. Mulai dari pertanyaan yang bersifat positif hingga negatif. Salah satu contohnya adalah, “apakah Ev hamil? Tapi, Ev hamil bayi siapa ….?”


Karena seingat Darren, tidak pernah ada “penyatuan” secara fisik di antara mereka selama membina rumah tangga. Ataukah, Ev selama ini menyembunyikan sebuah fakta besar. Yaitu soal …..perselingkuhan?


Apakah Ev benar-benar memiliki kekasih gelap di belakang nya?


Darren tidak tahu mana yang benar. Dia hanya bisa memegang foto USG itu erat dengan pikiran berkecamuk. Tak berselang lama, dia beranjak. Meninggalkan ruangan tersebut guna menghubungi seseorang. Karena hanya dia yang bisa Darren andalkan saat ini. Siapa lagi jika bukan sang sekretaris—Damian.


🥀🥀



“Mère!” Seru suara bocah lelaki yang hari ini mengenakan outfit sport, masih dengan tema white and purple.


“Mère di sini, sayang,” kata sang ibu seraya merendahkan tinggi badannya. Menyamai sang putra. “Dan minum dulu, ya. Dan pasti haus.”


Bocah lelaki yang hari ini tampak aktif sekali itu mengangguk. Ini adalah kali pertama bagi Dan menghadiri acara yang diperuntukan bagi orang tua dan anak bersama sang ibu. bocah lelaki itu senang sekali. Rasa senang itu bisa dilihat dari bagaimana cara Dan memperkenalkan sang ibu dengan bangga pada teman-teman sebayanya. Kehadiran Ev juga cukup menarik perhatian, karena selama ini Dan selalu menghadiri acara di sekolah bersama nanny-nya.


“Dan senang hari ini?”


“Ja, Mère (ya, ibu).”


“Mère juga senang melihatnya” balas sang ibu seraya menyentuh surai sang putra.


Untuk pertama kali, Ev menikmati perannya sebagai seorang ibu. Dia tidur memeluk sang putra di malam hari, bangun pagi untuk membua sarapan dan mempersiapkan kebutuhan sang putra yang hendak pergi ke sekolah, kemudian mengantar putranya ke sekolah. Sepulang sekolah, Ev akan mempersiapkan makanan sehat untuk mengisi perut putra kecilnya. Menanyai sang putra soal apa saja yang Dan lewati di sekolah, membantunya mengerjakan PR, hingga menemaninya bermain. Semua itu Ev lakukan dengan penuh suka-cita.


Ternyata, mengurus buah hati dengan tangannya sendiri, rasanya jauh berbeda. Ketimbang disuruh bekerja seharian di studio foto atau catwalk, Ev lebih memilih mengurus sang putra seharian. Rasanya ada banyak hal yang telah Ev lewatkan selama ini. Padahal, dia selalu berusaha meluangkan waktu setiap beberapa bulan sekali untuk mengunjungi sang putra. Tapi, sekarang rasanya berbeda.


Ev juga telah berjanji pada dirinya sendiri. Kedepannya dia sendiri yang akan membesarkan Dan. Dengan tangannya sendiri.


“Dan senang sekali, ya? Sampai-sampai tidak berhenti tersenyum,” goda Ev seraya membawa sang putra ke dalam gendongan. Terakhir kali dia menggendong Dan, putra kecilnya belum seberat ini. Itu berarti menandakan jika sudah lama sekali Ev tidak menggendong sang putra.

__ADS_1


“Dan senang karena ada Mère bersama Dan,” celoteh sang putra.


Ev tersenyum senang mendengarnya.


“Coba ada Perè juga, pasti akan lebih menyenangkan.” tambah sang putra.


Ev masih mempertahankan senyumnya. Dia membatin di dalam hati. ‘Andai kamu tahu jika sekarang orang sangat kamu rindukan itu, pasti tengah sibuk membangun hidup baru bersama wanita lain yang tengah mengandung buah cinta mereka, Dan.’


Ev tidak tahu apa reaksi Darren jika nanti bertemu dengan Dan. Bahagia kah? Sedih? Kesal? Merasa dibohongi? Atau menyesal? Ev tak tahu. Dia juga tidak mau berharap lebih, karena sekarang ada wanita lain yang tengah mengandung buah cinta Darren. Apalagi mereka menghasilkan buah cinta itu dalam keadaan sadar. Bukan seperti kehadiran Dan yang berawal dari insiden ‘ketidaksengajaan’.


Terkadang Ev takut Dan tidak akan mendapatkan hak-nya sebagai seorang putra. Namun, sekali lagi Ev coba open minded. Sekali pun Darren tak mengakui Dan, dan tidak dapat memberikan hak Dan sebagai seorang anak, Ev yakin masih ada banyak orang yang menyayangi Dan dan dapat memberikan hak itu kepadanya.


“Mère melamun?” panggil sang putra.


“Tidak, sayang.”


“Tapi, kenapa Dan panggil Mère tidak menjawab?” rajuk bocah berwajah rupawan tersebut.


“Mère tadi cuma sedang tidak fokus.”


Bocah lelaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya, paham. Tak berselang lama, si kecil Dan kembali bertanya. “Mère.”


“Iya, kenapa, Dan?”


“Siapa itu Dean?”


“Eh?”


“Semalam ada telepon video dari nama Dean itu. Saat itu Mère sedang ke kamar mandi. Jadi, Dan yang angkat telepon video itu. Mère marah?”


Ev terperangah mendengarnya, lantas dia menggeleng. Dia memang tidak sempat memeriksa riwayat panggilan via WhatsApp. Soal Dean, Ev memang berjanji akan menghubungi pria itu setibanya di Paris. Namun, Ev lupa menghubungi karena dari Paris dia cuma istirahat sebentar, dan langsung on the way ke Swiss. Saking senangnya bisa bertemu dengan sang putra, Ev bahkan lupa memberi kabar. Ev juga jarang memainkan handphone selama bersama Dan.


“Wer ist Dean? Ist er ein freund Mère? (siapa itu Dean? Apa dia teman ibu),” tanya si kecil dengan raut wajah polos.


“Ja. Sie ist Mère freundin (ya. Itu teman ibu),” jawab Ev jujur.


Dan mengangguk kecil. Bocah itu tampak tidak tertarik bertanya lebih lanjut, karena perhatiannya teralihkan pada El yang baru saja datang membawa dua porsi hot dog dan cheese burger vegan. Pria itu memang diminta Ev untuk membeli makanan tersebut di food court yang terparkir di bahu jalan karena Dan sempat merengek ingin makan itu.


Sekarang pikiran Ev hanya tertuju pada satu objek setelah mendengar penuturan sang putra. Dean.


Apa pria itu sudah mengetahui soal Dan? Atau, Dean baru menaruh curiga pada sosok Dan?


Ev harus segera mencari tahu jawabannya. Bagaimana pun juga Ev tidak mau Darren tahu soal Dan dari orang lain. Ev tidak mau Dean merasa dibohongi. Dan Ev paling tidak mau perasaan Dean tersakiti.


🥀🥀


TBC


SEMOGA SUKA 🥰


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️

__ADS_1


Sukabumi 12/04/22


__ADS_2