
Almaira sedang menuruni anak tangga setelah dia yakin dengan penampilannya malam ini. Dia memakai dress panjang yang dirancang dan dijahitnya sendiri berwarna merah terang, warna yang hampir tidak pernah digunakannya dalam berpakaian. Namun karena harus sesuai dengan dresscode yang ditentukan panitia malam perpisahaan disekolahya, mau tidak mau Almaira mengenakan warna yang sangat dihindarinya ini. Untung saja boleh di mix dengan warna hitam yang merupakan salah satu warna pavoritnya, membuat Almaira sedikit percaya diri dengan penampilannya.
Rendra dan Ezra sudah menunggunya diruang keluarga bersama Mama Rahma dan Papa Dhani. Malam ini Ezra yang mengantikan Rendy mendampingi Almaira setelah kakaknya minta maaf tidak bisa menemani adik kesayangannya seperti janjinya.
"Kakak mau minta maaf" Rendy memberikan dua potong donat buatannya yang sangat disukai Alamaira.
"Ini sogokan biar dimaafkan ya?" Rendy terkekeh, dia mengangguk membenarkan ucapan Alamira. "Tau aja" jawabnya.
"Jadi maaf untuk apa nih?" Rendy mendesah.
"Kakak melanggar janji" Almaira memandang Rendy dari atas sampai bawah.
"Janji yang mana nih, soalnya janji kakak banyak sama Al" Almaira duduk dikursi meja makan, lalu mengigit donat yang diberikan Rendy.
"Buat nemenin kamu diacara perpisahan besok" Almaira mendelikkan matanya. Mencoba memastikan apa yang diucapkan kakaknya yang hobi bicara panjang kali lebar menjadi luas.
"Kak Rendy kebiasaan kalau batalin janji suka mendadak, Al nggak bisa cari pengganti kalau dadakan gini. Lagian kakak mau kemana sih, emang itu lebih penting dari pada Al"
Rendy tertawa melihat Almaira, adiknya ini unik biarpun marah tapi tetap saja sambil mengunyah donat yang dia berikan.
"Doyan bik" goda Rendy.
"Lapar mang" jawab Almaira. Keduanya tertawa membuat Ezra mengalihkan perhatianya pada mereka.
"Besok kakak harus ke Jakarta, dua hari lagi kakak ikut tes pascasarjana" ucap Rendy sambil menyodorkan secangkir teh hangat.
"Gitu ya, nggak bisa ditinggal kalau gitu" Almaira mengetuk-ngetuk jari telunjukknya di kening seakan-akan berpikir.
"Terus Al sama siapa dong kak? Kak Rendra udah sama Eli, nggak mungkin Al suruh batalin" Rendy terkekeh melihat kelakuan Almaira yang seakan berpikir tapi ujung-ujungnya meminta solusi darinya.
"Kamu sama Ezra ya, maukan?" ucap Rendy setelah menghentikan kekehannya.
Almaira melihat kearah Ezra yang sedang bicara dengan Papa Dhani dan Rendra di sofa ruang keluarga. Ezra juga sedang melihat kearah Almaira yang duduk dimeja makan berdua Rendy, dia tersenyum saat mata mereka bertemu. Almaira tidak membalas senyumnya dan memutuskan kontak mata mereka. Senyum diwajah Ezra seketika sirna, dia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Almaira dan Rendy. Tapi sikap Almaira tadi membuat Ezra merasa Almaira seakan marah padanya.
"Kakak sudah bicara sama dia, dia mau. Mau banget malah" Rendy merangkul sayang pada adiknya.
"Maaf ya, kakak ingkar janji lagi" dia mengecup pucuk kepala adiknya.
__ADS_1
"Kak Eza beneran mau gantiin kak Rendy nemenin Al diacara perpisahaan?" tanya Alamira sambil menatap wajah Ezra yang sudah berdiri didekatnya.
Ezra mengangguk. Almaira tersenyum, Ezra ikut tersenyum. Ternyata apa yang ditakutinya tadi tidak benar.
"Makasih kak" ucap Almaira yang kembali tersenyum pada Ezra. Ezra kembali mengangguk dan ikut duduk didekat gadis kecilnya.
Ezra tidak berkedip saat melihat Almaira menuruni satu persatu anak tangga. Cantik satu kata yang langsung terprogram dikepalanya.
"Anaknya Pak Dhani cantik banget sih" goda Mama Rahma begitu gadis itu mendekati orang tuanya.
"Anaknya Pak Dhani ini nggak pernah jelek, pasti selalu cantik ma" jawab Almaira membuat Papa Dhani dan Mama Rahma terkekeh. Rendra menggelengkan kepalanya, adiknya memang cantik tapi selalu saja menjawab seperti itu bila dipuji.
"Kenapa kak Rendra geleng-geleng kepala? lama ya nungguin Al"
"Banget, kita belum jemput Eli, tuh anak kalau belum disamperin dandannya gak beres-beres" keluh Rendra.
"Jangan marah kak, Al nggak pede nih pake merah" sahut Almaira sambil meruncingkan bibirnya.
"Kamu cantik kok Al, malah cantik banget" ucap Ezra jujur. Dimatanya Alamaira malam ini sangat berbeda.
"Tapi Al gak biasa pake warna merah kayak gini kak" Ezra melihat Almaira dari atas sampai bawah.
"Ayo, nanti ditinggal Rendra" ajak Ezra sambil memasang lengannya untuk digandeng Almaira setelah mereka pamit pada Papa Dhani dan Mama Rahma.
"Kakak juga tampan malam ini" ucap Alamira pelan. Ezra menatapnya sekilas sambil tersenyum.
Ezra terlihat sangat gagah menggunakaan celana kain berwarna hitam dengan kemeja warna merah seperti milik Almaira yang dibalut jas hitam. Mereka terlihat sangat serasi, ditambah senyum diwajah mereka yang menambah sempurna penampilan mereka malam ini.
Saat mereka sampai hotel tempat acara, mereka sudah disambut Rangga dan Tia saudara sepupu Rangga yang sengaja menunggu mereka di depan pintu masuk ballroom tempat acara diadakan.
"Ga, itu cowok yang sama Alma siapa? Pacar atau gebetan si Alma " tanya Tia penasaran.
"Kepo amat sih" jawab Rangga. Tia merucutkan bibirnya.
"Ya kali aja tuh cowok ganteng only friend nya Alma, jadi bisa pdkt"
"Calon suami Alma"
__ADS_1
"Seriusan? sejak kapan?" Rangga tertawa "Lo mainin gue ya Ga"
"Beneran, gue ketawa lihat lo yang penasaran" Tia mencebikkan mulutnya dengan kesal.
Baru pertama dia melihat Almaira dengan pria selain kakaknya dan Rangga, tentu saja Tia sangat penasaran. Belum lagi melihat Ezra yang tidak melepaskan Almaira walau sedetikpun membuatnya iri disayang seperti itu
Ezra semakin erat menggenggam tangan Almaira begitu mereka didalam. Sesekali dia akan merangkul gadis kecilnya dan mengecup sayang pucuk kepalanya.
"Alma, ayo dansa" seseorang mengajak Almaira berdansa.
Ezra dan Almaira menoleh pada suara yang mengajakknya dansa. Damar memasang senyumnya, Almaira tidak percaya Damar berani mendekatinya seperti sekarang.
"Maaf, aku baru saja selesai dansa dengan kakakku" tolak Almaira.
"Kak, Al mau cari udara segar" Ucap Almaira saat pembawa acara mengumumkan kalau sekarang acara bebas, dia tidak suka dengan musik yang diputar saat ini karena sebentar lagi teman-temanya akan menggila. Acara utama sudah selesai, jadi tidak ada salahnya mereka meninggalkan tempat ini.
Dia juga sudah kehilangan jejak kakaknya dan Elisya, sementara Rangga masih menikmati acaranya bersama Tia. Almaira dan Ezra meninggalkan ballroom menuju taman yang ada di depan hotel.
"Alma tunggu" panggil seseorang yang ternyata Damar.
"Damar, ada apa lagi?" tanya Almaira heran.
Sementara Ezra memperhatikan Damar dari atas sampai bawah dan terhenti pada bunga yang dipegang pria tersebut.
"Masih usaha" ucapnya dalam hati.
"Ini buat kamu" Damar menyerahkan bunga yang ada ditangannya.
"Maaf damar, harusnya kamu berikan pada Paula" Almaira menolak bunga tersebut.
"Alma, sudah lama aku mau bicara ini sama kamu, tapi aku tahu kalau kemarin-kemarin kamu pasti tidak akan mau mendengarnya"
Almaira sudah tahu kemana arah bicara Damar, dia melirik Ezra, pria itu terlihat biasa saja. Lalu dia kembali melihat kearah Damar.
"Alma, aku sudah lama suka sama kamu"
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...