
Butuh waktu satu jam untuk sampai ketempat kost yang sudah disiapkan oleh Rendra dan Rendy. Sebanarnya Pak Fauzi Abdoelah ayah Rangga memiliki kediaman di Jakarta yang dia tawarkan untuk ditempati Rangga dan kedua sahabatnya, tapi mengingat letaknya yang ada diujung Jakarta membuat ketiganya menolak.
"Ini tempat kost apa mansion kak?" tanya Rangga, dia baru pertama ini berkunjung ketempat kost Rendra dan tidak terlihat seperti kos-kosan.
"Ya tempat kost Ga" Almaira dan Elisya yang menjawab bersamaan.
"Ayo turun, kenalan dulu sama bapak-bapak satpam dan Bu Laras pengurus tempat ini" Rendra mengajak mereka menemui dua orang satpam yang berjaga di tempat kost ini.
"Pak Mul, Pak Ujang" Rendra memanggil keduanya yang ada di pos satpam.
"Eh.. Neng Alma sudah sampai" Pak Mul yang sudah mengenal Almaira menyapa terlebih dahulu.
"Iya Pak Mul. Pak Ujang apa kabarnya?" sahut Almaira dengan ramah. Sudah sering Almaira mengunjungi Rendra dan menginap ditempat kos kakaknya ini membuatnya sudah sangat mengenal kedua satpam yang berjaga dan dua satpam lagi Pak Udin dan Pak Jul yang kebagian berjaga malam hari ini.
"Alhamdulillah baik neng" Pak Ujang yang menjawab.
"Pak ini adik-adik saya yang dua lagi" Rendra mengenalkan Rangga dan Elisya.
"Selamat datang Neng Elisya dan Den Rangga" sapa Pak Mul pada keduanya diikuti Pak Ujang setelah keduanya menyebut nama mereka masing-masing.
Selesai mengenalkan Rangga dan Elisya pada kedua satpam kini Rendra beralih mengenalkan keduanya pada Bu Laras.
"Assalamualaikum Bu Laras" Almaira yang mengucap salam dan menegur Bu Laras yang masih asik membersihkan taman belakang.
"Neng Alma, walah nduk kok yo tambah ayu saiki" puji Bu Laras saat tahu yang menyapanya Almaira.
"Ibu bisa saja, Al jadi malu" Ibu Laras terkekeh mendengar jawaban Almaira.
"Iki yo ayu, siapa namanya" Ibu Laras bertanya pada Elisya.
"Perkenalkan saya Elisya bu, mohon bantuannya selama saya tinggal disini" jawab Elisya.
"Elisya, namanya cantik seperti orangnya" Elisya salah tingkah dikatakan cantik oleh Bu Laras.
__ADS_1
Dalam hati Almaira menertawai sahabatnya, dia sangat faham, semua yang ditemui Bu Laras selalu di puji cantik dan ganteng.
"Saya Rangga bu" Rangga memperkenalkan dirinya terlebih dahulu sebelum ditanya Bu Laras.
"Walah, adik e Mas Rendra kok yo cantik-cantik dan ganteng-ganteng ya"
"Terima kasih bu" jawab mereka hampir bersamaan.
"Ya sudah, mari saya antar untuk lihat kamar masing-masing. Semua sudah saya bersihkan, tinggal ditempati" ajak Bu Laras.
Pertama mereka kekamar Rangga yang berada persis disebelah kamar Rendra yang sekarang ditempati Rendy. Peraturan di tempat kost ini, semua laki-laki kamarnya berada di bawah, sedangkan yang perempuan dilantai dua. Masing-masing lantai ada delapan kamar, semua menghadap ruang keluarga dan ruang makan yang jadi satu dilantai bawah.
Setelah dari kamar Rangga mereka beralih ke kamar Elisya dan Almaira yang bersebelahan yang posisinya tepat diatas kamar Rendy dan Rangga.
Almaira dibantu Rendra menyusun pakaiannya di lemari dan memajang beberapa pernak-pernik milik Almaira yang sudah dibawa lebih dulu oleh Rendy.
"Kak, ada yang ingin Al bicarakan" ucap Almaira setelah Rendra membaringkan tubuhnya di kasur.
Almaira mendekati Rendra dan duduk disisi kakaknya. Ragu-ragu dia ingin membicarakan ini, tapi kalau bukan sekarang kapan lagi? pikirnya.
"Masalah Elisya" Almaira sebenarnya serbasalah bagaimana memberitahu kakanya tentang perasaan sahabatnya tersebut.
"Ada apa dengan El?" tanya Rendra lagi. Melihat Almaira hanya diam setelah menyebut nama Elisya.
"Sebenarnya.... Al bingung ngomongnya kak. Soalnya ini rahasia El tapi ada hubungannya dengan kakak" Rendra semakin tidak mengerti apa yang dibicarakan Almaira.
"Al, kakak mau tidur sebentar kalau kamu tidak mau bicara yang sebenarnya" Rendra memejamkan matanya.
Almaira ikut berbaring disisi kakaknya, dia melingkarkan tangannya diperut sang kakak membuat Rendra memiringkan tubuhnya menghadap Alamaira dan mengusap lembut kepala adiknya.
"Ada apa katakan saja" ucap Rendra.
"Elisya menyukai kakak lebih dari seorang kakak" ucap Almaira pelan tapi masih bisa didengar oleh Rendra.
__ADS_1
Rendra mendesah, ini yang dia takutkan. Menyayangi seseorang yang berbeda jenis akan ada hal lain yang akan dirasakan, Rendra paham ini. Elisya sudah sering menunjukkan tanda-tanda ketertarikan pada dirinya bukan sebagai kakak, salah satunya saat mendampingi gadis itu dimalam perpisahan. Dia sungguh tidak bisa memberi lebih kasih sayangnya pada Elisya seperti yang diinginkan gadis itu.
Melihat Elisya tumbuh bersama Almaira sejak balita, sudah tertanam di hatinya sejak dulu, kalau Elisya juga adiknya. Karena itu dia juga memanjakan gadis itu sama seperti dia memanjakan Almaira. Bergandeng tangan, peluk dan cium kepala tidak asing bagi mereka yang sudah terbiasa melakukannya bertahun-tahun. Terlebih lagi rasa kasihan pada Elisya yang harus terpisah dari kedua orang tuanya karena perceraian, menambah sayangnya ingin melindungi sebagai kakak.
"Perasaan kakak tidak bisa lebih dari yang sekarang Al" lirih Rendra.
"Al tahu kak, tapi jangan sakiti El. Jaga sikap kakak pada Mbak Raisa bila ada El" pinta Almaira. Untuk sementara itu yang bisa dilakukan sambil mencari cara memberitahu Elisya.
"Untungnya kakak sudah tidak tinggal disini" lanjut Almaira. Rendra mengangguk menyetujui ucapan adiknya.
Tok...tok... seseorang mengetuk pintu kamar Almaira "Masuk" jawab Rendra, sementara Almaira masih nyaman dalam pelukan kakaknya.
"Al..." Raisa menghetikan ucapannya saat melihat dua orang yang sedang berpelukan ditempat tidur.
"Untung saja adiknya" ucap Raisa dalam hati.
"Mas Rendra, Alma. Bu Laras sudah menyiapkan makan siang" Raisa memberi tahu keduanya.
"Eh.. Mbak Raisa, maaf ya Al kalau kangen sama kak Rendra mintanya dipeluk" ucap Almaira yang tidak enak hati pada Raisa melihat mereka berpelukan. Dia kira Rangga atau Elisya yang mengetuk, kalau Kak Rendynya pasti akan langsung masuk.
"Udah kak, Al mau minta peluk Kak Rendy sekarang" Almaira melepas pelukan Rendra tapi ditahan sang kakak.
"Kakak masih kangen Al, kalau Rendy kamu baru satu minggu berpisah" Rendra mengeratkan pelukannya sambil menciumi pucuk kepala Almaira sampai puas. Raisa hanya menggelengkan kepala melihat kedekatan dua saudara itu.
Bagaimana kalau dia melihat Rendra dan Elisya? karena Rendra juga suka memeluk dan mencium Elisya dengan gemas seperti yang dia lakukan pada Almaira saat ini.
"Kak Rendra, El cariin ternyata disini" Elisya tiba-tiba saja masuk dan cemberut. "El juga kangen kak" keluhnya sambil mendekat.
Rendra yang sudah melepaskan pelukannya pada Almaira langsung berdiri. "Kakak lupa kalau punya adik perempuan satu lagi" ucapnya sambil terkekeh dan merengkuh gadis itu dalam pelukannya dan menghujami pucuk kepala Elisya dengan ciuman.
"Mbak Raisa jangan cemburu. Elisya sudah biasa sejak kecil manja dengan Kak Rendra dan Kak Rendy" ucap Almaira sambil berbisik.
Raisa tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Almaira, walau Rendra pernah memberitahunya tapi tetap saja persaannya tidak sama saat melihat Rendra memeluk Almaira dan saat melihat Rendra memeluk Elisya.
__ADS_1
...◇◇◇...