
Pembicaraannya dengan Papa Ahmad membuat Elisya berpikir ulang, terutama tentang hubungannya dengan Andra. Papa Ahmad memberitahu semua mengapa dia memilih Rendra menemani Elisya saat konfrensi pers dan menyatakan dokter muda itu sebagai calon menantunya.
Elisya kini mengerti, semua karena sang papa membaca diarynya yang menggambarkan isi hati seorang Elisya pada Rendra. Tanpa seijin Elisya, Papa Ahmad memberitahu kak Rendranya tentang perasaanya.
Sebagai orang yang menyayangi Elisya, Rendra menerima begitu saja permintaan Papa Ahmad untuk mencintai putrinya, menjaga dan melindungi Elisya.
"Pantas saja" gumam Elisya.
Kejadian beberapa bulan yang lalu kembali terlintas dikepala Elisya, saat itu Rendra mempertanyakan keputusan Elisya, seakan pria itu tidak percaya dengan apa yang gadis kecil itu inginkan. Kini Elisya tahu penyebabnya, semua karena Rendra sudah tahu isi hatinya yang sebenarnya.
Malu? Elisya malu dengan kenyataan Rendra yang tahu perasaanya sejak lama. Disaat pria itu bersedia mencoba berjalan disisinya, dia sendiri yang mendorongnya menjauh. Harusnya dia bertahan dan menunggu sampai Rendra benar-benar bisa mencintainya. Tapi rasa itu seketika hilang saat dia dan Rendra mencoba menjalin hubungan. Sama hambarnya yang sekarang dia rasakan bersama Andra.
Lalu? Mengapa dia harus marah dan cemburu saat Rendra kembali menentukan pilihan untuk hatinya. Bahkan Rendra bisa tertawa lepas bersama Anindya, tidak ada beban diwajahnya seperti saat mencoba berjalan bersamanya.
Keputusan yang diambil Elisya sudah tepat, itulah yang dia pikrkan saat ini. Setelah semalaman dia merenungkannya, dia belajar untuk bahagia melihat kebahagiaan orang yang disayanginya.
"El" Elisya tersenyum saat tahu siapa yang menyapanya.
"Kesiangan?" tanya Elisya begitu Almara sudah duduk di sampingnya.
"Rangga yang telat bangunnya" jawab Almaira. Elisya menaikkan satu alisya.
"Dia sama Ayu menginap" Elisya hanya ber O ria setelah mendengar penjelasan Almaira.
"Ada berita baru tentang Cecilia, sudah dengar?" tanya Elisya yang mendapat anggukan dari Almaira. Elisya tidak tahu saja, kalau sahabatnya ini lebih dulu tahu bahkan berada di lokasi sebelum beritanya keluar.
"Aku dan Rangga ada disana, tapi kami tidak ikut turun. Aku malah ketiduran dimobil" Almaira terkekeh mengingat kelakuannya semalam sehingga Ezra harus menggendongnya sampai kamar dan terbagun dalam pelukan hangat pujaan hati.
Elisya melewat sesuatu, bukan kali ini saja tapi sudah beberapa kali. Sejak tinggal bersama papanya dia selalu saja ketinggalan kegiatan yang biasa dilakukan bertiga tapi sekarang lebih sering Almaira dan Rangga yang melakukannya.
Cemburu? Bukan itu yang Elisya rasakan hanya saja dia merasa semakin jauh dengan kedua sahabatnya walau mereka bertemu setiap hari, tapi itu tidak cukup. Biasanya dari dua puluh empat jam dalam satu hari, mereka mengahbiskan waktu bersama empat belas sampai lima belas jam. Sekarang? bisa bersama-sama sampai empat atau lima jam dalam satu hari saja rasanya sulit.
"Nanti aku ceritakan" lanjut Almaira begitu melihat Pak Prayetno sudah masuk kedalam kelas dan siap memberikan materi pembelajaran pada mereka.
Ezra [Ai, pulang kuliah hari ini sama Rangga. Tidak boleh naik taxi sendiri]
Almaira menggelengkan kepala saat membaca pesan dari Ezra. calon suaminya itu sudah memberi tahunya tadi pagi saat mereka sarapan kalau jadwalnya hari ini sagat sibuk dan tidak bisa megantar dan menjemputnya seperti biasa.
Almaira [ Iya Bimbi sayang]
Sebenarnya Almaira malas membalasnya. Rangga juga tidak membawa kendaraanya, tadi pagi mereka berdua ke kampus diantar Rendy. Tapi kalau dia biarkan saja, Ezra akan terus mengirim pesan padanya.
__ADS_1
"Pesan dari Kak Ezra?" Elisya bertanya. Almaira mengangguk.
Mereka sekarang duduk di taman kampus menunggu kelas berikutnya. Almaira baru saja menceritakan tentang Cecilia yang tertangkap dan Dave yang menyelamatkan Viola.
"Sayang sekali Cek Al dan Rangga tidak ikut masuk" ucap Elisya menanggapi cerita yang disampaikan Almaira.
Seseorang tiba-tiba duduk disamping Almaira tanpa ijin, dia ingin marah tapi niat itu diurungkan setelah tahu siapa yang duduk disampingnya.
"Kakak disini?" tanya Almaira heran sambil merangkul lengan sang kakak dan menjatuhkan kepalanya dibahu kekar yang selau nyaman untuknya bersandar.
"Iya, baru selesai ngasih materi kuliah umum. Waktu lewat tidak sengaja melihat kalian" jawab Rendra.
"Masih ada kelas?" tanya Rendra.
"Harusnya, tapi baru saja diumumin ketua kelas di wag kalau dosennya tidak bisa masuk dan akan diganti hari lain" Elisya yang menjawab.
"Ikut kakak kalau gitu?" ajak Rendra.
"Kemana?" tanya Almaira semangat.
"Kemana saja kalian mau, sudah lama kita tidak bersenang-senang"
Almaira menatap Elisya, dia ingin meminta pendapat sahabatnya tentang ajakan Rendra.
"Tawaran yang tidak bisa ditolak" jawab Elisya sambil terkekeh.
Rendra berdiri diikuti kedua adiknya yang langsung dia rangkul dengan kedua tangannya. Elisya sempat canggung, tapi dia tepis. Hari ini dia akan bersenang-senang seperti dulu.
Elisya ingat, hal yang sangat dinantinya saat Rendra pulang ke Palembang. Pria itu akan meluangkan waktu satu hari untuknya, Almaira dan Rangga. Mengingat Rangga, Elisya menghentikan langkahnya yang diikuti Rendra dan Almaira.
"Kenapa El?" tanya Rendra.
"Rangga kak" Rendra tersenyum, Elisya selalu ingat Rangga kalau ingin bersenang-senang.
"Tuh" tunjuk Rendra pada pemuda yang terlihat duduk didalam mobil yang jendelanya diturunkan tak bersisa.
"Ahh, dia sudah duluan ternyata El" Almaira beseru.
Elisya diam. Dia berpikir, jika ada Rangga biasanya akan ada Anindya. Elisya jadi ragu untuk melanjutkan langkahnya. Dia takut merusak suasana jika hatinya tidak baik-baik saja.
Tanpa Elisya tahu, Rendra sudah mengantar Anindya pulang ke tempat kosnya terlebih dahulu sebelum menjemput mereka. Rangga memberi tahunya kalau Almaira sudah tidak ada kelas lagi, saat itu ide menghabiskan waktu bersenang-senang muncul. Tidak ingin ada perasaan tidak nyaman nantinya, Rendra mengantar Anindya pulang.
__ADS_1
"Tidak ada Anindya?" gumam Elisya setelah dia membuka pintu mobil bagian belakang.
"Kita kemana nih?" tanya Rendra.
"Dufan"
"Makan"
Rangga dan Almaira menjawab bersamaan. Rendra terkekeh lalu menyalakan mesin kendarannya.
"Kita makan dulu terus ke dufan" Rendra memutuskan.
Hampir semua Wahana di tempat ini mereka naiki. Ini bukan kali pertama mereka berkunjung, namun tetap saja mereka kembali ingin bermain disana. Tidak mudah sekarang bagi tiga sahabat tersebut menikmati setiap wahana. Cukup banyak yang mengenal mereka sehingga mau tidak mau agar tidak bisa dibilang sombong mereka melayani pengunjung lain yang minta foto bersama.
Bahagia, itulah yang terlihat dari wajah keempatnya. Walau lelah mereka bisa kembali menikmati kebersamaan ini.
"Istirahat dulu" ajak Rendra.
Rangga mengajak mereka duduk di bangku yang disiapkan oleh pihak pengelola. Almaira meminta Rangga menemaninya membeli minuman dan beberapa makanan ringan meninggalkan Elisya dan Rendra duduk berdua.
"El" panggil Rendra.
Elisya tidak mendengar panggilan Rendra, dia sedang memikirkan apa yang harus dia lakukan. Memberi tahu Rendra kalau dia tahu Rendra membaca diarynya atau diam saja seakan-akan dia tidak tahu. Rendra menepuk lengan Elisya karena gadis itu diam saja saat dia memanggil.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Rendra pada Elisya yang terkejut karena mendapati tepukan di tangan.
"Aku baik-baik saja kak" jawab Elisya.
"Kamu yakin? Kenapa kakak yang tidak yakin?" tanya Rendra lagi.
Elisya mendesah, Rendra mengenal dirinya sangat baik bahkan lebih baik dari dirinya sendiri. Karena itu juga yang membuat Elisya lebih mengagumi sosok Rendra dari pada Rendy padahal keduanya memperlakukan Elisya dengan cara yang sama. Keduanya sama tulusnya dan Elisya merusaknya dengan jatuh cinta pada Rendra.
Terlalu mengenal Elisya sangat baik, Rendra tidak bisa tidak menghiraukan kebahagiaan Elisya seperti dia juga memikirkan kebahagiaan Almaira. Karena itu juga saat diminta untuk mencintai Elisya, Rendra bersedia mencobanya. Bahkan dia mengorbankan kebahagiannya sendiri dan mencoba untuk mencintai Elisya. Untungnya Elisya sendiri yang menolaknya walau Rendra tahu gadis itu masih bimbang dengan keputusannya saat itu. Tapi kini Elisya sudah membuka hati dan Rendra ikut bahagia untuk itu.
"Papa sudah cerita semuanya" ucap Elisya akhirnya.
Kini Rendra yang mendesah, Elisya pasti tahu kalau dia ikut membaca diarynya dan mencoba mencintai Elisya karena keinginan Papa Ahmad.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1