BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
47. Mengurai Kekusutan


__ADS_3

Rendy Pov


Pagi-pagi sekali aku harus segera ke bandara untuk menjemput kedua karyawan mama yang akan membantuku menjaga stand. Besok ada pameran untuk mempromosikan wisata dan hasil karya anak bangsa tingkat asia, kali ini usaha mama terpilih mewakili daerah bersama beberapa pengerajin yang lain untuk ikut dalam ajang bergengsi ini.


Semalam aku sudah pamit pada Alma adik kesayanganku kalau hari ini aku sibuk dan akan bertemu dia saat nanti konferensi pers Elisya dan Noah. Dia setuju, dia katakan kalau dia akan ditemani Reza saat menghadiri konferensi pers tersebut.


Baru saja aku memarkirkan kendaraan, suara panggilan telepon dari Eli masuk. Ada apa anak ini pagi-pagi mencariku, sesuatu yang pentingkah?


"Assalamualaikum, ada apa El?"


"Kakak dimana? Alma badannya panas kak"


"Kakak sudah di bandara El, kamu tolong jaga Al dulu, nanti kakak hubungi Rendra"


Eli segera memutuskan panggilan kami begitu aku memberitahunya, anak itu selalu saja tidak ada basa-basinya kalau sedang panik, bahkan salamku juga tidak dijawab.


Semalam Alma baik-baik saja saat ku tinggal, bahkan dia masih sibuk berbincang dengan Rangga dan Eli. Atau? Bisa jadi karena dia memikirkan ucapanku tadi malam.


"Maafkan kakak Al kalau memang karena percakapan kita tadi malam membuatmu sakit"


Adikku itu selalu saja tidak bisa banyak pikiran, cepat sekali dia jatuh sakit kalau sudah begitu.


"Assalmualaikum Ndra, bisa kekosan? Al sakit" aku memberi tahu Rendra begitu panggilannku tersambung.


"Waalaikumsalam, sebentar lagi aku masuk ruang operasi, belum tahu selesai jam berapa"


"Nanti aku hubungi Reza" lanjut Rendra.


Sekarang aku yang memutuskan panggilan. Saat menelpon Rendra aku sambil berjalan ke pintu kedatangan, dan disini sekarang aku bediri tidak jauh dari pintu kedatangan.


Jadi ingat yang mama katakan, tadi dia sempat mengabariku sebelum aku meninggalkan kosan. Mama bilang kalau Tika dan Yuk Rani, orang kepercayaan mama akan datang bersama seseorang yang sangat aku kenal.


"Siapa?" Saat kutanya seperti itu mama hanya tertawa menggodaku.


"Lihat saja nanti" jawabnya. Mama benar-benar kali ini membuat aku penasaran.


Suara panggilan dari Rendra membuatku tersadar dari pikiran siapa orang yang dimaksud mama.


"Halo Ren, Reza yang akan jaga Alma. Jangan khawatir" suara Rendra terdengar dari sana begitu aku mengangkat panggilannya.


"Ok baiklah" jawabku.


Bersyukur Reza selalu ada waktu untuk Alma, tentu dia akan selalu memanfaatkan waktu agar bisa bersama adikku. Biarkan saja, bukankah memang dia yang akan selalu ada untuk Al pada akhirnya.


"Kak Rendy"

__ADS_1


Deg. Mengapa suara yang aku rindukan itu terdengar sangat jelas ditelingaku. Apakah dia yang mama maksud?


"Kak Rendy" suara itu kembali memanggilku dan aku segera berbalik untuk memastikan. Mimpikah?


"Selena" panggilku padanya.


Nama yang tidak pernah hilang dalam hatiku, walau sempat ada Diana yang mengisinya namun namanya tetap berada disisi paling dalam terpatri dan tidak akan bisa pergi.


Dia tersenyum, senyum yang selalu aku rindukan, senyum yang bisa menangkan aku dikala dipenuhi beban tugas-tugas sekolah, senyum yang selalu meberikan kesejukan dikala gundah dan senyum yang bisa menutup luka, luka perpisahan.


"Bagaimana kabarmu Na?" tanyaku pada Selena untuk membuka obrolan saat dia mencium tanganku seperti biasanya.


"Baik kak, Kakak sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik" sangat baik terlebih setelah bertemu lagi denganmu.


Mama tadi sudah menjelaskan kalau orang yang bersama Yuk Rani satu tujuan dengan kami, yaitu ikut pameran yang akan dimulai besok hanya saja mama menyembunyikan identitas orangnya kalau dia adalah Selena. Mama sungguh kali ini dia benar-benar memberikan kejutan.


Aku segera mengajak ketiganya untuk keparkiran dan langsung menuju hotel. Tidak bayak yang kami bicarakan, semua membahas apa yang akan kami kerjakan hari ini.


Kami sudah sampai di hotel yang disiapkan pihak panitia untuk para peserta, masing-masing peserta hanya dapat jatah satu kamar. Kakau jumlah personil lebih banyak, mau tidak mau harus mengeluarkan biaya sendiri.


Ternyata kamar Yuk Rani dan Tika berada di lantai yang sama dengan Selena, aku mengantar Yuk Rani dan Tika terlebih dahulu lalu aku mengantar Selena kemudian.


"Masuk kak" Selena mempersilakan aku masuk kekamar tempatnya menginap.


Aku membalas pelukannya dengan erat, aku pun merindukannya sangat merindukannya. Kukecup pucuk kepalanya seperti biasa bila kami bertemu dan saling melepas rindu.


Hati tidak dapat dibohongi, kami masih saling mencintai satu sama lain seperti dulu, hanya saja nasib mempermainkan kami dengan perpisahan yang dipaksakan.


Disaat hubungan kami sedang baik-baiknya, tiba-tba saja keluarga besar Selena menerima lamaran dari pria lain. Dengan paksaan Selena harus menerima pinangan tersebut dengan ikatan pertunangan.


Tidak berselang lama akupun dipaksa nenekku untuk bertunangan dengan Diana. Mama sangat menentangnya saat itu, tapi dia tidak berdaya melawan ibu mertuanya.


Rendra sempat berkomentar kalau semua ini seakan diatur oleh orang-orang yang tidak menginginkan kebersamaanku dengan Selena, tapi aku tidak mau pusing dengan apa yang dipikirkan Rendra sehingga tidak mengusutnya lebih jauh.


"Kak, Mama Rahma tadi sempat cerita tentangmu"


Aku merengangkan pelukan ku lalu duduk dikursi, Selena ikut duduk disampingku. Satu tahun yang lalu pertunangannyapun berakhir, karena pria yag meminangnya menikahi kekasihnya yang hamil. Sekarang aku dan Dianapun berakhir, apakah kami bisa kembali bersama?


"Apa kita bisa menyambung benang yang putus?" tanyaku penuh harap.


"Benang kita tidak pernah putus kak, hanya sedikit kusut karena keegoisan orang lain"


Selena benar, kami tidak pernah mengucapkan kata putus sampai detik ini, hanya kata kita terpaksa berpisah.

__ADS_1


"Kalau begitu sama-sama kita mengurai kekusutan itu agar kembali menjadi lurus dan...."


"Dan kita rajut bersama, menjadikan sesuatu yang berharga" Selena menyambung kata-kataku.


"Aku bersedia kak. Mama Rahma tadi sudah memberikan restunya padaku untuk kembali bersamamu"


Tentu saja mama akan memberikan restunya, sejak dulu mama sangat mendukung hubunganku dan Selena.


Aku meraih tangannya dan kukecup, kami tersenyum bersama. Ada hikma dibalik kejadian yang aku alami akhir-akhir ini. Semesta seakan menjawab doa-doaku yang ingin hidup bahagia bersama orang yang kucintai.


"Mau ketemu Alma dan Rendra?" tanyaku begitu kami akan keluar dari kamar.


Aku yang mengajaknya untuk segera keluar dari kamar, jujur semakin lama berdua aku takut kejadian saat dia kabur menolak pertunagannya terjadi lagi. Saat itu Selena datang kerumah dan langsung masuk kekamarku, dia menagis memintaku untuk mengahmilinya. Untung saja aku masih bisa berpikir normal, walau hal terlarang itu nyaris terjadi.


"Tentu, aku sudah lama tidak bertemu Alma, dia sekarang sudah terkenal ya" aku mengangguk.


"Nanti sore aku akan bertemu mereka, ada konferensi pers Elisya dan Noah"


"Aku tahu berita itu, apa mereka memang menjalin hubungan?"


"Nanti sore ikut saja, biar tahu sendiri kebenrannya" aku menjawab pertanyaan Selena dengan ajakan.


Setelah selesai mempersiapkan stand milik mamaku dan milik mama Selena. Aku mengajak Selena, Yuk Rani dan Tika makan siang. Disana kami bertemu Rangga dan teman-teman kuliahnya. Rangga cukup terkejut saat melihat aku berjalan bersama Selena, jagankan Rangga, aku sendiri masih belum percaya.


"Hai Rangga" Selena menyapa Rangga yang hanya diam karena terkejut.


"Cek Ena, kapan datang ke Jakarta?" tanya Rangga.


"Tadi pagi sama ayuk" Yuk Rani yang menjawab.


"Ehh ada Yuk Rani" Rangga langsung merangkul Yuk Rani seperti bisanya sebelum memulai perdebatan, dua orang ini sering adu mulut tapi sebenarnya mereka saling menyayangi.


"Ga, mau langsung ke studio apa balik dulu?" tanya ku pada Rangga sebelum mereka perang.


"Pulang dulu kak ke kosan, mau lihat kondisi Alma juga" jawab Rangga.


Aku jadi merasa bersalah, mengapa aku lupa sama kesehatan Alma. Akhirnya aku coba mengubunginya.


"Alma lagi bersama Bunda Aisyah di kediaman Ayah Diimas" aku memberi tahu Rangga. Pemuda itu mengangguk menegerti.


Aku dan Rangga berpisah. Rangga kembali ke kosan karena Elisya masih ada disana, sedangkan aku kembali ke hotel mengantar Yuk Rani dan Tika juga sekalian ikut mandi dan berganti pakaian di kamar mereka.


Aku sampai di studio Jevan, bersamaan dengan Rendra yang juga baru saja parkir. Kami jalan bersama setelah Rendra menyapa Selena. Selena sengaja berjalan dibelakang kami berdua agar tidak terlihat, tentu saja untuk membuat kejutan pada Alma.


...Bila Aku Jatuh Cinta...

__ADS_1


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2