BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
50. Bimbi


__ADS_3

"Kamu hanya kelelahan Al. Sekarang makan terus minum obat"


Rendra baru saja selesai memeriksa Almaira, begitu tiba di kosan, dia langsung menemui adiknya yang ternyata baru saja masuk kamar bersama Ezra.


"Maaf yo Cek Al, harusnya hari ini istirahat tapi karena ada konferensi pers kau jadi ikut capek"


Elisya merasa bersalah, mulai dari mereka di Palembang sampai hari ini, semua orang yang sayang padanya ikut sibuk membantu menyelesaikan masalahnya.


"Bukan karena itu El, emang kondisi akunya aja yang lagi down" jawab Almaira agar sahabatnya itu tidak perlu merasa bersalah.


Kenyataannya memang bukan hanya kelelahan karena konferensi pers Elisya, tapi lebih tepatnya banyak yang sedang dia pikirkan. Terutama pembicaraan yang tidak sengaja didengarnya tentang Elisya dua hari berturut-turut.


"Bagaimana Ndra hasil diagnosanya?"


Ezra kembali kekamar, dia baru saja dari pos satpam mengambil makanan untuk Almaira dan yang lain yang dikirim Bunda Aisyah. Dia langsung bertanya, begitu melihat Rendra sudah selesai memeriksa Almaira.


"Hanya kelelahan, tidak usah khawatir" jawab Rendra sambil menyimpan stetoskopnya kedalam tas kerja.


"El kamu juga pasti lelah hari ini. Sebaiknya kamu segera makan dan bersih-bersih lalu istirahat" Rendra melanjutkan ucapannya yang kali ini dia tujukan pada Elisya.


"Ayo kita makan sama-sama. Ini bunda bawain banyak" sambung Ezra sambil membuka bungkusan yang dikirim Bunda Aisyah.


"Ai mau ayang suapin?" tanya Ezra pada Almaira.


"Ayang?" beo Almaira sambil menahan tawanya.


"Iya"


"Kenapa ayang sih kak? Bisa yang lainkan yang lebih gimana gitu" sahut Almaira.


"Ya terserah kamu mau panggil apa"


Ezra menyerah, sudah berapa kali dia meminta Almaira memanggilnya dengan panggilan yang khusus agar berbeda dari Rendra dan Rendy yang sama-sama dipanggil kakak oleh Almaira, tapi tidak juga kunjung dilakukan oleh gadis kecilnya. Sehingga dia berinisiatif untuk menyuruh Almaira memaggilnya ayang.


"Bimbi boleh?" tanya Almaira begitu melihat wajah Ezra yang cemberut.


"Kenapa Bimbi?" tanya Ezra, karena cukup asing baginya.


"Suka aja sih sama panggilan itu" jawab Alamira.


"Ok, Bimbi tidak terlalu buruk" Almaira tersenyum setelah Ezra mengatakan itu.


"Jadi Ai mau makan sendiri apa disuapin Bimbi?" Ezra mengulangi lagi pertanyaannya.


"Sendiri aja Bi"


Ezra menyerahkan satu box makanan yang ada ditangannya pada Almaira, lalu pada Rendra dan Elisya yang masih menyisahkan tawa mereka saat melihat kelakuan dua orang yang sibuk menentukan panggilan sayang.


"Jangan ketawa aja, kalian berdua juga harus nentuin panggilan special biar nggak ketukar sama Rendy" sela Ezra membuat tawa keduanya berhenti.


"Eh kita nggak norak kayak lo ya bro" jawab Rendra.

__ADS_1


"Ya terserah lo aja Ndra, gue hanya kasih saran" balas Ezra.


Sementara ditempat lain Rendy baru saja membaca pesan dari Rendra yang memberitahu kalau saudara kembarnya itu sekarang dikosan mereka, menemani Almaira yang kembali sakit. Saat ini dia baru sampai di loby hotel mengantar Selena, Rani dan Tika.


"Na, aku langsung balik ke kosan ya" Selena langsung mengangguk setuju.


"Iya kak, nggak apa-apa. Kakak pasti capek banget hari ini. Pagi-pagi udah harus jemput kita ke Bandara, terus ngedekor stand dan menghadiri konferensi pers. Sebaiknya kakak cepat pulang dan istirahat" jawab Selena. Berganti Rendy sekarang yang mengangguk setuju.


"Yuk Rani, besok kebetulan aku ada kuliah pagi, kemungkinan siang baru bisa ketempat pameran" Rendy beralih pada Rani.


"Iya tidak masalah, tempat pameran dengan hotel dekat, kami bisa jalan kaki kesana. Tidak perlu dijemput"


"Kalian semua cepat istirahat" pesan Rendy pada ketiganya.


Setelah pamit pada Selena, Rani dan Tika, Rendy langsung kembali keparkiran dimana kendaraannya berada. Baru saja masuk kedalam kendaraannya, Rendy mendapat panggilan dari Mama Rahma.


"Assalamualaikum ma"


"Waalaikumsalam Ndy"


"Bagaimana persiapan untuk besok?"


"Baik ma, tidak ada masalah semua sudah siap. Besok pembukaan acaranya pagi, tapi Rendy nggak bisa hadir. Biar Yuk Rani sama Tika saja" jawab Rendy menjelaskan.


"Ya sudah tidak apa-apa, memang mama kirim mereka berdua untuk itukan" balas Mama Rahma.


"Ma, Al sakit"


"Adikmu sakit apa kak? Siapa yang menemani dia? Sudah diperiksa Rendra belum?" tanya Mama Rahma beruntun.


Namun saat mendengar pernyataan yang disampaikan Papa Ahmad tentang Rendra yang merupakan calon suami Elisya, Mama Rahma cukup terkejut. Tidak ada pembicaraan dari Rendra sebelumnya tentang hal ini. Bahkan tadi sore dia sempat berdebat dengan Papa Dhani, saat Papa Dhani menyetujui begitu saja hubungan Rendra. Bukan tidak suka dengan Elisya, Mama Rahma sudah menganggap Elisya itu putrinya.


"Ma, Al sepertinya terbebani dengan permintaan kita untuk segera menikah" jawaban Rendy diluar pertanyaan Mama Rahma.


"Mama tahu sendiri Alma itu bukan anak yang gampang sakit" Mama Rahma mengangguk setuju padahal Rendy tidak dapat melihatnya.


"Maksud Rendy biar dia menikmati kehidupannya sekarang lebih lama, jangan dipaksa untuk segera menikah. Rendy yakin Reza bisa mengerti" lanjut Rendy ucapannya.


"Iya mama juga berpikir seperti itu, tadi sore mama sudah bicara dengan papa" jawab Mama Rahma.


"Lalu apa keputusa papap?" bukan menjawab pertanyaan Rendy Mama Rahma malah terkekeh.


"Papa bilang sepertinya kamu saja Ndy yang segera menikah" Mama Rahma memberitahu.


"Lo kok jadi Rendy ma?" protes Rendy.


"Kamu sudah ketemu Selena bukan? Bagaimana? Apa tidak ada keinginan untuk kembali?"


"Nanti kita bicara lagi ma, Rendy mau segera pulang ke kosan mau lihat kondisi Alma"


"Ya sudah, tapi perkataan mama tolong dipikirkan ya Ndy, jangan lupa kabari mama tentang kesehatan adikmu" pinta Mama Rahma sebelum mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


Rendy menyalakan mesin kendaraannnya dan meninggalkan halaman parkir pulang menuju kosan. Benar kata Selena, hari ini dia sangat lelah.


Sampainya dikosan Rendy tidak masuk kekamarnya melainkan langsung keatas menuju kamar Almaira. Ada Rendra dan Ezra disana yang sedang berbaring dikarpet, keduanya tiduran sambil berbincang. Sementara Almaira sudah tidur dengan nyenyak di tempat tidurnya.


"Apa yang kalian bicarakan? Mana Rangga dan Elisya?" tanya Rendy beruntun.


"Eli dikamarnya untuk membersihkan diri dan langsung istirahat" jawab Rendra.


"Rangga gue belum lihat dia" Ezra yang menjawab.


"Mobilnya tidak ada dibawah" Rendy memberitahu keduanya.


"Telpon suruh cepat pulang. Ada hal yang ingin aku bicarakan dan ceritakan, tapi kita tunggu Rangga sekalian" jelas Rendra.


"Tentang apa?" Rendy kembali bertanya.


Rendra tidak menjawab, karena Rendy sudah bicara dengan Rangga meminta sahabat adiknya itu segera pulang.


"Keinginan Papa Ahmad" jawab Rendra setelah Rendy menutup panggilannya dengan Rangga.


"Apa dia minta lo segera nikahin Elisya?" Rendra menggelengkan kepala. Ezra terkekeh.


"Lo jangan ketawa Za, Al sekarang sakit gara-gara lo. Gara-gara lo minta ijin sama mama, kemarin gue diminta mama buat bilang ke Al untuk cepat nikah sama lo Dia kepikiran jadi sakit" jelas Rendy.


"Apa benar seperti itu Ndra?" tanya Ezra meminta pendapat Rendra. Bisa saja Rendy hanya mengucapkan apa yang dia pikirkan saja.


"Al itu jarang sakit, satu tahun bisa tidak sakit sama sekali. Kalau dia sakit pemincunya biasanya terlalu banyak hal yang dipikirkannya" jawab Rendra menjelaskan maksud Rendy.


"Tapi kurasa bukan karena permintaanmu yang ingin segera menikah" lanjut Rendra.


"Lalu?" tanya Ezra tidak sabaran.


"El, jangan percaya mereka" semua memalingkan wajah pada Almaira yang bicara dalam tidurnya.


"Panasnya tinggi Ndra" ucap Ezra.


Ezra langsung berdiri dan mendekati Almaira. Begitu dia ingin mengusap rambut Almaira untuk menenangkan gadis kecilnya yang meracu, dia menyentuh kening Al dan terasa panasnya kembali tinggi.


"Tidak apa-apa, dia sepertinya mimpi buruk" ucap Rendra setelah kembali memeriksa Almaira.


"Sepertinya Alma sudah tahu ada orang yang ingin berbuat jahat pada Elisya"


"Maksudmu?" tanya Rendy penasaran.


"Kita tunggu Rangga, nanti aku ceritakan sekalian"


"Keinginan Papa Ahmad yang kamu katakan, apa tentang orang yang ingin berbuat jahat pada Elisya? Dan Almaira mengetahuinya, lalu dia sakit karena memikirkan itu?" tanya Rendy beruntun.


Rendra mengangguk membenarkan, dia yakin Almaira tahu sesuatu hal yang akan mencelakai Elisya.


"Tapi dari mana adiknya tahu dan mengapa Al tidak cerita?" tanya Rendra dalam hati.

__ADS_1


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2