
Ezra POV
Gadis kecilku tampil sangat cantik hari ini, saat dia memanggilku untuk segera pergi tidak bisa dibohongi aku sangat terpesona. Kami meninggalkan kosan untuk segera mencari makan, tapi aku berubah pikiran dan akhirnya kubelokkan mobil berbalik arah kembali ke kediamanku.
"Kakak ganti baju dulu ya ai" aku memberitahunya kenapa aku kembali kekediamanku, Alma mengangguk mengiyakan.
"Diman bunda kak?" tanyanya saat masuk tidak ada siapa-siapa yang menyambut kami. Rumah ini memang sepi setiap hari, tepatnya sejak Kak Adam dan Mbak Nayla berkeluarga.
"Sepertinya bunda ke butik ai" jawabku, lalu aku mengajaknya kelantai dua.
"Kak, Al tunggu dibawah aja" aku tahu itu cara dia menolak untuk ikut kekamarku.
"Dibawah sepi tidak ada siapa-siapa nanti kamu kesepian"
Kulihat Bi Suti akan mendekat tapi kuberi kode padanya untuk tidak menampakkan diri pada Alma.
Aku terus menggengam tangannya untuk ikut kekamarku, karena aku ingin menunjukkan sesuatu padanya.
Begitu masuk kedalam kamar, Alma terdiam menatap pigura besar dimana aku dan dia terlihat sangat mesrah. Itu foto saat kami di rooftop waktu dia syuting iklan. Aku memang meminta Jevan melakukan candid tanpa Alma ketahui, sehingga kemesraan kami terlihat sangat natural. Lalu aku menyerahkan sepenuhnya pada sahabatku itu mencari yang terbaik sampai aku menerima hasilnya yang menurutku sangat luar biasa.
"Bagaimana?" aku bertanya sambil memeluknya dari belakang.
"Karena ini kakak memaksaku naik" tanyanya.
"Salah satunya" aku menjawab sambil terkekeh lalu melepaskan pelukanku untuk segera berganti pakaian. Sementara Alma masih tak berpaling juga dari pigura foto mesrah kami yang ada dihadapnnya.
"Yang lain...." belum selesai Alma berucap dia langsung memalingkan wajahnya.
Aku terkekeh melihatnya yang malu karena aku sedang bertelanjang dada.
"Pakai bajunya kak" pintanya, bukan mengikuti perintahnya aku malah mendekat dan memeluknya dari belakang karena dia terus membelakangiku.
"Tubuh ini milikmu ai, kenapa harus malu?" tanyaku sambil berbisik.
"Jangan seperti ini kak. Belum waktunya" aku tahu dia masih belum bisa menerima keintiman kami dan yang dia katakan memang benar. Aku hanya ingin menggodanya.
"Baiklah sayangku" kukecup pipinya lalu kelepas pelukanku dan segera berpakaian.
"Lihat sini ai" dia menggelengkan kepala.
"Kakak sudah berpakaian" aku memberitahunya.
Mendengar itu dia berbalik sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku mendekat dan menarik tangannya.
"Lihat, kenapa masih harus menutup mata"
"Ka Eza menyebalkan" dia mencebikkan mulutnya yang membuat aku semakin ingin tertawa.
__ADS_1
"Duduk sini ai, masih ada yang ingin kakak lihatin kekamu"
Alma menurut, kami duduk disofa yang ada dikamarku, segera ku ambil amplop yang kutaruh tidak jauh dari Alma duduk.
"Buka dan lihatlah"
Aku menyerahkan amplop tersebut pada Alma. Amplop itu baru kuterima dua hari yang lalu bersamaan dengan figura yang dikirim Jevan.
"Kak, ini semuanya bagus" kulihat matanya berbinar melihat beberapa hasil candid yang diambil Jevan hari itu.
"Itu karena memang kamunya yang cantik ai" ku lihat wajahnya merona. Aku sangat suka melihat rona merah diwajahnya, terlebih lagi itu karena aku.
"Ayo kita cari makan" ajakku setelah meliha benda yang melingkar di tanganku. Alma mengangguk dan kami berjalan keluar kamar lalu menuruni anak tangga.
"Al sayang, sudah sehat?" suara bunda menyapa begitu kami sampai dilantai bawah.
"Bunda" Alma mendekat pada bunda lalu mencium tangan bunda dan mereka bercipika cipiki.
"Alhamdulillah sudah enakan bun. Maaf Al tidak tahu kalau bunda sudah pulang"
"Tidak apa-apa, bunda juga baru sampai. Kamu sudah dari tadi?"
"Belum lama bun, ini juga Kak Eza pulang karena mau berganti pakaian untuk ikut menghadiri konferensi pers Elisya. Tapi kak Eza maksa Alma ikut keatas" Alma menjelaskan, dia takut bunda tidak suka dengan apa yag dia lakukan.
"Kapan konferensi persnya?" tanya bunda lagi.
"Bi Suti masak banyak, makan dirumah saja. Ayo temani bunda makan"
Tanpa menunggu jawaban kami, bunda sudah merangkul Alma dan mengiringnya ke meja makan. Mana bisa Alma menolak ajakan bunda begitu juga aku.
"Tuh kan udah disiapkan sama bibi" bunda menunjuk pada meja yang penuh dengan hidangan.
Sepertinya Bi Suti sudah memberitahu bunda kalau ada Alma disini, karena itu bunda meminta bibi meyiapkan semua ini.
Kami makan dalam diam, aku senang Alma hari ini melayaniku di meja makan seperti tugas istri pada suami. Dari nasi sampai lauk pauk yang aku suka dia semua yang mengambilkan, kalau begini bagaimana tidak semakin cinta Al.
Setelah makan bunda mengajak kami berbincang sebentar, Alma menjelaskan hubungan Eli dan Noah setelah bunda bertanya. Lalu satu hal yang sedikit mengejutkanku, karena bunda tidak pernah membicarakan ini sebelumnya.
"Al, bunda butuh model untuk pakaian baru yang akan launching. Kamu bisa bantu?"
"Kalau bisa kita pemotretannya dua minggu lagi, sekalian foto keluarga. Soalnya dua minggu lagi rencanya Mbak Nay dan Kak Sandy mau acara tujuh bulanan. Kebetulan Kak Adam juga pulang untuk jemput Putri, jadi semua bisa berkumpul"
"Bagaimana?" bunda meminta kepastian pada Alma.
"Dua minggu lagi sepertinya jadwal Al kosong bun, nanti Al tanya Kak Jevan untuk kepastiannya" bunda tampak tersenyum senang, aku juga senang melihat bunda senang.
"Kalau begitu tolong katakan pada Jevan, bunda minta dia yang jadi photographernya ya Al"
__ADS_1
Gadis kecilku mengangguk setuju, senangnya melihat calon menantu bisa akrab dengan calon mertua seperti ini. Bunda, aku tidak salah pilihkan? Jadi ingat saat bunda memarahiku karena menjalin hubungan dengan Diandra, lupakan itu masa lalu hanya untuk bumbu kehidupan.
Setelah berbincang bunda meninggalkan kami untuk sholat dan istirahat. Bunda juga meminta Alma sebaikya istirahat saja dulu dan ke studio Jevannya nanti sore. Aku menyetujui nasehat bunda, mengingat Alma baru saja sembuh. Alma juga menurut dia akan sholat dan istirahat dulu disini.
Selesai sholat aku mengajak Alma untuk istirahat di balkon belakang, ini tempat paling nyaman untuk istirahat, bunda sengaja meletakkan sofa bed disini untuk bersantai.
Kulihat Alma tanpak melamun begitu aku datang mengajak Zizi kucing kesayanganku, tidak hanya Zizi yang aku pelihara tapi ada dua anak-anak Zizi yang dirawat bunda sejak bayi.
"Mikirin apa ai?" tanyaku begitu aku mendekat. Alma tersenyum lalu meminta untuk mengendong Zizi.
"Hari ini rencananya Kak Rendra akan mengumumkan hubungannya dengan Eli"
"Kakak tidak salah dengarkan ai?" tanyaku untuk memastikan apa yang aku degar. Alma menggelengkan kepala.
"Sejak kapan?" tanyaku lagi.
"Eli sudah lama menyukai Kak Rendra, tapi dia sama denganku terhalang sumpah dan janji kami. Kalau Kak Rendra mungkin baru-baru ini saja setela Al memberitahu perasaan Eli padanya"
"Lalu apa yang kamu pikirkan? bukankah ini berita baik" Alma kembali mengangguk.
"Al memikirkan Rangga kak. Al ingin dia juga membuka hatinya pada seseorang dan melupakan trauma masa lalu"
Kulihat ada kesedihan dimata Alma saat dia mengucapkan trauma masa lalu. Apa begitu menyakitkan yang dialami Rangga dimasa lalu? Tapi aku melihat Rangga tampak baik-baik saja.
"Trauma apa Al?" pandangan Alma tertuju pada Zizi, dia mengusap lembut bulu kucing kesayanganku.
"Maaf kak, Al tidak bisa memberitahunya saat ini. Butuh ijin Rangga untuk menceritakan apa yang dia alami waktu kecil"
"Tidak apa-apa ai, kakak mengerti. Kita doakan saja yang terbaik untuk Rangga"
Alma menatapku dan tersenyum. Dia melepaskan Zizi dari pangkuannya. Sekarang dia ikut berbaring disisiku, kami saling berhadapan. Aku bisa melihat mata indah miliknya, mata yang penuh keteduhan.
"Kak, tepat usia Al dua puluh kita menikah"
Alma mengusap lembut wajahku, sementara aku seakan mimpi mendengar kata-kata itu mengalir dari bibir tipisnya yang sudah menjadi canduku.
"Sekarang Al kasih tugas kakak yang pilih tanggal pertunangan kita" senyumnya mengembang.
"Ai"
"Kakak tidak salah dengar" dia terkekeh menjawab pertanyaan yang bahkan aku belum mengatakanya.
"Terima kasih sayang" kupeluk dia dengan erat, rasanya seperti mimpi.
Saat kemarin aku bertanya padanya, jangankan untuk menikah, bertunanganpun dia sepertinya ragu. Bahkan sampai malam saat kami membicarakan pernikahan lewat video call dia juga masih memberi jawaban yang ambigu, tapi kali ini dia mengatakannya dengan sangat yakin, seyakin-yakinya.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...