
Rendra dan Anindya sedang berada di sebuah mall, mereka memutuskan membeli hadiah untuk Almaira terlebih dahulu sebelum makan siang.
"Kak Rendra mau ngasih kado apa rencanaya?" tanya Anindya begitu mereka berada ditengah-tengah mall.
"Belum tahu kita lihat-lihat saja dulu" jawab Rendra.
"Boleh tanya sesuatu kak?" Rendra berhenti sejenak lalu melihat ke arah Anindya.
"Hemm" jawabnya.
"Mungkin ada yang Alma inginkan tapi belum terwujud?" tanya Anindya.
Rendra tampak berpikir tapi dia tidak bisa menemukan apa yang diinginkan Almaira saat ini.
"Kakak tidak tahu Nin, sudah lama Alma tidak mengatakan keinginanya sama kakak" jawab Rendra setelah dia tidak menemukan jawaban.
"Mungkin sekarang semua sudah dipenuhi sama Reza" lanjutnya.
"Tidak apa-apa kak, kita lihat-lihat saja dulu mungkin ada sesuatu yang menarik yang cocok buat Alma" Anindya memberi sarannya pada Rendra dan mendapat anggukan setuju.
"Ayo" Rendra memegang tangan Anindya untuk menaiki eskalator.
Ada sesuatu yang berdesir yang Anindya rasakan sesuatu yang membuatnya merasa dekat dengan pria yang ada disampingnya. Dia melepaskan pegangan Rendra, kakak Alamira ini memang baik padanya, tapi dia tidak ingin berharap lebih walau dia memiliki rasa sejak pertama bertemu. Rasa yang selalu dia coba tepis.
Anindya cukup tahu siapa dirinya, dia hanya seorang gadis yang beruntung mendapat beasiswa menjadi mahasiswi kedokteran sehingga bertemu dengan seorang Rangga yang menjadikannya sahabat sehingga dia juga bisa berteman dengan Almaira, Elisya dan yang lainnya.
"Maaf" ucap Rendra begitu menyadari Anindya tidak nyaman dengan sentuhannya.
Begitu mereka sedang menyusuri outlet-outlet yang ada di mall ini, seseorang hampir menabrak Anindya kalau Rendra tidak segera menarik gadis itu kedalam pelukannya. Ada rasa nyaman yang Anindya rasakan tapi dia segera menepis rasa itu.
"Kenapa?" tanya Rendra.
"Tidak apa-apa. Terima kasih kak. Maaf tadi Anin melamun" Rendra tersenyum lalu menggenggam tangan Anindya.
"Jagan dilepaskan biar kamu tidak ditabrak orang lagi" ucap Rendra saat Anindya menatapnya.
Tanpa Anindya ketahui, Rendra sangat menyukai moment kebersamaan mereka saat ini. Anindya gadis yang sederhana, itu yang Rendra suka. Dia juga gadis yang jujur satu poin lagi yang menambah nilai plus dimata Rendra dan yang paling Rendra suka Anindya gadis yang cerdas, dia teman yang enak diajak bertukar pikiran dan yang pasti gadis disampingnya ini pandai memasak. Semua itu yang Rendra cari selama ini yang tidak dia dapati di sosok Elisya.
"Nin, besok kamu ikut ke Lembangkan?" tanya Rendra.
Rendra dan Anindya sudah mendapatkan kado untuk Almaira. Mereka juga sudah menyatap makan siang mereka di salah satu tempat makan yang ada di mall yang tadi mereka kunjungi. Saat ini Rendra sedang duduk dibelakang kemudi hendak mengantarkan Anindya pulang.
"Iya kak, Alma mengancam saya kalau tidak ikut" jawab Anindya jujur. Rendra terkekeh dengan jawaban Anindya.
"Besok malam mereka akan menginap di kediaman kakak. Kamu ikut menginap?" tanya Rendra lagi.
__ADS_1
"Saya tergantung yang membawa saya kak" kali ini Rendra hanya tersenyum medengar jawaban Anindya.
"Besok saya jemput kalau mau ikut menginap" tawar Rendra.
"Jangan merepotkan kakak. Nanti Anin ikut Rangga atau Alma saja kak" Rendra hanya tersenyum mendengar jawaban Anindya.
Rangga, Almaira dan Elisya sudah selesai mengadakan pertemuan dengan Jevan. Mereka sekarang berada di kediaman Rendy. Awalnya Rangga hanya ingin megantarkan Almaira pulang, namun tawaran menggoda dari Selena membuat mereka mampir tepatnya Rangga yang mengajak Elisya untuk mampir dan berakhir dengan perut yang kekenyangan.
Selena hari ini membuat menu pindang tulang, makanan kesukaan Rangga. Rendy yang kebetulan juga ada dirumah hanya bisa meggelengkan kepala melihat Rangga yang tidak berhenti menambahkan nasi dan lauk di piringnya.
"Ini baru namanya makan kak" jawab Rangga sambil mengusap perutnya.
Selena terkekeh melihat kelakuan adik angkat suaminya ini. Dia sengaja masak banyak, rencananya memang akan dia kirim untuk Rangga dan Ayu. Melihat Rangga yang mengantar Almaira pulang langsung saja Selena menawarkannya pada Rangga.
Selesai makan Rangga dan Elisya tidak langsung pulang, keduanya ikut Almaira ke kamarnya. Sudah lama mereka tidak berkumpul hanya bertiga seperti sekarang ini.
Kesempatan ini digunakan Almaira dan Rangga untuk mengetahui perasaan Elisya sekarang. Banyak hal yang terjadi, walau mereka sering bersama tapi tidak bisa seperti dulu. Sulit berbagi cerita dan isi hati hanya bertiga seperti sekarang. Selalu saja ada yang lain bersama mereka.
"El, bagaimana hubunganmu dengan Andra?" Rangga yang bertanya.
"Kami tidak ada hubungan apa-apa" jawab Elisya.
"Tapi kalian sering pergi berdua tuh" kembali Rangga yang bicara.
"Sama seperti kamu dan Anindya, kalian juga sering pergi berdua"
"El, apa kamu juga punya rasa dengan Kak Andra atau sebenarnya masih menginginkan Kak Rendra?" Almaira akhirnya bertanya. Dia tidak ingin lagi menerka-nerka apa yang Elisya rasakan.
"Entahlah, disatu sisi aku lelah mencinta sendiri. Di sisi lain aku sulit untuk membuka hati" jawab Elisya jujur.
"Kenapa kamu melepaskan Kak Rendra waktu itu?" Rangga kembali bertanya.
"Mengembalikan Kak Rendra ke posisi semula yang hanya sebagai kakak kupikir akan baik untuk kami. Tapi ternyata hanya baik untuk Kak Rendra tapi tidak baik untukku"
Elisya menundukkan kepalanya, dia tidak ingin menunjukkan air matanya pada kedua sahabatnya kali ini. Rangga mendesah sementara Almaira mengusap punggung Elisya untuk menenangkan.
"Sekarang apa yang kamu inginkan?"
"Entahla, aku sendiri tidak tahu" jawab Elisya lalu berjalan menuju tempat tidur membaringkan tubuhnya, tadi dia sudah beganti pakaian rumahan yang memang sengaja dia simpan dilemari Almaira untuk sewaktu-waktu dia menginap.
"Aku mau tidur" ucap Elisya lalu menarik selimut.
"Doel kalau mau pulang, pulang saja jangan bangunin aku. Nanti aku bisa mita jemput Kak Noah" lanjut Elisya ucapannya sebelum dia memejamkan mata.
Elisya sengaja melakukan semua ini karena ingin menghindari banyak pertanyaan dari kedua sahabatnya. Bukan tidak ingin berbagi, tapi dia sendiri tidak mengerti dengan dirinya saat ini.
__ADS_1
"Kamu berubah El" rutuk Rangga.
Elisya tahu Rangga kesal dan marah, tapi cara seperti sekarang jauh lebih baik menurutnya. Biarlah dia memahami isi hatinya lagi baru dia akan bicara dengan Rangga dan Almaira.
"Ada Kak Rendra" ucap Rangga begitu dia melihat kendaraan milik Rendra berhenti didepan kediaman Rendy dari balkon yang ada di kamar Almaira.
Elisya belum tidur, dia bisa mendengar apa yang diucapkan Rangga tapi dia sedang tidak ingin bertemu dengan kakak sahabatnya itu.
"Kakak sendiri?" tanya Rangga begitu dia menuruni anak tangga hendak menemui Rendra.
"Memangnya harus dengan siapa?" tanya Rendra pura-pura tidak mengerti pertanyaan Rangga.
"Tadi kakak membawa pergi sahabatku" Rendra terkekeh mendengar jawaban Rangga.
"Dia sudah kakak antar pulang tanpa cacat sedikitpun, ya.. biarpun kamu memberi ijin satu hari untuk meminjamkan sahabatmu itu" Kali ini Almaira dan Selena yang tertawa mendengar jawaban Rendra.
"Jadi kakak pergi dengan Anin harus ijin Rangga?" tanya Almaira disela-sela tawanya.
"Dibayar berapa Ga, minjemin Anin sama Kak Rendra" goda Selena.
"Aishhh kalian ini. Anin bukan barang" sela Rangga untuk menghentikan pembicaraan tentang Anindya.
"Tapi rona-ronanya bahagia banget yang habis pergi berdua" Selena melihat wajah Rendra yang terlihat berbeda.
"Menurut kalian Anindya itu seperti apa?" tanya Rendra.
"Ahhh, benarkan" Selena kembali berucap.
"Kakak suka Anin?" tanya Almaira hanya ingin meyakinkan saja, walau sebenarnya dia sudah bisa melihat sejak mereka pulang bersama dari Palembang.
"Menurut kalian?" Rendra balik bertanya.
"Kakak jadian sama Anin" tebak Rangga.
"Siapa yang jadian?" suara Ezra mengejutkan semua yang ada disana.
"Bi, masuk rumah itu assalamualaikum" Almaira menegur Ezra.
"Maaf sayang" Ezra mendekati tunangannya dan mengecup pucuk kepala Almaira.
Tanpa mereka sadari, Elisya diam-diam menyimak semua pembicaraan mereka. Ada rasa sesak didadanya, ingin marah tapi tidak bisa. Dia sendiri yang melepaskan Rendra dari genggamannya.
"Aku kan berusaha bahagia untuk kebahagiaanmu kak" batin Elisya dan kembali kekamar Almaira untuk menenangkan hati dan pikirannya.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...