
Almaira POV
Ada yang menguncang-guncang tubuhku, satu orang yang kukenal yang melakukan ini padaku. Siapa lagi kalau bukan Kak Rendra, dia tidak bisa sehalus Kak Rendy kalau membangunkanku.
"Al... Alma... bangun dek" mataku masih terasa berat untuk dibuka, aku tidak bisa tidur semalam.
"Subuh Al, sholat dulu" aku tidak bisa menolak kalau urusan menjalankan ibadah, itu yang selalu ditekankan oleh Papa Dhani dan Mama Rahma. Dengan terpaksa aku bangun dan bersadar di sandaran tempat tidur, mengumpulkan nyawa untuk bisa berdiri.
"Ayo kakak tunggu, kita sholat jamaah. Reza juga sudah menunggu di luar" Kak Eza? aku jadi ingat kejadian semalam dan berakhir aku yang tidak bisa tidur.
Aku tidak bisa percaya dengan yang dikatakan Kak Eza, kalau dia sudah menyukaiku sejak kami tidak sengaja bertatapan mata ketika aku menghadiri pesta pernikahan Mbak Nayla kakak perempuannya Kak Eza. Terlebih lagi saat itu aku melihatnya masih mengandeng artis cantik Diandra bahkan mereka sangat serasi. Walau tadi sebelumnya dia sudah menceritakan hubungan dan sebab sebenarnya dia menerima Diandra jadi kekasihnya.
Kak Eza menunjukkan bukti dengan fotoku yang diambilnya secara candid saat pesta itu, dan menjadi wallpaper diponselnya selama satu tahun. Kak Eza menceritakan bagaimana satu tahun itu dia jadi lebih bersemagat kuliah karena ingin cepat kembali ke Indonesia dan bisa menemuiku. Kak Eza bahagia saat tidak sengaja bertemu denganku di Belanda, dan menjadi awal kami berkenalan secara resmi. Setelah perpisahan kami di Belanda, dia sangat rajin mengirim pesan setiap hari dan menghubungiku via telepon satu minggu sekali serta sengaja menemuiku entah itu di Palembang ataupun di Jakarta saat dia kembali ke Indonesia.
Jujur aku terharu dengan ceritanya, tapi aku masih ragu untuk menjalin komitmen dengan Kak Eza. Kenapa? aku sendiri tidak tahu. Tapi Kak Eza bukan tipe laki-laki yang mudah menyerah, dia meyakinkanku.
"Bagaimana? Kita jadian?" tanya Kak Eza lagi. Seperti dihipnotis aku mengangguk setuju, mau bagaimana lagi aku juga jatuh cinta padanya disaat yang sama. Tapi ini akan jadi rahasiaku sendiri, aku tidak akan mengatakan padanya saat ini kalau aku jatuh cinta padanya disaat yang sama.
"Terima kasih sayang" Kak Eza memelukku sangat erat. Sebegitu bahagiakah dirimu kak dengan hubungan ini?
Begitu nyaman aku dalam pelukkannya dan aku pasti akan merindukan ini disaat kita jauh. Aku sebenarnya sangat tidak suka dengan hubungan jarak jauh, tapi apa boleh dikata. Selama ini juga kami sebenarnya secara tidak langsung berhubungan jarak jauh. Jadi anggap saja hubunganku dan Kak Eza seperti selama ini walau kami sudah terbuka dengan perasaan masing-masing.
"Tapi ini rahasia kita ya kak" ucapku begitu Kak Eza mengurai pelukannya. Dia menatapku penuh tanya.
"Al belum siap kalau harus di publikasikan" jelasku. Aku berharap Kak Eza mengerti.
"Baiklah tidak apa-apa, kita rahasiakan sampai kakak kembali menetap di Indonesia"
Aku tidak percaya Kak Eza menyetujui permintaanku. Kalau begini aku semakin sayang padamu Kak.
"Kamu ngantuk sayang?" aku mengangguk.
"Kembali kekamar dan tidurlah" aku kembali mengangguk.
__ADS_1
Aku berdiri untuk kembali kekamar yang aku tempati, tapi Kak Eza menahanku.
"Mau sambil dipeluk?" tanyanya. Walau ingin tapi aku menolak, walau sekarang aku kekasihnya aku harus tetap menjaga sikapku, belum waktunya untuk sejauh itu. Cukup tadi saja, karena sejujurnya aku membutuhkan pelukan kedua kakakku yang bisa memberi ketenangan.
"Al bisa tidur sendiri kak" jawabku.
Kak Eza tesenyum dan ikut berdiri. Dia mengecup keningku, sama seperti waktu di Belanda.
"Selamat malam dan selamat tidur sayang" ucapnya setelah mengecup keningku.
"Selamat malam dan selamat tidur kak" balasku.
"Hanya itu?" tanyanya. Aku harus apa memangnya. Apa aku harus melakukan itu?
Cup, aku memberanikan diri mengecup pipinya dan langsung berlari masuk kekamarku. Aku malu, ini untuk pertama kalinya aku mengecup pipi laki-laki selain keluargaku. Kak Eza pasti menertawakannku. Mama.... Al malu.
"Ayo Al" Kak Rendra langsung menggiringku kekamar mandi, aku jadi sadar dari ingatanku tentang kejadian semalam.
"Kamu masih ngantuk sayang?" Kak Eza tiba-tiba sudah merangkulku. Aku mengangguk.
"Tidak bisa tidur?" aku kembali mengangguk.
"Semalam mau ditemani tidak mau"
Aku menghentikan langkahku diikuti Kak Eza. Berlahan tapi pasti kulepasakan rangkulannya dan lari mengejar Kak Rendra.
Apa dia tidak tahu kalau aku tidak bisa tidur karena mencium pipinya yang membuatku malu?
Kak Eza mengejar dan mensejajarkan langkah dengan kami, beberapa karyawan hotel tampak memperhatikan kami. Mereka memberi hormat pada Kak Eza, Kak Rendra dan juga padaku, aku lupa ini hotel keluarga Kak Eza tentu saja mereka mengenali anak pemilik hotel ini. Dan karyawan juga mengenali Kak Rendra dan aku sebagai anak direktur mereka.
"Kenapa lari?" sudah jelas karena Al malu kak. kenapa harus pake nanya lagi sih. Aku hanya diam.
Kak Eza meraih jemariku dan menautkan dengan jemarinya, aku memalingkan wajahku untuk melihatnya, dia hanya tersenyum. Apa dia lupa kalau hubungan kami harus dirahasiakan? ku tarik tanganku tapi Kak Eza tidak membiarkan aku melepaskanya.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk sampai dirumah, jalanan diwaktu subuh masih sangat lengang. Hanya dibeberapa titik yang ramai, dan itu adalah pasar pagi.
Papa Dhani sudah siap dimeja makan saat kami sampai, begitu juga Danu sudah siap dengan seragam sekolahnya. Aku, Kak Rendra dan Kak Eza langsung menghampiri papa.
"Pagi pa" sapaku mencium punggung tangan papa dan mencium pipinya seperti biasa lalu menemui mama yang aku yakin masih didapur.
"Kalian jadi pulang ke Jakarta sore ini?" tanya papa saat kami asik menyantap sarapan.
"Iya pa" Kak Rendra yang menjawab.
Aku menatap Kak Eza dengan maksud bertanya dalam diam, ternyata dia juga sedang menatapku. Dia akan pulang sore ini tapi tidak memberi tahuku, apa aku salah kalau marah? atau dia memang sengaja tidak ingin memberitahuku? dan dia hanya tersenyum padaku. Menjawab dengan senyum?
Mengapa aku merasa ada sesuatu yang hilang saat tahu dia akan pergi? bukankah ini pasti akan terjadi. Aku tidak suka dengan keadaan seperti ini, dia akan pergi dan membawa separuh hatiku bersamanya.
"Kamu kapan ke Jakarta Al?" mama bertanya sambil menepuk lenganku, menarikku dari pikiranku sendiri.
"Kamu mikirin apa Al? dari tadi tidak menyimak percakapan kami, papa bertanya kamu hanya diam" benarkah? aku melamun sampai tidak memperhatikan mereka.
"Tidak memikirkan apa-apa?" jawabku berbohong.
"Apa karena Damar mengungkapkan perasaannya padamu?" aku segera menggeleng.
"Aku bahkan sudah lupa masalah itu, yang kupikirkan orang yang ada dihadapanku sekarang ini ma, kalau mau tahu" sayangnya aku hanya bisa bicara dalam hati.
"Jadi kapan kamu ke Jakarta?" papa mengulang pertanyaannya karena tadi aku tidak medengarkan dia bertanya.
"Al belum lihat jadwalnya pa, belum bicara juga dengan Elisya dan Rangga" jawabku.
Sekilas kulihat Kak Eza menatapku, tapi aku segera menunduk. Aku tidak ingin dia tahu kalau aku merasa berat ditinggal olehnya. Inilah salah satu aku tidak ingin kami menjalin hubungan saat ini.
...Bila Aku Jatuh Cinta ...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1