BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
51 Mengagumi Sosok Rangga


__ADS_3

Kalian mau makan apa?" tanya Rangga begitu mereka sampai di tempat makan yang ada dipinggir jalan.


"Ayu seperti biasa kak" jawab Ayu.


Tempat makan ini letaknya tidak begitu jauh dari panti, Rangga dan Ayu sudah beberapa kali makan disini, terkadang hanya berdua dan terkadang sengaja Rangga membawa Almaira dan Elisya untuk makan disini dan tidak lupa dia menjemput Ayu untuk ikut bersamanya.


Karena ini jugalah Almaira bisa menyarankan agar Rangga membuka hati pada Ayu, bukan tanpa alasan, Almaira bisa melihat tatapan berbeda Ayu pada Rangga disetiap kebersamaan mereka.


"Kamu apa Nin?" tanya Rangga pada Anindya, karena gadis itu belum mejawab pertanyaannya diawal.


"Aku juga samain aja sama Ayu" jawab Anindya.


Sebenarnya dia cukup heran dengan Rangga yang mau makan ditempat makan yang ada dipinggir jalan seperti ini. Rangga bukan orang kelas menengah kebawah seperti dia yang biasa makan dipinggir jalan, tapi pria ini anak dari kalangan atas bahkan dia juga seorang model.


"Kalian biasa makan disini?" tanya Anindya pada akhirnya untuk mengusir rasa penasarannya pada sosok Rangga. Tapi pertanyaan itu dia tanyakan pada Ayu karena Rangga kembali kemobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.


"Iya mbak, kami sering makan disini. Kenapa?" Ayu balik bertanya.


"Bukan apa-apa. Rangga itu.. maksudku kalian berdua itu termasuk warga kelas atas. Apa tidak malu dan gengsi makan di tempat seperti ini?"


Ayu tersenyum menanggapi pertanyaan Anindya, dia memang belum lama dekat dengan Rangga, tapi sedikit banyak dia tahu kehidupan Rangga dan kebiasaan laki-laki itu dari Almaira dan Elisya juga keluarga Rangga.


"Mbak Anin tidak tahu ya kalau Kak Rangga itu hobby berwisata kuliner pinggir jalan dari satu tempat ketempat yang lain?"


"Tidak" jawab Anindya dengan cepat.


"Biasanya Kak Rangga lakukan betiga Cek Al dan Yuk Eli, bahkan tempat makan yang dikunjungi mereka jadi laris manis setelah mereka mempostingnya ke media sosial" Ayu menjelaskan.


Anindya terdiam sesaat, lalu dia menunjukkan ponsel yang dia miliki yang hanya bisa digunakan untuk telepon dan berkirim kabar melalui SMS.


Ayu ikut diam, dia tidak tahu harus bicara apa? Dia tidak menyangka kalau teman Rangga ada juga yang orang biasa seperti Anindya. Seketika dia merasa bersyukur, walau dia tidak memiliki orang tua tapi setelah membantu Rangga hidupnya dan neneknya jauh lebih baik bahkan dibilang layak. Orang tua Rangga sering mengirimkan barang-barang yang dia butuhkan termasuk smartphone. Dia juga sebenarnya masih punya tabungan yang lebih dari cukup untuk biaya sekolahnya, tapi Rangga tidak bisa ditolak keinginanya untuk membiayai sekolah Ayu. Seketika Ayu merindukan neneknya.


"Kenapa pada melamun" pertanyaan Rangga mengejutkan Ayu dan Anindya yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Anindya tersenyum sedangkan Ayu tetap diam.


Rangga memilih duduk disamping Ayu dan lagsung merangkul gadis itu.

__ADS_1


"Kenapa dek?" tanya Rangga saat Ayu masih saja diam.


Ayu sangat suka saat Rangga memanggilnya dek, itu seperti panggilan sayang Rangga padanya.


"Ayu tiba-tiba ingat sama nenek kak" jawab gadis itu dan Rangga semakin mengeratkan rangkulannya. Anindya hanya diam menyaksikan keduanya, apa dia salah bicara sehingga Ayu ingat neneknya?


"Nenek sudah tenang disana, kita berdoa saja yang terbaik untuknya" jawab Rangga.


Dari kata yang diucapkan Rangga, Anindya bisa mengerti kalau nenek yang diingat Ayu sudah tiada.


"Kalian berdua pasti sangat menyayangi nenek kalian" ucapan Anindya memecah keheningan.


"Tentu" jawab Rangga.


"Nenek wanita kuat dan baik, dia membantuku kembali hidup sehinga bisa ada sampai sekarang. Wanita yang sangat telaten mengobati setiap lukaku, memasak makan khusus untukku setiap hari dengan tangannya sendiri, menjaga dan merawatku dengan sepenuh hati" kenang Rangga dimasa-masa dia diobati dan di rawat oleh neneknya Ayu.


"Karena melihat sosoknyalah aku sangat ingin jadi seorang dokter, agar bisa membantu sesama"


"Membuka klinik gratis khusus orang-orang yang tidak mampu" lanjut Rangga.


Cita-cita yang mulia, terlebih lagi kedua sahabatnya sangat membantu. Sebenarnya Rangga diminta ayahnya untuk mengurusi bisnis keluarga mereka, karena dia adalah putra satu-satunya. Tapi Rangga menolak dengan telak keingina papanya, bukan dia tidak mau. Tapi kedua kakak perempuanya sudah memberikan ancaman kalau sampai dia mengambil alih perusahaan seperti yang diinginkan papanya.


Rangga memang sering diperlakukan kasar oleh kedua kakak perempuanya, bahkan dia sempat merasa putus asa dan membenci ibunya yang mengapa mau jadi istri kedua. Tapi penjelasan dari ibu tua, istri pertama papanya. Mengatakan kalau yang menyuruh papanya menikah lagi adalah ibu tuanya, karena dia sudah tidak bisa hamil dan melahirkan lagi, sementara papanya sangat menginginkan anak laki-laki sebagai pewaris.


Pelayan datang membawa pesanan mereka, membuat Rangga menarik lamunan tentang keberadaan dirinya dikeluarga.


Rangga, Ayu dan Anindya menikmati makan mereka dalam diam sampai suara smartphone Rangga memecah kesunyian ketiganya.


"Assalamualaikum kak" jawab Rangga begitu menerima panggilan dari Rendy.


"Baiklah kak, iya aku langsung pulang" jawab Rangga lagi.


Rangga melihat kearah Ayu yang ada disampingnya dan Anindya yang ada dihadapannya. Keduanya seakan bertanya, siapa yang menelponya?


"Selesai makan kita langsung pulang" ucap Rangga memberitahu lalu dengan santai melanjutkan makannya.

__ADS_1


Mereka sudah sampai di panti asuhan, karena harus segera kembali kekosan Rangga tidak ikut turun dan langsung meninggalkan Ayu yang ada diteras rumah panti asuhan.


Pria itu hanya berpesan kalau Ayu harus belajar yang rajin, jangan lupa selalu mengabarinya kalau ada apapun yang dibutuhkan.


Ayu yang turun sendiri di panti asuhan menimbulkan tanya pada Anindya. Apa Ayu tinggal di panti asuhan?


"Ayu kenapa tidak ikut pulang bersamamu Ga?" tanya Anindya memberanikan diri.


"Dia tinggal di panti, semenjak nenek meninggal dia lebih suka tinggal disana. Kebetulan ibu pengurus panti tetangga nenek, dia sangat menyayangi Ayu. Dia juga yang mengajak Ayu tinggal di panti untuk menemaninya"


Anindya mencerna setiap penjelasan Rangga, satu hal yang terbesit dibenaknya adalah dia memgagumi dua saudara ini, walau orang berada tapi mereka mau hidup sederhana.


"Kamu pasti binggung ya Nin" Rangga mengagetkan lamunan Anindya.


"Intinya, kami akan tinggal dimanapun yang membuat kami nyaman. Tidak peduli tempat itu panti asuhan sekalipun" jawab Rangga.


"Ayu sebenarnya punya rumah sendiri, tapi dia lebih suka di panti karena ramai dan banyak teman" jelas Rangga.


"Aku juga lebih suka kos bersama Alma dan Eli, karena bersama mereka aku bisa nyaman" lanjut Rangga penjelasannya.


Entah mengapa dengan Anindya, Rangga merasa bisa terbuka dan bercerita banyak. Bahkan dengan Ayupun dia belum banyak cerita tentang pribadi. Selama ini hanya Almaira dan Elisyalah tempatnya berbagi.


"Maaf ya, kamu jadi tidak bisa mampir ke panti. Tapi aku janji saat aku akan kepanti lagi, aku akan mengajakmu"


"Tidak apa-apa Ga, Alma lebih membutuhkan kamu" jawab Anindya.


Rangga tadi sudah menjelaskan pada Ayu dan Anindya mengapa dia harus segera kembali kekosan.


Rangga sudah sampai didepan gang dimana Anindya kos. Tempat ini tidak terlalu jauh dari kampus, hanya jalan sepuluh menit Anindya sudah bisa sampai kekampus.


"Makasih Ga, buku dan tumpangannya serta makan malamnya juga" ucap Anindya begitu dia sudah turun dari mobil Rangga.


"Sama-sama Nin, aku langsung ya" pamit Rangga pada Anindya.


Anindya melambaikan tangannya pada Rangga sampai mobil yang dilajukan Rangga sudah tidak terlihat lagi. Senyum mengiasi wajahnya, dia merasa kagum dengan sosok Rangga yang bersahabat walau tahu dia bukan seperti mahasiswi kedokteran pada umumnya.

__ADS_1


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2