BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
36. Kapan Rasa Itu Ada


__ADS_3

Kapan rasa itu ada? Almaira sendiri tidak yakin sejak kapan itu terjadi. Awalnya Almaira mengira dia memiliki rasa saat pertama kali melihat Ezra di pesta pernikahan Nayla, tapi setelah dia mengingat kembali rasa itu sudah ada sejak dulu, jauh sebelum mereka bertemu dipesta itu.


"Hai adik cantik?" Almaira yang disapa seperti itu oleh Ezra bersembunyi dibelakang Mama Rahma. Usianya baru saja ulang tahun yang ke lima, satu bulan yang lalu.


"Jangan malu sayang, ini teman Kak Rendra dan Kak Rendy dari Jakarta" Mama Rahma menjelaskan pada Almaira.


Gadis kecil itu sekarang berani berdiri disamping sang mama. Ezra kecil melihat Almaira seperti boneka milik kakak perempuannya yang lucu dan menggemaskan.


"Ayo, temani kakak nunggu Rendra sama Rendy" Ezra menarik tangan Almaira, mengajak gadis kecil itu untuk menemaninya duduk di teras depan.


Ezra tertawa saat Almaira mengingatkan kembali pertemuan mereka saat itu.


"Kakak ingat, kamu penakut waktu kecil" Ezra mencubit hidung Almaira dengan gemas lalu mengajak Almaira masuk dan kembali duduk disofa.


Mereka masih di balkon sejak tadi, ancaman Ezra yang akan menciumnya tidak langsung membuat Almaira takut. Gadis itu yakin Ezra tidak akan melakukan hal yang memalukan didepan umum, terlebih lagi balkon yang ada di kamar Almaira berada tidak jauh dari jalanan yang ada disamping rumahnya.


"Setelah itu Al lupa kalau pernah kenal kakak" ucap Almaira begitu mereka sudah duduk di sofa. Ezra menyungingkan senyum mendengarnya.


"Itu wajar ai, kamu masih balita waktu itu" Ezra memainkan rambut Almaira yang terurai.


"Kamu lucu waktu kecil ai, pipi chuby, rambut berponi, mata sipit, seperti boneka" Ezra terkekeh, dia menerawang kembali ke masa pertama kali bicara dengan Almaira.


"Apa saat itu sebenarnya aku sudah merasakan perasaan ini?" batin Ezra.


"Tapi sekarang mengapa kamu ingat ai?" berganti Alma yang terkekeh.


"Sejak kenal kakak lagi, Al jadi ingat kembali. Merangkai satu peristiwa ke peristiwa yang lain" Almaira mengedip gedipkan matanya.


"Jangan menggoda kekasihmu ini ai" Ezra menarik Almaira dalam pelukannya.


"Siapa yang menggoda, kakak aja yang pikirannya dari tadi mau..." Almaira tidak bisa melanjutkan ucapannya.


Cup. Ezra sudah menempelkan bibirnya dibibir Almaira. Walau dengan gerakan cepat tetap saja membuat wajah Almaira merona. Ezra yang melihatnya sangat suka, wajah gadisnya terlihat lebih cantik.


"Kamu belum istirahat ai, sini berbaring." Ezra menarik Almaira untuk tidur dipangkuannya.


"Kakak sekarang suka benar panggila Al dengan ai"


"Kalau panggil sayang kepanjangan. Kalau panggil ai terdengar lebih simpel dan artinya juga sama" Ezra menjelaskan sambil mengusap rambut Almaira.


"Kamu juga bisa panggil kakak dengan panggilan yang sama. Kak ai" Almaira menahan tawa saat Ezra menyebut panggilan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Kalau mau ketawa, ketawa aja ai jangan ditahan" Almaira menggelengkan kepalanya membuat Ezra merasa ngilu dibagian pusakanya.


"Ai jangan gerak-gerakkan kepalamu, dia bisa membangunkan adik kecil kakak" Ezra memberitahu.


Almaira yang mendengar perkataan Ezra replek bangun dari pangkuan Ezra. Dia akhirnya duduk disamping Ezra dengan perasaan malu karena tidak sengaja mengganggu kehidupan adik kecil kekasihnya. Ezra merangkul Almaira dan menarik kepala gadis kecilnya agar bersandar di bahunya. Dikecupnya pucuk kepala Almaira dengan sayang. "Kalau saja kita sudah halal ai" batinnya.


"Jadi sejak kapan Al?" Ezra kembali bertanya, dia masih penasaran sejak kapan Almaira memiliki perasaan padanya.


Begitu senang karena lulus dengan nilai terbaik dan bisa masuk ke sekolah pavorite Almaira minta diantarkan sopir untuk langsung ke kantor Papa Dhani. Dengan riang Almaira masuk ke ruang direktur tempat biasa Papa Dhani bekerja.


"Assalmualaikum, pa Al.... Maaf tidak tahu kalau ada tamu" ucap Almaira begitu menyadari Papa Dhani sedang bicara dengan tamu. Dengan perasaan malu Almaira berbalik untuk keluar.


"Disini saja tidak usah keluar" Papa Dhani menahan Almaira dan menyuruh putrinya duduk didekatnya.


"Ada apa? pasti ada yang penting sampai kamu datang kesini" Papa Dhani tahu kebiasaan masing-masing anaknya. Almaira tipe anak yang tidak suka menganggu kesibukan orang tuanya. Sampai datang kekantor itu pasti ada yang membuatnya ingin segera memberi tahu sesuatu.


"Hanya mau memberikan ini pa" Almaira menyerahkan map yang dia bawa.


Papa Dhani mengambil map yang diserahkan Almaira. Sebelum membukanya, Papa Dhani meminta ijin terlebih dulu pada tamunya. Sang tamu mengangguk mengijinkan.


"Kamu lulus dengan nilai terbaik Al, kamu juga dapat peringkat kedua sekota madya Palembang. Selamat Al, kamu memang putri papa" Papa Dahni mengucapkannya dengan bangga.


"Itu pertemuan kedua kita ai" Almaira mengangguk membenarkan.


"Tapi waktu itu Al ingatnya kita pertama bertemu kak" ucap Almaira mengangkat keplanya lalu menyatukan rambutnya untuk diikat.


Ezra tersenyum melihat tanda yang dia tinggalkan di tengkuk Almaira. "Kalau keluar rambutnya jangan diikat Al"


"Iya Al tahu, Kak Eza meninggalkan jejak disana" Ezra terkekeh.


"Tanggung Al kalau satu, kakak buat lagi ya" Ezra menggoda kekasihnya.


"Disini, disini, disini" Ezra menunjuk pada leher dan bahu Almaira.


"Kaaaak" nada suara Almaira meninggi. Ezra semakin terkekeh.


Almaira membalikkan badannya, maksud hati ingin marah pada Ezra. Tapi membuat mata mereka bertemu. Suasan seketika hening. Ezra merasakan degup jantungnya sangat kencang bila menatap Almaira seperti saat ini.


"Kak terima kasih kadonya waktu itu, itu hadiah pertama yang Al dapatkan dari bukan keluarga" ucapan Almaira memecah keheningan mereka.


Dia sungguh-sungguh berterima kasih pada Ezra. Kekasihnya saat itu memberinya hadiah yang selalu dia simpan sampai saat ini.

__ADS_1


"Al, kamu ikut makan siang sama papa" ajak Papa Dhani setelah menyelesaikan pekerjaannya bersama Heru pimpinan tertinggi perusahaan Harley.


Belum sempat Almaira mengangguk Ezra sudah menarik tangannya untuk ikut. Sejak tadi dia duduk bersama Ezra walau tidak banyak bicara selama Papa Dhani dan Heru menyelesaikan pekerjaan mereka.


Setelah makan siang bersama, Ezra dan Heru akan segera kembali ke Jakarta. Sebelum berpisah, pemuda itu memberikan sesuatu pada Almaira. Entah sejak kapan hadiah itu disiapkan untuk Almaira, tapi Almaira sangat menyukainya.


Almaira belum sempat mengucapkan terima kasih. Ezra memberikan hadianya lalu pergi tanpa ada kata yang terucap. Saat itu Almaira merasakan perhatian dari seseorang yang berbeda jenis untuk pertama kalinya, sayangnya walau waktu yang mereka habiskan bersama cukup banyak, tapi mereka tidak sempat berkenalan.


"Itu pertama kalinya Al merasakan perhatian Kak Eza untuk Al" Ezra merengkuh gadisnya dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih sayang, kamu mau menerimanya. Hadiah itu kakak bawa dari Jakarta, memang untuk kamu. Tadinya mau kakak titipkan ke Papa Dhani, tapi ternyata bisa bertemu langsung sama kamu" Ezra menjelaskan, terjawab sudah pertanyaan yang selama ini ada dibenak Almaira.


Ezra menangkup pipi Almaira dengan kedua tangannya, dia sudah bersiap ingin melahap bibir tipis yang sejak tadi menggodanya. Belum sempat keinginannya tercapai, suara panggilan dari handphone milik Ezra terdengar.


"Iya, Eza akan ajak Alma membelinya" jawab Ezra setelah mendengar suara dari seberang sana.


"Ai, Mbak Nay minta dibelikan martabak HAR. Dia lagi ngidam ai" Almaira tersenyum sambil mengangguk mendengar penjelasan Ezra.


"Sekarang aja kak, kita bawa motor aja biar cepat" Ezra meyetujui ajakan Almaira.


Keduanya menuruni anak tangga mecari Mama Rahma dan Papa Dhani untuk pamit. Kedua orang tua itu masih menemani tamu di ruang depan. Almaira terpaksa mengajak Ezra keruang depan untuk pamit.


"Ma, pa. Al sama Kak Eza mau keluar sebentar" pamit Almaira.


"Kalian mau keluar kemana?" tanya Mama Rahma sambil menatap Almaira dan Ezra bergantian.


"Mbak Nay sedang ngidam minta dibawakan martabak HAR" Mama Rahma tersenyum mendengar jawaban Almaira.


"Pergilah" jawabnya.


"Kalau martabak mama memang tidak menyiapkannya, tapi yang lain sudah Mama siapkan semuanya untuk keluarga di Jakarta, tinggal dibawa saja" lanjut Mama Rahma menjelaskan.


Almaira mengajak Ezra kembali kedalam untuk mengambil kunci motor Danu, belum sempat berbalik terdengar suara yang tidak asing memanggil namanya berbeda dari yang lain.


"Ira" Almaira segera mengalihkan pandangannya kesumber suara, hanya satu orang yang memanggilnya Ira dan Almaira tidak akan lupa siapa dia.


"Fian" gadis itu tersenyum pada laki-laki yang dulu cukup dekat dengannya selain Rangga.


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...

__ADS_1


__ADS_2