BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
6. Mengenalkan Diri


__ADS_3

Ezra Syahreza


Mataku rasanya masih berat saat bunda memintaku untuk segera bangun, semalam aku tidur larut karena harus segera mengirim tugas dari profesorku. Oleh sebab itu, setelah subuh aku kembali tidur bukan lari pagi seperti yang biasa aku lakukan. Sekarang baru jam delapan pagi dan bunda sudah sibuk memintaku untuk terjaga. Tapi bukan Bunda Aisyah namanya kalau tidak bisa membuat anak bungsunya ini bangkit dari tidurnya.


"Ada apa bun?" tanyaku pada bunda yang sudah duduk dipinggir tempat tidurku.


"Anterin bunda ke Den Haag" pinta bunda.


"Mau ngapain bunda kesana?" itu sebenarnya hanya alasanku saja untuk menolak permintaan bunda.


"Ada festival Tong Tong. Bunda mau lihat-lihat, mungkin saja ada yang cocok untuk mengisi butik bunda"


"Bunda diantar sopir saja ya" jawabku setelah mendengar penjelasan bunda.


"Bukannya kamu kesini buat nemenin bunda?"


Skak mat, aku sudah tidak bisa berkutik lagi. Bunda benar aku kesini untuk menemani bunda bukan untuk tidur sepanjang hari.


"Baiklah bunda, Eza siap-siap dulu" jawabku pada akhirnya.


"Nah gitu dong, ini baru anak bunda yang kasep" bunda terkekeh, dia sangat senang dengan jawabanku.


Bunda berlalu membiarkan aku untuk bersiap-siap. Aku meraih ponselku untuk mengecek pesan yang masuk, ini sudah menjadi kebiasaanku sebelum memulai aktifitas.


Kulihat ada pesan dari Rendra, sudah lama dia tidak menghubungiku. Mengabaikan pesan yang lain aku langsung memeriksa pesan dari Rendra [ Za, gue lihat status lo lagi di Belanda. Gue juga di Belanda bro, lagi bantu jualan produk kerajinan nyokap gue. Gue sama adik-adik gue, Rendy dan Almaira ].


Membaca pesan Rendra membuat semangatku menjadi empat lima, mau tahu kenapa? Karena dia menuliskan nama Almaira adiknya yang saat ini ada bersamanya. Gadis cantik yang sudah membuat aku jatuh cinta. Tidak menunggu lama aku membalas pesannya.


Ezra [ Lo dimana bro? ]


Ku tunggu sampai dua menit tapi Rendra belum juga membalas pesanku, bahkan belum dibaca olehnya. Sambil menunggu balasan dari Rendra, aku memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap. Siap untuk mengantar bunda atau bersiap untuk ketempat Rendra? kita lihat saja nanti.

__ADS_1


Aku keluar dari kamar mandi, hal yang pertama aku lakukan adalah mengecek ponselku, berharap Rendra sudah membalas pesan yang aku kirim. Benar saja, dia sudah membalasnya. Aku langsung membuka pesan dari Rendra [ Gue di Den Haag, ikut Festival Tong Tong ]


Membaca pesan balasan Rendra membuatku melompat kegirangan. Almaira, mungkin inilah saatnya seorang Ezra Syahreza bisa memperkenalkan diri langsung padamu.


Aku menuruni tangga sambil bersiul gembira, bunda yang melihatku tampak sedikit heran. Wajar saja kalau bunda heran, tadi aku menyangupi untuk mengantarnya ke Den Haag dengan setengah hati tapi sekarang aku lakukan sepenuh hati.


"Bunda anak bungsumu ini sedang bahagia karena akan berjumpa dengan gadis pujaan" ingin rasanya aku mengucapkannya secara lantang didepan bunda. Tapi aku mengurungkan niatku, aku harus merahasiakan ini sampai aku bisa mendapatkannya.


"Kita berangkat sekarang bun?" bunda menggeleng.


"Sarapan dulu Za" ajaknya.


Aku mengikuti saran bunda, karena aku butuh tenaga untuk bertemu dengan sicantik Almaira. Tidak lucukan kalau aku tiba-tiba pingsan didepannya akibat tidak sarapan.


"Kamu sepertinya senang sekali dengan perjalanan ini?" tanya bunda. Ternyata bunda masih memperhatikan perubahanku.


Aku menoleh sekilas pada bunda, saat ini aku dan bunda sedang dalam perjalanan ke Den Haag jadi aku harus fokus dengan kemudiku.


"Iya, tadi Rendra memberi kabar kalau dia juga ada di Belanda. Kerajinan mamanya ikut Festival Tong Tong" aku memberi tahu alasanku pada bunda, ya setidaknya bunda tidak curiga apa-apa, walau jelas sebenarnya aku bersemangat karena ada Almaira disana.


Ya, bunda sudah lama menjalin kerjasama dengan mama Rendra. Selain Rendra sahabatku, mama Rendra adalah istri dari direktur cabang perusahaan Harley di Palembang. Jadi sebenarnya hubungan keluarga kami sudah sangat baik dan cukup dekat. "Semoga ini jalan baik untukku dan Almaira" aku berdoa dalam hati. (Aminkan doanya ya!)


Waktu yang ku tempuh hanya satu jam untuk sampai di mana Festival TongTong diadakan. Mama langsung mengajakku dimana stand Rendra berada.


Disinilah aku sekarang, berdiri terpaku menatap gadis cantik yang sedang melayani pembeli. Aku sengaja menunggu sampai pembeli itu pergi, sementara bunda masih melihat tempat yang lain tidak ingin mengganggu Rendra dan Almaira yang sedang sibuk.


"Rendra" panggilku begitu pembeli itu berlalu.


Rendra dan Almaira melihatku, aku langsung bersalaman ala persahabatan kami dengan Rendra. Rendra memperkenalkan aku dengan Almaira, tentu saja ini yang sangat aku tunggu.


"Al ini Reza sahabat kakak" ucap Rendra.

__ADS_1


"Eza" ucapku langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengannya. Aku sengaja hanya menyebut Eza untuk namaku, karena aku ingin Almaira memanggil namaku sama seperti keluargaku biasa memanggilku.


Dia menyambut uluran tanganku, tangannya sangat halus dan lembut. Kulihat dia ingin menyebut namanya, tapi aku sudah lebih dulu bicara.


"Kamu pasti Almaira, adik kesayangan Rendra" ucapku. Dia tersenyum.


Wajahnya merona merah, entah apa yang dia rasakan tapi aku merasa dia sepertinya gugup bertemu denganku. Dengan wajah seperti itu, dia terlihat semakin cantik ditambah senyum yang terlukis diwajahnya semakin membuat aku jatuh cinta.


Almaira langsung menarik tangannya saat mendengar bunda bicara. Akh bunda mengganggu saja, aku masih ingin memegang tangannya.


Bukan hanya aku yang memuji kecantikan Almaira, bunda juga memuji kecantikannya. Tapi dia gadis yang tahu bagaimana cara menjawab pujian, dengan membalas memuji kecantikan bunda.


Di tengah perbincangan kami, Rendy kembaran Rendra datang bersama dua orang yang ternyata sahabat Almaira. Almaira memperkenalkan kedua sahabatnya, yang ikut terbang ke Belanda karena tidak bisa terpisah dari Almaira. Ada rasa cemburu saat melihat sahabat Almaira yang cowok memegang tangan Almaira lalu memberikan jajanan yang dibawanya. "Sabar Za, sabar" gumamku dalam hati.


Untung saja bunda mengajak Almaira dan kedua sahabatnya untuk menemani bunda berkeliling. Aku tidak mau ketinggalan, aku mengikuti mereka dan mengambil kesempatan ini untuk dekat dengan Almaira.


Bunda mengajak kami untuk istirahat disebuah cafe, setelah lelah berkeliling. Sambil menunggu pesanan kami berbincang-bincang. Tepatnya bunda dan kedua sahabat Almaira yang lebih banyak bicara. Aku diam-diam menggengam tangan Almaira yang ada dibawah meja. Sepertinya dia tidak suka, karena dia langsung menariknya dan meletakkan tanganya diatas meja.


"Ok Za santai jangan terburu-buru, dia berbeda dengan para wanita yang selama ini dekatin lo" aku mencoba menetralkan hatiku dengan bicara sendiri. Selama ini para gadis akan kegirangan bila kusentuh, tapi Almaira berbeda, sangat berbeda.


Aku berdebat dengan sahabat Almaira. Aku tidak suka dengan ucapannya.


"Kalau aku yang pegang nggak pake nafsu kak, tapi untuk menjaga. Kalau cowok lain yang pegang udah jelas ada maksud lain"


"Aku merangkul Alma kayak gini juga nggak pake nafsu" Aku langsung mempraktekannya dengan merangkul Almaira.


"Karena aku melakukannya juga untuk menjaganya. Dia adik kesayangan sahabatku Rendra, sudah pasti jadi adik kesayanganku juga" ucapku.


Aku semakin erat merangkulnya. Bukan hanya itu, aku juga menggenggam erat tangannya. Kulihat bunda geleng-geleng kepala melihatku, tapi aku pura-pura tidak tahu. Sedangkan Almaira terlihat pasrah dengan apa yang aku lakukan, walau dia sangat ingin lepas dari rangkulanku.


"Maaf Al, aku hanya ingin menunjukkan kalau aku sayang padamu" sayangnya aku hanya bisa bicara dalam hati saja.

__ADS_1


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2