
Elisya POV
Ada rasa ragu saat kaki ini melangkah dari tempat kos untuk pergi ke rumah depan, dimana itu adalah kediaman milik papaku sendiri yang aku tidak pernah tahu.
Begitu mewahnya rumah itu dari sini, memang hampir sama dengan rumah yang aku tempati bersama oma di Palembang. Rumah yang diberikan papa dan mama untukku setelah perceraian mereka, keduanya berpisah dan pergi meninggalkan aku yang terluka seorang diri dirumah itu bersama oma.
Air mata ini tidak akan pernah berhenti rasanya bila mengingat masa-masa terburukku, keduanya tidak ada satupun yang ingin mengajakku untuk tingga bersama salah satu dari mereka. Yang aku baru ketahui kalau itu adalah kesepakatan mereka untuk keadilan, keadilan untuk mereka bukan untukku. Mereka yang akan datang mengunjungiku bila mereka rindu, catat bila mereka rindu, bukan aku yang rindu.
Egois kedengarannya, karena saat itu aku yang merasakan sakitnya. Tapi pada akhirnya aku bersyukur dengan kesepakatan mereka tidak membawaku bersama salah satu dari mereka. Kenapa? Karena aku bisa menemukan keluarga dan sahabat yang benar-benar tulus menyayangiku, siapa lagi kalau bukan Alma dan kuarganya.
Beruntung aku saat itu memiliki sahabat seperti Almaira dan keluarganya yang selalu memberikan aku rasa seperti memiliki keluaraga. Papa Dhani dan Mama Rahma tidak pernah membedakan aku dengan Alamira putri mereka sendiri, begitu juga Kak Rendra dan Kak Rendy mereka berdua begitu menyayangiku.
"Mau kemana neng Eli? Kok jalan kaki?" suara Pak Udin menyadarkan lamunanku yang ternyata sudah berjalan sampai di gerbang.
"Pak Udin, sehat pak?" tanyaku berbasa-basi.
"Alhamdulillah baik neng. Neng Eli mau kemana?" Pak Udin kembali bertanya karena aku tadi tidak menjawab.
"Kerumah depan pak" tunjukku pada kediaman Papaku dan ibunya Kak Noah.
"Kerumah aktor ganteng ya neng" Pak Udin bicara sambil terkekeh.
"Tidak apa-apa neng, bapak dukung kalau neng Eli sama aktor itu" lanjutnya.
Mendengar itu aku mengerti kemana arah pembicaraan PaK Udin. Akh berita itu ternyata memang jadi berita yang ramai dibicarakan, sampai-sampai Pak Udin termakan berita bohong itu.
"Tidak seperti itu ceritanya pak, kami berdua saudara kandung, mana mungkin pacaran"
Kulihat Pak Udin tampak tidak percaya. Bagaimana dia bisa percaya? Orang tuaku ralat papaku dan kakakku tinggal diseberang sana sedangkan aku kos disini.
"Udah ya Pak Udin, saya kedepan dulu. Tuh papa saya sudah nunggu disana" aku menunjuk kearah papa yang berdiri sambil melihatku. Meninggalkan Pak Udin dengan segala ketidak percayaanya.
Rasanya kaki ini sedikit gemetar begitu satpam kediaman papa mempersilakan aku masuk. Kalau saja papa tidak memaksa, sampai kapanpun aku tidak ingin menginjakkan kaki dikediaman ini. Luka ini rasanya masih terbuka, sama saat luka dimana aku menemukan papa sedang berciuman dengan sekertarisnya.
Saat itu aku baru saja lulus dari sekolah dasar, aku dan Alma sama-sama lulus dengan nilai yang baik, kami juga diterima di SMP yang sama. Seperti Alma yang ingin langsung memberi tahu Papa Dhani, maka akupun melakukan hal yang sama langsung pergi kekantor papa.
__ADS_1
Berharap papa bangga dengan hasil belajarku selama ini, namun kenyataannya rasa kecewa yang kudapati.
Begitu sopir menurunkan aku didepan loby kantor papa, dengan tidak sabar aku berlari segera keruangannya. Tidak peduli dengan sapaan dari beberapa orang yang kenal denganku.
Tanpa mengetuk pintu aku menerobos masuk keruangan papa dimana adegan dewasa yang tidak seharusnya aku melihatnya terjadi didepanku. Seketika airmata ini mengalir deras, terbayang wajah mamaku yang sering kutemui menangis akhir-akhir ini. Inikah jawaban dari semua air mata mama. Pikirku saat itu.
"El ayo masuk. Ibumu sudah masak buat kita makan siang bersama"
Ibumu? Dia bukan ibuku pa. Haruskah aku memaggilnya ibu dalam hakekat yang sebenarnya? Memang harus. Pembicaraan kemarin menjelaskan kalau aku harus bersandiwara, bukan sandiwara yang jelas adalah berbohong. Membohongi publik kalau aku adalah putri kandung ibu Kak Noah, menghilangkan kalau pernah ada mama dalam kehidupan papa.
Kenapa mama lagi yang harus menanggung luka? Dia terluka karena papa berbohong dengan statusnya yang masih bujang saat melamar mama sehingga mama tidak pernah tahu kalau dia sebagai istri kedua, lalu terluka karena perselingkuhan papa dengan wanita murahan itu dan sekarang harus terluka tidak diakui sebagai mamaku di masyarakat umum.
Untuk apa? Hanya untuk menjaga nama baik laki-laki egois yang sayangnya dia papaku sendiri dan aku tidak bisa membencinya, seburuk apapun kelakuannya aku tidak bisa membencinya.
Dan hebatnya lagi mamaku, dia menerima saja keputusan ini. Memang saat ini mama sudah bahagia bersama Ayah Radit dan kedua adikku putra dan putri Ayah Radit. Dia pria yang sangat baik dan penyayang, sebenarnya dia juga pernah menawariku untuk tinggal bersamanya dan mama. Tapi aku menolak karena aku tidak ingin berpisah dari Alma. Ayah Radit itu cinta pertama mama, kalau boleh memilih aku ingin terlahir sebagai putri Ayah Radit dan mama.
"El"
"Iya pa"
Aku masuk sambil dirangkul papa sampai keruang keluarga, dimana sudah ada Ibu Kak Noah dan Kak Noah duduk disana.
"Sudah bicara dengan Eli, pa?" papa menggeleng.
Apa yang dimaksud ibu Kak Noah? Apa yang ingin dibicarakan mereka padaku?
"El"
"Iya pa"
"Ibumu ingin kamu pindah dan tinggal disini. Kakakmu Noah jarang pulang, dia sudah punya apartemen sendiri"
"Iya El, kalau ada kamu ibu jadi ada temannya"
Aku tidak bisa menjawab saat ini, aku harus bicara dan minta pendapat Alma, Rangga, kedua kakak kembarku dan juga mama dan oma dulu.
__ADS_1
"Bagaimana?" papa kembali bertanya.
Pindah dan tinggal disini? tidak aku tidak bisa melakukanya, tidak semudah itu aku bisa hidup bersama orang asing yang aku tidak tahu bagaimana hati mereka.
"Maaf, El tidak bisa"
Tampak wajah kecewa yang digambarkan oleh Ibu Kak Noah. Apa dia begitu mengharapakan aku menjawab iya?
"Kenapa El? Ini kediaman papa, dan kamu putri papa. Tidak ada salahnya kamu tinggal disini"
"Bukan begitu pa. El tidak bisa pisah dengan Alma dan Rangga"
Maaf sahabatku, nama kalian kupakai untuk alasan. Tapi itu kenyatannya sob, aku memang tidak mau jauh dari kalian berdua.
"Di Palembamg kamu juga tidak tinggal satu rumah dengan mereka, tidak masalah. Rumah ini malah lebih dekat dari pada rumahmu dan Alma di Palembang"
Papa tidak salah, memang rumah ini berseberangan dengan tempat kosku. Sementara di Palembang walau sama-sama tetanggan tapi terhalang beberapa rumah.
"Atau kamu mau Alma dan Rangga juga tinggal disini? Papa tidak masalah mereka berdua sudah seperti anak papa sendiri"
What? Segitunya papa berharap. Kenapa baru sekarang? Kemarin-kemarin kemana tawaran ini? Bodohnya Elisya tentu saja tidak ada penawaran karena statusmu masih disembunyikan oleh papamu.
"Bagaimana bu? Tidak masalahkan kalau Alma dan Rangga juga ikut tinggal disini?"
"Ibu tidak keberatan, bahkan sangat senang"
Kenapa kulihat Kak Noah yang sangat senang saat papa dan Ibunya mengajak Alma dan Rangga untuk ikut tinggal disini? Atau seperti yang Rangga katakan padaku, kalau sebenarnya Kak Noah punya hati pada Almaira.
Sepertinya itu benar, dan sudah pasti aku tidak akan membiarkannya merusak kebahagiaan Almaku. Dia Kakakku putra papa, bisa saja kelakuannya sama seperti papa yang mudah jatuh cinta pada wanita. Sementara Alma sudah punya Kak Reza yang jelas-jelas sayang dan cinta mati sama sahabatku itu.
"Ya sudah kita bicarakan lagi nanti. Sekarang makan dulu"
Itu papa yang bicara, karena dia tahu aku tipe orang yang tidak bisa dipaksa. Bukan keras kepala, tapi aku tipe orang yang segala sesuatu harus dipikirkan dengan baik.
Pembahasan tentang aku untuk pindah kerumah ini benar-benar tidak dibahas papa lagi setelah makan siang. Aku juga langsung pamit pulang ke tempat kos. Tidak sopan memang kalau habis makan langsung pulang, tapi aku tidak nyaman ada di kediaman ini. Kak Noah juga sudah hilang entah kemana.
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...