
Senyum kecut terlihat dari wajah tampan milik Ezra setelah mendengar cerita Almaira yang memghabiskan waktunya bersenag-senag dengan Rendra dan kedua sahabatnya hari ini. Sementara satu hari ini dia bergelut dengan pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi.
"Kenapa sih Bi, nggak seneng banget lihat Al bahagia?" tanya Almaira melihat wajah jelek calon suaminya.
"Aku pusing seharian ini dan kamu bersenag-senang" jawab Ezra yang sudah berganti bicaranya dengan aku kamu. Almaira tahu itu berarti kekasihnya sedang butuh perhatian lebih saat ini.
"Harusnya kamu tunggu akulah kalau mau jalan-jalan" lanjut Ezra.
"Bimbi masih di kantor?" tanya Almaira dengan mengabaikan ucapan Ezra.
"Hemm" Ezra hanya menjawab dengan deheman.
"Pulang ke rumah Kak Rendy aja ya, Al mau ngasih tahu tanggal pernikahan kita, nanti Al masakin makanan kesukaan Bimbi" tawaran Almaira menyungingkan senyum diwajah Ezra.
"Nah gitu kalau senyumkan Al jadinya gimana gitu" goda Almaira.
"Kamu tuh ya..." Ezra tidak melajutkan ucapannya saat mendengar seseorang yang tak lain asistennya yang memberi tahu kalau ada tamu yang ingin bertemu.
"Ada tamu ya Bi?" Ezra mengangguk.
"Ya udah, Al tunggu nanti malam" Video dimatikan Ezra sebelum Almaira mengucap salam.
"Kebiasaan" rutuk Almaira.
Bukan tidak sopan, Ezra sengaja segera memutuskan panggilan videonya, tidak ingin Almaira tahu dan mendengar suara siapa tamunya kali ini.
"Kamu tidak pulang" tegur Ayah Dimas.
"Eza membantu Dave semalam" jelas Ezra.
"Ayah sudah dengar beritanya. Tidak percaya Cecilia seperti itu" jawab Ayah Dimas.
"Malam ini Eza tidak pulang lagi, tolong ayah bilangin ke bunda" Ayah Dimas menaikan alisnya.
"Eza nginap di tempat Rendy" jawab Ezra sambil mentengir kuda.
"Sebaiknya kamu segera menentukan tanggal pernikahan Za. Tidak baik kamu sering menginap disana"
"Hemm. Tujuan Eza ke ke diaman Rendy karena Eza mau bicara soal itu dengan Al" Ayah Dimas mengangguk mengerti.
"Kalau bisa secepatnya. Setelahnya Ayah minta kamu mengurus perusahaan yang di Belanda"
Berganti Ezra yang menaikan alisnya, mengapa ayahnya tiba-tiba memutuskan untuk memindahkannya ke Belanda sementara sudah ada Kak Adamnya yang memimpin disana.
"Ayah ingin menjodohkan kakakmu dengan seseorang. Sulit melakukanya kalau dia disana. Sudah cukup lama dia menduda, Dafa butuh sosok ibu dalam pertumbuhanya" jelas Ayah Dimas. Kini Ezra mengerti.
"Hanya sebentar, nanti kamu kembali lagi setelah usaha ayah berhasil" bujuk Ayah Dimas.
__ADS_1
"Bagaimana dengan kuliah Alma yah? Dia pasti tidak mau disuruh cuti. Semester depan dia sudah bisa magang sambil menyusun skripsi"
"Suruh magang disana sambil kalian bulan madu" jawab Ayah Dimas sambil menaik turunkan alisnya menggoda putra bungsunya.
"Eza bicarakan dulu dengan Al" jawab Ezra sambil menggelengkan kepalanya melihat sikap Ayah Dimas.
Menghempaskan tubuhnya kekasur setelah membersihkan diri untuk melepaskan penat yang Elisya lakukan saat ini. Beban dihatinya mengusp setelah bicara dengan Rendra, membuatnya semakin bahagia hari ini. Tidak ingin merusak hari bahagianya, Elisya mematikan ponselnya. Dia ingin tidur dengan nyenyak tanpa ada yang bisa mengganggunya.
"Rangga" panggil Elisya sambil menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya yang ikut tidur disampingnya.
"Kamu kenapa jadi ikut tidur disamping aku sih?" tanya Elisya heran.
Tidak ada tanda-tanda dari Rangga kalau pria itu akan terbangun. Tidurnya terlalu pulas dan itu bukan Rangga, sahabatnya ini sangat mudah terjaga bila dibangunkan.
"Jangan-jangan" Elisya bangun dan mencari sesuatu di tas milik Rangga. Benar saja dia menemukan sesuatu yang dia curigai.
Baru saja tiba di apartemennya, Rangga melihat Ayu sedang bersiap-siap akan pergi dan memasukan beberapa lembar pakaian.
"Mau kemana lagi?" tanya Rangga membuat Ayu yang tidak menyadari kepulangan Rangga terkejut.
"Kakak sudah pulang, kebetulan sekali. Bisa antar Ayu ke rumah sakit? Ada anak panti yang sakit, Ayu mau bantu bude menjaganya" jelas Ayu tentang apa yang dia lakukan sekarang.
"Kakak mandi dulu" jawab Rangga dan mendapat persetujuan dari Ayu.
Rangga melajukan kendaraannya menuju rumah sakit yang dituju Ayu. Begitu sampai diparkiran Rangga menerima pesan dari Lola yang membuat pikirannya terganggu.
Rangga melangkahkan kakinya menyusuri lorong rumah sakit, di tengah jalan dia bertemu orang yang sangat dibencinya siapa lagi kalau bukan sepupu ibunya yang pernah melakukan pelecehan terhadap Rangga. Pria itu menatap tajam wanita yang sudah lama tidak dia lihat.
"Hai keponakanku yang tampan, semakin tampan saja kamu. Sudah terkenal juga ya sekarang. Sudah ada pacarnya lagi" sapa wanita itu pada Rangga.
"Saya bukan pacaranya mbak, saya adiknya Rangga" jawab Ayu karena melihat kakaknya hanya diam saja.
"Adiknya? Putri Mas Fauzi dari istri keberapa lagi?" tanya wanita itu.
"Jalan Yu, jangan hiraukan dia" Rangga menarik tangan Ayu untuk meninggalkan wanita yang merupakan tantenya itu.
"Hei, kalian itu jadi keponakan tidak ada sopan-sopannya sama tante sendiri" sungut wanita itu.
"Dia benaran tante kita kak?" tanya Ayu penasaran telebih lagi melihat sikap Rangga yang tampak benci pada wanita itu.
"Tanteku bukan tante kamu" jawab Rangga sedikit ketus. Ayu memilih diam, dia yakin Rangga sedang tidak baik-baik saja suasana hatinya.
Diam bukan berarti Ayu tidak memikirkan kakanya. Rasa penasara ingin tahu siapa wanita itu sangat tinggi namun harus dia pendam sendiri untuk saat ini.
Sepulang dari rumah sakit Rangga membelokkan kendaraanya menuju kediaman Papa Ahmad dan disambut langsung oleh pria paruh baya itu.
"Rangga, masuk nak" ajak Papa Ahmad begitu melihat Rangga.
__ADS_1
"Eli dimana pa?"
"Dikamar, sepertinya sedang tidur. Kamu ada perlu sama Eli? Langsung saja kekamarnya sana" perintah Papa Ahmad yang mengijinkan Rangga masuk ke kamar Elisya.
Melihat Elisya yang terlelap Rangga mendengus kesal, tujuannya kesini karen ingin berbagi dengan Elisya. Tadinya dia ingin menuju ke kediaman Rendy, tapi terlalu jauh dari rumah sakit yang baru saja dikunjunginya sementara kepalanya sudah terasa sakit dan butuh tempat untuk mengeluh dan berbagi.
"Ada apa dengan kamu? Tadi semua baik-baik saja saat kita di dufan" gumam Elisya.
Merasa haus dan lapar Elisya meninggalkan Rangga yang entah kapan akan terjaga, dia tidak tahu berapa lama reaksi dari obat yang diminum Rangga, karena dia tidak tahu berapa banyak obat yang masuk kedalam tubuh sahabatnya itu.
"El kamu makan sendirian, mana Rangga?" tanya Papa Ahmad begitu melihat Elisya menikmati makanannya hanya seorang diri.
"Rangga tidur, sepertinya dia kurang enak badan pa" jawab Elisya memberi tahu papanya.
"Biarkan dia tidur, tadi saat datang wajahnya terlihat pucat. Kamu temani dia, takut butuh sesuatu. Kabari Ayu biar tidak khawatir karena Rangga tidak pulang"
Elisya mengangguk mengerti, tidak ingin menunda karena takut lupa, Elisya segera menghubungi Ayu.
"Halo Yu" sapa Elisya begitu panggilannya tersambung.
"Kamu dimana?" tanya Elisya.
"Ayu di rumah sakit Yuk, ada anak panti yang sakit" jawab dan jelas Ayu sebelum Elisya lebih banyak bertanya.
"Rangga tahu?" tanya Elisya lagi.
"Kak Rangga yang mengantar aku kerunah sakit, tapi..." ucapan Ayu terhenti dia ragu untuk memberitahu Elisya tentang perubahan Rangga setelah bertemu seseorang yang mengaku tantenya.
"Tapi apa Yu? Apa sesuatu terjadi pada Rangga?" tanya Elisya penasaran dan juga memancing Ayu agar mau bicara. Mengingat Rangga yang sampai meminum obat tidurnya sahabatnya itu pasti mengalami hal buruk lagi.
"Kak Rangga baik-baik saja sebelumnya, sampai dia bertemu seseorang yang sepertinya sangat di benci Kak Rangga"
"Apa dia wanita?" tanya Elisya lagi.
"Iya, dia mengatakan kalau dia tante kak Rangga"
Terjawab sudah keingin tahuan Elisya apa penyebab Rangga sampai meminum obat tidurnya, traumanya kembali dan Elisya sangat tahu Rangga akan merasakan sakit kepala yang berat.
"Kamu baik-baik di rumah sakit. Rangga ada bersama Ayu El, dia baik-baik saja" hibur Elisya agar Ayu tidak khawatir dengan Rangga.
Tanpa Elisya sadari seseorang menguping pembicaraanya dengan Ayu. Orang itu merasa senang dengan apa yang didengarnya.
"Aku menemukanmu" gunamnya.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1