
Dua tahun kemudian.
Rangga sudah duduk manis dibelakang kemudi ditemani Elisya yang duduk disisi penumpang. Mereka sedang menunggu Almaira yang sedang pamit dengan Mama Rahma dan Papa Dhani.
"Rangga hati-hati bawa mobilnya" pesan yang setiap pagi diberikan oleh Mama Rahma hampir satu tahun ini sejak Rangga diijinkan membawa kendaraanya sendiri dan membawa Elisya dan Almaira pergi kesekolah bersamanya.
Trio Al, El dan Doel sudah berada di sekolah, hari ini pengumuman kelulusan dan juga pengumuman di universitas mana mereka diterima.
Rangga sudah bergabung dengan teman-teman cowoknya yang satu kelas, begitu juga dengan Almaira dan Elisya sudah terlihat berbincang dengan teman-teman mereka yang lain.
"Alma" panggilan itu membuat Elisya yang sedang berbicara menghentikan ucapannya.
Alma melihat kearah suara yang memanggilnya. Damar, pria itu yang memanggilnya. Almaira sedikit heran, karena dia merasa tidak ada urusan dengan pria tersebut.
"Bisa kita bicara sebentar" pinta Damar pada Almaira.
"Sebentar lagi pengumuman" tolak Almaira secara halus.
"Sebentar saja, disana" Damar menunjuk taman yang ada didepan kelas Almaira.
Dengan berat hati Almaira mengikuti langkah Damar yang sudah berjalan terlebih dahulu didepannya.
Ponsel Almaira bergetar, dia sengaja mensenyapkan suara ponselnya bila di tempat umum agar suaranya tidak mengganggu orang-orang yang ada disekitarnya.
"Aku jawab telepon sebentar" Almaira meminta ijin pada Damar hanya untuk kesopanan.
Suara Ezra Syahreza terdengar dari seberang sana mengucap salam yang langsung dijawab Almaira. Wajah gadis itu terlihat bahagia mendapat panggilan suara dari Kak Ezanya. Setelah pertemuan mereka di Belanda, satu minggu sekali Ezra akan menghubungi Almaira. Biasanya mereka saling memberi kabar apa saja yang terjadi selama satu minggu yang sudah mereka lewati.
"Alma, aku ingin bicara kalau aku ingin mengajakmu jadi pendampingku di acara malam perpisahan kita" ucap Damar memotong pembicaraan Almaira dan Ezra.
Ezra bisa mendengar permintaan Damar, karena dia masih terhubung dengan Almaira.
"Maaf Dam, aku sudah ada yang menemani" jawab Almaira yang membuat wajah Damar terlihat kecewa.
"Bukankah kamu ada Paula yang bisa menemani kamu" lanjut Almaira yang sedikit heran. Selama ini semua murid disekolah ini tahu kalau mantan ketua OSIS yang terkenal tampan itu menjalin kasih dengan adik kelas bernama Paula.
"Al" panggil Ezra yang masih terhubung dengan Almaira.
"Iya kak maaf, temanku memotong pembicaraan kita" Jawab Almaira yang merasa tidak enak mengabaikan Ezra.
"Kamu ditemani siapa malam perpisahan?" tanya Ezra yang cukup penasaran. Almanya menolak pria yang bicara padanya karena dia mengatakan kalau sudah memiliki pasangan. Siapa pasangan Almaira membuat pria itu sangat ingin tahu.
"Tentu saja Kak Rendy, siapa lagi?" jawab Alma.
__ADS_1
"Rendra?"
"Kak Rendra sudah di booking Elisya" Alma menjelaskan sambil terkekeh. Ezra yang mendengarnya ikut terkekeh dan lega setelah tahu siapa yang akan menemani Almaira dimalam perpisahannya.
"Al, disuruh masuk kelas" suara Elisyah terdengar memanggil Almaira.
"Kakak tutup ya, semoga kamu juara umum dan keterima di UI" ucap Ezra tulus.
"Aamiin, terima kasih doanya kak" Almaira langsung memutuskan tanpa mendengar salam perpisahan dari Ezra seperti biasanya.
Almaira langsung berlari kekelasnya, karena dari jauh dia bisa melihat wali kelasnya baru saja keluar dari ruang guru menuju kelasnya.
"Bicara apa Damar?" tanya Elisya saat Almaira sudah duduk disampingnya.
"Dia minta aku jadi teman wanitanya dimalam perpisahan"
"What?" Elisyah berteriak cukup keras sehingga kelas yang tadinya ramai seketika sepi. Semua menatapnya.
"Sory.... sory..." ucap Elisya sambil menyengir kuda dan menangkupkan kedua tangannya didada.
"Bukannya dia punya Paula?" ucap Elisya kali ini sedikit berbisik. Almaira hanya mengangkat kedua bahunya.
"Terus, kamu terima Al?" tanya Elisya penasaran.
"Kita sebentar lagi terbebas dari janji dan sumpah kita Al, tidak ada salahnya kamu mulai membuka hati atau menerima teman pria yang lain untuk dekat denganmu selain Rangga"
"Terapkan itu pada dirimu sendiri baru mengajariku"
Elisya ingin membalas ucapan Almaira tapi diurungkan karena guru kelas mereka sudah berdiri didepan kelas.
"Selamat pagi anak-anak, Assalamualaikum " Bu Desi mulai menyapa.
"Pagi bu, waalaikumsalam" balas siswa siswi yang ada dikelas bersamaan.
"Baiklah, ibu mengumpulkan kalian dikelas ini hanya untuk membagikan ini" Bu Desi menunjukkan dua amplop ditangannya. Satu berwarna putih dan satu lagi berwarna coklat.
"Setelah kalian mendapatkan amplop ini ibu minta jangan dibuka, karena kita akan berkumpul di aula untuk mendapat wejangan dari kepala sekolah dan membukanya bersama-sama dengan kelas yang lain"
"Baik bu" anak-anak kembali menjawab bersamaan.
Ibu Desi membagikan kedua amplop itu pada setiap murid yang ada dikelas berdasarkan nama masing-masing murid yang tertera di amplop.
"Semua sudah dapat?" tanya Bu Desi.
__ADS_1
"Sudah bu" kembali para siswa menjawab bersamaan.
"Baiklah sekarang kalian ke aula" Bu Desi memberi perintah.
Rangga meranggkul Almaira dan Elisya di kanan dan kirinya, mereka berjalan bersama menuju aula.
"Rangga setelah ini jangan rangkul-rangkul kita lagi" Almaira yang bicara. Rangga tampak berpikir tidak memgerti apa maksud dari perkataan Almaira.
"Takut nanti cewek yang mau dekatin kamu mundur gara-gara kita berdua" Elisya yang menjelaskan.
"Cewek yang mau sama aku harus terima kalau aku udah sayang duluan sama kalian berdua" ucap Rangga.
"Nggak gitu geh Doel" sahut Elisya.
"Geh?" beo Almaira dan Rangga bersamaan. Elisya menutup mulutnya.
"Sory, dua minggu ini saudara dari lampung ngumpul dirumah oma, jadi kebawa-bawa bahasa gaul mereka" jelas Elisya karena gaya bahasanya yang berbeda. Mereka tertawa bersama. Begitulah persahabatan mereka penuh kebahagiaan.
Kepala sekolah sudah selesai memberi wejangan pada semua siswa kelas 12 yang akan lulus hari ini.
"Baiklah anak-anak sekalian, siapkan amplop putih kalian dan kita buka bersama-sama. Siap?"
"Siap pak" suara gemuruh di aula terdengar.
Kepala sekolah memberi aba-aba lalu semua membuka amplop yang memberikan pernyataan mereka lulus atau tidak. Suara gemuruh kembali terdengar di aula, terlihat wajah bahagia mereka karena bisa melepas seragam putih abu-abu.
"Alhamdulillah semua siswa dinyatakan lulus. Sekarang bapak akan memanggil teman-teman kalian yang masuk tiga besar" kepala sekolah menjeda ucapannya sebelum memanggil tiga siswa yang dinilai sangat berprestasi.
"Bapak minta kepada Rangga, Almaira dan Elisyah untuk naik kepanggung"
Ketiganya naik kepanggung, sudah tidak heran bila mereka yang dipanggil. Karena sejak kelas 10 sampai sekarang ketiganya selalu bergantian menduduki posisi satu, dua dan tiga.
"Baiklah juara umum kita kali ini jatuh ketangan...." kepala sekolah sengaja menjeda untuk membuat mereka penasaran. "Almaira" tepuk tangan terdegar meriah.
"Kedua adalah..... Rangga" kepala sekolah kembali bicara. "Ketiga sudah bisa kalian ketahui siapa lagi kalau bukan Elisya" sambung kepala sekolah tersebut.
Mereka bertiga langsung berpelukan, tidak ada persaingan diantara ketiganya. Saling mendukung itu yang mereka utamakan, siapapun yang jadi juaranya mereka ikut bahagia.
Sumpah dan janji tetang pacaran memang berakhir. Tapi janji mereka untuk jadi saudara tetap berlaku sampai maut memisahkan. Forever Best Friend
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1