
Tak ada yang tahu pada siapa akhirnya kita akan berjodoh dan menjalani hidup bersamanya, begitu juga yang terjadi dengan Rangga dan Elisya, hanya berdasarkan sudah saling mengenal satu sama lain, saling membutuhkan perhatian dan saling pengertian, mereka menyatukan hati untuk melangkah bersama. Tidak hanya itu sebenarnya, selama dua bulan terakhir ini Elisya baru menyadari kalau memang Ranggalah yang terbaik untuknya, Rangga yang selalu ada untuknya dan Rangga yang selalu melakukan apapun untuk Elisya tanpa perlu diminta olehnya.
"Ga, lapar" hanya dengan menyebutkan kata itu, tanpa diperintah Rangga akan pergi ke dapur dan membuatkan Elisya makanan, atau Rangga langsung meraih kunci motor untuk sekedar membelikan Elisya cemilan.
"Ga, capek" tanpa meminta persetujuan Rangga akan berjongkok didepannya dan meminta Elisya untuk naik kepunggungnya lalu berjalan mengantarkan Elisya sampai tujuan.
"Ga, nggak bisa tidur" Rangga segera menghampiri Elisya dan memeluk sambil mengusap kepala sahabatnya sampai terlelap.
Ga ini, Ga itu. Banyak hal lainnya dimana Ranggalah orang yang pertama dicari Elisya untuk membantunya. Elisya benar-benar menyadari itu di saat dia dan Almaira mengenang dan mengingat kembali perjalanan persahabatan mereka dan bagaimana kehadiran Rangga ditengah-tengah mereka. Menyadari kalau dirinya yang lebih banyak bermanja pada Rangga dari pada Almaira yang lebih mandiri. Almaira juga manja hanya saja manjanya ditujukan pada kedua kakaknya, tidak dengan Rangga walau mereka sangat dekat.
Keterikatannya pada Rangga membuat Elisya ingin melakukan hal yang sama yang sering Rangga lakukan untuknya. Karena itulah disaat Rangga mebutuhkanya, tanpa sadar Elisya melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan. Hal Gila yang akhirnya membawa Rangga mengikat dirinya dalam ikatan pernikahan.
"Kenapa bangun?" suara Rangga mengejutkan Elisya yang masih betah menatap langit-langit sambil kembali mengingat apa saja yang sudah terjadi.
"Tadi katanya capek. Ayo tidur lagi" Rangga kembali bicara dan menarik Elisya agar menghadap padanya.
Mereka sama-sama kelelahan setelah dua malam menunda malam pertama, akhirnya malam ini mereka melakukan apa yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri. Elisya langsung terlelap dalam pelukan Rangga begitupun Rangga ikut terlelap setelah meyakinkan Elisya yang kelelahan tidur dengan nyaman. Elisya terbangun karena dia merasa haus. Setelah membaringkan diri lagi, matanya sulit untuk terpejam, pikirangnya melanglang buana.
"Ga, kita beneran ya?" tanya Elisya yang kesekian kalinya pada Rangga, bukan tidak percaya hanya saja seperti mimpi pada akhirnya dia bersama Rangga dan mereka sudah benar-benar menyatu.
"Masih belum percaya? Aku juga" tanya Rangga yang juga sama tidak percaya.
"Sekarang tidur lagi" Rangga menarik Elisya masuk dalam pelukannya, mengecupi pucuk kepala istrinya lalu mengusapnya membuat Elisya senyaman mungkin dan kembali tertidur.
Cup. Rangga mengecup bibir Elisya yang sudah terlelap. Menatap wajah cantik istrinya yang tak asing untuknya. Bukan hanya kali ini mereka sedekat ini, tapi sejak dulu. Hanya saja karena trauma yang dialami Rangga sehingga sulit baginya untuk membuka hati dan jatuh cinta seperti sekarang.
"Jika dulu bila aku jatuh cinta, aku takut akan meyakiti orang yang ku cintai. Tapi tidak lagi untuk sekarang, Bila aku jatuh cinta maka selamanya cinta. I love you Elisya" gumam dan bisik Rangga pada Elisya yang sudah pasti tidak akan mendengarnya.
Waktu berjalan terasa cepat, kini wajah Ezra melukiskan senyum bahagia. Bukan hanya Ezra, tapi juga pada wajah Papa Dhani dan Mama Rahma saat mendengar nama Almaira di panggil sebagai wisudawati yang lulus dengan pujian. Sesuai target yang ingin dicapainya, Almaira berhasil menyelesaikan kuliahnya hanya dengan menempuh waktu tiga tahun delapan bulan dengan nilai IPK terbaik, meninggalkan Elisya yang masih belum selesai dengan skripsinya.
"Selamat Ai" ucap Ezra yang langsung merengkuh tubuh sang istri dan memberikan kecupan sayangnya.
__ADS_1
Almaira mengurai pelukan dari suaminya lalu lari kepelukan Papa Dhani dan Mama Rahma, dua orang yang berjasa dalam hidupnya, yang selalu memberikan semangat dan nasihat-nasihat terbaik untuknya dalam setiap menempuh pendidikan. Dua orang tersayang yang menjadikan seorang Almaira seperti sekarang ini.
"Selamat sayang. Putri papa sekarang benar-benar sudah berhasil" ucap Papa Dhani bangga.
"Al..." Mama Rahma tidak bisa bicara lagi, dia sangat terharu dengan keberhasilan putri satu-satunya ini. Bahkan saat wisuda Rendra dan Rendy dia tidak seterharu ini.
Ditengah keharuan Mama Rahma, tampak Ayah Dimas dan Bunda Aisyah datang menghampiri mereka. Melihat itu Almaira segera menghampiri kedua mertuanya menyalimi mereka dan memeluk satu persatu.
"Menantu bunda memang yang terbaik" Bunda Aisyah memuji keberhasilan Almaira. Dia menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan seorang Almaira yang memperjuangkan skripsinya agar cepat selesai, sehingga cepat ikut seminar dan disidangkan.
"Selamat untuk Alamira" terdengar suara Rangga dan Elisya bersama kedua kakak kembar Almaira, Rendra dan Rendy juga adiknya Danu, begitu Almaira sampai di kediaman Ayah Dimas.
Didalam kediaman Ayah Dimas sudah banyak yang menunggu kedatangan Almaira, ada Nayla bersama putra dan putrinya.
"Selamat ya Al, adik perempuan mbak Nay satu ini memang yang terbaik" ucap Nayla memberi pujian, dia memeluk Almaira cukup lama diikuti Raka dan Saqila.
Ada Anindya juga di kediaman Ayah Dimas, wanita yang baru satu bulan ini jadi kakak iparnya itu sedang membantu Bi Suti menata meja makan. Melihat kedatangan Almaira dia langsung menghampiri dan memberi ucapan selamat.
Kini mereka berkumpul siap untuk menyantap makan siang sambil merayakan kelulusan Almaira sebagai sarjana. Dan husus hari ini, Ezra meminta istrinya duduk diam dan membiakan dirinya yang melayani Almaira dengan mengambilkan makan untuk istrinya. Ezra memasukkan semua lauk kesukaan Almaira kepiring makan istrinya jadi satu. Melihat apa yang disuguhkan Ezra membuat Almaira menutup mulutnya menahan mual.
"Kamu kenapa Ai?" tanya Ezra panik, karena wajah Almaira tiba-tiba pucat dan berkeringat.
Almaira menggelengkan kepalanya, dia tidak berani membuka tangannya yang dia gunakan untuk menutup mulut dan hidungnya. Almaira meminta Ezra menyingkirkan apa yang dibawa suaminya. Ezra menuruti membuat Almaira bisa bernafas lega.
"Kamu maunya makan apa Ai? Itu tadi semua makanan kesukaan kamu" tanya dan beritahu Ezra.
"Tapi jangan semuanya dijadikan satu Bi, Al nggak kuat lihatnya" jawab Almaira.
Ezra berlalu dan kembali mengambil makanan yang diinginkan Almaira. Tanpa sungkan Ezra menyuapi istrinya. Hari ini dia sudah berniat untuk memanjakan Almaira dan mewujudkan apapun keinginan istrinya. Satu piring berdua dalam jumlah porsi yang besar itu sudah biasa, tapi kali ini Almaira menginginkan satu piring itu hanya untuknya. Tentu saja itu membuat Ezra senang melihatnya, apa lagi Almaira memakannya dengan lahap.
Mama Rahma yang melihat Almaira merasa heran, tidak biasanya putrinya itu makan banyak. Benar saja, apa yang di takutkan Mama Rahma benar terjadi. Almaira berlari ke kamar mandi karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan makanan yang baru saja di santapnya. Ezra yang khawatir menyusul istrinya dan menemukan Almaira kembali mengosongkan perutnya.
__ADS_1
Almaira merasakan pandangannya berkunang-kunang, keringat dingin keluar dari seluruh tubuhnya. Suara Ezra yang memanggilnya sayup-sayup menghilang dan gelap, Almaira tidak bisa melihat dan mendengar apa-apa lagi.
Wajahnya Ezra tersenyum bahagia begitu melihat mata Almaira yang terbuka. Sejak menggendong Almaira dan membaringkan istrinya ditempat tidur sampai Rendra memeriksa Almaira, Ezra tidak melepaskan genggaman ditangannya. Terlebih lagi Rendra memberikan berita yang membuatnya bahagia.
"Kamu sudah sadar Ai?" Ezra berdiri lalu mengambilkan segelas air dan memberikannya pada Almaira.
"Al kenapa Bi?"
"Kamu baik-baik saja, bahkan sangat baik. Rendra bilang hanya kelelahan"
"Mulai sekarang jangan melakukan hal yang berat-berat ya Al" pesan Bunda Aisyah membuat Almaira menatap heran.
"Kamu belum kasih tahu istrimu Za?" tanya Bunda Aisyah melihat Almaira yang kebingungan. Ezra menggelengkan kepalanya.
"Kasih tahu apa bun?" tanya Almaira penasaran.
"Sayang kamu akan akan jadi mommy" Ezra yang menjawab mengalihkan perhatian Almaira dari bunda Aisyah ke suaminya. Ezra mengangguk lalu memeluk istrinya.
"Terima kasih sayang sudah menjadikan hidup aku lebih sempurna" bisik Ezra sambil mengeratkan pelukannya.
Almaira terharu mendengarnya, Mereka akan menjadi orang tua, sungguh Almaira belum bisa percaya mendengarnya. Ezra mengurai pelukannya dan memandang wajah istrinya yang terlihat semakin cantik. Sekali lagi dia jatuh cinta pada seorang Almaira.
"Bila aku jatuh cinta, selamanya cinta" gumam Ezra dalam hati sambil tersenyum bahagia.
END
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
Terima kasih untuk semua pembaca Bila Aku Jatuh Cinta. Cerita ini author akhiri sampai disini. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dalam hal tulisan ataupun isi ceritanya.
__ADS_1