BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
35. Dijodohkan Sejak Bayi


__ADS_3

"Wira, menantuku melahirkan seorang putri" Kakek Hasan menghubungi sahabatnya Wiraguna Harley begitu tahu Rahma istri dari Dhani putranya melahirkan anak perempuan. Cucu perempuan pertamanya yang memang sudah ditunggu-tunggunya.


"Ini berita baik San, kita bisa membayar janji kita dengan menjodohkan cucu-cucu kita" jawab Kakek Wiraguna dari seberang sana.


"Iya, akhirnya aku punya cucu perempuan Wir" Kakek Hasan kembali menjawab dengan raut wajah yang bahagia.


Setelah memberi kabar pada sahabatnya, Kakek Hasan segera menemui Papa Dhani untuk kembali membicarakan perjodohan cucu perempuannya yang belum mengerti apa-apa dengan cucu laki-laki sahabatnya.


"Yah, Alma baru berapa jam lahir kedunia ini, tapi ayah sudah mebicarakan perjodohannya" sanggah Papa Dhani. Dia tidak habis pikir dengan apa yang diinginkan ayahnya.


Putrinya baru lahir, belum bisa melihat dunia tapi sang ayah sudah menjodohkannya. Dia tidak ingin putrinya kelak harus menikah dengan pria yang tidak dicintainya.


"Kau harus menginjinkannya Dhan, ini janji ayah pada Wira" jawab Kakek Hasan.


"Wira?" beo Papa Dhani.


"Iya, Wiraguna Harley. Bos besarmu" Papa Dhani mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia melupakan satu fakta kalau ayahnya bersahabat baik dengan Wiraguna Harley, pengusaha nomor satu di asia. Pemilik perusahaan dimana dia bekerja saat ini.


"Bagaimana? Kau mengijinkan Dhan" tanya Kakek Hasan lagi.


"Dengan siapa Alma akan dijodohkan?"


"Putra bungsu Dimas, dia seumuran dengan sikembar Rendra dan Rendy" jelas Kakek Hasan.


"Aku tidak bisa memutuskannya sendiri yah, akan aku tanyakan dulu pada Rahma" jawab Papa Dhani pada akhirnya.


Sementara di kediaman keluarga Harley, Kakek Wiraguna segera meminta istrinya dan menantunya Bunda Aisyah untuk bersiap-siap mengajak Ezra ke Palembang.


"Cantik ya" ucap Bunda Aisyah pada bayi perempuan yang sekarang dalam pangkuanya.


"Bunda, Eza boleh cium?" tanya Ezra kecil yang gemas dengan bayi perempuan itu.


"Tentu nak boleh" Kakek Hasan yang menjawab pertanyaan Ezra.


"Adik bayinya boleh buat aku bun?" tanyanya Ezra. Orang dewasa yang ada disana tertawa mendengar pertanyaan Ezra yang sudah menginginkan Almaira untuknya.


"Kamu suka sama adik bayinya?" Mama Rahma yang bertanya pada Ezra.


"Suka, adik bayinya cantik, lucu, nggak rewel juga. Gemesin, Eza jadi sayang deh sama adik bayinya" Mama Rahma tersenyum mendengar jawaban Ezra. Sedangkan yang menjawab tak henti-henti menciumi bayi mungil itu.


"Jadi bagaimana Rahma?" Kakek Hasan kembai menanyakan pada Mama Rahma.


"Saya setuju saja, ini untuk mengikat saudara dua keluarga. Tapi jika kelak mereka dewasa tidak saling menginginkan, saya tidak ingin mereka dipaksa" ucap Mama Rahma setelah memikirkan masalah ini. Yang dia inginkan kebahagiaan putrinya kelak.


"Saya setuju" Kakek Wiraguna yang menjawab.

__ADS_1


"Kita jodohkan mereka, tapi jangan dengan paksaan. Kelak saat waktunya tiba baru kita beritahukan pada mereka" lanjut Kakek Wira ucapannya.


"Semoga Eza dan Alma berjodoh" Bunda Aisya mengucapkan doanya dan mendapatkan jawaban amiin dari semua yang hadir disana.


Almaira menyimak setiap kata yang diucapkan Mama Rahma saat menceritakan kembali mengapa dia bisa di jodohkan dengan Ezra.


"Begitulah ceritanya Al" Mama Rahma mengakhiri ceritanya. Dia mengelus rambut Almaira yang tidur dipangkuannya.


Mereka sedang bersantai di ruang keluarga lantai dua setelah mengikuti musyawarah keluarga tetang hubungan Rendy dan Diana yang memang harus berakhir. Keluarga Diana meminta maaf pada Rendy dan keluarga besar Papa Dhani atas perbuatan tidak terpuji putri mereka.


Setelah keluarga Diana pamit pulang mereka melanjutkan menyelesaikan masalah Aida dan Erwin. Setelah terbongkarnya kasus kejahatan dan juga perselingkuhan Aida, ayah Aida meminta Erwin datang ke kediaman Papa Dhani.


Begitu Erwin tiba, dia langsung diceritakan tentang kelakuan Aida. Erwin memutuskan untuk membatalkan pertunangannya, tidak mungkin dia melanjutkan pertunangannya dengan wanita yang tidak bisa menjaga kehormatannya. Terlebih lagi dia juga sebenarnya tidak mencintai Aida dan terpaksa menerima perjodohan ini.


Ayah Aida menerima keputusan Erwin, tapi dia meminta Erwin untuk tidak menceritakan aib Aida pada orang lain.


"Ma, ada satu hal yang menjadi pertanyaan Alma dari cerita mama tadi" ucap Almaira.


"Kenapa Kakek Hasan menjodohkan Kak Eza dengan Alma bukan Cek Aida? Bukankah dia cucu perempuan kakek yang pertama. Kenapa harus menunggu Alma yang lahir?"


"Karena dia bukan cucu kandung Kakek Hasan" bukan Mama Rahma yang menjawab tapi Papa Dhani.


"Pa" ucap Mama Rahma mengingatkan Papa Dhani untuk tidak mengungkapkan rahasia ini.


"Biar saja ma, anak-anak harus tahu kebenarannya sekarang" jawab Papa Dhani. Sejak tahu keponakan tirinya itu begitu membenci Almaira, bahkan tega ingin merusak masa depan putrinya, Papa Dhani sudah berniat untuk memberi tahu satu kebenaran pada anak-anaknya.


"Maksudnya apa pa?" tanya Alma masih belum mengerti.


Almaira tekejut mendengar kebenaran ini, dia jadi merasa kasihan pada Aida, karena selama ini dia sudah dibohongi tentang siapa dia sebenarnya dalam keluarga.


"Sudah tidak usah kamu pikirkan. Sekarang kamu istirahat" ucap Papa Dhani sambil mengacak-acak rambut putrinya.


"Papa sampai lupa, dibawah ada tamu yang mencari mama" saat mendengar pertanyaan Almaira tentang Aida, Papa Dhani tidak tahan ingin segera memberi tahu. Dia jadi lupa dengan tujuannya naik ke ruang keluarga, kalau dia mencari Mama Rahma dan ingin memberitahu kalau ada tamu mencarinya.


Papa Dhani dan Mama Rahma turun untuk menemui tamu, sementara Almaira kembali ke kamarnya.


"Kakak disini?" tanya Almaira begitu menemukan Ezra yang berbaring di sofa yang ada dikamarnya. Ezra menjawab dengan senyuman sambil meminta Almaira duduk didekatnya.


"Al kirain kakak sama Kak Rendra" ucap Almaira begitu dia sudah didekat Ezra.


"Iya tadinya disana tapi kakak pengen ngobrol sama kamu, jadinya kakak tunggu disini"


"Tunggu? Kakak lihat Al lagi sama Mama?" kembali Ezra menjawab dengan senyuman.


"Kenapa nggak ikut bergabung?"


"Kakak tidak ingin mengganggu kamu sama mama" Ezra menarik Almaira masuk dalam pelukannya.

__ADS_1


"Sayang bagaimana perasaanmu setelah tahu kita dijodohkan sejak kecil" bisik Ezra ditelinga Almaira. Posisi mereka saat ini berbaring disofa dengan Ezra yang memeluk Almaira dari belakang.


"Untuk apa? Dijodohkan atau tidak bukankah hati kita yang bicara?" Almaira menjawab dengan pertanyaan, kebiasaan gadis itu yang harus Ezra ingat.


Ezra gemas dengan Almaira yang menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan, dia mengecup tengkup Almaira sangat dalam.


"Kak jangan membuat orang lain berpikir yang tidak-tidak pada kita" tegur Almaira dengan apa yang Ezra lakukan padanya. Gadis itu yakin apa yang Ezra lakukan meninggalkan tanda ditengkuknya. Ezra terkekeh dia bahkan semakin gemas pada gadis kecilnya ini.


"Apa yang dilakukan kedua kakek kita itu adalah sebuah doa kak, karena itu mungkin ada dicintai dihati kita" Almaira sudah membalikkan badanya menghadap Ezra, dia tidak mau Ezra meninggalkan tanda di tengkuknya untuk yang kedua kalinya.


"Kamu benar sayang" Ezra mengecup pipi Almaira.


"Kak, sekarang senagnya main sosor ih" Ezra kembali terkekeh menjawab protes yang Almaira berikan.


"Bukankah sejak kecil kakak sudah diijinkan untuk menciummu" godanya membuat Almaira mencebikkan bibirnya.


"Kakak tadi dengar cerita mama ya" Ezra menggeleng.


"Bunda yang cerita sayang" Ezra kembali mengecup pipi kekasihnya. Entah mengapa hari ini dia begitu gemas dengan gadisnya ini.


"Kapan kakak tahu kalau kita di jodohkan?"


"Waktu di Belanda, setelah kamu pulang ke Indonesia"


"Sejak saat itu?" Almaira tidak percaya, saat itu dia bahkan masih berpikir kalau Ezra masih memiliki hubungan dengan Diandra.


"Iya sayang" jawab Ezra sambil mengencangkan pelukannya.


"Kakak curang" Almaira kesal, mengapa dia baru tahu saat ini.


"Apanya yang curang hem?" Ezra menarik gemas hidung Almaira.


"Kakak tahu sudah lama tapi tidak memberi tahu Al" Almaira melepaskan pelukan Ezra, dia berjalan ke balkon yang ads di kamarnya.


"Memangnya apa yang ingin kamu lakukan kalau tahu perjodohan kita sejak dulu?" Almaira diam, benar yang dikatakam Ezra, dia bahkan tidak tahu akan melakukan apa? terlebih lagi saat itu dia masih punya perjanjian dan sumpah dengan Elisya dan Rangga.


"Kenapa diam? Kamu tidak tahu jawabnya bukan?"


"Setidaknya Al tidak takut kehilangan kakak" gumam Almaira dengan pelan tapi masih bisa didengar Ezra.


"Sayang, apa saat itu kamu sudah punya perasaan pada kakak?" Ezra tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Tidak penting" Almaira hendak menjauh dari Ezra tapi dia kurang cepat. Ezra sudah lebih dulu menahan langkahnya, pria itu memegang lengannya.


"Sejak kapan kamu memiliki perasaan ini ai" Almaira diam dan memalingkan wajahnya dari Ezra, dia malu tidak ingin Ezra tahu.


"Ai jawab atau kakak cium kamu disini, biar dilihat banyak orang"

__ADS_1


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...


__ADS_2