
Ezra memesan makanan untuk makan malam mereka dan anak-anak panti. Tentu saja ini merupakan makan besar bagi anak-anak panti, karena Ezra memesan makanan cepat saji dari resto yang terkenal yang sangat disukai anak-anak.
Kecerian mereka saat menikmati makanan yang disajikan mampu membuat siapa saja yang melihatnya bahagia. Bagaimana tidak bahagia, hampir semua anak-anak ini tidak tahu siapa orang tua mereka tapi mereka masih bisa menikmati hidup dengan canda tawa. Bahagia itu mudah, bila kita banyak bersyukur. Itulah prinsip hidup mereka.
"Aaaa" Ezra menyodorkan tangannya untuk menyuapi Almaira.
"Bi banyak anak kecil, jangan aneh-aneh" Almaira menolak suapan dari kekasihnya. Ezra memasang wajah sedih karena penolakan Almaira, tapi gadis kecilnya tampak tidak peduli.
"Kalau makan jangan melamun. Mikirin apa si Ai, sayangmu ini ada disampingmu tapi masih juga pikirannya kemana-mana" keluh Ezra.
Ezra sedikit kesal, karena dari tadi dia perhatikan gadis kecilnya tidak konsentrasi dengan makanan yang ada dihadapannya.
"Bukan melamun Bi, tapi terharu melihat mereka. Lihatlah walau tidak memiliki orang tua mereka tetap ceria dan tertawa bahagia. Kita yang serba kecukupan kadang-kadang masih saja merasa kurang" ucap Almaira menjelaskan.
Ezra terdiam, dia mengagumi apa yang Almaira pikirkan. Dalam hatinya dia membenarkan, dia sendiri merasakan kalau dia jarang sekali bersyukur dengan apa yang dia dapatkan selama ini. Keluarga yang utuh dan penuh kasih sayang, harta yang lebih dari cukup bahkan berlebih serta kekasih yang cantik dan sangat pengertian dengan segala sikap egoisnya.
"Kenapa diam Bi?" tanya Almaira. Karena kini kekasihnya yang tampak diam melamun.
"Hanya sedang berpikir kalau selama ini Bimbi kurang bersyukur" jawab Ezra.
"Kita sama-sama berbenah diri mulai sekarang Bi, untuk lebih banyak beryukur agar bisa menikmati hidup ini lebih baik lagi" Ezra mengangguk setuju, dia bahkan bangga memiliki kekasih yang bisa membimbingnya untuk bisa lebih baik lagi.
"Lihat itu" Almaira menunjuk tulisan didinding yang jadi motto anak-anak panti.
"BAHAGIA ITU MUDAH BILA KITA BANYAK BERSYUKUR" Ezra membaca motto tersebut dan tersenyum.
"Bimbi awali dengan bersyukur memiliki calon istri yang sangat cantik, pintar dan soleha sehingga membuat Bimbi bahagia" kali ini Almaira yang menahan tawa.
"Gombal" ucapnya.
"Kok gombal si Ai? Itu beneran, jujur dari dalam lubuk hati" protes Ezra karena Almaira tidak percaya dengan ucapannya.
"Iya ya Al percaya. Jangan ngambek" balas Almaira sambil menerima suapan dari Ezra.
Kemesraan keduanya jadi perhatian Anindya, sahabat baru Rangga itu hanya bisa tersenyum malu melihatnya. Baru kali ini dia bertemu Ezra secara langsung dan dia mengagumi kekasih Almaira tersebut karena terlihat sangat jelas kalau pria itu sangat menyayangi Almaira.
"Doaku semoga kalian terus bersama dan bahagia" batin Anindya.
Pilihannya untuk mengusir sepi dengan mengunjungi panti asuhan ini ternyata membawa berkah, dia bisa bertemu langsung dengan Ezra dan Rendra yang selama ini hanya dia dengar namanya dari Rangga, Almaira dan Elisya serta hanya melihat wajah mereka dari foto yang beredar di dunia maya.
"Ngeliatin apa Nin?" Rangga menegur Anindya, walau sebenarnya dia tahu apa yang mejadi perhatian sahabat barunya itu.
"Jangan heran melihat mereka berdua, itu belum seberapa" jelas Rangga memuat Anindya menyatukan alisnya karena kata-kata ambigu yang dilontarkan Rangga.
"Besok aku ada syuting video klip, mau ikut nggak?" Rangga mengalihkan pembicaraan.
"Kamu nggak malu bawa aku Ga?" tanya Anindya jujur. Kini berganti Rangga yang menyatukan alisanya.
"Aku ini orang biasa, ikut sama kamu ketempat syuting nanti terlihat seperti perusak pemandangan" Rangga terkekeh mendengar jawaban Anindya.
__ADS_1
"Aku udah bilang berkali-kali sama kamu Nin, jangan merasa rendah diri. Kamu itu calon dokter, tunjukan kehebatanmu pada dunia" Rangga memberi semagat pada Anindya.
"Sudah ikut saja, kamu pasti senang. Setidaknya besok kamu bisa bertemu penyanyi yang sedang naik daun saat ini"
"Bahkan kamu bisa minta foto bareng dia, lumayankan buat pamer sama mahasiswi kedokteran yang lain atau orang-orang dikampungmu" goda Rangga.
Anindya tampak berpikir mencerna apa yang baru saja Rangga katakan. Benar kata sahabatnya tersebut, dia bisa menegenalkan diri sebagai calon dokter agar tidak direndahkan oleh orang lain. Serta tawaran Rangga tentang foto dengan artis dan pamer di media sosial miliknya juga cukup menggoda.
"Artisnya siapa Ga?" tanya Anindya.
"Andra" mata Anindya berbinar saat Rangga menyebut siapa artis yang akan ditemuinya.
"Kamu serius Ga, Andra penyanyi yang sekarang jadi idola?" tanya Anindya tidak percaya.
"Iya, besok kita bertiga akan jadi model di video klip terbarunya" jelas Rangga.
"Tawaranmu masih berlakukan Ga?" lagi-lagi Anindya melontarkan pertanyaan.
Bukan menjawab Rangga malah terkekeh. Hilang sudah kesedihan yang tadi dia rasakan saat mengetahui Ayu ternyata adik kandungnya. Anindya, gadis polos itu bisa membuat Rangga tertawa dengan keluguannya.
"Kalau aku bilang tidak?" goda Rangga. Anindya melengoskan wajahnya, walau dia tahu kalau Rangga sebenarnya hanya menggoda.
Sementara itu ada perdebatan antara Rendra dan Elisya karena sebuah panggilan yang Rendra panggil untuk Elisya.
"Sya" Rendra memanggil Elisya dengan panggilan berbeda.
"Ini El kak, bukan Raisa. Jadi jangan panggil pakai panggilan Sya" Rendra terkekeh, baru kali ini dia melihat Elisya cemburu padanya.
"Au?" beo Elisya.
"Hemm, Aurora"
"Kak Rendra manggil El yang romantis sedikit gitu. Au kayak orang kesakitan" sanggah Elisya panggilan yang disematkan untuknya oleh Rendra.
"Terus maunya dipanggil apa?" tanya Rendra menyerah.
"Hemmm, ribut panggilan sayang nih" Ezra meledek keduanya.
"Waktu itu siapa ya Ai yang ngetawain kita tentang panggilan sayang" lanjut Ezra yang mendapat kekehan dari Almaira yang diikuti Ezra. Sementara Elisya membulatkan matanya.
Ayu yang sudah selesai terlebih dahulu meninggalkan tempat makan dimana semua masih berkumpul. Rangga yang melihat itu segera menyusul sang adik, ada hal penting yang harus mereka bicarakan berdua.
"Nin, aku mau bicara dengan Ayu sebentar" Rangga pamit pada Anindya dan mendapat anggukan mengijinkan dari sahabatnya itu.
"Dek" panggil Rangga saat Ayu duduk sendiri di teras depan.
Rangga mengambil posisi duduk disamping Ayu, dirangkulnya sang adik yang baru diketahuinya itu.
"Minggu depan pertunangan Alma, kamu ikut pulang lagi ya. Kita harus bicara sama ayah kalau kita sudah tahu kebenarannya"
__ADS_1
"Tapi Ayu takut mas. Mas Rangga tahu sendiri bagaimana kedua mbaknya Mas Rangga"
"Mereka juga mbak-mbakmu Yu" keduanya terkekeh.
"Tidak usah dihiraukan apapun yang mereka katakan. Yang penting Ayah memberitahu ibu tentang siapa kamu, atau mungkin saja ibu sudah tahu"
"Menurut Mas Rangga?" Rangga menaikan kedua bahunya tanda dia juga tidak bisa menebak.
"Ayo masuk jangan menyendiri disini" Rangga menarik Ayu untuk bangun dari duduknya dan mengiring adiknya masuk kembali bergabung bersama yang lain.
"Besok kamu mau ikut nggak ketempat mas syuting?"
"Besok Ayu ada kegiatan disekolah mas"
"Sayang sekali, besok itu penyanyi idola kamu yang akan syuting video klip" Ayu menghentikan langkahnya yang diikuti Rangga.
"Memangnya Mas Rangga tahu siapa penyanyi idola Ayu?" Rangga tersenyum.
"Tahu dong, apa sih yang mas nggak tahu tentang adik mas satu ini" Rangga mencubit gemas pipi Ayu.
"Mas, aku bukan Leoni yang masih kecil" protes Ayu.
"Kalian berdua adik mas, jadi harus mendapat perlakuan yang sama"
"Tapi Ayu sudah besar mas" Ayu kembali protes, bagaimana Rangga menyamakan dia dengan adiknya Leoni yang masih duduk dibangku sekolah dasar.
"Kalian disini ternyata" Anindya mengagetkan Rangga dan Ayu.
"Nih dari tadi bergetar terus" Anindya menyerahkan handphone Rangga yang tertinggal didekatnya.
Rangga melihat siapa yang tadi menghubunginya, dia menatap Ayu membuat adiknya itu bertanya-tanya.
"Ayah yang telepon dek" baru saja Rangga memberitahu Ayu, handphonenya kembali berdering.
"Asaalamualaikum yah" sapa Rangga pada Ayah Fauzi.
"Kamu bersama adikmu Ayu Ga?" tanya Ayah Fauzi.
"Iya Rangga sedang bersama Ayu. Ada apa yah?"
"Kalian bisa pulang besok?" tanya Ayah Fauzi.
"Besok Rangga ada kerjaan. Minggu depan kami pulang yah, sekalian menghadiri acara pertunangan Alma"
"Kalian baik-baik saja?" Rangga menegerti sekarang, ayahnya sudah tahu kalau mereka mengetahui kebenarannya.
"Ayah ingin bicara dengan Ayu?" tawar Rangga.
Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, Rangga menyerahkan handphonenya pada Ayu. Membiarkan mereka bicara ditelepon lebih dahulu sebelum bertemu. Ayu terpaksa menerimanya karena ada Anindya, dia tidak ingin Anindya mengetahui kisahnya dan Rangga.
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...