BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
57. Bertemu Ular


__ADS_3

Sudah lima hari ini Almaira dan Ezra tidak bertemu karena kesibukan Ezra yang diberi tanggung jawab untuk mengurus salah satu anak cabang dari perusahaan Harley. Hanya berkirim pesan, telepon dan videocall yang bisa keduanya lalukan. Seperti saat ini, mereka sedang terhubung disaluran telepon untuk melepas rindu walau hanya sekedar suara.


"Bimbi dimana?" tanya Almaira. Hal yang selalu dia tanyakan bila Ezra atau dia menghubungi melalui telepon atau pesan teks.


"Di cafe sayang, mau ketemu klien. Dia minta bertemu disini" jelas Ezra.


"Sendiri?" Ezra tersenyum menjawab pertanyaan Almaira walau kekasihnya itu tidak dapat melihatnya. Tapi Ezra salah.


"Merutmu?" Ezra balik bertanya.


"Ishh, kebiasaan ditanya balik bertanya" suara Almaira terdengar seperti orang yang kesal. Ezra terkekeh mendengarnya.


"Kamu pasti sudah tahu jawabanya Ai, mana mungkin sayangmu ini pergi sendiri untuk urusan pekerjaan"


"Ya mungkin saja hari ini tidak seperti biasanya, Bimbi ketemu klien sama Mas Vito karena kliennya perempuan" jawab Almaira.


"Kamu punya ilmu cenayang ya Al, bisa tahu gitu" goda Ezra karena tebakan Almaira sangat tepat.


"Jadi beneran perempuan ya kliennya" Ezra kembali tertawa mendengar ucapan Almaira.


"Ai klien kakak sudah datang, sambungannya jangan diputus ya. Soalnya Mas Vito masih ngambil berkas yang tertinggal di mobil, seperti biasa ya Ai. Ok"


Almaira menjawab ok tanda setuju, lalu pandangannya beralih pada pintu masuk cafe. Tampak jelas wanita dewasa dengan pakaian yang bisa mengundang hasrat laki-laki berjalan dengan anggun mendekati kekasihnya.


Wanita itu memakai atasan putih yang cukup menerawang, sementara kancing depannya dibuka memperlihatkan belahan dadanya yang bisa dibilang besar, Sementara bawahannya menggunakan rok span diatas dengkul, kalau duduk Almaira dan Elisya meyakinkan akan menyisakan lebih dari setengah pahanya akan terbuka.


"Gila, itu klien Kak Reza" ucap Elisya.


Almaira segera menutup mulut Elisya, takut Ezra melihat kearah mereka. Saat ini Almaira, Rangga dan Elisya berada di cafe yang sama dengan Ezra, mereka yang sudah tiba lebih dulu dan Ezra tidak menyadari itu.


"Halo Ezra" sapa wanita itu begitu dia berdiri didekat Ezra.


"Oh hai Soraya, silakan duduk" Ezra langsung mempersilakan Soraya duduk tanpa perlu basa-basi bersalaman dengan wanita itu.


"Bagaimana kabarmu Ez? Sudah lama sekali kita tidak bertemu" tanya Soraya sambil menatap Ezra dengan tatapan penuh arti.


"Ya seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja" jawab Ezra dengan santai.


"Aku senang akhirnya bisa bekerja sama dengan perusahaanmu, aku juga tidak menyangka kalau sekarang kamu yang memimpin perusahaan ini. Ku pikir kamu akan langsung di pusat bukan di anak perushaan seperti ini"

__ADS_1


"Tidak mudah memimpin perusahaan besar, jadi aku masih harus belajar lebih banyak" jawab Ezra merendah setelah mendengarkan kata-kata Soraya yang cukup panjang.


"Kamu hanya sendiri?" tanya Ezra.


"Kamu juga sendiri Ez" jawab Soraya.


"Aku bersama asistenku, dia sedang mengambil berkas yang tertinggal di mobil" Ezra menjelaskan.


"Apa kita akan langsung berbicara tentang bisnis? Aku pikir sore ini kita bicara pribadi kita saja dulu" Ezra menyatukan alisnya.


"Jagan terlalu serius dengan pekerjaan Ez, kamu suruh pulang saja asistenmu. Kita pergi ketempat lain setelah ini. Ke pub atau kemana yang kamu mau. Kamu mengerti maksudkukan Ez? Kita lama hidup diluar negeri jadi kamu tahukan bagaimana kehidupan disana?" jelas Soraya.


Ezra menggelengkan kepalanya, wanita ini penyakit yang akan merusaknya. Dia langsung menyimpulkan tidak akan melanjutkan kerja sama mereka, walau akan mengalami kerugian. Dia tidak ingin memasukkan ular berbisa dalam hubungannya dengan Almaira, Ezra yakin seyakin-yakinya wanita seperti ini akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan keinginannya.


Proyek kerja sama ini skala kecil, Ezra tidak ragu melepaskannya. Dia bisa mendapatkan rekan bisnis yang lain, tidak harus perusahan milik Soraya.


"Lagi pula kita sudah berteman lama sejak sekolah Ez" lanjut Soraya.


"Hanya kenal bukan teman. Meskipun kenal lama kita tidak pernah tahu pribadi masing-masing. Aku memang pernah hidup diluar negeri, tapi tetap cinta dengan budaya timur khususnya Indobesia" jawab Ezra.


Belum sempat Ezra melanjutkan ucapannya pada Soraya, dia mendengar teriakan dari handsfree yang masih terhubung dengan Almaira.


Ezra langsung bertanya pada Almaira begitu dia mendengar suara teriakan.


"Kamu bicara dengan siapa Ez?" tanya Soraya heran.


"Aku masih tersambung dengan calon istriku" jawab Ezra jujur, dia menunjuk pada smartphonenya dan handsfree yang ada di telingganya.


"Maaf kak, aku yang teriak bukan Al" jawab Elisya dari seberang sana.


"Kalian lagi dimana?" tanya Ezra sedikit khawatir karena teriakan Elisya.


"Kami disini kak" Rangga berdiri dan melambaikan tangan pada Ezra.


Ezra melihat lambaian tangan Rangga sambil tersenyum, dia tidak menyangka kalau ternyata tiga sahabat itu berada satu tempat dengannya.


"Soraya maaf kerjasama kita bahas besok saja, kebetulan sekali calon istriku sedang ada disini bersama sahabat-sahabatnya. Aku akan bergabung bersama mereka. Bukankah tadi kamu bilang kalau hari ini kamu belum ingin bicara tentang kerja sama kita" Ezra menjelaskan pada Soraya.


Tersinggung, tentu saja Soraya merasa tersinggung. Apalagi dia sudah terang-terangan mengajak Ezra untuk senang-senang. Tapi laki-laki itu lebih memilih untuk bergabung bersama calon istrinya dan sahabat-sahabat calon istrinya.

__ADS_1


Ezra pergi begitu saja begitu meninggalkan Soraya, dia tidak peduli dengan perasaan wanita itu. Karena baginya bertemu Almaira dan melepas rindu pada kekasihnya lebih penting dari pada bersama wanita ular yang bahkan tanpa malu mengajaknya ke pub dan mabuk lalu berakhir tidur bersama, padahal ini kali pertama mereka bertemu setelah lulus sekolah.


Seketika Ezra bergidik ngeri, ucapan Bunda Aisyah kembali tergiang ditelinganya.


"Banyak wanita yang lebih cantik dari Almaira di dunia ini, tapi sekarang sulit untuk mencari wanita baik-baik. Karena yang dinilai bukan hanya kecantikannya tapi juga hati sikap dan sifatnya. Terutama yang masih bisa menjaga kesuciannya"


Seketika Ezra bersyukur dia jatuh cinta pada wanita seperti kekasihnya. Almaira tidak hanya cantik, dia mampu mengerti bagaimana dirinya yang manja dan selalu ingin diperhatikan. Gadis kecilnya wanita baik-baik yang bisa menjaga diri, seperti yang dikatakan Bunda Aisyah.


"Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kamu disini" bisik Ezra saat dia memeluk Almaira dari belakang dan mencium pucuk kepala gadis kecilnya yang sudah menjadi candu.


"Bimbi yang tidak bertanya Al dimana" jawab Almaira.


Ezra melepaskan pelukannya lalu beralih duduk disamping Almaira. Kekasihnya tidak mau kalah kalau urusan seperti ini, karena memang dia yang salah. Almaira selalu bertanya dimana dia berada saat mereka sedang berkirim pesan atau telepon, tidak seperti dia yang akan langsung bicara panjang lebar.


"Kalian kenapa bisa ada disini? sejak kapan?" tanya Ezra pada ketiganya.


"Yang jelas sebelum kakak masuk kami sudah ada disini" Rangga yang menjawab.


"Kak, klienmu seksi banget. Tu dada sampe aku yang sesak lihatnya" ucap Elisya membuat Ezra terkekeh.


"Dia teman Rendra loh" jawab Ezra. Seketika wajah Elisya berubah.


"Calon istrinya masak nggak tahu" sambung Ezra menggoda Elisya.


"Bisa-bisa kak Reza aja, jelas-jelas situ yang ketemuan sama ular berbisa"


"Kamu nggak percaya?" tanya Ezra, lalu dia meminta Elisya berbalik.


Elisya, Almaira dan Rangga langsung mengikuti apa yang ditunjukkan Ezra. Didekat pintu masuk sedang bicara Rendra dan Soraya, wanita itu tampak akrab dengan Rendra. Ada rasa cemburu dalam diri Elisya saat melihat Soraya tiba-tiba merangkul tangan Rendra walau disana ada Vito, asisten plus orang kepercayaan Ezra.


Rendra datang karena sudah janjian dengan ketiga adiknya. Tapi dia malah bertemu Soraya teman sekolahnya bersama Ezra, Dave, Jevan dan Gevin. Tidak perlu berbasa-basi Rendra langsung pamit meninggalkan Soraya untuk menemui ketiga adiknya yang ternyata sudah bersama Ezra.


Rendra berjalan mendekati Ezra dan yang lain diikuti Vito. Dari jauh Soraya masih memperhatikan, dia melihat bagaimana Rendra memeluk dua gadis yang ada bersama Ezra. Sedikit pertanyaan dalam benaknya. Mengapa Ezra diam saja saat Rendra memeluk calon istrinya? Bahkan Rendra mengecup pucuk kepala gadis itu seperti yang Ezra lakukan.


Karena penasaran Soraya kembali mencari tempat kosong dan duduk disana untuk mengetahui apa yang mereka lakukan. Keinginanya untuk bercinta malam ini kalah dengan rasa penasaran, pikiran liarnya sejak pagi yang dia susun untuk bisa bersama Ezra lenyap sudah, terlebih lagi dia juga bertemu Rendra yang tidak kalah tampan dengan Ezra.


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...

__ADS_1


__ADS_2