
Almairah menjatuhkan tubuhnya ditempat tidur "Leganya" gumam Almaira, mengingat kejadian sore ini cukup melelahkan. Untung saja Ezra dan Bunda Aisyah menemaninya mengobrol dan Rendra yang segera datang bersama Gevin menyelamatkan mereka. Keduanya menemani menemui para wartawan dan membantu menjawab pertanyaan wartawan-wartawan yang entah dari mana tahu keberadaan dirinya dan yang lain.
"Al, belum tidur?" Rendra sudah berdiri didepan pintu kamar. Kedua kakaknya memang memiliki kunci cadangan kamar Almaira, tidak heran baginya bila pintunya bisa terbuka walau sudah dikunci olehnya.
"Mau kakak temani?" tanya Rendra lagi. Almaira mengangguk.
"Kakak menginap disini? Al kira langsung balik ke kontrakan kakak, soalnya tadi Al ke kamar Kak Rendy kakak nggak ada" Rendra menyengir.
"Nemani Raisa ke minimarket depan" Almaira hanya diam mendengar jawaban kakaknya.
Raisa memang cantik, tapi entah mengapa Almaira merasa ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa menerima wanita itu begitu saja menjadi kekasih kakaknya. Bukan karena Elisya yang juga menyukai kakaknya tapi lebih ke sifat Raisa yang menurut Almaira diam-diam menghanyutkan.
"Kak boleh tanya?"
"Nanya apa?" Rendra menjawab sambil memainkan rambut Almaira, saat ini mereka sudah berbaring dan saling berhadapan.
"Apa yang membuat kakak memyukai Mbak Raisa?" Rendra menatap mata Almaira, mencoba menyelami apa maksud dari pertanyaan adiknya. Apakah Almaira tahu kalau saat ini dia dan Raisa sedang ada masalah?
"Apa ya... kakak juga tidak tahu, kita jalan begitu saja. Setelah Raisa yang lebih dulu menyatakan perasaannya" jelas Rendra pada akhirnya. Dia tidak bisa berbohong pada adiknya.
"Dan kakak nerima begitu saja?" Rendra mengangguk.
"Bukan karena cinta?" tanya Almaira lagi. Rendra mengangkat bahunya.
"Hentikan kalau begitu, sebelum telalu jauh kak. Itu akan menyakitkan" Almaira mencoba menasehati kakaknya.
"Yakinkan hati kakak terlebih dahulu baru berkomitmen"
Almaira memunggungi Rendra, dia tidak suka dengan yang kakaknya lakukan saat ini. Mengapa dia harus menerima Raisa kalau tidak mencintai wanita itu?
Rendra tahu Almaira kalau memunggunginya seperti ini berarti adiknya marah dan tidak suka dengan apa yang dia lakukan. tiga bulan berhubungan dengan Raisa tidak bisa membuatnya jatuh cinta pada wanita itu, awalnya dia kira akan baik-baik saja dan akan ada cinta setelah mengenal lebih dekat Raisa tapi kenyataannya bayak hal yang dia tidak sukai dari Raisa.
Melihat Almaira yang marah, sepertinya Rendra harus memikirkan lagi hubungannya dengan Raisa. Persetujuan adik dan keluarganya adalah hal yang utama dalam memilih pasangan hidup.
"Al, jangan marah sayang. Besok kakak selesaiakan hubungan kakak dan Raisa" Rendra melingkarkan tanganya memeluk sang adik dari belakang, mengecup sayang pucuk kepala Almaira dan mengeratkan pelukannya. Cara yang digunakan Rendra selama ini untuk menenagkan hatinya dengan memeluk sayang sang adik. Sementara Almaira hanya menahan senyum, tidak ingin Rendra mengetahuinya kalau dia senang dengan apa yang diucapkan kakaknya.
Sementara dikamar lain Rangga tidak dapat memejamkan matanya, ingatnnya kembali pada gadis yang ada dipanti asuhan. Mata gadis itu mengingatkan Rangga pada anak perempuan yang pernah menyelamatkan hidupnya.
"Mungkinkah itu dia" gumam Rangga.
Dia meraih ponselnya dan mengamati foto gadis tersebut yang sempat dia ambil secara diam-diam. Lalu dia berdiri mengambil dompetnya, dia ingat selalu menyimpan foto anak perempuan tersebut. Mata kedua foto itu yang jadi perhatian Rangga, sorot mata indah itu tidak bisa dia lupakan.
__ADS_1
"Mengapa dia bisa berada di panti asuhan? terlebih lagi ini Jakarta jauh dari kota asal mereka Solo.
Elisya sudah membaringkan tubuhnya, kejadian sore tadi sedikit membuatnya kecewa. Begitu melihat Rendra datang menjemput, Elisyalah orang pertama berteriak senang mendapati sang pujaan hatinya datang dikala dalam kesulitan.
Namun dia harus bisa menerima kalau Rendra menghawatirkan Almaira dengan memeluk adiknya terlebih dahulu dan beralih padanya setelahnya, dia harus menerima jadi yang kedua, bagaimanapun sahabatnya itu adalah adiknya dan dia juga masih merahasiakan perasaannya selain Almaira yang mengetahuinya.
Tidak hanya memikirkan Rendra, Elisya juga tidak mengerti dengan sikap Gevin yang tadi sore terus melingkarkan tangannya di bahu Elisya. Ada perasaan tidak nyaman, tapi dia tidak bisa menolak. Banyak wartawan dan mereka sedang dalam sorotan, membuatnya harus membiarkan apa yang dilakukan pria itu.
"Tapi kenapa haya padaku? Almaira?" gumam Elisya.
"Kak Rendra apakah aku harus memberi tahumu perasaan ini. Tapi aku takut kamu menjauh dan membenciku bila tahu kebenarannya" lirih Elisya.
Mengambil bantal dan menutup wajahnya. Teringat semua perlakuan Rendra selama ini padanya, pelukan hangat saat dia berhasil melakukan sesuatu yang baik, rangkulan yang memberikan kekuatan dikala dia mengadu tentang orang tuanya, serta kecupan sayang dikening yang menghangatkan hatinya.
Tok..tok.. "El, bangun" suara Rendra yang membagunkan Elisya terdengar cukup keras, sampai ke kamar Raisa.
Elisya membukakan pintu begitu tahu Rendra yang mengetuk pintu kamarnya. "Kak" Elisya berlari kepelukan Rendra yang sudah merentangkan tangannya terlebih dahulu, disaat yang sama Raisa membuka pintu kamarnya dan melihat kemesraan dua insan yang mengaku sebagai hubungan adik dan kakak itu.
"El kira kakak langsung pulang ke kontrakan" ucap Elisya setelah Rendra mengurai pelukannya.
"Kakak menginap di kamar Al. Hari ini waktu kakak kosong, kakak mau ngajak kalian jalan-jalan" mata Elisya berbinar, dari kemarin dia ingin jalan-jalan dengan Rendra.
Rendra menyayangi gadis ini, namun setelah Almaira memberitahu perasaan Elisya ada sesuatu yang Rendra rasakan berbeda. Awalnya dia ingin menghindar, terlebih lagi dia sudah ada Raisa. Tapi semakin mencoba menjauh, wajah Elisya yang manja padanya sering terbayang.
Raisa yang menyaksikan itu kembali menutup pintu kamarnya dan merasakan sesak dihatinya. "Kenapa sakit melihat mereka seperti itu?" Raisa menjatuhkam dirinya dilantai.
Teringat tadi malam saat Rendra mengantarnya ke mini market depan.
"Kak, besok jalan-jalan ya. Watumu kosongkan?" Raisa selalu yang lebih dulu mengajak setiap ingin pergi dengan Rendra. Tapi tadi dia mendengar sendiri kalau kekasihnya itu lebih dulu mengajak Elisya jalan-jalan sambil memeluk pinggang gadis itu.
"Tidak bisa besok, lain kali saja. Aku ada keperluan lain" jawab Rendra tanpa peduli dengan peraaan Raisa.
"Jadi keperluan lainmu mengajak Elisya jalan-jalan dan mengabaikam ajakanku" ucap Raisa setelah mengingat jawaban Rendra semalam.
Almaira sudah siap dan rapi untuk memenuhi ajakan kakaknya jalan-jalan hari ini.
"Ayo kita sarapan dulu" ajak Rendra setelah melihat ketiga adiknya sudah siap.
Dimeja makan suara tawa canda mereka terdengar oleh penghuni kos yang lain.
"Ada penghuni baru ya, kok baru tahu" sapa Aji saat melihat anggota baru ditempat kosnya.
__ADS_1
"Ji kenalkan ini adik-adik gue Almaira, Elisya dan Rangga" Rendra yang memperkenalkan mereka.
"Saya Aji" Aji ikut duduk dan sarap bersama mereka. Diperhatikannya satu-satu wajah ketiga adik Rendra.
"Kok kayak yang pernah lihat wajah kalian, dimana ya?" ucap Aji sambil mencoba mengingat. Wajah ketiganya seperti tidak asing, dan dia merasa belum lama ini melihatnya.
"Kalau Alma memang sudah biasa main kesini kak" jawab Alamaira memberi tahu.
"Bukan hanya Alma, tapi kalian bertiga" jawab Aji lagi.
"Ya payah, kudet lo Ji. Masak nggak ngenalin mereka" sela Galang yang baru keluar dari kamarnya.
"Merekakan yang lagi ramai dibicarakan sebagai pendatang baru yang sukses karena langsung dipakai oleh Kanaya butik jadi model mereka" sahut Fiona yang ikut bergabung sarapan.
"Nah itu dia maksud gue, kayaknya gue pernah lihat. Ternyata kalian yang lagi viral ya" ucap Aji.
"Tapi keren kok, kalian cocok jadi model T O P" puji Fiona.
"Kalau mau profesional pake manajer biar ada yang ngatur jadwal" saran Fiona lagi.
"Bilang aja kalau lo yang mau jadi manager mereka" Galang langsung menebak maksud dan tujuan ucapan Fiona. Fiona terkekeh, galang selalu saja bisa membaca pikirannya.
Obrolan dimeja makan pagi ini membahas seputar berita yang sedang naik daun apa lagi kalau bukan tentang trio Al,El, dan Doel. Keakraban terjadi begitu saja, anak-anak kos yang lain ternyata orang-orangnya enak diajak bicara dan humoris, membuat ketiganya merasa diterima disana. Tawa canda terdengar sampai kamar Raisa yang tidak ingin bergabung dengan mereka. Selain tidak ingin melihat kemesraan Rendra dan Elisya, Raisa masih mode marah saat ini yang dia mulai sejak pulang dari mini market semalam.
"Mbak-mbak, Mas-mas" panggil Pak Ujang satpam yang berjaga pagi ini. "Diluar banyak wartawan" lanjutnya.
Semua yang ada dimeja makan diam dan saling lirik, baru kali ini kosan mereka dibuat heboh dengan kedatangan wartawan.
"Lagi?" gumam Rangga dan masih bisa didengar yang lain.
"Temuin saja, kasih keterangan apa adanya, biar tidak perlu klarifikasi apapun lagi" Aji memberikan sarann.
"Kemarin sudah kak" timpal Almaira.
"Kayaknya sekarang tentang ini deh" Fiona menunjukkan berita yang ada di ponselnya.
"Itu kan" Almaira dan Elisya menepuk kening mereka melihat foto yang tertera disana.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...
__ADS_1