
Rendy POV
Aku terkejut saat Alma adik perempuaku satu-satunya menyenggol lenganku, sudah lama sepertinya dia disini berada di kamarku memperhatikan aku yang menikmati lagu putus atau terus milik Judika.
Aku hanya meresapi lagu itu, sudah hampir satu tahun hubunganku dengan Ana tunanganku terasa dingin seperti yang ada di lirik lagu itu.
Bukankah kamu juga merasa
Dingin mulai menjalari percakapan kita
Pertanyaan kamu sedang apa
Terkesan hanya sebuah formalitas saja
Ya seperti itulah yang terjadi, lalu ku beri kesempatan padanya untuk berpikir kita akhiri atau teruskan pertunangan ini. Aku menjauh meneruskan pendidikanku dikota ini, tapi ternyata semua hanya sekedar menunda perpisahan.
"Apa yang terjadi kak?" Alma bertanya padaku. Aku berdiri dan langsung memeluknya. Aku menanggis dalam pelukan adikku, entahlah mengapa aku jadi secengeng ini dalam pelukannya.
Semua berawal satu minggu yang lalu, saat itu aku sedang berkirim pesan dengan adik bungsuku Danu. Walau aku jauh, aku sempatkan untuk sering berkirim kabar dan bicara dari hati kehati dengannya. Semua kulakukan agar adikku paling bontot itu tidak merasa di sia-siakan kakak-kakaknya, hanya dia sendiri yang saat ini tinggal di Palembang bersama mama dan papa.
Danu [Kak, aku melihat Cek Ana]
Bukan hal aneh kalau adik bungsuku itu melihat tunanganku karena mereka tinggal disatu kota. Tapi yang membuat aku terkejut adalah foto yang dia kirim setelah pesan tersebut.
Ana sedang bergandengan tangan dengan seorang pria dengan tatapan mereka berdua yang penuh cinta. Siapa pria itu?
Aku memang tidak begitu tahu kehidupan Ana sebelum bertunangan denganku, apalagi diawal pertunangan kami tidak ada cinta karena kami dijodohkan oleh kakekku dan kakeknya Ana. Karena aku tidak mau pusing dengan urusan wanita aku terima-terima saja perjodohan itu, banyak yang dijodohkan berakhir bahagia seperti mama dan papa contohnya.
Rendy [Dimana itu dek?]
Danu [PS kak. Mereka baru keluar dari bioskop]
Ternyata Danu sangat penasaran dengan laki-laki yang bergandengan tangan dengan tunanganku itu, adik bungsuku itu mengikutinya sambil merekam video dari ponselnya. Aku tahu karena dua puluh menit kemudian dia menggirim video yang direkamnya.
Mataku membulat saat melihat adegan didalam mobil, tunanganku berciuman dengan pria itu. Darah dalam tubuhku seakan bergejolak, melihat kelakuan Ana. Selama ini dia sering menuduhku selingkuh yang aku tidak habis pikir dari mana dia bisa menuduhku seperti itu, setiap saat setiap waktu dia selalu cemburu, dan ternyata ini hanya alasannya saja untuk membuatku kesal dan mengakhiri pertunangan kami, sehingga aku yang akan disalahkan oleh kedua keluarga kami.
Aku tidak akan salah melangkah, aku segera menghubungi Rendra dan meminta pendapatnya apa yang harus aku lakukan. Saudara kembarku memintaku bersabar dan memcari banyak barang bukti.
Akhirnya aku meminta sahabatku yang dapat dipercaya untuk membuntuti kegiatan Ana sehari-hari dan siapa laki-laki yang dekat dengannya. Sahabatku memberi laporan setiap harinya padaku diwaktu malam, banyak hal yang kini kuketahui tentang Ana yang dia lakukan dibelalangku.
Apa yang kau lakukan di belakangku
Mengapa tak kau tunjukkan Dihadapanku
Aku
__ADS_1
Menunggumu
Menunggumu
Menunggumu
Mati
Di depanku
Di depanku
Di depanku
Lagu milik Peterpan ini sangat cocok untuk kutujukan pada Ana, dia benar-benar menusukku dari belakang dan sekarang aku akan bersiap membuatmu mati didepanku seperti lirik lagu itu, DIANA.
Temanku memberi informasi kalau Ana akan menghadiri resepsi pernikahan temannya di Jakarta. Berita bagus, dia akan menginap di hotel dimana resepsi itu akan diadakan. Sebuah ide tercipta dalam otakku, ini kesempatan yang tidak boleh aku lewatkan.
Hari inilah resepsi itu berlangsung. Sejak pagi aku sudah menunggu di Bandara, bahkan aku melewatkan sarapan bersama saudara-saudaraku. Informasi dari sahabatku kalau Ana akan berangkat dari Palembang pagi ini pesawat pertama dan dia tidak memberi tahuku sama sekali, bahkan berbohong kalau dia hanya akan dirumah saja hari ini.
Aku sengaja menunggu di pintu kedatangan, hanya ingin tahu dia pergi sendiri atau bersama selingkuhannya. Aku berdiri dimana orang yang keluar dari pintu kedatangan tidak akan melihatku. Benar saja dugaanku, dia datang bersama pria itu, wajar saja kalau dia tidak mengabariku.
Mereka naik taxi, untung saja aku memarkirkan kendaraanku tidak jauh dari antrian taxi berada sehingga bisa mengikuti mereka. Ternyata mereka langsung ke Hotel, dimana resepsi tersebut diadakan. Semoga rencanaku berjalan dengan baik.
Mereka tidak langsung ke tempat acara, melainkan masuk ke kamar hotel dan mereka menempati satu kamar. Aku sudah menduga dan mempersiapkan segalanya. Sudah sejauh itu hubungan mereka, temanku sudah banyak memberi informasi dan bukti perselingkuhan mereka.
Ana dan pria itu masuk ketempat pesta, ini adalah kesempatanku untuk masuk kekamar yang ditempati mereka. Temanku pemilik hotel ini, aku meminta bantuan padanya untuk mendapatkan kunci cadangan, tentu saja dengan menjelaskan masalahku padanya. Temanku bersedia membantu dengan catatan aku tidak membuat nama hotelnya tercemar.
Aku letakkan perekam suara dan CCTV yang bisa aku akses langsung lewat laptopku. Aku perhatikan sekilas kamar ini, sepertinya mereka belum melakulan apa-apa dan hanya berganti pakaian saja. Tapi tetap saja aku merasakan sakit didadaku. Sebagai laki-laki aku tidak terima diperlakulan oleh wanita seperti ini, terlebih lagi statusnya adalah tunanganku.
Aku memantau mereka saat berada didalam pesta samapai kulihat mereka akan keluar dan masuk kekamar. Melihat itu aku bergegas kembali kekamar yang berada tepat disamping mereka. Aku sedang menunggu seseorang, dia kakak laki-laki Ana yang tinggal di Jakarta yang kuminta datang ke hotel ini menemuiku.
Kulihat Ana tanpa malu membuka pakaian pestanya begitu saja dihadapan laki-laki itu dan berganti pakaian tidur yang seperti tidak berpakaian. Laki-laki itu juga sudah berganti kaos oblong dan celana pendek, mereka terlihat seperti suami istri.
"Sayang, sekarang kita lakukan ronde pertama" ucapa laki-laki itu yang bisa kudengar dari perekam suara yang langsung terhubung dengan laptopku, pria itu sambil memeluk Ana yang sedang membersihkan wajahnya dari belakang.
"Oh Tuhan, ternyata seperti ini kelakuan tunanganku" gumamku melihat adegan itu.
Ponselku berbunyi dan itu panggilan dari kakak Ana. Aku suruh dia langsung naik kelantai dimana kamarku dan Ana berada.
"Mana Ana?" tanyanya padaku.
"Aku menunjukkan layar laptopku pada laki-laki yang lebih tua lima tahun dariku.
"Kamu melakukan pelanggaran Ren, walau dia tunanganmu kamu tidak boleh mengintainya seperti ini" dia marah menuduhku yang tidak baik. Aku tersenyum.
__ADS_1
"Jangan salah sangka kak, kakak perhatikan saja layar itu baik-baik, kakak akan" belum selesai aku bicara kakak Ana sudah bertanya.
"Siapa laki-laki itu" tanyanya. Aku mengedikan bahuku, pura-pura tidak tahu siapa laki-laki itu.
"Karena dia bersama pria lain kamu memantaunya?" tanyanya lagi. Aku mengangguk.
"Dan aku ingin kakak menjadi saksinya juga" jawabku.
"Kita harus segera kekamar Ana, Ren. Kakak tidak mau terjadi apa-apa pada adik kakak"
"Belum waktunya kak, aku yakini ini bukan kali pertama mereka melakukannya, lihatlah tidak ada kecanggungan lagi dari keduanya"
Aku menunjuk pada layar dimana keduanya sedang berciuman dengan hasrat yang menggebu lalu mereka berpindah ke tempat tidur. Ku lihat Ana sudah tidak berpakaian, hanya sisa kain tipis yang menutupi inti tubuhnya. Bukan marah yang kurasakan melainkan rasa jijik pada wanita itu.
"Ayo kak, ini saatnya kakak mendatangi mereka" ajakku. Tidak lupa aku mengambil kunci cadangan kamar yang ditempati Ana.
Diluar kamar, sudah ada temanku yang polisi dan anak buahnya untuk membantu. Aku menghubungi temanku karena aku tidak ingin apa yang kulakukan menjadikan aku tersangka pencemaran nama baik atau lainnya. Laki-laki yang bersama Ana bukan laki-laki sembarangan dia seorang politikus dan juga anggota DPRD.
Tidak lupa aku mengetuk pintu kamar depan, karena disana kamar yang ditempati oleh istri pria tersebut. Aku juga sengaja memintanya datang untuk menangkap basah apa yang dilakukan suaminya, dia keluar dari kamar dan ikut bergabung bersama kami.
Aku menyerahkan kunci pada kakaknya Ana, biar saja dia yang masuk bersama istri pria itu dan aku hanya menunggunya diluar.
Keributan terjadi didalam, sepertinya kakak Ana memukul pria itu, dan istri laki-laki itu menjabak Ana. Keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun saat aku masuk, ya aku terpaksa masuk karena kakak Ana memanggilku.
Tampak wajah pucat dan ketakutan saat Ana melihat padaku, kasihan melihatnya seperti ini, tapi mau bagaimana lagi. Aku hanya tidak ingin disalahkan dengan memutuskan pertunangan kami. Aku mengambil selimut dan menutupi tubuhnya yang masih polos, lalu aku kembali keluar. Biarlah kakak Ana dan istri laki-laki itu menyelesaikan masalah mereka, tugasku sudah selesai walau kisah cintaku harus pupus.
"Ceritakan pada Al, apa yang terjadi?" pinta Alma setelah tangisku berkurang.
Aku memang tegar saat memergoki kelakuan Ana, tapi tidak saat ini, saat aku bertemu Alma adikku.
Aku melepaskan pelukanku, kulihat benda yang dibawa Alma lalu berpindah pada rambutnya. Aku menyuruhnya duduk dimeja kerjaku, lalu menyolokkan alat pengering rambut milik Alma dan aku mulai mengarahkan alat itu kerambutnya.
Alma berpindah ke sofa bed yang ada dikamar ini, lalu aku ikut duduk disampingnya.
"Apa yang terjadi?" tanyanya. Aku ceritakan apa yang terjadi seminggu yang lalu saat berbalas pesan dengan Danu dan menunjukkan foto dan video yang dikirim Danu pada Alma.
"Mengapa kakak tidak memberitahu Al sejak awal" dia marah, ya dia tidak salah kalau marah merasa tidak dilibatkan dalam masalah ini.
Untunglah Rendra datang dan memberikan penjelasan pada Alma kalau dia tidak perlu marah.
"Jadi bagaimana hasilnya hari ini" tanya Rendra yang memang tahu rencanaku, tadinya dia mau membantuku tapi aku memintanya untuk menemani Alma saja.
Aku menceritakan dari awal sampai akhir pada keduanya. Ternyata setelah aku berbagi perasaanku pada keduanya, aku merasa ringan dan bebanku hilang sudah.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...