BILA AKU JATUH CINTA

BILA AKU JATUH CINTA
40. Ada Cinta


__ADS_3

Ada cinta yang kurasakan


Saat bertatap dalam canda


Ada cinta yang kau getarkan


Saat ku resah dalam harap


Oh indahnya


Pernah kuragu akan sikapmu


Tapi mengapa kini semuanya indah


Oo resahnya


Ada cinta yang kurasakan


Saat bertatap dalam canda


Ada cinta yang kau getarkan


Saat ku resah dalam harap


Oh indahnya


Pernah ku malu (ku malu)


Pada hatiku


Tapi mengapa kini seolah cinta


T'lah kugenggam


Ada cinta yang kurasakan


Saat bertatap dalam canda


Ada cinta yang kau getarkan


Saat ku resah dalam harap


Oh indahnya


Tuhan kuinginkan semoga semua ini


Bukan hanya rasa, rasaku saja


Rasaku sendiri


Ada cinta yang kurasakan


Saat bertatap dalam canda


Ada cinta yang kau getarkan


Saat ku resah dalam harap


Ada cinta (Oh ada cinta oh ada cinta) yang kurasakan


Saat bertatap dalam canda

__ADS_1


Ada cinta yang kau getarkan


Saat ku resah dalam harap


Oh indahnya


Cinta


Yang kurasakan


Saat ku resah


Dalam harap


Oh indahnya


Almaira sengaja memutar lagu lawas milik bening di aplikasi YouTube, lagu yang dia sukai sejak masih seragam putih merah. Lagu ini mengingatkanya pada pertemuannya dengan Ezra yang memberikan hadiah untuk pertama kali padanya.


"Duh yang lagi jatuh cinta, berbunga rasanya" goda Rendy yang sudah berdiri di pintu kamar Almaira.


"Kak Rendy kapan datang?" gadis itu segera menghampiri kakaknya dan masuk dalam pelukan Rendy yang sudah merentangkan tangannya.


Almaira tidak tahu kalau kakaknya sudah pulang dari Palembang. Kemarin saat mereka kembali ke Jakarta, Rendy tidak ikut bersama rombongan. Masih ada sesuatu yang harus dia urus dengan keluarga Diana karena berakhirnya pertunangan mereka.


"Tadi sore sebelum kamu pulang" Rendy mengurai pelukan mereka.


"Jadi apa ada berita baik, sampai terlihat sangat bahagia?" Rendy kembali menggoda Almaira.


Adik kecilnya itu tersenyum lebar, membuat Rendy ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan Alamira. Walau hubungannya dengan Diana kandas tapi dia tidak akan larut dalam kesedihan. Rendy bukan tipe laki-laki cengeng yang akan menangisi perjalan hidupnya. Dia terbiasa mandiri dan selalu berpikir kedepan, sama dengan Rendra. Keduanya menjalani hidup sesuai alurnya saja, maju kedepan dan meniggalkan hal buruk yang ada dibelakang mereka. Dengan begitu mereka tidak akan terpuruk dan terus melangkah meraih mimpi dan hidup bahagia.


Hal itupun tertular pada Almaira dan Danu kedua adik mereka, membuat keduanya selalu berpikir positif dan optimis dalam menjalani kehidupan ini. Tidak salah jika keempatnya akan saling membantu satu sama lain bila ada masalah dan akan ikut bahagia bila salah satu dari mereka bahagia.


"Itu lebih baik Al, kakak harap jangan terlalu lama bertunangan. Sebaiknya kalau kalian memang sudah cocok tidak ada salahnya menikah saja"


Jawaban Rendy mendapat gelengan kepala dari Almaira tanda dia tidak setuju bila harus menikah secepatnya.


"Al masih kuliah kak. Masih ingin mengejar cita-cita" jawab Almaira.


"Tidak ada halangan bagi wanita yang sudah menikah tetap kuliah bukan?"


"Reza pria dewasa, sama seperti kakak. Kami laki-laki normal, walau dia bisa menahan diri saat bersamamu. Kakak hanya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, banyak wanita diluar sana yang bisa melakulan apa saja untuk mendapatkan Reza Al"


"Kalau kamu tidak ingin kehilangan dia tidak ada salahnya kalian segera menikah"


"Jadikan pengalaman kakak sebagai pelajaran" sambung Rendy lagi ucapannya.


Bukan tanpa sebab Rendy bicara seperti itu, dia baru saja dihubungi Papa Dhani dan Mama Rahma membahas pertunagan Almaira. Ezra sudah meyampaikan keinginanya pada kedua orang tua Almaira begitu dia sampai dirumah setelah mengantar Alamira pulang ke kosan.


Ezra yang meminta pertunagan mereka hanya untuk ada waktu mempersiapkan keperluan pernikahan, pria itu tidak ingin bertunagan lama-lama. Dia ingin, dia dan Almaira segera menikah. Semua suda dia sampaikan pada Papa Dhani dan Mama Rahma tanpa Almaira ketahui. Karena itulah Rendy diberi tugas papa dan mamanya untuk membicarakanya pada Almaira.


Almaira terdiam mendengar ucapan Rendy. Dia belum yakin dengan dirinya sendiri. Dia mencintai Ezra, begitupun sebaliknya. Tapi menikah? belum terlintas dalam pikirannya untuk kejenjang itu. Dia masih ingin menikmati dunia remajanya saat ini, bebas bersama teman-temannya dan menikmati dunia kerjanya saat ini sebagai model.


Almaira teringat Rangga begitu dia memikirkan tentang pekerjaan mereka sebagai model. Salah satu hal yang membuat Almaira menerima tawaran menjadi model adalah untuk Rangga. Dia ingin membantu sahabatnya itu bisa jadi orang hebat,terkenal dan sukses. Membantu Rangga mematahkan omongan orang-orang yang selama ini membuly Rangga, juga orang yang pernah melecehkan Rangga agar mereka bisa melihat kehebatan sahabat laki-lakinya ini.


Sementara Rangga yang dipikirkan oleh Almaira tengah sibuk berbalas pesan dengan seseorang yang tak lain adalah Jevan. Mereka tengah membahas konferensi persΒ untuk Elisya dan Noah besok.


Jevan sudah diberi tahu kebenaran tentang hubungan Elisya dan Noah, sebelum mereka meminta Jevan mengurus untuk mengadakan konferensi pers.


Sedangkan di kediaman Ayah Dimas, seperti biasa setelah makan malam mereka akan berbincang sebentar tentang apa saja yang mereka lakukan. Kesempatan ini digunakan Ezra untuk bicara keinginanya yang akan bertunangan dengan Almaira dan segera melamar gadis itu untuk menjadi istrinya.


"Apa Alma sudah menyetujui keinginamu Za?" tanya Ayah Dimas begitu Ezra selesai memberitahukan keinginanya.

__ADS_1


"Bertunangan sudah, tapi untuk menikah belum Yah" ucap Ezra jujur.


"Tapi Eza sudah bicara dengan Papa Dhani dan Mama Rahma tentang keinginan Eza ini" jelasnya pada Ayah Dimas dan Bunda Aisyah.


"Jawabnnya?" kini Bunda Aisyah yang bertanya.


"Pada dasarnya mereka setuju saja, kalau itu demi kebaikan kami berdua"


"Ayah kok tidak yakin kalau Alma mau di ajak nikah secepatnya"


Ucapan Ayah Dimas membuat Ezra terdiam. Tidak salah Ayah Dimas bicara seperti itu. Ezralah yang berharap banyak dalam hubungan ini, sementaa Almaira tampak santai saja menjalaninya. Bahkan saat Ezra mengajaknya bertunangan, Almaira seperti yang tidak antusias menanggapinya.


"Tenang saja ayah akan bantu kamu Za. Ayah lihat kamu yang sudah tidak tahan ingin menikah"


Ayah Dimas terkekeh melihat putra bungsunya, tidak disangka anak yang manja dan selalu menyebalkan diantara saudara-saudaranya sudah minta untuk melamar seorang gadis.


"Ayah jangan menertawakan Eza yah" sungut Eza melihat Ayah Dimas menertawainya.


"Ayah merasa kamu itu masih anak-anak Za. Ternyata usiamu sudah dua puluh empat tahun ya" Ayah Dimas kembali terkekeh.


"Itu berarti kita sudah tua yah" Bunda Aisyah menimpali ucapan ayah. Kini keduanya terkekeh tanpa menghiraukan Ezra yang tampak berpikir.


"Za, bunda akan bantu meyakinkan Alma" ucap Bunda Aisya begitu melihat putra bungsunya tampak berdiam diri dan berpikir.


"Terima kasih bun, Eza juga akan berusaha meyakinkan Alma" jawab Ezra.


"Bunda tahu hati anak-anak bunda. Bila jatuh cinta selamanya cinta" batin Bunda Aisyah. Ucapan itu mengingatkannya pada putra pertamanya Adam.


Di kediamannya, Noah sedang duduk dibalkon. Tatapannya tak henti mengarah pada kamar yang dia yakini ditempati Almaira. Ingatannya kembali ke tadi sore saat dia baru saja pulang bersama kedua orang tuanya.


Saat dia turun dari kendaraannya, dia melihat Ezra sedang membukakan pintu kendaraanya untuk Almaira. Gadis itu turun dengan senyum bahagia, dia meraih tangan Ezra dan menyaliminya, lalu Ezra mencium kening Almaira.


Ada rasa bergetar yang dia rasakan, ingin rasanya posisi Ezra digantikan olehnya. Sayangnya sejak pertama bertemu gadis itu tidak memberi kesempatan padanya untuk mendekat.


"Apa yang kamu lihat disana?" suara wanita yang selalu membuatnya damai menariknya dari lamunan.


"Tidak ada bu" jawab Noah berbohong. Wanita paruh baya itu tersenyum, dia tahu akhir-akhir ini putranya sangat suka memandang rumah yang ada didepan kediaman mereka. Dimana dia juga tahu ada putri suaminya dan Almaira yang tinggal disana.


"Apa kamu menyukai sahabat adikmu?" ibu Noah langsung bertanya pada intinya.


"Sulit di gapai bu, didekati saja sulit bagaimana bisa masuk kedalam hatinya" Noah mendesah.


Sejak melihat Almaira pertama kali di bandara, saat itu mata mereka bertemu. Dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis cantik itu, sayangnya pertemuan mereka tidak diwaktu yang tepat. Saat itu Alamira melihatnya bersama Diandra, dan sikapnya yang menggoda Almaira ternyata membuat Almaira menjauh bukan mengejarnya seperti para wanita yang sering dia goda dengan kedipan mata.


"Dia berbeda bu"


"Ibu tahu, papamu sedikit bercerita pada ibu tentang Alma saat melihatmu menatap iri pada Ezra"


"Dia gadis baik-baik, dia tahu harus bersikap seperti apa dengan lawan jenis disaat dia sudah memiliki seseorang yang dia jaga hatinya"


"Masih banyak wanita lain yang baik seperti dia, asal kamu pandai melihatnya. Jangan karena kecantikan wajah yang jadi acuan, seiringnya waktu itu akan pudar. Kecantikan hatilah yang utama"


"Ezra laki-laki setia, Alma wanita yang bisa menjaga kehormatannya. Jangan ganggu mereka, mencintai tak selalu harus memiliki"


"Jadikan pengalaman ibu dan papamu untuk kamu jadikan pelajaran dalam menjalani satu hubungan"


Ibu Noah menepuk bahu pemuda itu dan meninggalkannya kembali sendiri menatap dimana wanita yang ditunggunya sejak tadi sudah berdiri bersama Rendy, Elisya dan Rangga.


...Bila Aku Jatuh Cinta...


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


__ADS_2