
Ezra Syahreza POV
Aku mendengar bel kamar berbunyi, itu pasti Rendra. Aku mengabarinya sesudah Alma tidur. Mataku rasanya berat untuk bangun terlebih lagi gadis kecilku sangat nyaman berada dalam dekapan ini. Kukecup pucuk kepalanya, menyelimutinya dan dengan rasa kantuk yang masih menyerang aku membukakan pintu untuk Rendra.
Rendra menggelengkan kepala saat melihat adik kesayangannya sudah terlelap dengan nyaman. Dia menatapku lama, ada apa? apa dia curiga aku melakukan sesuatu pada Alma? untuk apa aku mengabarinya kalau aku ingin berbuat yang aneh-aneh pada adiknya. Aku pria baik-baik, Rendra tahu itu. Aku bukan pria yang memanfaatkan kesempatan, apalagi Almaira gadis yang aku cintai tentu aku akan menjaga kehormatannya.
"Maaf ya, adik gue bikin lo repot Za, terima kasih juga udah gantiin gue buat dipeluk dia" Rendra tahu kalau Alma tidur dalam pelukanku? padahal aku tidak bicara apapun.
"Sory, gue nggak mau dia sedih. Tapi kok lo bisa tahu?" sebaiknya aku tanyakan saja dari pada jadi pikiran ku.
Rendra tersenyum, dia tersenyum padaku bukannya marah karena aku sudah berani memeluk adiknya diatas tempat tidur.
"Al itu kalau galau begitu, dia bisa tidur kalau aku atau Rendy peluk dia sampai seperti itu" Rendra menunjuk adiknya.
"Dia tadi menangis?" pertanyaan Rendra membuatku tidak nyaman, aku garuk-garuk kepala. Almaira menangis karena aku yang tidak menjelaskan tentang hubunganku dengan Diandra, bukan karena pernyataan perasaan teman laki-lakinya tadi. Tapi tak ayal akupun mengangguk.
Kami keluar dari kamar yang ditempati Almaira, membiarkannya tidur dengan nyaman. Sekarang kami duduk disofa depan televisi sambil ngobrol seperti biasanya, dari masalah otomotif sampai masalah kuliah dan pekerjaan.
"Gue ngantuk bro, tidur duluan ya" Rendra bangkit dari duduknya meninggalkan aku sendiri, kulihat dia masuk kekamar yang berbeda dari Almaira.
Tidak salah aku mengabari Rendra kalau aku dan Alma di kamar hotel dan meminta sahabatku yang juga kakak kandung Alma itu menyusul kami. Walau aku yakin sahabatku Rendra dan kedua orang tuanya percaya aku akan menjaga Almaira mereka, tetap saja aku harus menjaga nama baikku dan Almaira.
Sekarang aku sendiri menatap layar televisi, kupilih-pilih tapi tidak ada acara yang menarik sementara kantukku sudah hilang. Aku jadi ingat saat Alma mengakui cintanya, tapi sejak kapan dia jatuh cinta padaku?
Setelah pertemuan kami di Belanda aku memang semakin dekat dengannya walau hanya bicara atau chat lewat sosial media. Aku juga sengaja untuk sering bertemu dan jalan bareng sama Alma bila pulang ke Indonesia seperti saat ini, tapi kami tidak pernah jalan berdua, tentu saja dengan pengawalan dua sahabatnya Rangga dan Elisya plus Rendra atau Rendy.
Ceklek.. aku memalingkan pandangan kesuara pintu, sosok cantik sedang tersenyum dengan muka bantal dan rambut yang berantakan. Oh, God. Gadisku benar-benar sempurna, dia bahkan terlihat jauh lebih cantik saat seperti ini. Sekali lagi dia membuatku jatuh cinta.
"Kak, Al haus" suaranya menarikku kealam sadar.
"Mau minum dingin atau hangat?" tanyaku sambil berjalan mendekatinya dan membawanya ke pantry.
"Terima kasih kak" aku tersenyum, dia sudah menandaskan air hangat yang kuberikan sesuai permintaannya.
__ADS_1
"Sayang, Rendra membawakanmu pakaian ganti" ucapku, agar dia bisa tidur dengan nyaman. Wajahnya tampak merona saat ku panggil sayang, tentu saja terlihat semakin mempesona.
"Kak Rendra udah datang, dimana?" dia mengedarkan pandangannya membelakangiku, sengaja menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Tidur dikamar sebelah" ku tunjuk pintu dimana Rendra berada.
Dia berjalan kekamar dimana Rendra berada, kulihat wajahnya tampak sedih melihat Rendra sudah tidur. Kenapa? kalau dia butuh sesuatu ada aku disini. Sepertinya aku masih harus banyak belajar mengerti jalan pikiran Alma.
Dia kembali kekamarnya dan meninggalkan aku begitu saja tanpa menyapa. Ada apa dengan gadis itu?
"Kak" aku tekejut, tiba-tiba saja dia sudah menjatuhkan tubuhnya duduk disampingku, dia sudah berganti pakaian dengan piyama tidurnya yang dibawakan Rendra.
Aku ingin merangkulnya tapi dia menghindar. Akhirnya aku menarik tanganku dan bersedekap dada, menunggu apa yang ingin dibicarkannya.
"Terima kasih untuk pelukannya, tapi ucapan Al yang tadi jangan dianggap serius ya kak"
Aku menatapnya, mata kami bertemu tapi dia segera memutuskannya.
"Kenapa?" tanyaku, sungguh aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Apa yang sudah diucapkan tidak bisa ditarik kembali" jawabku. Dia diam dan memainkan jarinya.
Ku ambil tangannya dan kugengam "Mau dengar cerita kakak tentag Diandra?" Dia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaanku.
"Tidak perlu kak, Al tidak masalah. Apalagi tadi Al bicara asal karena lagi pusing" aku menarik nafas. Dia masih mengira aku masih berhubungan dengan Diandra.
Tidak peduli dengan penolakannya, aku ceritakan semua kebenaran antara aku dan Diandra. Aku ingin mengawali hubungan ini dengan baik, karena itu aku tidak ingin ada salah paham yang terjadi.
"Tanya Rendra kalau tidak percaya dengan cerita kakak" ucapku agar dia yakin.
Almaira diam dan tersenyum "Kamu percaya cerita kakak?" tanyaku penasaran dengan tanggapannya. Dia mengangguk.
"Terima kasih" ucapku. "Jadi apa sekarang kita resmi pacaran?" tanyaku lagi. Aku hanya ingin hubunganku dan gadis ini jelas.
__ADS_1
"Al tidak suka hubungan jarak jauh kak" Aku memalingkan wajah menatapnya. Dia tersenyum.
"Bikin seusah hati" jelasnya.
"Al ngantuk kak" tiba-tiba dia mengalihkan pembicaraan.
"Kita belum selesai bicara Alma sayang" dia mendesah.
"Al belum siap kak. Al masih ingin fokus dengan kuliah Al. Dia awal tahun pasti sangat banyak tugas-tugas yang diberikan dosen, Al tidak mau dipusingkan dengan masalah hati"
Aku curiga kalau dia hanya mempermainkan perasaanku, tapi belum sempat aku bicara dia sudah lebih dulu mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
"Kak Eza masih satu tahun lagi kan? Bagaimana kita tunda dulu selama satu tahun ini. Nanti kalau kakak sudah pulang ke Indonesia baru kita jadian" aku langsung menggelengkan kepalaku tidak setuju. Bisa saja satu tahun ini dia berpaling padaku, aku tidak bisa membayangkan itu. Bila aku jatuh cinta, selamanya cinta, aku tidak akan melepaskannya.
"Al takut mengecewakan kak Eza, tidak bisa menerima telopon atau membalas pesan kak Eza setiap kakak menghubungi karena kisibukan kuliah Al, sementara kita bisa berkomonukasi hanya melalui media itu"
"Kakak akan memaklumi itu Al, tapi kakak tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengikatmu" jawab ku tegas.
"Lagi?" beonya. Aku mengangguk dan Almaira menatap meminta jawaban. Aku mengacak rambutnya "Bikin gemas" ucapku.
"Sudah tiga tahun kakak menunggu hari ini Al" aku membelai wajahnya. Ingin sekali mengecup daging berwana pink itu.
"Selama itu kak?" aku mengangguk.
"Waktu di Belanda?" aku tersenyum dan kembali mengajak rambutnya.
"Itu kakak sudah satu tahun jatuh cinta pada mu Al" dia menggelengkan kepala.
"Kamu tidak percaya?" dia mengangguk. "Kamu butuh bukti?" dia kembali mengangguk.
Aku mengeluarkan ponselku menunjukkan fotonya saat di pesta pernikahan Mbak Nayla dimana dia terlihat sangat sempurna dan membuatku bergetar untuk pertama kalinya.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
__ADS_1
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...