
Rangga menghentikan langkahnya saat menyadari kehadiran Elisya dan Rendra. Mereka melanjutkan langkah mereka menuju teras belakang dimana Ayu dan Ibu Sri berada.
Langkah Rangga kembali terhenti saat dia mendengar dua orang yang ada disana tampak sedang serius berbincang. Rangga meminta Almaira, Ezra, Elisya dan Rendra untuk menghentikan langkah mereka.
Dari tempat mereka berdiri mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Ibu Sri dan Ayu.
Kelimanya ikut menyimak apa yang diceritakan oleh Ibu Sri pada Ayu. Rangga merasakan sesak saat Ibu Sri menceritakan seorang gadis usia delapan tahun menolong anak kecil yang terluka parah, dia merasa kalau itu adalah cerita tentang dia dan Ayu.
Tidak jauh bebeda tegangnya Rangga, Almaira dan Elisyapun merasa kalau cerita itu adalah kisah masa lalu orang tua Ayu.
"Apakah bayi perempuan itu Ayu bude?" begitu terkejut mereka saat mendengar pertanyaan Ayu.
Mereka melihat Ibu Sri terisak sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi Mas Rangga adalah kakak Ayu dan Ayah Fauzi itu benar-benar ayah Ayu?" tanya Ayu lagi.
Kembali mereka melihat Ibu Sri mengangguk membenarkan pertanyaan Ayu. Jangan tanya bagaimana perasaan Rangga saat itu, dia merasakan sesak dan sakit.
Baru saja dia memutuskan untuk memilih Ayu sebagai pelabuhan hatinya dengan banyak pertimbangan. Terlebih lagi dia menyadari kalau getar yang dia rasakan bersama Lola bukan karena hatinya memilih gadis itu, tapi karena memang jantungnya yang sudah kembali normal bisa merasakan kembali debar setelah bertahun-tahun tidak bisa dia rasakan.
Seperti saat ini, dia merasakan sakit di hatinya. Jantungnya berdebar kencang, kakinya gemetar setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Siapa yang dia salahkan dalam masalah ini? Ayahnya kah? atau Ibu Sri yang merahasiakan semua ini?
Tidak ada yang bisa Rangga salahkan. Ayahnya melakulan itu disaat dia lupa ingatan. Sedangkan Ibu Sri menyimpan rahasia ini dia yakin karena suatu hal. Dengan mengumpulkan keberanian Rangga mendekat dan bertanya.
"Apakah cerita ini benar adanya bu?" tanya Rangga mengejutkan Ayu dan Ibu Sri.
Almaira dan Elisya mengikuti Rangga yang mendekati Ayu dan Ibu Sri. Tidak hanya mereka berdua, Ezra dan Rendra juga melaukan hal yang sama, mereka ikut berdiri disamping pasangan mereka masing-masing.
"Mas Rangga" panggil Ayu lirih.
Rangga menatap adiknya dengan tatapan tak kala sendu. Didekatinya Ayu dan menarik gadis itu dalam pelukannya. Keduanya menangis bersama saling menguatkan, kenyataan ini benar-benar menyakitkan tapi mereka harus menerimanya. Menerima kenyataan kalau mereka bersaudara.
Almaira menguatkan rangkulannya pada lengan Ezra, dia ikut menagis melihat peristiwa haru ini. Elisyapun ikut menangis dalam rangkulan Rendra yang juga ikut meneteskan air matanya. Rendra terharu dengan jalan hidup Ayu dan Rangga, betapa dunia ini mempermainkan mereka.
Sementara diluar gerbang panti, Soraya belum beranjak pergi. Dia masih setia menunggu dibalik kemudinya, ingin tahu urusan apa Ezra dan Rendra kepanti asuhan bersama wanita yang menurut Soraya tidak menarik sama sekali karena tidak seseksi dirinya. Tapi sayangnya Soraya sangat penasaran dengan sosok dua wanita yang menjadi pasangan Ezra dan Rendra yang mana keduanya sekarang menjadi targetnya untuk dia kencani.
"Bagaimanapun caranya aku akan mendapatkan kalian berdua" gumam Soraya tanpa berpaling sambil terus mengawasi panti asuhan tesebut.
__ADS_1
Konsentrasi Soraya teralihkan saat handphonenya bersuara. Dilihatnya sesaat siapa yang menghubunginya lalu dia tersenyum.
"Baiklah, kali ini aku biarkan kalian berdua pria-pria tampanku. Karena yang menghubungiku hari ini tidak kalah menarik dengan kalian" ucap Soraya begitu menutup panggilan teleponnya.
Soraya meninggalkan panti, dia harus menemui orang yang baru saja menghubunginya. Orang yang juga menjadi target teman kencannya, teman yang mau menghabiskan malam bersamanya.
Kembali kedalam panti, suasana haru masih menyelimuti teras belakang panti asuhan ini. Dimana dua anak manusia yang harus menerima kenyataan kebenaran hidup mereka.
"Sebentar lagi magrib, sebaiknya kita bersiap-siap untuk sholat" ucap Ibu Sri mengingatkan mereka semua.
"Kami kemasjid dulu bu" pamit Rendra yang diikuti Ezra.
"Ayo Ga" Ezra merangkul Rangga yang masih saja diam ditempat.
Almaira dan Elisya ikut masuk kedalam panti, mereka berdua merangkul Ayu bersamaan.
"Jangan sedih lagi Yu, kamu sekarang sudah menemukan keluargamu" ucap Almaira untuk menguatkan Ayu.
"Benar itu Yu, kamu sekarang tidak sendiri" Elisya menambahkan.
Sementara Ezra yang berjalan keluar gerbang merasa heran melihat kendaraan milik Soraya yang baru saja terlihat meninggalkan panti asuhan.
"Siapa yang kamu bicarakan Za?" tanya Rendra.
Ezra memberitahu Rendra kalau dia melihat mobil milik Soraya baru saja meninggalkan panti, dia juga memberi tahu kalau Soraya sejak tadi mengikuti mereka.
"Tadinya dia mengajakku ke pub" ucap Rendra memberi tahu.
"Sepertinya kita harus hati-hati dengan wanita itu Ndra"
Rendra menyetujui ucapan Ezra. Terlebih lagi melihat penampilan Soraya saat ini, sangat jauh berbeda dengan Soraya yang dia kenal saat sekolah.
"Dunia ini dipenuhi wanita gila" batin Rendra lalu dia tersenyum. Senyum senang megenang kejadian tadi saat dia bersama Elisya.
"Kak, kakak ingin hubungan kita seperti apa sebenarnya?" Elisya tiba-tiba saja bertanya setelah mogok bicara yang dia lakukan.
"Maksudmu mau dibawa kemana hubungan ini?" tanya Rendra.
__ADS_1
"Itu lirik lagu kak" bukan menjawab Elisya malah menyela.
Rendra terkekeh mendengar selaan Elisya, adik kecilnya ini sangat pintar menghiburnya. Karena itu Rendra sangat suka Elisya yang banyak bicara dari pada diam seperti sebelumnya.
"El" panggil Rendra.
Elisya membalikkan wajahnya untuk menggahadap Rendra. Elisya sungguh terkejut saat mendapati wajah Rendra yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Matanya replek terpejam dan dia bisa merasakan rasa hangat yang menyentuh bibirnya. Rendra menciumnya, Kak Rendranya menciumnya dan Elisya membalas ciuman itu.
"Apa sudah tahu mau dibawa kemana hubungan ini?" tanya Rendra begitu dia melepaskan tautannya dengan Elisya.
Elisya diam tidak menjawab, dia masih ragu. Mungkin saja Rendra hanya ingin membuatnya senang bukan melakukannya karena cinta.
"Untuk pemula ternyata kamu pintar juga El" ucapan Rendra membuat wajah Elisya merona merah.
Malu? Tentu saja Elisya sangat malu karena dia ketahuan menikmati ciuman itu dengan membalasnya. Dia menunduk tidak berani melihat wajah Rendra.
"Tapi kakak menyukainya El" ucapan Rendra membuat Elisya semakin tertunduk.
"Sayang" panggil Rendra pada Elisya membuat gadis itu menegang.
Rendra yang menyadari Elisya yang malu dan ragu dengan apa yang dia lakukan menarik dagu Elisya agar gadis itu mau menatapnya.
"El, kakak ingin kita serius. Bukan hanya sandiwara yang selama ini kita lakukan. Apa kamu mau?"
Elisya tidak menjawab, tapi Rendra tahu kalau adik kecilnya itu mengiyakan. Rendra mengecup kening Elisya dalam, sedalam dia merasakan perasaannya.
"Kamu maukan mendampingi kakak selamanya?" tanya Rendra lagi.
Kembali Elisya hanya diam, tapi Rendra mendapat jawaban iya dari ciuman kedua mereka. Elisya yang tidak menolak ciuman darinya itulah yang meyakini Rendra kalau Elisya beredia, terlebih lagi Elisya memeluknya erat setelah mereka berciuman.
"Senyum-senyum sendiri" tegur Ezra sambil menyenggol Rendra yang larut dalam ingatannya sendiri.
"Apa kalian sudah bicara dari hati ke hati kak?" Rangga yang bertanya, anak muda itu tampak sudah bisa menguasai diri dari kesedihannya.
Rendra tidak menjawab tapi dia tersenyum lebar menanggapi pertanyaan Rangga. Ezra da Rangga sudah bisa menebak jawabannya tanpa perlu Rendra bicara.
"Selamat bro" ucap Ezra yang membuat ketiganya terkekeh bersama sampai tidak sadar kalau mereka sudah berada diplataran masjid.
__ADS_1
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...💐💐💐🌹🌹💐💐💐...