
Almaira POV
Aku masih berada dalam dada bidang milik Kak Eza, begitu membuka mata. Kata cinta yang tadi Kak Eza ucapkan membuat aku yakin untuk selalu berada disisimu Kak. Kak Rendy semalam juga tak henti menasehatiku untuk melangkah bersamamu.
"Al, kamu mencintai Rezakan?" aku mengangguk cepat saat Kak Rendy menanyakan itu.
"Kalau begitu mengapa harus ragu? Sulit mendapatkan laki-laki setia dan tulus mencintaimu. Ada banyak laki-laki baik, tapi mencintai dengan tulus dan setia itu sedikit adanya"
Aku mencoba memahami apa yang Kak Rendy ucapkan, Kak Eza setulus itukah cintanya padaku? Sebagai laki-laki Kak Rendy pasti lebih tahu dan bisa menilai Kak Eza lebih baik.
"Reza sama seperti Kakak dan Kak Rendra, Al. Dia laki-laki setia dengan satu wanita bila sudah mencintai, bahkan dia lebih cinta padamu dari pada dirinya sendiri"
Aku jadi sedih dengan ucapan Kak Rendy, mengapa seperti bukan Kak Eza yang dia bicarakan melainkan curahan hatinya yang ku dengar. Kakak Rendy memang laki-laki setia dengan satu wanita selama ini, begitu cintanya sampai dia tidak menyadari kalau dia telah dikhianati Cek Ana. Aku memeluknya, mencoba merasakan kesedihannya.
"Kami tidak akan membiarkan kamu jatuh pada laki-laki yang salah Al" Kak Rendy mengusap kepalaku dengan lembut.
Aku bisa mendengar nafas terartur milik Kak Eza, wajahnya tampak damai dan terlihat lebih tampan. Aku bersyukur dicintai pria seperti kamu kak, kamu mengorbankan bayak waktumu untukku dari pada keperluanmu sendiri. Harusnya dia sibuk dengan pekerjaanya hari ini seperti yang dia katakan kemarin dan baru akan menjemputku sore saat menghadiri konferensi persย Elisya. Tapi kamu lebih memilih menemani dan merawatku, terima kasih kak.
Kepalaku sudah tidak sakit dan badanku juga sudah tidak panas, jadi kuputuskan untuk mandi. Pelan-pelan aku melepaskan lengannya yang memelukku erat, sangat erat seakan dia tidak ingin aku tinggalkan. Tapi aku harus melepaskan pelukan ini kak, aku harus segera membersihkan diri, setidaknya saat kamu bangun aku sudah terlihat segar.
Aku masuk kekamar mandi dan membersihkan diri, rasanya segar begitu air hangat menguyur seluruh tubuhku. Aku jadi ingat pesan yang Kak Rendra kirim semalam sebelum aku tidur.
Rendra [Al, besok kakak akan mengumumkan kalau kakak adalah calon suami Eli]
Aku cukup terkejut dengan pesan wa yang dikirimkan Kak Rendra, apa yang sudah aku lewatkan? Mengapa aku tidak tahu apa-apa?
Almaira [Kakak yakin?]
Kak Rendra membalasku dengan emoticon senyum dan emoticon nyengir dengan gigi berbaris rapi.
Almaira [Al ikut senang kak]
Rendra [Jangan katakan apapun pada Elisya, ini masih rahasia. Baru kamu dan Papa Ahmad yang tahu]
Aku cukup terkejut saat Kak Rendra tuliskan baru aku dan Papa Ahmad yang tahu. Kenapa Papa Ahmad? Ternyata Kak Rendra meminta restunya terlebih dulu sebelum hari ini dia akan mengumumkan. Kakakku ini benar-benar selalu saja membuat kejutan. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan tapi tunggu saat kami bertemu langsung.
Baru semalam aku bicara dengan Rangga untuk mencari seorang kekasih, karena aku akan bertunangan dengan Kak Eza dan Eli juga pasti akan bertemu orang yang mencintainya. Ternyata apa yang kuucapkan benar, saat ini Eli mendapatkan cinta Kak Rendra, laki-laki yang sejak dulu dia sematkan dalam hatinya.
Rangga laki-laki sejati, hanya saja dia takut mencintai seseorang dan mengecewakannya pada akhirnya. Begitu berat beban yang Rangga jalani, satu sisi dia butuh bahagia dengan kehidupan cintanya, disisi lain trauma masa lalunya membuat dia merasa terpuruk sampai sekarang. Tapi aku yakin, saat dia bertemu wanita yang tepat dia akan menjadi laki-laki sempurna. Semoga saja.
__ADS_1
"Kenapa tidak membangunkan kakak ai?" suara Kak Eza menyambutku yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Al tidak tega, kakak tidur sangat pulas" jawabku jujur, mana mungkin aku membangunkan dia yang sangat lelap bahkan dia tidak menyadari sudah tidak memelukku.
"Kalau terjadi apa-apa denganmu bagaiman Ai?" Kak Eza protes, ternyata itu alasannya.
"Tapi tidak terjadi apa-apa dengan Al, kak"
Kak Eza jalan mendekatiku, aku gugup karena aku hanya menggunakan jubah mandi. Terlebih lagi dia memelukku erat, kak bisa-bisa aku sakit lagi. Kali ini jantungku yang sakit kak karena ulahmu.
"Bagaimanapun pulasnya kakak tidur kamu harus membagunkan kakak, Ai" aku hanya bisa mengangguk, jujur jantungku masih berdegup kencang.
Heumm, aku baru saja mandi tapi suhu tubuhku kembali terasa panas. Kak Eza selalu saja bisa membiusku dengan sentuhan lembut bibirnya.
"Sini kakak bantu keringkan rambutmu terus kita keluar makan sekalian kita ke konferensi persย Eli" aku mengangguk patuh mengikuti langkahnya yang mengiringku kemeja rias.
"Rendra sering cerita dia sangat suka saat membantu mengeringkan rambutmu. Ternyata memang menyenangkan ai"
Kak Eza mengedipkan sebelah matanya, aku hanya bisa tersenyum. Kenapa aku senang kalau dia yang mengedipkan mata padaku? Padahal aku sagat tidak suka pada laki-laki yang genit. Jadi ingat Kak Noah saat dia mengedipkan mata padaku, bukan senang tapi aku merasa risi dan jijik.
Aku terkejut saat Kak Eza tiba-tiba mengecup punggungku, aku yakin dia kembali meninggalkan tanda merah disana.
"Tanda cinta ai" jawabnya sambil tersenyum senang. Aku megerucutkan bibirku tanda tidak suka, kalau ada yang melihat tentu mereka akan berpikir yang macam-macam padaku dan Kak Eza, apalagi kami cukup lama berdua dikamar ini.
Aku sudah berganti pakaian dengan terusan yang panjangnya selutut motif bunga-bunga, karena terusan ini memiliki kerah tinggi, apalagi kalau bukan untuk menutupi jejak yang ditinggalkan Kak Eza. Tidak lupa aku memakai celana leging dengan warna senada dengan terusan yang kukenakan untuk menutupi kakiku, karena sejak dulu aku tidak biasa mengekspose kakiku saat berpergian.
"Ayo kak" aku mengajak Kak Eza yang dari tadi duduk di balkon sambil menungguku bersiap-siap.
Kak Eza diam menatapku tanpa berkedip, apa ada yang salah dengan yang aku pakai?
"Kenapa kak?" tanyaku. Dia tersenyum lebar begitu tersadar dari diamnya lalu jalan mendekat padaku.
"Kamu cantik sekali ai" dia merangkul pingganku, entah apa warna pipiku saat ini. Dia sering mengatakannya, tetap saja membuatku merona dan menunduk malu tidak ingin dia meliatnya.
"Ayo" Kak Eza mengajakku masuk, tidak lupa dia mengunci pintu yang menuju balkon.
Kami keluar kamar dengan aku yang lebih dulu, disusul Kak Eza lalu dia mengunci pintu kamarku.
"Kak kita langsung saja, Eli sudah bersama papanya dan Kak Noah"
__ADS_1
Aku memberi tahu Kak Eza saat dia menyerahkan kunci kamar padaku. Eli tadi mengirim pesan kalau dia akan berangkat ke studio Kak Jevan bersama Papa Ahmad dan Kak Noah saat tadi aku bersiap-siap.
"Sudah sehat Al? Sudah bisa keluar rumah nih" Winda yang menyapaku.
"Iya Win, Alhamdulillah sudah agak enakan. Maunya sih masih ingin istirahat, tapi harus dampingi Eli konferensi pers"
"Sore ini ya? Aku doain semoga lancar" aku mengangguk dan mengaminkan doanya lalu pamit meninggalkannya.
Winda salah satu penghuni kos yang baru sama seperti aku, Eli dan Rangga. Anaknya baik dan ramah, karena itu awalnya aku dan Eli ingin menjodohkan dia dengan Rangga, tapi setelah ada Ayu kami berdua berpikir sepertinya Ayu lebih bisa menerima keadaan Rangga dari pada Winda. Siapapun jodohnya Rangga aku hanya ingin sahabatku itu bahagia dan menjadi laki-laki sempurna.
Kak Eza ternyata mengajaku mampir ke Kediaman Ayah Dimas, aku cukup terkejut saat dia membelokkan mobil masuk ke halaman.
"Kakak ganti baju dulu ya ai" aku mengangguk mengiyakan, sepertinya dia tahu kalau aku bertanya-tanya mengapa mampir kek kediaman Ayah Dimas.
Aku ikut turun karena tidak sopan kalau hanya menunggunya di mobil, terlebih lagi kalau sampai Bunda Aisyah tahu.
"Diman bunda kak?" tanyaku saat masuk kulihat hanya kesunyian yang terasa.
"Sepertinya bunda ke butik. Ayo" Kak Eza menarikku kelantai dua, sepertinya dia mengajakku masuk ke kamarnya.
"Kak, Al tunggu dibawah aja"
"Dibawah sepi tidak ada siapa-siapa nanti kamu kesepian"
Kak Eza terus menarikku sampai kekamarnya, aku terdiam saat menatap pigura besar dimana aku dan Kak Eza terlihat sangat mesrah. Itu foto saat kami di rooftop hotel saat aku, Eli dan Rangga syuting iklan. Kenapa aku tidak pernah tahu ada foto ini?
"Bagaimana?" Kak Eza bertanya sambil memelukku dari belakang.
"Karena ini kakak memaksaku naik"
"Salah satunya" Kak Eza menjawab sambil terkekeh melepaskam pelukannya, sementara aku masih tak berpaling dari pigura yang ada dihadapnku.
"Yang lain...." belum selesai aku berucap aku langsung memalingkan wajahku.
Aku tidak sanggup melihatnya bertelanjang dada seperti itu, Kak Eza kamu selalu membuat jantungku bekerja keras.
...Bila Aku Jatuh Cinta...
...๐๐๐๐น๐น๐๐๐...
__ADS_1